
Senja menyapa kala matahari tenggelam diparaduan. Senja memancarkan guratan tinta emas penuh makna. Tenang tak bersuara, senja menenangkan hati yang gelisah. Senja bagai air dalam dahaga kehausan. Melegakan hati insan yang penuh dengan dilema. Menghapus sejenak beban hati yang tak mudah. Mendamaikan gemuruh dalam hati yang penuh kerinduan.
Sama halnya senja yang selalu dirindukan Embun. Kala hati dan benaknya dipenuhi dengan beban yang tak ada habisnya. Senja satu-satunya sahabat yang takkan pernah mengkhianati Embun. Senja pendamping yang takkan berpikir melupakan Embun. Sebentar senja mampu membahagiakan Embun, menenangkan gelisah dalam hatinya. Cara Embun melupakan rasa sakit dan pengkhianatan orang-orang yang disayanginya.
"Akhirnya kamu datang menemuiku. Aku butuh dirimu. Pancaran sinar jinggamu menerangi hatiku yang gelap dan dingin. Hatiku penuh dengan kerinduan yang menghancurkan. Hati nuraniku menjerit menolak amarah ini, tapi benakku seakan terus mengingat tangis pilunya.Tetesan bening air mata yang tak pernah mampu aku hapus. Cinta yang tak mampu kulupakan, meski sekuat tenaga aku ingin melupakannya. Cinta yang menyiksakan luka dalam hatiku, tapi senyum bahagia Rafan putraku. Membuatku selalu kuat dan tegar menghadapinya. Senja, seandainya aku mampu memelukmu. Ingin aku sandarkan tubuh lemah ini dipangkuanmu. Aku merindukan hidup sederhana, jauh dari harta tak berhati ini. Aku ingin menjadi Embun Khafifah Fauziah yang tak berharta, tapi penuh dengan tawa kebahagian. Seandainya aku bisa memohon. Jangan pergi begitu cepat, temani aku sampai sepi ini menjauh dari hatiku. Dirimu yang mampu menenangkan gelisah dan hancur hatiku!" batin Embun, sembari mendekap tubuhnya.
Suara gemuruh ombak memecah keheningan hari yang beranjak petang. Langit tertutup warna jingga senja yang indah. Angin laut bertiup begitu kencangnya. Menyentuh tubuh lemah Embun yang mulai kedinginan. Suara kicauan burung yang bergantian. Terbang kembali ke sarang. Meninggalkan hari terang menyongsong malam yang gelap. Menanti petang yang penuh dengan misteri tak terpecahkan.
Byuuuuurrrr Wuuuuusshhhh
Suara angin dan ombak bergantian, terdengar nyata di telinga Embun. Hijab panjangnya tertiup angin melambai. Tangannya mendekap erat tubuh yang kedinginan. Dingin dan sepi menyergap tubuh serta jiwa Embun. Hamparan laut biru menenangkan hati Embun yang bergemuruh. Walau ketenangan itu akan berakhir, ketika senja mulai menjauh. Embun hancur dalam rindu yang kini memenuhi hatinya. Bayangan Abra bermain indah dalam benaknya. Satu bulan berlalu, Embun terus menanti kebersamaannya dengan Abra.
"Tanganmu tidak akan sanggup menghangatkan tubuhmu. Dingin angin laut tidak akan membekukan tubuhmu. Dingin hatimu yang akan membuatmu beku!" ujar Nur lirih, sesaat setelah memakaikan jaket ke tubuh lemah Embun.
"Nur, sejak kapan kamu datang? Aku tidak mendengar suara langkah kakimu!" ujar Embun tidak percaya.
Embun menatap nanar sahabat yang selalu ada dalam suka dan dukanya. Seperti hari ini, Nur datang menemani Embun. Tanpa Nur menolak atau membuat alasan untuk tidak menemani Embun. Nur datang dengan keikhlasan hatinya. Meninggalkan kesibukan yang tak pernah ingin menjauh darinya. Nur memilih menemani Embun, daripada harus bekerja atau keluar bersama Fahmi. Nur tetap sama tidak pernah berubah. Sahabat yang tak pernah ingin meninggalkan Embun dalam kepedihan.
"Sejak kamu menatap senja, aku berdiri tepat di belakangmu. Sejak dulu, kamu selalu melupakan segalanya dan hanya peduli pada senja. Aku sengaja diam tak bersuara, agar aku bisa merasakan tangis dalam helaan napasmu. Kamu Embun Khafifah Fauziah, yang tak pernah ingin bersandar pada siapapun? Termasuk aku yang akan selalu menemanimu!"
Embun menunduk menatap pasir laut yang menyentuh lembut kakinya. Tangannya mendekap jaket yang diberikan Nur. Seakan dekapan Nur yang menghangatkan tubuh Embun. Terasa hangat sampai hati terdalamnya. Nur sahabat yang selalu berada di garis terdepan dalam membela Embun. Menjaga Embun dari segala behaya. Tidak terkecuali, angin yang menusuk ke tubuh lemahnya.
