
Seminggu lebih Abra pergi ke luar kota. Awalnya Abra pergi hanya untuk beberapa hari. Namun nyatanya pekerjaannya mengalami kendala. Terpaksa Abra tinggal lebih lama di luar kota. Embun mencoba memahami pekerjaan Abra. Tak terdengar keluhan dari bibir Embun. Dia nampak tenang dengan kepergian Abra. Namun setelah hampir dua minggu. Embun mulai gelisah dan merindukan Abra. Mungkin sang putra merindukan belaian sang ayah.
"Nur!" sapa Embun ramah, Nur yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Langsung mendongak, meninggalkan pekerjaannya dan menatap heran ke arah Embun.
"Iya!"
"Ikut denganku menemui kak Abra!"
"Bukankah kak Abra ada di luar kota!" ujar Nur, Embun mengangguk pelan.
"Lalu!"
"Kita menyusul kak Abra, aku akan memberikan kejutan buatnya!" ujar Embun riang, Nur menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kamu banyak berubah, hampir saja aku tidak mengenalmu. Kamu tidak pernah bersikap semanis ini. Biasanya kamu sangat dewasa, sekarang malah aku melihatmu seperti anak kecil yang merindukan mainannya!"
"Entahlah Nur? Aku begitu takut kehilangan kak Abra. Aku kehilangan jati diriku di depan kak Abra. Mungkin aku sangat mencintainya, sebab itu aku tak mampu jauh darinya. Setiap saat ada rasa takut dalam hatiku. Kepingan kenangan antara kak Abra dan Clara selalu mengusik hariku. Bisa saja aku seperti dulu, tapi aku takut kak Abra membenciku. Entah sampai kapan aku hidup dengan pribadi baruku?" ujar Embun lirih, Nur menghampiri Embun. Lalu memeluk sahabatnya dengan penuh kasih sayang.
"Nikmati saja sahabatku, sudah saatnya kamu lemah. Bersandar pada orang yang menyayangimu dengan tulus. Namun satu pesanku, kelak ketika harga dirimu direndahkan, kesetianmu dipertanyakan dan ketulusanmu diragaukan. Aku berharap melihat Embunku yang dulu. Bukan membangkang, tapi mempertahankan apa yang menjadi prinsip hidupmu!" tutur Nur, Embun mengangguk pelan. Pelukan hangat Nur membuatnya merasa tenang.
"Percayalah Nur, aku akan kuat dan tenang. Selama kamu ada selalu di sampingku. Kak Abra orang yang paling aku cintai, sedangkan kamu saudara yang paling aku sayangi. Kalian berdua ada di hatiku dengan porsi yang sama. Meski dengan makna dan tempat yang berbeda!" ujar Embun, Nur semakin erat memeluk Embun.
"Selama kamu bahagia, aku tidak keberatan melihat sikap manja dan lemahmu. Bertahun-tahun aku melihatmu tangguh melawan semua ujian. Diam dengan kemandirian, tanpa butuh tangan orang lain. Jika bersama Abra kamu merasa tenang. Apapun pribadimu sekarang? Aku akan merasa bahagia dan takkan pernah meragukannya. Sebab Embun Khafifah Fauziah yang aku kenal. Akan selamanya sama, meski dengan pribadi bahkan sifat yabg berbeda!" batin Nur, seraya memeluk erat Embun.
"Kita berangkat sekarang, takut kemalaman di jalan!" ajak Nur, Embun mengangguk dengan senyum yang merekah. Bayangan bertemu dengan Abra sudah bermain indah di benaknya. Kerinduan selama beberapa hari akan terobati.
"Kita pulang dulu, aku belum menyiapkan baju ganti!" ujar Embun.
"Tidak perlu, kita beli di perjalanan. Kamu istri big bos, apa perlu aku membelikannya untukmu?" ujar Nur menggoda Embun.
"Hmmmm, baiklah kita langsung berangkat!"
"Siap bu bos!" ujar Nur lantang, lalu berjalan keluar dari ruangannya. Nur dan Embun berjalan menuju tempat parkir. Nur sudah bisa mengemudikan mobil. Semenjak dia bekerja di kantor. Baik Embun dan Nur belajar mengemudi tanpa ada yang mengetahuinya.
...☆☆☆☆☆...
Embun dan Nur menempuh ratusan kilometer demi bertemu Abra. Bukan satu atau dua jam, hampir empat jam mereka mengemudikan mobil. Nur dan Embun tidak terlalu memaksakan diri. Mereka sering berhenti di masjid, sekadar menghilangkan letih dan melakukan sholat. Tepat pukul 20.00 WIB, mereka tiba di tempat Abra dan Fahmi menginap. Ibra tidak ikut, sebab dia harus menjaga perusahaan. Embun dan Nur berjalan menuju resepsionist resort tempat Abra menginap. Embun ingin mengetahui, dimana kamar Abra?
