KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
PEMAKAMAN


__ADS_3

"Kemana anda akan membawa saya? Sekarang bukan saatnya bermain, ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Lagipula, hubungan kita tidak sebaik itu. Sampai harus keluar bersama-sama, demi hubungan yang tak pernah saya inginkan!" ujar Hanif sinis penuh kekesalan.


Embun menatap lekat wajah Hanif, wajah tampan yang hampir sama dengan Abah Iman. Ayah yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Seorang ayah yang kini kehilangan haknya akan putra tunggalnya. Semua karena kesalahpahaman yang tak sepantasnya ada. Secara tingkatan, Hanif adalah kakak sepupu Embun. Namun secara status, dia kakak sambung Hanif. Sebab Embun telah menjadi putri pertama Iman. Alasan yang membuat Embun berhak mendidik Hanif.


"Tutup mulutmu, segera masuk ke dalam mobil. Ingat Hanif, aku bisa membuatmu tinggal di jalanan dalam beberapa detik ke depan. Jika kamu merasa mampu hidup tanpa harta Adijaya. Silahkan kamu menolak perintahku, tapi jika kamu masih membutuhka harta Adijaya. Maka lebih baik kamu diam!" sahut Embun dingin, suara Embun bak salju yang membekukan tubuh Hanif.


Braakkkk


Hanif menutup pintu mobil Embun dengan begitu kasar. Amarah jelas terlihat dari sikapnya, tapi Embun tidak terusik. Dia lebih tenang, ketika menangani Hanif. Sedangkan Hanif terlihat sangat kesal dan penuh kebencian pada Embun. Rasa benci yang berawal dari kesalahpahaman semata. Namun Embun percaya, Hanif memiliki hati yang baik. Dia akan mengerti, saat Embun menjelaskan semuanya.


Tak berapa lama, Embun mengemudikan mobilnya. Hanif duduk tepat di samping Embun. Hanif mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Tak sekalipun Hanif menganggap keberadaan Embun. Hanif menyimpan kebencian yang teramat besar dalam hatinya untuk Embun. Hanif merasa Embun penyebab rasa sepinya. Dia alasan Iman melupakan keberadaannya. Embun kakak yang tanpa sengaja membuatnya tersisih dan akhirnya menjauh dari keluarga dengan luka tak bernanah.


"Kemana dia akan membawaku pergi? Bukankah dia sangat disiplin dalam bekerja. Sekarang malah dia keluar kantor tanpa alasan yang jelas. Jujur aku sedikitpun tidak peduli akan keramahannya. Dia tetap musuhku, alasanku kehilangan kasih sayang papa. Dia yang membuatku kesepian, hidup tanpa mengenal papa. Menahan rindu yang setiap detik menyiksa. Dia, dia satu-satunya orang yang membuatku membenci papa. Seorang ayah yang selalu aku rindukan setiap detik dalam hidupku. Kenapa dia ada diantara diriku dan papa? Kenapa aku dilahirkan? Jika nyatanya aku terabaikan. Amarahku, hanya caraku menutupi air mata sakitku. Aku merindukan hangat pelukan seorang ayah. Namun tubuhku terlalu lelah menunggu. Aku tersakiti dengan sepi ini. Namun mataku terlalu lelah menangis. Siapa dia? Sampai papa tak pernah menyadari kehadiranku. Seistimewa apa hadirnya? Sampai papa sangat membutuhkannya. Demi dia, papa mengacuhkan tangisku. Demi hadirnya, papa mengabaikan keberadaanku. Demi melupakannya, papa menjauh dariku. Dia hanya dia, orang yang bersalah atas hancur hidupku. Dia yang membuatku terus menangis, air mata yang tak lagi keluar dari kedua mataku. Air mata yang keluar dari hatiku. Kebencianku padanya, menciptakan amarah yang menyiksaku. Aku tersiksa, setiap bentakanku pada papa. Melihat diam papa, membuatku merasa tak berharga di hidupnya. Kini dia kembali, akankah aku menangis darah. Menatap punggung papa yang semakin menjauh!" batin Hanif sendu, Hanifa menatap lurus ke luar jendela mobil. Hanif menggigit tangannya, hanya demi menahan air matanya. Hanif tak ingin Embun melihat air matanya.