Nur layaknya pakaian yang menutup tubuh Embun. Saudara yang akan selalu menjaga kehormatan Embun. Semenjak Embun menikah dengan Abra, hubungannya dengan Nur sedikit merenggang. Bukan ingin merusak hubungan diantara mereka. Namun Embun merasa, dia harus menjaga perasaan Abra. Embun tidak bisa bergantung lagi pada Nur. Namun Nur sahabat yang takkan pernah meninggalkannya. Nur akan merasakan rasa sakit Embun, tanpa Embun mengatakannya.
"Kamu tidak sibuk?"
"Aku akan selalu luang, jika itu menyangkut dirimu. Sahabat yang akan selalu ada dalam hatiku. Walau sekarang, aku merasa kamu mulai menjauh dariku. Entah kamu ingin melupakanku atau kamu sudah menemukan penggantiku? Apapun alasan jarak diantara kita, percayalah satu hal. Aulia Nur Hikmah tidak akan pernah berubah. Statusku memang berubah, tapi aku tetap sama seperti puluhan tahun yang lalu. Gadis kecil dari kota yang membutuhkan belaian hangat sebuah keluarga. Seorang anak yang terluka melihat pernikahan kedua orang tuanya yang hancur!" tutur Nur lirih, lalu bergelayut manja pada lengan Embun.
Nur bersandar pada tubuh lemah Embun. Menatap senja sore yang menyeruak di ufuk timur. Keduanya larut dalam indah dan tenang senja. Embun dan Nur akan selalu sama, mencari hangat dari senja. Demi rasa tenang yang tak terbeli. Embun menenangkan hatinya yang merindukan Abra. Sedangkan Nur menatap indah senja yang lama dilupakannya.
__ADS_1
"Embun!"
"Hmmm!" sahut Embun singkat, Nur menoleh dengan senyum manisnya.
"Kamu kenapa?" sahut Embun heran, melihat Nur tersenyum seperti itu.
"Bagaimana perasaanmu saat mengetahui hubungan kak Abra dengan Sabrina?" ujar Nur santai, Embun menghela napas.
Embun terdiam tanpa kata, seolah ada rasa tak biasa dihatinya. Kejujuran Abra memang sangat diharapkan Embun, tapi kejujuran yang sama membuatnya terluka. Jika Nur bertanya tentang hatinya saat itu, Embun hanya bisa diam membisu. Sebab sakit yang dirasakan Embun tak mampu dijabarkan. Luka hati Embun, tak mampu dilupakan. Embun tersakti tanpa bisa mengeluh. Semua demi satu nyawa, Rafan putra kecilnya yang butuh kasih sayang Abra.
"Embun!" panggil Nur, ketika menyadari Embun terdiam tanpa kata.
"Sudahlah Nur, perasaanku bukan yang paling penting. Selama Rafan tetap bahagia, aku akan bertahan di samping kak Abra. Setidaknya sampai aku merasa lelah dan tak berdaya!"
"Kamu sangat mencintainya!"
"Aku memang mencintainya, dia laki-laki hebat yang memberiku hadiah permata kecil. Kelahiran Rafan menjadi buah cinta dalam pernikahan kami. Lihatlah putraku Rafan, tawa bahagianya membuatku kuat. Rafan kelak menjadi pelindungku, saat kak Abra mulai lemah!" ujar Embun lirih, Nur mengangguk pelan.
"Nur, kak Abra tidak salah. Khilafnya berawal dari ketidaksempurnaanku sebagai seorang istri. Seorang suami merasa nyaman, jika istri itu sempurna. Aku tidak akan menyalahkan kak Abra, jika nyatanya aku yang tak sempurna. Kerasku terkadang membuat kak Abra terluka. Bahkan aku membuatnya terhina, tanpa aku sengaja!" ujar Embun lirih, Nur menggelengkan kepalanya pelan. Embun sekilas menoleh ke arah Rafan. Nampak Rafan berlari di atas pasir putih. Via mengikuti langkah kecil Rafan yang sesekali terjatuh di atas pasir. Riak kecil air laut, memancing rasa penasaran Rafan. Namun sekuat tenaga, Via mengalihkan perhatian Rafan dari air laut.
Nur tak percaya mendengar perkataan Embun. Tidak ada amarah dalam tiap kata Embun. Nur menganggumi ketulusan dalam cinta Embun. Pengkhianatan Abra melukai hati Embun, tapi tak ada kebencian dalam hati dan benak Embun pada Abra. Cinta tulus tanpa mengharapkan balasan. Embun mencintai Abra dengan rasa hormat yang begitu besar. Semua demi Rafan putra tercintanya.
"Sayang!"
"Kakak sudah datang!" sahut Embun, ketika melihat Abra datang bersama Fahmi. Abra mendekat ke arah Embun.