"Embun, hati-hati berjalannya. Kita pasti bertemu kak Abra. Hanya beberapa langkah kita sampai padanya!"
"Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya!" teriak Embun, Nur hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan.
Nur melihat kebahagian dalam lelah sahabatnya. Kondisi kehamilannya, seolah tak dipedulikan sama sekali. Embun berjalan begitu cepat menghampiri Abra. Saat dia mengetahui, Abra sedang ada di taman resort. Dalam benak Embun, hanya bertemu Abra hal yang paling penting saat ini. Kehangatan pelukan Abra, nyata diinginkan oleh Embun.
Duaaarr Duaaarr Duaaarr
Embun mendongak menatap langit. Nampak beberapa kali kilatan cahaya petir menerangi langit yang gelap. Suara gemuruh petir, seakan ingin menyambut kedatangan Embun. Nur menahan tangan Embun, meminta Embun berjalan lebih pelan. Sebab gerimis mulai menyapa. Nur takut Embun terpeleset dan jatuh. Seandainya Embun tidak hamil, mungkin Nur akan membiarkan Embun berlari menghampiri Abra. Semua demi kerinduan yang tak lagi bisa ditahan oleh Embun.
"Percayalah, aku baik-baik saja!" ujar Embun, lalu menepis tangan Nur dengan pelan. Embun berjalan cepat di bawah gerimis. Nur terus mengejar Embun. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
__ADS_1
Buuugggghhh
"Awwwsss!" teriak Nur kesakitan, tangannya memegang keningnya yang menabrak punggung Embun dengan begitu hebatnya.
"Kenapa kamu berhenti?" ujar Nur, sembari mengusap keningnya yang kesakitan.
"Embun!" sapa Nur lagi, ketika tak ada suara sahutan dari Embun. Nur mendongak menatap Embun, nampak tubuh Embun mematung. Nur menatap lurus ke depan, menatap sesuatu yang membuat Embun terdiam mematung.
Nur seketika menutup kedua mulutnya, rasa terkejut akan sesuatu yang dilihatnya. Membuat Nur hendak menjerit, tapi secepat kilat Nur menutup mulutnya. Nur tidak ingin kehadirannya menyulut perselisihan yang lebih besar. Sebaliknya Embun terdiam terpaku, melihat Abra berada diantara para wanita.
Embun melihat Abra yang tengah mengadakan sebuah pesta perayaan. Entah perayaan apa? Namun melihat orang-orang yang hadir, jelas mereka bukan orang sembarangan. Salah satu tamu yang membuat Embun terkejut, tidak lain Clara kakak sepupunya. Sebuah pesta yang seolah ingin menunjukkan perbedaan antara Embun dan Abra.
"Embun!"
"Nur, apa yang harus aku lakukan? Menghanpiri kak Abra atau pergi tanpa kata?"
"Maksudmu? Tentu saja kamu harus menemui kak Abra. Kamu bukan orang lain, kamu istri sahnya. Jadi tidak ada yang berhak melarangmu menemui kak Abra!" ujar Nur tegas, Embun menatap nanar perayaan yang tak sesuai dengan prinsipnya.
Malam yang indah, kini ternoda dengan perayaan yang melupakan kata pantas dan tidak pantas. Abra seolah berubah menjadi orang lain. Dia duduk diantara wanita yang bukan mukhrimnya. Pakaian minim yang mereka kenakan, nyata menampakkan aurat yang tak pantas dilihat. Nampak beberapa minuman beralkohol, meski nampak juga minuman soda dan jus buah. Embun memegang kepalanya yang mulai terasa pusing. Kejutan yang dilihatnya, tak mampu diterima oleh hati dan pikirannya.
"Embun, kamu baik-baik saja!" ujar Nur, Embun mengangguk sembari memegang kepalanya yang terasa pusing. Tubuhnya mulai terhuyung, terasa lemas dan tak bertenaga. Ratusan kilometer yang ditempuhnya telah menyita seluruh tenaganya.
"Nur, lebih baik kita kembali besok pagi. Aku tidak ingin merusak acara kak Abra. Mereka orang-orang hebat. Aku tidak ingin mempermalukan kak Abra!" ujar Embun lirih, Nur mengangguk pelan. Keduanya memutar tubuh, melangkah menjauh dari acara yang tak pernah ingin dilihatnya.
"Kalian, sedang apa di sini?" sapa Fahmi, Embun dan Nur mendongak ke arah Fahmi. Embun dan Nur hanya diam, jelas menunjukkan rasa tak nyaman. Dunia Abra yang tak pernah bisa ditempati oleh Embun. Meski Embun berusaha mengerti perbedaan itu.
