
"Assalammualaikum!" sapa Nur ramah, Fahmi mendongak.
Hampir setengah jam Fahmi menunggu Nur. Siang ini Fahmi sengaja meminta Nur menemuinya. Fahmi ingin mengatakan segalanya saat ini. Rasa yang mulai mengusik harinya, menghapus nyenyak dalam tidurnya. Fahmi galau memikirkan rasa yang tak menemukan ujung. Dia benar-benar tidak percaya, akan bertekuk lutut pada cinta untuk Nur.
"Waalaikumsalam!" sahut Fahmi, Nur mengangguk pelan. Dia duduk tepat di depan Fahmi.
Nur datang setengah jam lebih lama. Bukan bermaksud terlambat, tapi Nur ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Nur datang secepat mungkin, meski dia menyadari akan terlambat menemui Fahmi. Namun Fahmi setuju menunggu, saat Nur mengatakan dirinya sangat sibuk dan akan datang terlambat. Sebab itu siang ini mereka bertemu di sebuah restoran, walau ada halangan yang menghadang.
"Minumlah, kamu terlihat sangat lelah!" ujar Fahmi, Nur menggeleng lemah. Fahmi mengeryitkan dahinya tak mengerti.
Fahmi meletakkan kembali gelas yang dia berikan kepada Nur. Ada raut wajah kecewa, Fahmi merasa Nur menolak perhatiannya. Kasih sayang yang ditunjukkan Fahmi, dengan mudah ditolak Nur. Seakan Nur mengatakan pada Fahmi, perhatian Fahmi tidak pernah membuatnya bahagia.
"Kak Fahmi!" sapa Nur, saat melihat Fahmi menunduk dan menyimpan rasa kecewanya. Kekecewaan yang tak berdasar, sebab ada alasan dibalik penolakan Nur. Alasan yang tak pernah Fahmi tanyakan, sekadar mencari tahu kebenaran sikap dingin Nur.
"Kamu ingin pesan makanan atau minuman!" ujar Fahmi ramah, Nur menggelengkan kepalanya lagi. Fahmi diam menunduk, Fahmi meneguk segelas air putih yang ada di depannya. Fahmi menenangkan diri, mencoba memahami penolakan Nur sebagai sesuatu yang biasa. Bukan penolakan yang ingin mengacuhkan perhatian kecil Fahmi pada Nur.
"Kak Fahmi, aku sedang berpuasa. Jadi aku tidak bisa makan atau minum. Maaf, jika tadi menolak pemberian kakak!" ujar Nur menjelaskan, Fahmi terkejut mendengar penjelasan Nur.
Nampak jelas kebingungan dan rasa bersalah di wajah Fahmi. Alasan penolakan Nur, seolah tamparan akan sikap Fahmi. Sebuah kekecewaan yang kini berubah menjadi rasa bersalah. Fahmi merasa malu telah minum di depan Nur yang tengah berpuasa. Fahmi tidak menyangka, rencana makan siangnya akan berubah menjadi rasa bersalahnya. Fakta jika Nur memang wanita yang berbeda.
"Maaf!"
"Kenapa harus meminta maaf? Kakak tidak salah, aku berpuasa sunnah. Kebetulan tadi pagi kakak meminta bertemu. Aku tidak mungkin menolak, hanya karena sedang berpuasa!"
"Jelas aku salah telah minum di depanmu. Seandainya kamu mengatakan sedang berpuasa. Aku tidak akan mengajakmu makan siang!" ujar Fahmi, Nur tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Nur merasa tidak ada yang salah dengan sikap Fahmi.
"Orang yang lupa atau tidak tahu, tidak bisa dikatakan bersalah. Lagipula ini bukan puasa wajib, ini hanya puasa sunnah. Aku memilij berpuasa di tengah orang-orang yang tidak berpuasa. Jadi tidak ada alasan kakak ataua siapapun salah seandainya makan atau minum di depanku. Aku terbiasa melakukannya semenjak kuliah. Embun yang membuatku menyadari kebahagian kala berpuasa. Jujur kak Fahmi, saat aku berpuasa hanya tenang yang aku rasakan. Aku tidak peduli akan masalah yang terus mengusik hidupku. Puasa membantuku berdamai dengan hidup yang penuh dengan cemas dan rasa takut. Jadi sekali lagi, kakak tidak bersalah. Sekarang katakan, kenapa kakak memintaku datang kemari? Tidak baik, jika kita bertemu terlalu lama. Takut ada fitnah, sebab kita bukan mukhrim!" tutur Nur tenang dan ramah.
