KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Perselisihan


__ADS_3

"Assalammualaikum!"


"Baru pulang, kemana saja kamu? Hampir tengah malam, kamu baru pulang!" ujar Clara sinis, Kanaya terdiam. Kanaya melirik ke arah jam di dinding. Tepat pukul 22.30 WIB, waktu hampir tengah malam.


Kanaya menghela napas, dia memilih diam daripada bertengkar. Kanaya menyadari kesalahannya, dia pulang sangat terlambat. Namun Kanaya tak sepenuhnya salah, dia sudah meminta izin pada Galuh. Kanaya mengatakan alasan keterlambatannya. Meski alasan itu tidak sepenuhnya benar. Kanaya menyimpan rasa sakit yang begitu besar. Kanaya tidak ingin durhaka pada Galuh. Sebab itu dia menyimpan rasa sakitnya. Keputusan bodoh yang mungkin menjadi bumerang bagi hubungannya dengan Galuh.


"Maaf tante, saya ada urusan!" ujar Kanaya lirih, tatkala Clara menghampirinya dengan terus menyalahkannya. Kanaya merasa jengah dan perlu mengklarifikasi keterlambatannya. Namun Clara terus menekan Kanaya. Mencoba memanfaatkan keadaan yang ada.


"Itu hanya alasanmu saja. Darah Embun mengalir dalam darahmu. Munafik!" ujar Clara sinis, Kanaya langsung mengangkat wajahnya, tatapannya tajam ke arah Clara. Adi langsung berdiri, menarik tangan Clara. Adi meradang mendengar sindiran pedas Clara pada Kanaya.


"Jaga bicara tante, selama ini aku diam demi kehormatan tante. Namun jika tante mempertanyakan kehormatan ibuku. Maka jangan pernah berharap aku sopan padamu!" sahut Kanaya dingin, Clara meradang. Dia berjalan menghampiri Kanaya. Perkataan kasar Kanaya mematik amarah Clara. Dengan segenap tenaga dia melepaskan diri dari genggaman tangan.


"Lancang, kamu berani mengancamku!" ujar Clara, sembari mengangkat tangan. Namun secepat kilat, Kanaya menahan tangan Clara. Kanaya semakin berani, kedua bola mata Clara membelalak. Dia tak percaya, wanita bercadar yang terlihat lemah. Kini berdiri melawannya dengan penuh tenaga.


"Jangan berani menamparku. Selama aku hidup, mama tidak pernah menamparkan. Jangankan menamparku, mengangkat tangannya padaku tidak pernah. Jadi jangan pernah melewati batasan anda sebagai seorang ibu mertua!"


"Sayang, lihat sikapnya padaku. Dia bicara kasar, bahkan berani mengancamku. Semua ini hasil didikan Embun yang kampungan. Tak beradab, meski lahir dan tumbuh besar dalam keluarga terpandang!" ujar Clara, Kanaya menunjuk wajah Clara. Adi terbelalak tak percaya, Kanaya yang polos berubah menjadi wanita yang keras dan garang.


"Sekali lagi anda menghina mama. Jangan salahkan saya, jika lupa hubungan diantara kita!" ujar Kanaya, sembari menunjuk wajah Clara. Kanaya meradang, mendengar hinaan dan keraguan Kanaya akan didikan Embun.


"Berani kamu!" teriak Clara, tatkala melihat Kanaya berjalan menjauh. Nampak Kanaya berdiri tepat di anak tangga pertama. Teriakkan Clara membuat Kanaya terkejut. Sekilas nampak senyum simpul Kanaya. Seakan Kanaya tengah menertawakan keraguan Clara.


"Jika tante ingin membuktikkan seberapa besar amarahku. Tante bisa mengatakannya lagi!" ujar Kanaya tegas, Clara tertawa dengan begitu keras. Kanaya tak menggubris sikap Clara. Dengan santainya, Kanaya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Kanaya terlihat tenang, tak terusik dengan hinaan Clara.


