
"Mama, maaf tante Embun!" sapa Haykal kikuk, Embun mendongak. Kedipan mata Embun, mengiyakan sapaan ramah Haykal. Senyum Embun, isyarat kehangatan yang ditunjukkan Embun pada Haykal.
"Duduklah!" pinta Embun sopan, Haykal mengangguk sembari menarik kursi. Haykal duduk tanpa sedikitpun mengangkat wajahnya. Entah rasa bersalah akan rasa sakit Kanaya atau Haykal terlalu malu bertemu dengan Embun?
Embun menatap lekat pemuda yang pernah menjadi putra menantunya. Embun merasa menyesal akan perpisahan Haykal dan Kanaya. Namun perpisahan mereka harus terjadi. Apalagi semenjak Embun mengenal seseorang yang kini dekat dengan Kanaya. Rasa bersalah Embun semakin besar pada Haykal.
"Haykal!"
"Iya!" sahut Haykal, kepalanya terangkat sempurna. Dua bola matanya bertemu dengan tatapan penuh kehangatan dari mata indah Embun.
"Panggil aku senyamanmu, tidak perlu takut aku marah mendengar panggilanmu. Hubunganmu dengan Kanaya memang berakhir, tapi hubungan keluarga yang pernah ada diantara kita. Tidak akan mudah diakhiri. Sama seperti Kanaya, aku juga menganggapmu sebagai seorang putra. Demi alasan itu, aku menemuimu hari ini!" tutur Embun lembut, Haykal menatap penuh haru.
Haykal merasa tenang mendengar perkataan Embun. Ibarat setetes embun pagi yang jatuh di atas hatinya yang gersang. Terdengar begitu sejuk dan meneduhkan. Haykal merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari Embun. Tidak ada kebencian akan luka masa lalu yang diakibatkan olehnya. Rasa rindu akan kasih sayang seorang ibu. Terbayar lunas hanya dengan satu kata dari Embun. Haykal seolah merasakan kehadiran keluarga yang tak lagi dimilikinya.
"Mama!" panggil Haykal lirih dengan suara yang tertahan. Embun mengedipkan kedua matanya, isyarat Embun mengiyakan panggilan hangat Haykal.
Haykal tak percaya akan hubungan yang tetap ada diantara dirinya dan Embun. Bahkan seluruh keluarga Kanaya, tak pernah menyimpan amarah atau menyalahkannya. Namun semua kebahagian Haykal, takkan pernah lengkap. Ketika Kanaya tak lagi bersamanya dan tak lagi menganggapnya ada.
"Haykal, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Sebuah kebenaran yang tak pernah kamu ketahui. Kebenaran yang mungkin melukai hatimu, tapi percayalah apapun yang aku katakan sekarang. Bukan untuk kebaikan Kanaya semata, tapi demi dirimu. Putra menantu yang sudah aku anggap layaknya putra kandungku!"
"Mama, kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh? Hatiku terasa ngilu, seolah kebenaran mama akan menghancurkan hidupku!" ujar Haykal terbata, Embun menatap nanar Haykal. Tak berapa lama, terlihat anggukan kepala Embun. Isyarat Embun mengiyakan firasat yang dikatakan Haykal.
"Haykal, sudah saatnya kamu mengetahuinya. Alasan Kanaya tak lagi bisa menerima cinta yang kamu tawarkan!"
"Jika terlalu menyakitkan, bisakah mama tidak mengatakannya. Jujur, aku tak mampu mendengar kebenaran yang jauh lebih menyakitkan. Cukup perpisahan diantara aku dan Kanaya, tidak lagi!" ujar Haykal, sembari menggelengkan kepalanya. Embun diam membisu, tapi ada keyakinan besar yang menguatkan Embun. Semua harus dikatakan, tidak ada lagi waktu untuk menundanya.
"Haykal, lihatlah ke bawah. Tepatnya ke arah masjid yang ada di depan restoran ini!" pinta Embun, Haykal langsung menoleh.
__ADS_1
Embun dan Haykal berada di balkon lantai dua restoran milik Keluarga besar Abimata. Restoran yang dikelolah oleh Hanna. Sengaja Embun bertemu dengan Haykal di restoran. Kebenaran yang ingin dikatakan Embun, akan terlihat dari lantai dua restoran ini. Haykal yang merasa bingung, tetap mengikuti perkataan Embun. Dia menoleh ke arah yang dikatakan Embun. Kurang dari lima menit, dua bola mata Haykal membulat sempurna. Ada rasa tak percaya, ketika melihat sosok yang berdiri tepat di depan masjid. Ketenangan kala menatap dia, berubah menjadi rasa terkejut yang mampu menghentikan detak jantungnya.
"Kanaya!"
"Iya, dia Kanaya putriku!" sahut Embun lirih, Haykal menatap tajam. Tak sedetikpun kedua matanya berkedip. Kanaya berada tak jauh darinya, menampakkan sebuah rasa yang mampu membunuhnya.
"Diakah imam pilihan Kanaya!" ujar Haykal ragu dan tak percaya. Suara yang penuh dengan luka dan sakit. Nampak Embun menggelengkan kepalanya. Haykal tak mengerti arti gelengan kepala Embun. Sebuah jawaban yang nyata, tapi menyimpan rahasia yang begitu besar.