Sekilas Embun menoleh ke arah Hanif. Seutas senyum nampak di wajah Embun. Dengan mudah Embun melihat air mata yang sengaja di tahan oleh Hanif. Tangan Hanif bergetar penuh kegelisahan. Alasan Embun menyadari air mata yang ingin disembunyikan oleh Hanif. Embun memahami amarah dan kebencian Hanif padanya. Embun seorang anak yang telah merenggut hangat tangan abah Iman dari Hanif.


Embun terus mengemudikan mobilnya. Tak ada suara, Embun dan Hanif hanya diam tanpa kata. Keduanya memilih larut dalam lamunan. Tak berapa lama, mobil Embun terhenti di sebuah area pemakaman. Hampir lima belas menit, mobil Embun melaju di jalan raya. Akhirnya mobilnya berhenti tepat di area pemakaman. Hanif langsung tersentak, ketika menyadari tempat yang mereka datangi.


"Kita turun!" ujar Embun dingin dan tegas, Hanif menoleh ke arah Embun. Tatapan yang seolah menolak ajakan Embun.


"Turunlah, kamu akan mengetahui alasan kita datang. Mungkin setelah ini, kamu akan menemukan alasan kebencianmu padaku!" ujar Embun, lalu turun dari mobilnya. Embun turun tanpa menunggu atau memaksa Hanif turun. Embun percaya, Hanif akan mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Embun berjalan menuju pintu masuk area pemakaman. Nampak area pemakaman sepi, hanya ada beberapa orang sedang ziarah. Embun menghentikan langkahnya tepat di depan pintu pemakaman. Embun memanjatkan doa, seraya menutup mata. Sekilas nampak Embun menyeka air matanya. Embun melangkah dengan kaki bergetar. Tanah pemakaman yang tak pernah sanggup Embun langkahi. Kedua kakinya terasa lemah, seakan tak ada tenaga menginjak tanah pemakaman. Tanah tempat mendiang sang ibu tertidur selamanya. Ada rasa tak sakit yang teramat di hatinya. Ketika mengingat dirinya lahir bersamaan dengan meninggalnya sang ibu.


"Bismillahhirrohmanirrohim!" ujar Embun lirih, lalu melangkah masuk ke dalam tempat pemakaman umum. Embun berjalan tanpa menoleh ke arah Hanif. Dia terus melangkah menuju makam sang ibunda tercinta.


"Kenapa dia membawaku kemari?" geturu Hanif, sembari mengikuti langkah Embun. Hanif penasaran akan rahasia yang seolah tersimpan di pemakaman ini.


"Mama, assalammualaikum!" batin Embun, tepat di samping makam sang mama.


Embun duduk berjongkok tepat di samping makam. Dengan menunduk Embun memanjatkan doa. Embun tetlihat sang khusyuk, tak sedikitpun Embun terusik dengan kedatangan Hanif. Nampak Hanif berdiri mematung di depan Embun. Hanif membaca nama yang tertulis di atas Nisan. Hanif terkejut melihat nama yang dibacanya. Nama Adijaya yang sama dengan nama belakangnya. Hanif tak pernah mengenal nama Adijaya, selain dia dan Dewangga.


"Ini makam almarhumah ibuku. Putri kedua keluarga Adijaya. Adik kandung dari abah Iman. Istri pertama tuan Arya Maulana!" ujar Embun, sesaat setelah dia melihat Hanif heran dengan nama yang tertulis di atas Nisan. Keterkejutan Hanif terlihat jelas di wajahnya. Embun terdiam menatap nanar makam Almaira Adijaya. Ibu yang melahirkannya, tanpa bisa membesarkannya.


"Aku sengaja membawamu kemari. Agar kamu mengetahui alasan dibalik statusku sebagai putri abah Iman. Laki-laki yang kamu benci, hanya karena membesarkan dan menganggapku sebagai putri kandungnya. Bahkan demi anak piatu ini, beliau melupakan kebahagiaannya!"