Nur menunduk setelah mengatakan semuanya. Dua mata Nur tidak ingin terus menatap Fahmi. Wajah yang mungkin membawanya pada dosa dan napsu sesaat. Sejujurnya Nur tidak ingin mengiyakan permintaan Fahmi. Namun Nur tidak tega, jika terus menolak ajakan Fahmi. Akhirnya Nur mengiyakan, ketika Fahmi mengajak bertemu di tempat umum. Itupun Nur sudah meminta izin pada Fitri dan Afifah. Ibu yang tak pernah ingin melihat Nur tak dihargai.
"Kamu benar Nur, waktumu terlalu berharga. Tidak seharusnya aku menyita waktumu!"
__ADS_1
"Kak Fahmi, bukan waktu yang menjadi penghalang pertemuan kita. Namun status yang nyata membuat kita harus tetap menjauh. Aku menghargai kakak, aku menghormati kakak. Bahkan aku menyayangi kakak, tapi ada batasan diantara kita. Batasan yang takkan pernah hilang sampai ijab qobul terucap dengan penuh ketulusan!" ujar Nur tegas, Fahmi menatap sendu Nur. Entah kenapa Fahmi terlalu takut kehilangan Nur? Namun mengatakan semuanya saat ini, Fahmi masih ragu dan bingung akan rasanya.
"Kak Fahmi, maaf jika aku salah bicara. Aku tidak akan memaksa kakak, kita akan terus berhubungan baik tanpa perlu ada rasa canggung. Tidak ada janji dalam hubungan kita. Kakak bisa menganggap aku adik dan aku akan menghormati kakak. Jangan pernah terbebani dengan rasa yang aku ungkapkan. Rasa ini tulus dan tak mengharap balasan!"
"Apa kamu mampu mengendalikan rasa ini?"
"Aku mampu, sebab rasaku berlandaskan iman bukan napsu. Jujur kak, ada rasa sakit ketika kakak terus memegang teguh prinsip hidup dan menganggap statusku sebuah perbedaan yang membuat rasa kita sulit bersatu. Padahal, statusku tak lebih dari status semu yang ingin aku lepaskan. Namun aku mulai memahami. Kakak seorang laki-laki yang kelak akan menjadi imam. Jadi kakak berhak memilih jalan menjadi lebih baik dan bertemu dengan makmum yang jauh lebih baik dariku!"
"Nur, kenapa aku merasa kamu ingin melupakan rasa diantara kita!"
"Bukan melupakan rasa, tapi mengendalikan rasa cinta ini. Agar tak ada hati yang hancur, ketika rasa ini tak pernah bersambut!" sahut Nur, Fahmi diam membisu.
"Nur, seandainya aku siap menikah denganmu. Mungkinkah kamu bersedia tinggal di rumah sederhana bersamaku. Meninggalkan istana yang selama ini kamu tinggali!" ujar Fahmi lirih, Nur tersenyum tak percaya. Fahmi begitu memikirkan kebahagian. Seakan Fahmi takut Nur tidak bahagia hidup bahagia bersamanya.
"Kak Fahmi, pertanyaanmu tidak perlu aku jawab. Kakak bisa melihat sendiri kehidupanku selama ini. Dimana aku dibesarkan? Kehidupan seperti apa yang selama ini aku jalani? Pendidikan seperti apa yang aku pilih? Bahkan aku bekerja keras, demi kebutuhan sehari-hari. Semua yang aku lakukan selama ini bukan sebuah sandiwara. Nur yang kakak kenal dulu, tetap sama dan tidak berubah. Walau Aulia Nur Hikmah lahir dan memiliki darah keluarga Sanjaya!"