"Kak Fahmi, besok pagi kami akan menemui kak Abra. Sekarang kak Abra sedang sibuk. Tak pantas kami mengganggunya!" ujar Nur, Embun hanya diam.
"Abra tidak sibuk, ini bukan acara resmi. Tanpa sengaja kami saling bertemu. Akhirnya kami membuat acara perpisahan ini. Setidaknya sebuah perayaan sederhana untuk keberhasilan proyek Abra!" ujar Fahmi menjelaskan, lalu Fahmi mengangkat tangannya. Fahmi melambai pada Abra yang tengah sibuk berbicara dengan para temannya semasa kuliah. Nur sudah meminta Fahmi membatalkannya. Namun Fahmi teguh ingin memanggil Abra.
"Abra, Embun datang menemuimu!" teriak Fahmi lantang, seraya melambaikan tangannya ke arah Abra.
"Embun!" sapa Abra lirih, sontak Abra berdiri. Abra tak percaya melihat Embun berdiri tak jauh darinya.
"Kak Abra!" ujar Embun, sesaat setelah memutar tubuhnya. Embun berjalan perlahan menghampiri Abra. Tepat di depan Abra, Embun menarik tangan Abra. Mencium lembut punggung tangan Abra. Nur berdiri tepat di belakang Embun. Menjadi penopang yang siap menjadi sandaran Embun.
"Sayang!" ujar Abra, Embun mengelak saat Abra hendak menciumnya. Embun langsung menutup hidungnya. Aroma minuman beralkohol dan asap rokok. Membuat Embun merasa mual. Embun mundur beberapa langkah, dia tidak tahan mencium aroma menyengat dari minuman alkhohol.
"Kamu benar-benar hebat. Ratusan kilometer kamu lewati, hanya demi menemui Abra. Kamu tidak percaya, jika Abra sedang bekerja. Sampai menyusulnya sejauh ini. Sungguh Embun, kamu cerminan istri yang begitu egois. Mengekang Abra dan menjauhkannya dari pergaulan bebasnya sebelum bertemu denganmu!" ujar Clara sinis, Embun menatap tajam Clara. Tangan Embun mengepal, menahan amarah yang siap meledak.
"Clara, jangan bicara sembarangan!" ujar Abra, Clara tersenyum sinis.
"Abra, perkataanku benar. Sejak tadi kamu merasa nyaman bersama kami. Tawamu jelas menunjukkan kebahagian. Bersamanya kamu hanya direndahkan, dia terus mengekangmu dengan alasan pernikahan. Sekalinya kamu bahagia, dia datang mengganggu!" ujar Clara dingin, Abra menarik tangan Clara.
"Tutup mulutmu, dia istriku!" ujar Abra emosi, sedangkan Embun tetap diam. Kepalanya terasa semakin berat, tapi Embun terus menahan tubuhnya. Agar dia bisa tetap berdiri tegak di depan Clara.
"Siapa wanita ini? Kenapa datang mengganggu acara kita? Lihat penampilannya yang kampungan!" ujar salah satu sahabat Abra, sontak Abra menoleh dengan penuh amarah. Tangan Abra menarik kra baju sahabatnya. Tangan Abra terangkat, tapi Fahmi langsung menahan tubuh Abra.
"Lihat Embun, kamu penyebab semua ini. Kamu telah mencuci otak Abra. Sampai dia bersikap kasar pada sahabatnya. Tidak cukupkah kamu merusak hubungan papaku dan om Arya. Sekarang kamu ingin merusak hubungan persahabatan kami. Dasar wanita murahan!" ujar Clara lantang, Abra menoleh ke arah Clara.
__ADS_1
"Clara, hentikan sebelum aku lupa kamu seorang wanita!" ujar Abra, Embun berjalan menghampiri Clara. Nur mengekor di belakang Embun, berjaga agar tidak terjadi sesuatu.
"Clara, kamu wanita berpendidikan tapi tak memiliki harga diri!" ujar Embun singkat, Clara meradang.
"Jangan pernah berpikir kamu pantas menamparku. Aku datang ratusan kilometer bukan untuk diam menerima tamparanmu. Apalagi mendengar hinaan dan tuduhan tak bernalarmu!" ujar Embun dingin, lalu menghempaskan tangan Clara ke udara dengan kasar.
Tap Tap Tap
Terdengar langkah Embun yang berirama. Embun melangkah dengan anggun, melewati Abra dan Clara. Embun berjalan menghampiri meja yang penuh minuman. Abra bingung melihat sikap Embun. Nur sengaja menunggu Embun, dia tidak mengikuti langkah Embun. Sebab Nur percaya, Embun baik-baik saja.
