
LIMA BELAS TAHUN KEMUDIAN
Langit terlihat begitu terang, sinar matahari terik menerpa wajah seorang laki-laki. Panasnya terasa menyengat, seolah membakar kulit. Namun panas matahari, tak lantas membuatnya bergeming. Walau bulir-bulir air keringat mulai membasahi tubuhnya. Dia tetap berdiri tegak di depan sebuah gerbang tinggi. Gerbang yang melindungi sebuah rumah mewah. Rumah tak berpenghuni yang mulai rusak dan usang termakan usia.
Laki-laki yang mungkin berusia empat puluh limaan, tapi wajah tampan masih nampak jelas terlihat. Penampilannya begitu menawan, pesona yang jelas mampu menarik kaum hawa. Laki-laki yang seolah bingung, melihat rumah di depannya tak lagi berpenghuni. Kebingungan yang seolah membuatnya ketakutan, rasa cemas yang mulai menguasai hatinya.
"Kemana mereka pergi? Apa yang terjadi setelah kepergianku? Dimana mereka sekarang? Bagaimana caranya, agar aku bisa menemukan mereka?" batin Abra bingung, cemas mencari keberadaan keluarga Abimata.
Abra merasa cemas, mencari keberadaan keluarganya. Rumah tempat dia dibesarkan, kini tak lebih dari rumah tak berpenghuni. Tak ada lagi kemegahan, hanya nampak rumah usang tak layak ditempati. Abra semakin kalut, ketika melihat tulisan yang ada di gerbang rumah. Rumah keluarga Abimata, tak lagi menjadi milik keluarganya. Tulisan "DI SITA" terpampang nyata di depan kedua matanya. Abra kalut melihat semua yang terjadi. Kehancuran keluarganya terpampang nyata di depannya.
"Papa, sampai kapan berdiri disana? Sebentar lagi sore, mama meminta kita pulang sebelum sore!" teriak Kanaya, sontak Abra menoleh. Dia tersenyum simpul ke arah putri cantiknya. Abra melirik ke arah jam tangannya, hampir satu jam Abra berdiri menatap rumah megah keluarga Abimata. Rumah megah yang kini nampak tak terawat.
"Baik sayang, kita pulang!" sahut Abra, lalu berjalan menuju mobilnya.
Kanaya Fauziah, gadis berhijab yang ceria. Gadis manis berusia 15 tahun yang penuh dengan ketentraman dalam hidupnya. Putri kedua Abra dan Embun, adik Rafan Ghifarri Abdullah. Putri cantik pelita dalam rumah tangga Abra dan Embun. Pelengkap kebahagian keluarga kecil Abra. Senyum dan tawa Kanaya, menjadi hal paling berharga dalam hidup Abra. Hadiah terindah yang dilahirkan oleh Embun, tepat 6 bulan setelah kepergian mereka.
"Kanaya, jangan katakan pada mama. Jika papa mengajakmu kemari!" ujar Abra, Kanaya mengeryitkan dahinya tak mengerti.
"Kanaya tidak akan pernah berbohong pada mama!" sahut Kanaya lantang dan tegas, Abra menggeleng lemah. Abra jelas mengetahui watak dan sikap Kanaya. Putri cantiknya tidak akan berbohong pada Embun. Walau itu untuk kebaikan sekalipun. Kanaya sangat menghargai Embun, dia tidak ingin mengecewakan Embun dengan kebohongannya.
"Papa tidak memintamu berbohong. Cukup katakan tidak tahu, jika mama bertanya kemana papa membawamu pergi?"
"Papa, itu sama saja berbohong. Kanaya mungkin tidak mengetahui rumah siapa ini? Namun melihat raut papa yang sedih, aku yakin ini rumah keluarga papa!"
__ADS_1
"Kanaya, jangan mulai berasumsi. Jangan katakan apapun pada mama. Ingat Kanaya, mama baru sembuh dari sakitnya. Kak Rafan akan sedih, jika dia melihat mama sakit lagi!" ujar Abra lirih, Kanaya langsung tertunduk.
Kanaya mengingat kesedihan yang dialami keluarganya. Rasa sakit yang mengusik ketenangan dan kebahagian keluarganya. Ketika mereka melihat Embun terpuruk dan hancur. Hampir lima tahun, Embun larut dalam kepedihan. Embun merindukan keluarga yang menyayanginya. Hampir lima belas tahun mereka meninggalkan negara ini. Tak sekalipun, Embun mendengar atau bertanya kabar tentang keluarganya. Embun merindukan abah, ayah yang membesarkannya. Embun menyesal tak mampu berbakti pada ayah yang telah membesarkannya. Kerinduan seorang putri yang akhirnya menghancurkan dinding kokoh hatinya.