"Fahmi, kamu sudah mendengarnya sendiri. Jadi kapan kamu akan menghalalkan putriku?" ujar Dirgantara Sanjaya lantang, Nur dan Fahmi langsung menoleh.
"Tidak mungkin!" ujar Nur lirih hampir tidak terdengar.
Fahmi mendekat ke arah Nur, dia berdiri tepat di belakang Nur. Fahmi takut terjadi sesuatu pada Nur. Apalagi Fahmi melihat tubuh Nur yang mulai bergetar. Sedangkan tangan Nur terlihat menggenggam erat ujung hijabnya. Nampak jelas Nur tengah tertekan, Fahmi merasa tak berdaya melihat rasa sakit Nur. Namun tangannya terlalu lemah, sekadar menopang tubuh Nur. Fahmi tak mampu menjadi sandaran bagi Nur. Ketika dia bukan siapa-siapa dalam hidup Nur?
"Nur, kamu baik-baik saja!" ujar Fahmi tepat di samping Nur. Sontak Nur menoleh, dia melihat ke arah Fahmi. Tatapan Nur penuh rasa tidak percaya. Sebaliknya Fahmi merasa heran, ketika melihat Nur begitu tertekan melihat kedua orang tuanya datang bersama-sama.
"Kenapa kakak meminta mereka datang?" ujar Nur dengan suara bergetar. Setetes bening air mata Nur jatuh membasahi pipinya. Fahmi semakin bingung, dia tidak mengerti alasan Nur tidak suka melihat orang tuanya datang.
"Mereka datang memang atas permintaannku. Bukan hanya mereka, aku juga meminta tuan Arya dan abah Iman datang. Sebentar lagi mereka akan datang. Aku sudah menyiapkan acara ini dengan sangat matang. Siang ini, secara resmi aku ingin melamarmu. Aku akan meminangmu di depan kedua orang tuamu!" ujar Fahmi lantang, Nur tertunduk. Tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya.
Perlahan Nur menyeka air matanya. Nur menatap lurus ke arah Dirgantara dan Mira. Tatapan tajam yang penuh dengan luka dan rasa tak percaya. Dirgantara dan Mira hanya bisa pasrah, meliha tatapan dingin putri kecilnya. Bertahun-tahun mereka kehilangan senyum Nur, tak sekalipun mereka melihat tatapan hangat Nur. Hanya kekecewaan yang seakan ingin Nur perlihatkan pada Dirgantara dan Mira.
"Maafkan papa sayang, papa penyebab luka dan rasa kecewamu. Maafkan papa, tak pernah mencoba memahami sepi dan tangismu. Namun papa merasa takkan mampu menyembuhkan duka dan kecewamu. Trauma akan keluarga yang tak pernah bahagia, membuat papa takut menemuimu. Hari ini, papa datang bukan sebagai seorang ayah. Papa datang sebagai kerabat yang ingin ikut merasakan kebahagiaanmu. Sayang, papa sengaja membawa dia. Sebab dia tetaplah istri papa, dia tidak pernah salah akan hubungan diantara papa dan mama. Maaf jika papa harus mencedarai kebahagianmu. Namun Fahmi berhak mengetahui kebenaran tentang keluargamu. Sebuah keluarga yang hidup dengan dua cinta dan dua pernikahan. Papa percaya, jika kamu bisa menganggapa Ary dan Iman selayaknya orang tuamu sendiri. Tentu kamu bisa membuka hati menerima dia sebagai istri pilihan papa. Sekali lagi sayang, maafkan papa!" batin Dirgantara pilu, sembari terus menatap Nur.
__ADS_1
"Nur, kita duduk!" ajak Fahmi, Nur berdiri membeku. Langkah kakinya tertahan, Dirgantara dan Mira hanya diam melihat langkah putrinya yang semakin menjauh.
"Kak Fahmi, jika kakak mencintaiku. Jangan pinang aku, tapi nikahi aku sekarang. Jadikan aku halal untukmu. Tuntun aku menuju jannah-NYA, menggapai bahagia dunia akhirat. Menunjukkan padaku, masih ada bahagia di dunia ini untukku!" ujar Nur lantang, Fahmi mengangguk tegas.
