KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Kekaguman


__ADS_3

"Galuh, papa ingin bicara!"


"Ada apa? Aku mengantuk!" sahut Galuh santai, Adi menahan tangan Galuh. Kedipan matanya, isyarat Adi memaksa Galuh duduk bersamanya di meja makan.


Galuh putra tunggal Adi, penerus kerajaan bisnis Kusuma Group. Sejak kecil Galuh sudah dipersiapkan untuk menjadi pewaris tunggal. Bahkan demi asa seorang Adi Kusuma yang ingin melihat Galuh sebagai pewaris tunggal. Adi menolak memiliki keturunan dari Clara. Sejak menikah, Clara hanya seorang istri dan takkan pernah menjadi ibu bagi keturunannya. Perselisihan Clara dan Galuh, nyata diketahui oleh Adi. Namun tak sekalipun Adi bersuara, membela salah satu diantara Galuh dan Clara.


"Galuh!"


"Baiklah!" sahut Galuh, Adi mengedipkan kedua matanya. Galuh duduk tepat di depan Adi. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.00 WIB. Hampir tengah malam, tapi Adi masih terjaga. Seorang ayah yang menunggu putranya pulang. Lupa akan rasa lelah, hanya demi ketenangan hati.


"Galuh, jawab papa dengan jujur!" ujar Adi, Galuh mengangguk tanpa menoleh ke arah Adi. Sikap acuh yang selalu ditunjukkan Galuh. Jarak yang terus tercipta, semenjak Clara menjadi istri kedua dari Adi.


"Apa yang dikatakan Clara benar? Kamu menyukai putri dari Abra Abimata!" ujar Adi, sontak Galuh mendongak.


Dua bola matanya membulat sempurna. Galuh terkejut, tatkala Adi mempertanyakan rasanya pada Kanaya. Dosen yang dikaguminya beberapa bulan terakhir. Sebuah rasa kagum yang entah bernamakan apa? Namun rasa itu nyata dan tulus adanya.


"Galuh, kenapa kamu diam?" ujar Adi, membuyarkan rasa terkejut Galuh. Adi menatap lekat sang putra. Keturunan yang mungkin lupa akan rasa rindu pada pelukannya. Namun selamanya Adi tak pernah lupa. Jika Galuh putra kecilnya, satu-satunya pewaris keluarga Kusuma.


"Apa yang ingin papa ketahui? Lagipula, tidak ada hak papa mencampuri urusanku!"


"Papa tidak akan ikut campur. Papa hanya ingin mendengar darimu. Benarkah kamu menyukai putri Abra, janda dari tuan Haykal!"


"Papa, jangan pernah menyebut status Kanaya. Dia tak seburuk pemikiran papa. Istri papa tidak berhak menilai Kanaya seburuk itu!" sahut Galuh marah, Adi menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Semenjak Adi melihat kebersamaan Kanaya dan Galuh di pesta. Sejak saat itu, Adi langsung menyelidiki latar belakang Kanaya. Bahkan Adi mengetahui, status yang kini melekat dalam diri Kanaya. Status janda yang membuat Galuh meradang. Merasa Adi telah menghina Kanaya. Kemarahan Galuh nyata adanya, semua terlihat jelas dalam dua mata Galuh yang memerah. Kepalan tangan Galuh, menampakkan jelas kemarahan akan penilaian Adi pada Kanaya.


"Galuh, papa tidak menilainya. Papa mengatakan fakta yang sebenarnya. Papa tidak ingin kamu kecewa. Ketika kamu menyadari, dia tak lebih janda yang telah kehilangan kesuciannya!" ujar Adi, Galuh menunduk. Tangannya mengepal sempurna, menggenggam erat ponsel pintar yang ada di tangannya. Adi melihat kemarahan Galuh, amarah yang pernah membuatnya kehilangan Galuh.


Braaakkkk....Praaaayyyyrrr


Galuh melempar ponsel pintarnya. Dia melempar ponsel dengan seluruh tenaganya. Suara ponsel yang hancur menggema. Sehancur perasaan Galuh mendengar penilaian Adi. Galuh tak lagi bisa menahan amarahnya. Malam yang sunyi, tiba-tiba menjadi riuh. Tatkala ponsel menghantam tembok dan jatuh berserakan di lantai marmer rumah keluarga Kusuma.