"Kamu tak lebih dari wanita hina, layaknya ibumu yang terus menghancurkan kebahagianku. Sekarang aku yang akan menghancurkan kebahagiamu!" teriak Clara lantang, suaranya menggema di seluruh rumah Adi Kusuma.


Plaakkk


"Kamu!" ujar Clara kesal, sembari memegang pipinya yang terasa panas. Kanaya berdiri tepat di depannya. Kanaya menatap lekat Clara, tatapan penuh amarah yang siap meledak.


"Jangan pernah menguji kesabaranku!" ujar Kanaya tepat di depan Clara.

__ADS_1


"Kamu durhaka!"


"Maaf, jika saya bersikap berlebihan. Namun sikap anda sudah sangat keterlaluan. Sebagai menantu, saya akan hangat dan sopan selama anda menghargai saya. Namun saya bisa kasar, jika anda mulai mempertanyakan didikan mama Embun. Galuh suami yang saya hormati, tapi mama yang selama ini menjadi panutanku. Jadi jangan pernah membuat saya memilih. Sebab selamanya kehormatan mama yang akan Kanaya junjung!" tutur Kanaya tegas, lalu meninggalkan Clara dan Adi.


"Papa, dia menamparku!" ujar Clara, Adi diam tak peduli akan rengekan Clara. Jelas Adi mengetahui, siapa yang sebenarnya bersalah?


"Jika perlu, Kanaya berhak menamparmu sebanyak yang dia inginkan!" sahut Galuh sinis, Clara dan Adi langsung menoleh. Tanpa mereka sadari, Galuh ada mendengarkan perdebatan Kanaya dan Clara.


"Galuh, kamu jangan salah paham!"


"Tidak perlu dijelaskan, aku sudah mendengar semuanya!" ujar Galuh, sembari berlalu.


"Sampai kapan Galuh? Sampai kapan jarak diantara kita? Papa memang bersalah telah menikah dengan Clara. Papa laki-laki pecundang yang terus lari dari rasa bersalah. Namun percayalah Galuh, kamu satu-satunya yang papa sayangi. Kamu kebanggaan papa dan hanya padamu papa menggantungkan harapan kelak di hari senja!" batin Adi pilu, punggung Galuh semakin jauh. Namun tak sekalipun Adi memalingkan pandangannya. Jarak yang terus dibuat Galuh, semakin membuat Adi terluka dan merasa bersalah.


Kreeekkk


"Jangan katakan apapun, aku sadar kalau salah!" ujar Kanaya, saat melihat Galuh masuk ke dalam kamar.


Kanaya berlalu tanpa menoleh ke arah Galuh. Hijab panjangnya tak lagi menutupi mahkota indahnya. Wajah cantiknya begitu teduh, tak lagi cadar menutupinya. Kanaya naik ke atas tempat tidur. Tubuhnya terasa lelah dan hatinya juga sangat lelah. Kanaya memilih diam, tak mengatakan luka hatinya pada Galuh. Sekadar mengatakan rasa kecewanya akan sikap Galuh. Namun tanpa Kanaya sadari, Galuh mulai memahami arti diamnya. Amarah dan rasa kecewa yang terkadang menjadi alasan sebuah perdebatan dalam rumahtangga.


"Sayang!" bisik Galuh, Kanaya menggeliat. Tatkala Galuh berbisik tepat di telinganya. Suara lembut dan hembusan napas Galuh, menggugah gairah cinta dalam diri Kanaya. Namun Kanaya menolak dengan tegas hangat yang Galuh tunjukkan. Penolakan yang membuat Galuh terdiam dan yakin akan pendapatnya.


"Sayang!" ujar Galuh mesra, tangan Galuh melingkar sempurna di tubuh Kanaya. Galuh menyusup di balik tengkuk Kanaya. Tubuh Kanaya bergetar hebat, hasrat Kanaya membuncah. Darahnya mendidih membakar tubuh Kanaya. Perlahan Galuh membuat Kanaya luluh, larut dalam hangat dan buaian cintanya.


"Maaf aku lelah!"