"Tuan dan nyonya Dirgantara, saya Fahmi ingin meminta izin menikah dengan Nur!" ujar Fahmi di depan Dirgantara dan istri keduanya.
"Fahmi, aku sudah mengizinkanmu menikah dengan Nur. Sekarang mintalah izin pada ibu kandung Nur!" ujar Dirgantara, Fahmi menoleh tidak mengerti. Nur berjalan mendekat ke arah Fahmi. Tangan Nur memegang Fahmi, menarik Fahmi mendekat ke arah Mira.
"Mama, dia kak Fahmi. Laki-laki yang membuatku memahami arti cinta. Laki-laki yang membuatku percaya masih ada ketulusan dari seorang laki-laki. Dia yang membuatku mengerti, betapa besar pengorbanan dalam cinta? Pengorbanan besar yang selama ini mama berikan. Sekarang dengan tangan menangkup, aku mohon pada mama. Izinkan aku menikah dengan dia, laki-laki yang membuatku merasa dihargai!" ujar Nur, seraya menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Fahmi diam membisu, dia tidak menyangka mendengar sebuah kebenaran yang begitu besar.
Mira berjalan menghampiri Nur, memegang erat tangan Nur yang tertangkup. Mira meneteskan air mata yang selama ini selalu ditahannya. Mira menangis di depan putri dan calon menantunya. Mira menangkup kedua pipi Nur, Mira mencium kening Nur lembut. Mencurahkan kasih sayang yang selama ini Mira simpan.
"Maafkan mama sayang, maafkan mama yang lemah karena rasa cinta pada papamu. Mama alasan luka dan kecewamu. Sekarang kamu telah menemukan laki-laki pilihan. Mama tidak akan menghalangi pernikahan kalian. Doa mama akan selalu bersamamu. Percayalah sayang, mama dan papa akan selalu ada untukmu!" ujar Mira, lalu menarik tubuh Nur dalam pelukannya.
"Fahmi, terimalah putriku dengan kekurangannya. Bahagiakan dia dengan cinta yang kamu miliki. Jangan salahkan Nur, karena kesalahan kami orang tuanya. Dia memang putri keluarga Sanjaya yang tak utuh, tapi dia dibesarkan dengan cinta yang sempurna. Jangan pernah sakiti putriku, jika kelak kamu lelah dengan sikapnya. Kembalikan Nur padaku, tapi jangan pernah berpikir meneteskan air matanya!" ujar Mira haru, Fahmi mengangguk tegas.
"Kenapa anda yang meminta dariku? Seharusnya aku yang meminta kepercayaan, untuk membahagiakan putri cantik anda!" ujar Fahmi, Mira menggelengkan kepalanya lemah.
"Dirgantara, dia laki-laki yang akan membahagiakan putri kita!" ujar Mira hangat, Dirgantara mengangguk setuju.
"Kak Fahmi, inilah keluarga yang membuatmu takut mencintaiku. Keluarga yang kakak anggap sempurna. Nyata menyimpan cacat yang begitu besar. Sekarang kakak bisa melihat sendiri, harta tak selamanya membawa kebahagiaan. Lihatlah kedua orang tuaku, mereka sama-sama sukses. Kejayaan ada dalam genggaman tangan mereka. Namun semua itu tak lantas membuat mereka bahagia. Namun aku percaya, aku akan bahagia bersamamu walau tanpa harta keluarga Sanjaya!" bisik Nur, Fahmi diam terpaku. Nur begitu dekat dengannya, Fahmi sampai salah tingkah.
"Agghhmm!"
"Papa Arya!" sahut Nur, ketika menoleh tepat setelah mendengar suara deheman Arya.
"Kalian belum mukhrim, jangan terlalu dekat!" ujar Iman, Nur dan Fahmi seketika saling menjauh.
"Apa kabar tuan Dirgantara?" sapa Arya, Dirgantara mengedipkan kedua matanya. Isyarat dia baik-baik saja dan bahagia dengan rencana pernikahan Nur dan Fahmi.
"Putriku menemukan kehangatan dari banyak orang. Maafkan papa sayang, kamu terpaksa mencari cinta dari orang lain!" batin Dirgantara pilu.
__ADS_1