"Papa tidak berhak mengatakan semua itu. Jangan pernah pertanyakan kesucian Kanaya. Status yang papa sematkan pada Kanaya. Tak lantas membuat Kanaya rendah. Bunga yang yang terpetik dari pohonnya. Belum tentu ternoda dan layu. Kanaya ibarat bunga Edelweis, takkan layu meski tak lagi tumbuh di tanah. Kanaya putri keluarga Abimata yang suci. Laksana bunga Edelweis yang mekar di atas tanah tandus dan vukanik gunung Semeru. Kanaya bak bunga Edelweis, lambang keabadian dan kesucian seorang wanita!" tutur Galuh tegas, Adi membisu. Pertama kalinya dia merasakan kedewasaan sang putra. Galuh menjadi laki-laki sejati. Semua demi Kanaya, wanita yang dipandang rendah oleh dirinya.


"Nak, seberapa besar kekagumanmu padanya? Kenapa kamu begitu menyanjungnya? Sebaik apapun perumpamaan yang kamu katakan. Semua itu tak lantas merubah status yang tersemat dalam dirinya. Banyak wanita sepertinya, bahkan jauh lebih baik darinya. Lantas, kenapa kamu teguh memilihnya?"


"Karena Galuh telah terpedaya oleh kemunafikannya. Seorang wanita yang hanya ingin mencari rasa nyaman!" sahut Clara, lalu duduk tepat di samping Adi. Clara bergelayut manja pada lengan Adi. Sontak Galuh membuang muka. Galuh merasa jijik melihat sikap Clara. Adi mencoba menjauh dari Clara, tapi bukannya menjauh Clara malah berusaha menempel pada Adi.


"Maksudmu, aku wanita tidak baik!" sahut Clara, Galuh tersenyum sinis.


"Kamu munafik, itu julukan yang paling tepat untukmu!" ujar Galuh lantang.


"Beraninya kamu!" ujar Clara kesal, tanpa sadar Clara mengangkat tangannya. Namun Adi langsung menarik tangannya. Clara jatuh menghantam sofa. Adi mungkin mencintai Clara, tapi Adi takkan pernah dia melihat Clara menyakiti Galuh.


"Sayang, dia yang menghinaku!" rengek Clara, Adi menoleh. Tatapan tajam seorang tuan besar yang penuh kharisma. Seketika menutup rapat bibir Clara.


"Aku sudah melarangmu keluar kamar. Kamu lupa dengan peraturanku. Kamu istriku, bukan ibu dari Galuh. Jadi, jangan pernah ikut campur urusanku dengan Galuh. Apalagi menjadikan Galuh alata balas dendammu pada Abra. Jangan pernah melewati batasanmu. Kamu menikah denganku, hanya demi harta dan kenyamanan. Sedangkan aku menikah denganmu, demi kepuasan semata. Sekarang kamu diam atau masuklah ke dalam kamar!" ujar Adi lantang dan tegas, Clara langsung menunduk. Hatinya terasa ngilu, luka tanpa nanah yang ditorehkan Adi dengan pisau tajam kata-katanya. Membuat Clara merasa tersisih dan terhina.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu sekejam ini?" ujar Clara disela isak tangisnya.


"Terserah padamu!" sahut Adi santai, tanpa peduli air mata Clara.


"Sudahlah, lebih baik aku masuk. Silahkan kalian lanjutkan!" ujar Galuh, sembari berdiri dan berjalan menjauh dari Adi dan Clara.


"Galuh duduk, papa belum selesai bicara!" bentak Adi, Galuh menoleh. Nampak jelas amarah Adi, Clara masih menangis.


"Papa sudah menilai, kenapa masih membutuhkan jawabanku? Aku percaya, papa bisa mencari jawaban dari rasa penasaran papa. Namun apapun pemikiran papa. Jangan pernah menghina atau merendahkan Kanaya. Bunga Edelweis abadi dan langkah. Sebaliknya, cinta dan kesucian Kanaya tak perlu diragukan lagi. Kanaya abadi dalam benak dan hatiku!"


"Apa yang akan kamu lakukan? Diam atau berjuang untuknya. Papa hanya ingin membantumu. Jika memang kamu mencintainya, papa akan meminangnya untukmu!"


"Tidak perlu, aku akan berjuang dengan usahaku!"


"Tapi papa yakin, dia akan menerimamu!" ujar Adi, Galuh termenung. Teringat perkataan Abra yang tanpa sengaja di dengarnya.


"Sayangnya, aku sudah ditolak sebelum berjuang. Aku kalah dalam cinta ini. Terlepas aku akan berjuang, satu hal yang pasti. Jangan biarkan dia lepas dan mengganggu Kanaya. Jika tidak ingin merasakan amarahku!"


"Galuh, apa kamu mencintainya!" teriak Adi memanggil nama Galuh.


"Rasaku lebih dari cinta, kekagumanku nyata padanya. Rindu ini ada karenanya dan hati ini berdetak demi dirinya. Tanpa aku berharap bersamanya!"


"Kekuarga Abimata munafik!"

__ADS_1


"Kamu sangat mencintainya nak!" batin Adi pilu.


__ADS_2