"Perkataan Kanaya tidak salah, rumah itu milik keluarga papa. Rumah yang pernah mengusir mama. Rumah yang membuat papa membawa mama pergi jauh. Sebab rumah megah itu, tak pernah menerima mama. Alasan yang membuat papa tidak ingin mengatakan pada mama. Jika kita datang kemari!"
"Kanaya, sejak kapan kamu membantah perkataan papa?" ujar Abra dingin dan tegas, Kanaya menoleh tanpa rasa bersalah.
Sifat Kanaya yang apa adanya? Membuatnya tak pernah takut menghadapi apapun. Sikap keras Embun yang berbalut kesopanan. Menjadikan Kanaya gadis yang cerdas dan berani. Kanaya tak pernah takut apapun? Dia selalu bertanggungjawab akan perbuatannya. Termasuk perkataannya pada Abra, Kanaya bicara dengan bukti bukan halusinasi.
"Kanaya tidak pernah membantah papa. Perkataan Kanaya benar, Kanaya tak pernah mengenal keluarga. Semua berawal dari rumah itu. Rumah megah keluarga papa yang tak pernah menghargai mama. Namun semua akan berbeda, sekarang ada Kanaya. Jangankan penghuni rumah itu, seluruh dunia akan Kanaya lawan. Jika mereka menyakiti mama!" ujar Kanaya tegas, Abra menatap nanar Kanaya. Sikap dan sifat Kanaya jauh berbeda dengan Rafan. Meski keduanya sama-sama menyayangi Embun dengan sepenuh hati.
"Kamu benar Kanaya, rumah itu yang menjadi awal kehancuran keluarga kita. Namun sekarang semuanya terbalik, tak ada lagi rukah megah. Sekarang hanya puing-puing yang nampak dari rumah itu. Rumah tempat papa dibesarkan, kini hancur tak tersisa. Meninggalkan kecemasan dalam hati papa. Ketika dua mata papa, tak melihat satupun keluarga papa!" batin Abra pilu, nampak Kanaya menoleh ke luar jendela mobil. Kanaya melihat jalanan yang padat, penuh dengan asap dan kendaraan bermotor.
Ciiiiitttt
Seketika mobil Abra berhenti, terdengar suara gesekan ban mobil Abra dengan aspal. Kanaya menutup mulutnya tak percaya. Hampir saja mobil Abra menabrak seseorang. Abra yang tengah melamun, sedikit kurang fokus dalam mengemudikan mobil. Beruntung Kanaya melihat, saat ada orang yang tengah menyebrang jalan.
"Kita turun Kanaya!" ujar Abra, Kanaya mengangguk.
BRAAAAKKKK
"Maaf saya tidak sengaja, anda baik-baik saja!" ujar Abra cemas, Kanaya membantu orang tersebut berdiri.
__ADS_1
"Saya baik-baik saja!" sahut sang wanita paruh baya. Kanaya membersihkan gamis wanita itu, dengan kedua tangannya. Kanaya membantu sang wanita, tidak ada rasa jijik. Walau tangan Kanaya akhirnya kotor terkenal lumpur.
"Sekali lagi, saya minta maaf!" ujar Abra lirih, sang wanita menggeleng.
"Saya baik-baik saja!" sahut Indira, sembari mendongak menatap Abra.
Praaaayyyrrr
"Abra, putraku!" ujar Indira, bersamaan dengan beberapa toples kue yang pecah. Indira terkejut sekaligus bahagia, sampai tanpa sadar. Indira memecahkan toples yang dibawanya.
"Mama!" sahut Abra lirih, kedua tangan Indira menangkup wajah Abra. Indira tidak percaya, akhirnya dia melihat Abra. Setelah hampir puluhan tahun Abra pergi dan sekarang Abra kembali. Sebaliknya Abra tak percaya melihat penampilan Indira. Semua telah berubah, begitu juga Indira yang tampak sederhana.
"Dimana mama tinggal? Kenapa rumah kita disita? Dimana papa? Ibra dan Naura, dimana mereka sekarang?" cecar Abra dengan penuh kecemasan. Indira menunduk, dia mengingat tahun-tahun pertama kepergian Abra.
"Semua hancur Abra, keluarga kita hancur. Tak ada kebahagian, hanya kepedihan dan air mata!"
"Dimana papa?" ujar Abra cemas, Indira menangis. Abra langsung mendekap erat Indira.
"Semua akan baik-baik saja, Abra sudah kembali!" ujar Abra lirih, Kanaya hanya diam mengamati. Tak ada suara atau bantahan, Kanaya mencoba memahami kecemasan Abra. Walau sejujurnya Kanaya tidak ingin bersimpati pada keluarga Abra.
"Kita temui papa!" ujar Abra, Indira mengangguk dalam pelukan Abra.
"Pa, putra kita kembali!" ujar Indira lirih.
__ADS_1