KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Senja


__ADS_3

"Minum Embun!" ujar Afifah, sembari menyodorkan segelas jus jeruk ke arah Embun. Sontak Embun menoleh, dia melihat Afifah sudah berdiri di sampingnya.


"Terima kasih!" sahut Embun ramah, seraya menerima segelas jus jeruk dari Afifah.


Afifah duduk tepat di samping Embun. Keduanya menatap senja sore yang mulai menyeruak. Menanti petang menjelang, menandakan sang malam yang segera menyapa. Embun dan rombongan memutuskan pergi ke pantai yang ada di pinggiran kota. Entah kenapa Embun begitu ingin melihat laut? Iman tidak bisa menolak permintaan Embun. Sedangkan Abra dan Ibra terpaksa tidak ikut, karena akan ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal.


"Ada masalah?" ujar Afifah lirih, Embun menoleh dengan tatapan terkejut. Seolah Afifah mengerti kegalauan hati Embun.


"Maksud dokter Afifah!"


"Dua mata indahmu tidak bisa berbohong. Helaan napasmu setiap lima menit, jelas mengatakan gelisah dalam hatimu. Tundukkan kepalamu yang terus menatap pasir laut, seakan mencari jawaban segala tanya dalam hatimu. Pandangan hampa yang nampak, semakin membuatku yakin. Hati dan jiwamu gelisah akan sesuatu!" tutur Afifah hangat, Embun menghela napas.


Afifah mengutas senyum, nampak kehangatan yang tersirat dari tutur kata Afifah. Naluri seorang ibu yang berharap merasakan pelukan hangat seorang anak. Afifah yang pernah berharap menjadi bagian dari hidup Embun. Kini nyata begitu dekat dengan bayi mungil yang pernah memikatnya dua puluh tahun lalu. Afifah menepuk pelan pundak Embun, mencoba menenangkan kegalauan hati Embun. Mencari celah tersempit, agar gelisah Embun keluar tanpa paksaan.


"Salahkah aku yang tersinggung dengan sikap kak Abra? Aku mungkin keras, tapi aku hatiku rapuh tanpa kak Abra!"


"Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan padaku, walau aku tidak bisa membantumu. Mungkin dengan bicara, kamu bisa menenangkan diri!"


"Aku marah dan kecewa, saat mendengar kak Abra menuduh papa Arya. Aku tidak terima, saat kak Abra menyalahkan papa atas masalah yang terjadi pada tuan Haykal!"


"Apa yang kamu lakukan? Lalu, apa tanggapan Abra dengan keputusanmu?" ujar Afifah, mencoba melerai benang kusut dalam hati dan pikiran Embun.


"Aku memberikan seluruh tabunganku. Aku meminta kak Abra, menyerahkan uang itu pada tuan Haykal. Aku berpikir, hanya cara itu yang membuat papa Arya tidak bersalah!"

__ADS_1


"Sikap Abra?"


"Dia sempat marah, tapi kak Abra berusaha membujukku. Mengatakan jika semua yang aku dengar itu salah!" ujar Embun dingin, Afifah mendengarkan keluh kesah Embun. Dia mencoba menempatkan diri sebagai Embun dan Abra. Setidaknya Afifah ingin membuka pemikiran Embun.


"Boleh aku berpendapat!"


"Silahkan dokter Afifah!" sahut Embun ramah, Afifah mengangguk seraya tersenyum.


"Embun sayang, sejujurnya amarahmu tidak salah. Namun ada satu hal yang membuat amarah itu tidak pantas dan bukan pada tempatnya. Apalagi dengan memberikan uang pada Abra. Sikapmu seolah-olah ingin mengatakan pada dunia, seorang Embun tidak butuh sosok Abra. Terlepas ada rasa sakit yang membuatmu melakukan itu. Namun sebagai seorang istri, seharusnya Embun bersikap lunak. Mencari jalan tengah, menanyakan alasan tuduhan Abra. Bukan malah memancing amarah Abra!"


"Maksud dokter Afifah!"


"Sayang, jika mendengar dari ceritamu. Tidak pernah Abra berniat menyalahkan Arya. Dia hanya menduga, bahkan Abra berniat menanyakannya dengan baik-baik pada Arya. Seandainya dugaan Abra benar, bukankah artinya Abra sangat menghargai Arya? Lagipula pemikiran Abra itu spontan, respon dari masalah yang melibatkan kedua orang tuanya. Respon yang sama kamu tunjukkan, ketika mendengar Arya disalahkan. Perbedaannya, Abra memutuskan dengan pikiran tenang. Sedangkan kamu menyalahkan dengan emosi dan rasa sakit!"