"Kamu marah, karena aku berkata seperti itu. Kanaya sayang, aku tak pernah membedakan orang tuamu dan orang tuaku. Mama Embun bukan hanya ibumu, tapi dia ibuku. Aku memilih diam, sebab aku menghargai amarah dan rasa kecewamu. Aku ingin membuktikan pada dunia, istriku Kanaya bukan wanita biasa. Dia mampu melawan dunia demi kehormatan keluarganya. Tanpa perlu aku ikut campur atau turun tangan. Kanaya Fauziah Abimata, kebanggaan keluarga Abimata yang akan terus menjunjung tinggi kasih sayang!"


"Hatiku sakit!" ujar Kanaya lirih, Galuh mengangguk di balik punggung Kanaya.


Galuh memeluk Kanaya begitu erat, menyandarkan kepalanya pada tubuh Kanaya. Galuh mengusap perut Kanaya, Galuh merasakan hangat dalam setiap sentuhannya. Ujung jarinya terasa panas, tatkala Galuh merasakan denyut nadi di dalam perut Kanaya. Denyut yang begitu lemah, tapi terasa begitu keras menggetarkan hati dan jantungnya.

__ADS_1


"Kemarilah, menangislah dalam pelukan. Namun jangan pernah menangis di depan Clara. Tunjukkan padanya, kamu kuat dan tangguh. Lakukan apapun yang menurutmu benar!" ujar Galuh, sembari mendekap Kanaya. Galuh memeluk Kanaya begitu erat, menempelkan kepala Kanaya tepat di depan dadanya.


"Kamu tidak marah padaku!"


"Aku tidak akan menyalahkanmu atau marah padamu, tapi aku juga tidak akan membela atau melindungimu!" ujar Galuh tegas, Kanaya mengangguk dalam pelukan Kanaya. Galuh menghela napas lega, akhirnya dia bisa bernapas lega. Tak ada lagi perselisihan diantara mereka berdua.


"Sayang, kemana kamu pergi sampai semalam ini?" ujar Galuh dengan hati-hati. Galuh takut pertanyaan mengusik Kanaya. Sebab itu Galuh berhati-hati dalam bertanya.


Kanaya langsung bangun dari tidurnya. Kanaya duduk tepat di depan Galuh, dengan penuh kehangatan Kanaya menuntun tangan Galuh. Kanaya meminta Galuh menyentuh perutnya dan sesekali mengusap perutnya. Galuh merasa heran, tapi dia tetap melakukannya. Senyum bahagia Kanaya, sejenak membuat Galuh lupa akan rasa penasarannya. Galuh melihat sosok Kanaya yang lain.


"Rasakan denyut nadinya!" ujar Kanaya dengan rasa bahagia.


"Maksudmu!"


"Aku hamil!" ujar Kanaya bahagia, Galuh terdiam terpaku.


"Kamu hamil!" ujar Galuh terbata, seraya berdiri menjauh dari Kanaya.


" Iya aku hamil anak kita!" sahut Kanaya dengan senyum bahagia.


"Tidak!" teriak Galuh, lalu berlari ke luar kamarnya. Kanaya terpaku, menatap punggung Galuh yang menjauh. Pemikiran Kanaya liar, melihat sikap dingin Galuh yang tiba-tiba.


"Kenapa kamu pergi? Mungkinkah kamu menolak kehadirannya? Kenapa kamu tidak bahagia mendengar dia tumbuh di dalam rahimku? Dia buah cinta kita, bukti cinta tulusku. Namun sikap dinginmu, seakan mengatakan penolakanmu. Kenapa? Ada apa dengan dirimu?" batin Kanaya, seraya menatap bayangan Galuh yang pergi menjauh darinya.


**************************************************



Hai para readrs, tolong dukung author di karya baru. Author mencoba kembali aktif dan semoga tidak mengecewakan. Terima kasih dan selamat membaca.


Maaf, jika karya "KESUCIAN EMBUN" terhambat, author usahkan up tiap hari. Sekali lagi terima kasih dan mohon dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2