Embun duduk tepat di samping Nisan Almaira. Tangannya mengusap nama yang tertulis di atas Nisan. Almaira Adijaya, wanita yang sangat berharga dalam hidup Iman Ayyun Khummani. Embun menunduk terdiam, Hanif menatap tak percaya. Seorang wanita yang begitu keras, kini terlihat lemah dan rapuh. Hanif tak menduga, ada kepedihan yang begitu dalam hidup seorang Embun Khafifah Fauziah.


"Aku seorang anak yang lahir piatu, tepat di hari aku terlahir. Ibu yang melahirkanku, meninggal saat melahirkanku. Namun sejatinya aku anak yatim, jauh sebelum aku dilahirkan. Aku memiliki ayah, tapi aku tak pernah mengenal atau merasakan hangat pelukannya. Hidupmu jauh lebih baik dariku, kedua orang tuamu masih hidup. Mereka selalu ada di sampingmu. Kedua matamu masih bisa melihat mereka. Kedua tanganmu masih bisa memegang tangan mereka. Kedua telingamu masih bisa mendengar suara mereka. Nikmat yang takkan pernah aku miliki selama sisa hidupku. Lantas, apa alasan kebencianmu padaku?" tutur Embun lirih, Hanif tertunduk terdiam. Ada rasa bersalah, mendengar kisah yang tak pernah ada dalam bayangannya.


"Hanif, abah Iman seorang ayah yang sangat baik. Dia laki-laki hebat yang mengorbankan kebahagiannya, demi diriku anak terlantar. Jika demi diriku, dia mampu mengorbankan segalanya. Apalagi dirimu yang anak kandungnya. Hanya saja cinta beliau padamu berbeda, sebaliknya kamu menafsirkannya berbeda!"


"Dia hanya peduli padamu!"

__ADS_1


"Kamu salah Hanif, dia sangat menyayangimu. Abah tak pernah mengacuhkan keberadaanmu. Kerja kerasnya selama ini, semua itu hanya untukmu. Abah Iman tak pernah ingin melihatmu kekurangan. Dia ingin yang terbaik untukmu, tapi nyatanya tetesan keringatnya harus dibayar dengan air matanya!"


"Bohong, semua perkataanmu tak lebih dari pembelaan diri. Kamu ingin membela dia, laki-laki yang jelas tak pernah menganggapku ada. Jangankan menyayangiku, bahagia akan kehadiranku saja tidak. Dia laki-laki yang membuatku terlahir, tapi tak pernah membesarkanku!" ujar Hanif lantang, Embun menggeleng lemah. Embun tidak setuju dengan perkataan Hanif. Dia merasa luka Hanif tak lebih dari kesalahpahaman.


"Kamu salah paham, abah tak sejahat itu. Dia menyayangimu dengan ketulusan. Dia membesarkanmu dengan tetes keringatnya!"


"Kamu mengigau, keluarga Adijaya sudah kaya raya. Meski tidak bekerja, kita tidak akan mati kelaparan. Sama halnya dirimu yang dibesarkan dalam kemewahan, tanpa sedikitpun kekurangan!" ujar Hanif dengan suara kerasnya.


"Aku dibesarkan tanpa harta keluarga Adijaya, melainkan keringat Iman Ayyun Khumanni. Seorang ayah yang ikhlas meneteskan keringatnya di atas tanah subur pegunungan!" ujar Embun lirih, Hanif menatap lekat Embun. Seolah dia tidak percaya akan perkataan Embun.


Hanif melangkah mundur, ketika anggukan kepala Embun menjawab keraguannya. Hanif merasa semuanya hanya kebohongan. Namun anggukan kepala Embun, menjadi jawaban telak akan keraguannya. Dia merasa kacau, ketika Embun mengatakan kebenaran yang tak pernah dia sangka.