"Artinya aku salah?" ujar Embun lirih, Afifah mengangguk pelan.


"Tapi hatiku sakit!" ujar Embun, Afifah mengedipkan kedua mata indahnya.


"Sekarang aku tanya, sakitmu hilang tidak setelah bersikap sekasar itu pada Abra?" ujar Afifah, Embun menggelengkan kepalanya pelan.


"Kamu malah semakin menyakiti hatimu. Kamu menjauh dari orang yang paling dekat di hatimu. Sikap dingimu pada Abra, semakin membuatmu tersiksa dan terluka. Jiwamu tidak tenang, saat menatap dua mata Abra yang terus menghiba kata maaf. Kalian berdua suami istri yang harus bicara dengan hati, bukan emosi!" tutur Afifah, Embun menunduk. Embun menyembunyikan wajah dan air matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Tidak ada kata terlambat, jika memang ingin meminta maaf pada Abra. Ingat sayang, Abra bukan laki-laki biasa. Dia ayah dari putramu, suami yang harus kamu patuhi!"

__ADS_1


"Mungkin aku tidak pantas untuknya!" ujar Embun lirih, sembari menangis. Air mata Embun jatuh membasahi pasir putih. Warna jingga senja, menerpa wajah cantik Embun. Menenangkan hati Embun yang gelisah penuh rasa bersalah.


"Bukan kamu tidak pantas untuk Abra. Sikap keras dan mandirimu yang membuat perbedaan diantara kalian!"


"Abah!" ujar Embun di sela tangisnya, Iman duduk tepat di samping kanan Embun. Sontak Embun menyandarkan kepalanya di bahu Iman. Mencari arti tenang yang menghilang dalam dirinya.


"Maafkan Abah sayang, abah yang salah. Kamu bersikap sekeras ini, semua terjadi karena didikan abah. Seandainya abah menikah dengan dokter Afifah dulu. Mungkin kamu tidak akan semandiri ini. Kamu bisa merasakan hangat seorang ibu. Belajar cara memahami hidup dan mengerti arti sebuah pengertian dalam keluarga!" ujar Iman lirih, Embun menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Iman. Afifah tertunduk mendengar penyesalan Iman.


"Aku sudah menyakiti kak Abra!" ujar Embun, Iman mengangguk pelan. Lalu membelai punggung Embun. Afifah terkesima melihat kehangatan Iman dan Embun. Sejenak Afifah merasakan kebahagian memiliki keluarga. Dia merasa bahagia berada diantara Embun dan Iman.


"Abra mungkin terluka, tapi dia lebih sakit melihatmu menjauh darinya. Temui Abra dan minta maaf padanya. Sejak tadi dia terus menghubungi Abah. Abra khawatir memikirkan kondisimu. Dia mungkin kesal mengingat sikapmu. Namun cinta Abra tidak akan luntur begitu saja. Dia laki-laki sejati yang terus berusaha mengerti dirimu. Jangan sia-siakan pengertian Abra. Jika tidak ingin kehilangan Abra selamanya!" tutur Iman, Afifah mengusap lembut kepala Embun.


"Tante percaya, kamu bisa mengendalikan amarah. Hormon kehamilan tidak akan membuat Embun lupa akan kewajibannya. Jangan jadikan kerikil, menjadi batu sandungan dalam perjalanan cinta kalian!" ujar Afifah, Embun mengangguk pelan.


"Afifah, aku tidak pernah menyangka. Kita duduk di atas pasir laut, menatap senja bersama dan menghapus air mata Embun. Dulu aku menepis tanganmu demi Embun. Sekarang aku menggandeng tanganmu bersama Embun. Mungkinkah hari ini, kenangan yang seharusnya terjadi dua puluh tahun yang lalu!" tutur Iman lirih, Afifah menoleh ke arah Iman. Keduanya saling menatap penuh haru.


"Mungkin Iman, jika kamu tidak pernah menepis tanganku dulu!" sahut Afifah dingin, Iman tersenyum.


"Kamu masih kesal!" goda Iman.


"Seandainya aku bisa marah padamu, mungkin aku sudah bahagia bersama laki-laki lain!"


"Terima kasih masih menggenggam cinta suci itu untukku!" sahut Iman mesra, Afifah langsung menunduk. Nampal wajahnya memerah, menahan malu mendengar rayuan Iman.

__ADS_1


"Abah, kenapa merayu dokter Afifah sekarang? Aku sedang menangis, tapi abah malah tersenyum bahagia!" sahut Embun, Iman dan Afifah seketika tersenyum bersama.


"Maaf, abah lupa!"


__ADS_2