Sontak Nur melepaskan rangkulannya. Nur berhambur memeluk Fahmi, Nur bergelayut manja pada leher Fahmi. Dengan dua tangannya, Fahmi menopang tubuh Nur. Sikap hangat yang selalu dirindukan Fahmi dalam diamnya. Fahmi mulai terbiasa dengan sikap agresif Nur. Dengan catatan, semua hanya dilakukan Nur pada Fahmi bukan orang lain.
"Aku merindukanmu, suami tercintaku!" ujar Nur mesra, sembari bergelayut manja pada tubuh Fahmi.
__ADS_1
"Hmmm!" sahut Fahmi dingin, lalu menarik tubuh Nur dalam hangat dekapannya.
"Aku hanya ingin melihat sikap hangatmu padaku, tidak untuk orang lain!" ujar Fahmi, sesaat setelah mencium kening Nur mesra. Nur mengedipkan kedua matanya, dia mendekap erat tubuh tegap Fahmi. Harum aroma tubuh Fahmi, selalu membuat Nur terbuai.
"Sayang, kita bawa Rafan ke dalam mobil. Senja sudah pergi, sebentar lagi petang. Dia tidak boleh terlalu lama di luar. Via juga terlihat kelelahan!" ujar Fahmi, Nur mengangguk pelan.
"Abra, aku akan membawa Rafan ke Villa. Kalian habiskan waktu berdua, jangan khawatirkan Rafan. Dia akan baik-baik saja bersama ayah dan bundanya!" ujar Fahmi, Nur langsung mendongak menatap Fahmi tak percaya.
"Kita, ayah dan bunda Rafan!" ujar Nur tak percaya, Fahmi mengangguk pelan. Nampak dua mata Nur terharu, dia benar-benar bahagia mendengar perkataan Fahmi. Nur menoleh ke arah Embun dan Abra.
"Rafan memang putraku, tapi dia juga putramu. Rafan akan bahagia memiliki ayah dan bunda seperti kalian!" ujar Embun, Nur menutup kedua mulutnya.
Nur tak percaya mendengar perkataan Embun. Rafan akan menjadi putra angkatnya. Nur sangat bahagia, walau sejak awal Nur sangat menyayangi Rafan seperti putranya sendiri. Sekarang semuanya semakin membahagiakan, saat Nur mendengar Rafan memanggilnya dengan panggilan bunda.
"Terima kasih kak Fahmi, aku menyayangimu!" ujar Nur bahagia, sontak Nur berlari ke arah Rafan. Fahmi mengikuti Nur, dia melihat betapa bahagianya Nur. Dengan merentangkan kedua tangannya, Nur berlari menghampiri Rafan.
"Putraku Rafan, bunda datang!" teriak Nur, lalu menggendong Rafan. Fahmi tertawa bahagia, melihat senyum tulus Nur.
"Teruslah tersenyum sayang, senyummu cahaya yang menerangi gelap hatiku!" Batin Fahmi.
"Via, kita masuk ke mobil!" pinta Fahmi, Via mengangguk mengerti. Via mengikuti langkah cepat Nur. Nampak jelas kebahagian Nur, sesekali Nur mengajari Rafan memanggilnya bunda. Dengan bibir mungilnya, Rafan belajar memanggil Nur dengan kata bunda. Meski panggilan Rafan tidak jelas, Nur tertawa bahagia dan langsung mencium pipi gembul Rafan.
"Sayang, aku merindukanmu!" ujar Abra, membuyarkan lamunan Embun. Sejenak Embun lupa akan keberadaan Abra. Embun sibuk menatap Rafan, dia melihat kebahagian Nur. Setitik kebahagian dalam sepi Nur, tanpa suara tangis bayi dalam pernikahannya.
"Maafkan aku, karena diriku kita terpaksa berpisah!" ujar Embun lirih, Abra menggeleng lemah. Abra memeluk tubuh ramping Embun dari belakang. Abra menyandarkan kepalanya di pundak Embun.
"Sayang, seandainya aku bisa memutar waktu. Aku tidak ingin bertemu dengan Sabrina. Agar tak ada pengkhianatan dalam pernikahan kita. Nur benar, aku memang laki-laki bodoh. Laki-laki yang tak pernah menghargai ketulusan dan kesetiaanmu. Sayang, senja sore ini akan menjadi saksi bisu janjiku padamu. Janji kelak takkan ada lagi pengkhianatan. Seandainya itu terjadi, jangan pernah memaafkanku. Biarkan semua orang menghukumku!" ujar Abra lirih, tepat di samping telinga Embun.
"Aku mencintaimu kak, demi cinta ini aku akan bertahan di sampingmu!" ujar Embun hangat, lalu memegang erat tangan Abra. Embun dan Abra menatap senja yang mulai menghilang.
__ADS_1
"Terima kasih senja, kamu hadir membawa ketenangan dalam gelisah hatiku!" batin Embun sendu, sembari memegang erat tangan Abra.