"Hanif Eka Adijaya, aku tidak hanya kehilangan kedua orang tuaku sejak kecil. Namun aku kehilangan hangat kasih sayang seorang ayah di masa pertumbuhanku. Aku harus belajar mengerti, jika abah sibuk di sawah. Aku mencoba menahan tangis, saat aku terjatuh. Sebab tangan abah hanya cukup memegang cangkul dan tak lagi sanggup menggendongku. Aku harus mandiri, ketika kesulitan datang menyapaku. Sebab tak ada pundak, untukku bersandar setiap saat. Namun di balik semua kesepianku, ada satu kepercayaan dalam hidupku. Jika semua yang dilakukan abah, caranya mendidikku dan menyayangiku. Cara yang sama dia lakukan padamu, meski kamu menafsirkannya berbeda!"


Embun berdiri menghampiri Hanif, keduanya berdiri berdampingan tepat di samping makam Almaira Adijaya. Embun menepuk pelan pundak Hanif. Meminta Hanif melihat sekelilingnya. Hanif mengikuti arahan Embun, meski Hanif tak mengerti maksud Embun. Dia tetap mengikuti permintaan Embun.


"Hanif, tidak ada yang lebih istimewa diantara aku dan kamu. Abah menyayangi kita dengan porsi yang sama, tapi dengan cara yang berbeda dan tanggapan yang tak sama. Berbeda dengan anak-anak itu, hidupmu jauh lebih beruntung. Lihatlah mereka yang menghabiskan masa kecilnya di atas tanah makam ini. Ketika seusia mereka, aku yakin kamu sibuk dengan mainan-mainan mewah. Sedangkan mereka hanya bermain dengan sabit dan sapu lidi. Mereka tidak punya permainan lain, karena masa kecil mereka hanya untuk mencari rejeki dengan membersihkan makam. Tak ada keluhan yang keluar dari bibir mereka. Hanya tawa penuh kebahagian yang terutas di wajah polos mereka. Rasa syukur yang tak pernah kamu miliki, karena hatimu yang penuh dengan kekurangan. Bukan abah yang tak pernah ada waktu untukmu, tapi kamu yang tak pernah menghargai kerja kerasnya. Bukan abah yang tak pernah menyayangimu, tapi kamu yang tak melihat kasih sayangnya. Bukan abah yang mengacuhkanmu, tapi kamu yang tak pernah menghormati hadirnya. Terkadang kesalahan itu kita yang melakukannya, tapi seolah kita yang paling benar. Keangkuhan yang membuatmu tak pernah merasakan tulus kasih sayang abah. Kesombongan yang membuat merasa benar tak pernah salah. Keserakahan yang membuatmu selalu kurang. Intropeksi dirimu, sebelum menilai salah orang lain!" tutur Embun, sekilas nampak Embun menyeka air matanya. Embun menunduk menatap gundukan tanah tempat ibunya dimakamkan.


"Hanif, penyesalanmu tak berguna. Kala abah berada di samping mama Almaira. Abah tak pernah mengeluh akan kebencianmu. Dia tetap diam, berpikir kamu berhak membencinya. Namun percayalah Hanif, kamu orang yang paling hancur. Jika abah tak lagi ada di dunia ini. Air mata dan penyesalanmu, takkan mampu mengubah takdir yang tertulis. Jangan sampai kamu merasakan hidup sepertiku. Merindukan pelukan yang takkan pernah bisa aku rasakan lagi!" ujar Embun, Hanif menunduk membisu.


"Jarak yang kamu ciptakan, masih bisa kamu hilangkan dengan satu pelukan. Namun jarak yang Tuhan ciptakan, takkan pernah bisa kamu satukan. Kematian jarak yang paling dalam dan menyakitkan. Jangan sampai kerinduan yang kamu simpan dalam bencimu. Menjadi kerinduan tanpa kepastian. Sebab merindukan tanpa akhir sangat menyakitkan!" ujar Embun, lalu meninggalkan area pemakaman. Hanif tertegun menatap nanar makam Almaira Adijaya. Ada rasa ngilu yang tiba-tiba dirasakannya.

__ADS_1


"Salahkah kebencianku selama ini!" batin Hanif bimbang.


__ADS_2