"Dia bukan imam pilihan Kanaya, tapi dia laki-laki yang tepat untuk Kanaya. Namun kelebihannya tak lantas membuat Kanaya memilihnya atau menolaknya. Kanaya berdiri tepat di sampingnya, tapi hati dan jiwanya jauh darinya. Hubungan mereka nyata, tapi keraguan Kanaya jelas adanya!"
"Mama, siapa dia?"
"Aqeel, seorang koki di restoran ini. Dia laki-laki yang kini dekat dengan Kanaya. Kedekatan yang mereka dasari dengan iman. Karena-NYA, mereka bertemu di satu waktu. Demi bersujud kepada-NYA, mereka berada di bawah bawah satu atap. Suara azan menjadi penyatu mereka. Seperti saat ini, mereka berjalan beriringan menundukkan kepala dan bersimpuh dihadapan-NYA!" tutur Embun lirih, kelembutan Embun bak belati yang mengoyak hati Haykal. Kebenaran akan sosok sempurna yang kini menemani Kanaya.
"Haruskah aku melangkah mundur?"
"Kelebihan yang tak pernah ada dalam diriku. Cintaku mungkin tulus, tapi cinta ini napsu tanpa iman. Aku berharap menjadi imam dunia akhirat Kanaya. Namun tak sekalipun aku membimbing Kanaya menuju jannah-NYA. Cinta semu yang kutawarkan, ibarat butiran kerikil dalam air ketaqwaan yang ditawarkan olehnya!"
"Haykal, maafkan mama harus jujur. Sampai detik ini, baik Kanaya atau Aqeel tak pernah datang pada mama atau papa. Bahkan tak sekalipun Kanaya bercerita tentang Aqeel. Mama dan papa takkan ikut campur, siapapun yang dipilih Kanaya? Mama percaya itu yang terbaik. Cukup dua kali Kanaya terluka, tidak lagi ada ketiga kalinya. Kanaya berhak bahagia!"
"Walau dia seorang koki!" sahut Haykal tak percaya.
"Haykal, selama ini mama dan papa mengamati. Kami tidak akan melarang Kanaya dekat dengan siapapun? Setelah kami yakin, dia laki-laki yang baik!"
"Tak lagi ada kesempatan untukku!" ujar Haykal, Embun menggeleng lemah.
"Kanaya belum memutuskan, ada atau tidaknya kesempatanmu. Tergantung dari keyakinanmu, adakah cinta dan ketulusanmu untuk Kanaya? Baik dia atau kamu memiliki kesempatan yang sama. Kecuali kamu memilih mundur, mama tidak akan menahannya!" ujar Embun, Haykal menunduk tanpa suara. Embun melihat cinta yang diselimuti luka. Haykal merasa tak berdaya, seolah harapannya bersama Kanaya akan berakhir.
__ADS_1
Tap Tap Tap
"Permisi, ibu memanggil saya!" ujar Aqeel ramah, Embun mengedipkan kedua matanya. Isyarat dia meminta Aqeel mendekat ke arahnya. Haykal menoleh dengan ragu, ada rasa bimbang bertemu dengan laki-laki yang mampu mengetuk hati dan iman Kanaya.
"Dua hari lagi, Kanaya berulang tahun. Aku ingin membuat pesta sederhana. Jadi tolong kamu persiapkan satu tim khusus. Aku ingin hidangannya sempurna!" pinta Embun, Aqeel mengangguk tanpa menatap mata Embun. Tundukkan kepala Aqeel, menunjukkan sopan santunnya pada Embun. Rasa hormat akan status Embun, juga rasa hormat pada yang lebih tua.
"Baik bu, akan saya persiapkan!" ujar Aqeel, lalu meminta izin kembali ke dapur. Haykal terdiam terpaku, melihat sosok Aqeel yang tampan dan teduh. Ketenangan dalam tutur kata Aqeel, menampakkan jelas iman dan ketakwaan Aqeel.
"Tunggu!"
"Iya ibu!" sahut Aqeel, sembari menghentikan langkahnya. Aqeel kembali berdiri di tempat semula.
"Dimana Kanaya akan merayakannya?"
"Maksud ibu!" sahut Aqeel heran.
"Kanaya, pasti sudah mengatakannya padamu!" ujar Embun, Aqeel langsung menunduk.
"Maafkan saya telah lancang dekat dengan nona Embun!"
"Kak, kembalilah bekerja. Aku akan menjelaskannya sendiri pada mama!" pinta Kanaya ramah. Aqeel langsung menjauh, tak sekalipun Aqeel menoleh pada Haykal. Laki-laki yang merasa marah akan kehadirannya dalam hidup Kanaya.
"Kak Aqeel, ini terakhir kalinya aku mendengar kakak meminta maaf pada orang lain tentang pertemanan kita. Hubungan ini tidak salah dan tak pantut dipersalahkan!" ujar Kanaya lirih, Aqeel menunduk semakin dalam. Haykal termenung mendengar perkataan Kanaya. Pembelaan terdengar penuh kasih sayang dan ketulusan.
"Diakah imam pilihanmu!" batin Haykal pilu.
"
__ADS_1