"Apa yang kalian banggakan dengan minuman ini? Minuman yang hanya akan membuat kalian terlihat hina. Sedangkan fashion yang kalian katakan modern. Hanya akan membuat kalian terlihat kurang sopan. Aku mungkin kampungan, tapi aku tidak malu dengan penampilanku. Sebab di balik panjang gamis dan hijabku, ada kemurnian tubuh yang hanya bisa dinikmati oleh kak Abra. Namun apa yang aku lihat saat ini? Membuatku berpikir, jika kemurnianku tak cukup mampu memuaskan hasratnya!" tutur Embun, sembari membawa sebotol minuman beralkhohol. Lalu Embun meletakkan kembali minuman ke atas meja. Embun berjalan mendekat ke arah Clara.
"Clara, mungkin aku egois telah datang menyusul kak Abra sampai sejauh ini. Namun apa kamu sadar? Seegois-egoisnya aku, semua itu tidak salah. Sejak kak Abra mengucap ijab qobul bersamaku. Dia milikku sepenuhnya, dia imam dunia akhiratku, dia calon ayah putraku. Lantas, apa hakmu bersandar padanya? Kamu bukan siapa-siapanya? Sekarang aku yang wanita murahan atau kamu wanita tanpa harga diri!" ujar Embun lantang dan tegas, Clara mengangkat tangannya.
"Jangan pernah menamparku, kita memang saudara. Namun tidak ada hakmu mengajariku, mana yang benar dan salah? Ingat Clara, ketika satu telunjukmu menunjuk ke arahku. Empat lainnya mengarah ke tubuhmu. Jadi ingatlah, sebelum kamu menghinaku. Lebih baik kamu sadar bahwa kamu jauh lebih hina!" ujar Embun dingin, Clara terdiam. Abra bingung menatap Embun, tak ada kata yang mampu membuatnya membenarkan kesalahannya.
"Kak Abra, maaf telah mengacaukan acaramu. Namun percayalah, kedatanganku bukan untuk memata-mataimu. Dalam benakku tidak pernah ada rasa curiga. Bukan aku tidak cemburu, tapi cintaku terlalu besar. Sampai aku takut kehilanganmu, seandainya aku membuatmu marah. Aku menempuh ratusan kilometer, hanya demi dia. Seorang putra yang begitu merindukan hangat belaian tanganmu. Walau akhirnya dia harus mengalah, karena tangan sang ayah bukan hanya untuknya. Dia harus mulai belajar berbagi, dengan duniamu yang kini kembali!"
"Sayang!" ujar Abra lirih, Embun tersenyum simpul. Lalu menarik tangan Abra, mencium lembut punggung tangan Abra.
"Aku tidak marah atau kecewa padamu. Mereka sahabat yang kamu kenal sebelum diriku. Clara benar, aku bukan bagaian dari duniamu. Namun bukan berarti aku berhak menjauhkanmu dari mereka. Kakak lanjutkan acaranya, aku dan Nur akan istirahat!" ujar Embun ramah, lalu melepaskan tangan Abra.
"Sayang, maafkan aku!"
"Kak Abra, aku tidak marah. Silahkan lanjutkan acaranya!" ujar Embun, sembari menepis tangan Abra.
"Maaf semuanya, jika kedatanganku membuat suasana menjadi tidak nyaman!" ujar Embun, seraya menangkupkan kedua tangannya. Embun meminta maaf dengan setulus hati. Embun berjalan menjauh dari Abra.
"Aaaaa!" teriak Embun dengan tubuh yang terhuyung ke depan.
"Embun!" teriak Abra histeris, ketika melihat tubuh Embun terhuyung ke depan.
"Kamu baik-baik saja!" bisik Nur, sembari menahan tubuh Embun yang hampir jatuh menghantam tanah. Nur menuntun Embun duduk di kursi. Dia memberikan air mineral yang ada di dalam tasnya. Nur mencoba menenangkan Embun.
Plaaakkkk
"Kamu berani menamparku!" ujar Clara marah, sembari memegang pipinya yang terasa panas.
"Jangan pernah menyakiti Embun atau keponakanku. Jika tidak ingin melihat amarahku. Kamu mungkin tuan putri keluarga Adiputra, tapi Embun tuan putri dalam hidupku. Sekali lagi kamu menyentuhnya, aku pastikan kamu berhadapan langsung denganku!" ujar Nur penuh amarah, Abra menghampiri Embun.
"Sayang, kamu baik-baik saja!" ujar Abra, Embun mengedipkan kedua matanya.
"Nur, kita pergi sekarang!" ujar Embun, Abra menunduk merasa bersalah.
"Nur!" sapa Fahmi, Nur menoleh ke arah Fahmi.
"Maaf pak Fahmi, saya harus pergi!" sahut Nur dingin.
"Aku tidak ikut dalam acara itu!" ujar Fahmi, Nur hanya menoleh menatap dingin.
__ADS_1