
"Rafan, kopi!" ujar Aira, sembari memberikan secangkir kopi.
Rafan terlihat memijat pelipisnya, rasa kantuk mulai menyergap kedua matanya. Tubuh Rafan terasa begitu lelah, sejak pagi dia sudah bekerja di rumah sakit. Namun rasa lelahnya menghilang berganti cemas. Ketika Aira menghubunginya, mengatakan Hanna sedang sakit dan tak sadarkan diri. Sontak Rafan pergi ke desa tempat Hanna KKN. Rafan melupakan rasa lelah, hanya cemas yang ada dalam benaknya.
Rafan pergi menggunakan sepeda motor sport miliknya. Dia bersepeda ratusan kilometer, demi bisa bertemu dengan Hanna. Meski Aira sudah mengatakan, jika Hanna sudah mendapatkan perawatan dari bidan desa. Rafan merasa cemas, akhirnya dia memutuskan pergi menemui Hanna. Hampir dua jam setengah Rafan mengendarai sepeda motornya. Rafan tidak istirahat, dia hanya berhenti saat tiba waktu sholat. Rafan tiba sekitar pukul 20.00 WIB. Aira sempat terkejut melihat kedatangan Rafan. Namun terselip rasa bahagia, melihat betapa besar perhatian Rafan pada Hanna. Bukti adanya rasa dihati Rafan untuk Hanna.
"Terima kasih kak!" sahut Rafan, sembari menerima secangkir kopi hangat dari Aira.
Rafan menyeruput kopi buatan Aira, lalu meletakkan cangkir di atas meja. Malam semakin larut, Rafan melirik jam yang melekat di tangannya. Tepat pukul 22.00 WIB, hampir dua jam Rafan berada disana. Rafan sudah memeriksa kondisi Hanna. Sejak Aira mengabarkan kondisi Hanna. Rafan sudah menduga, jika asam lambung Hanna naik. Kondisi Hanna akan semakin memburuk. Jika Hanna tidak menerima penangan yang tepat. Rafan sudah menyiapkan obat-obatan yang mungkin dibutuhkan. Dengan telaten Rafan memeriksa kondisi Hanna. Aira mengawasi Rafan dari jauh. Kecemasan Rafan membuat Aira percaya, Rafan laki-laki yang tepat untuk menjaga Hanna.
"Menginaplah Rafan, besok pagi baru kamu pulang!" ujar Aira, Rafan menggeleng lemah. Rafan harus pulang, dia takut Embun mencemaskan kondisinya.
Rafan tidak bisa menghubungi Embun, karena ponselnya tertinggal di rumah sakit. Namun tanpa sepengetahuan Rafan, Aira sudah menghubungi Nur, untuk mengabarkan kondisi Hanna mulai membaik. Sekaligus Aira meminta izin, karena telah meminta Rafan memeriksa Hanna putrinya. Sedangkan Nur baru menghubungi Embun, satu jam setelahnya.
"Besok pagi aku harus bekerja!" sahut Rafan lirih, Aira mengangguk memahami kesibukan Rafan. Namun pulang tanpa istirahat terlebih dahulu terlalu berbahaya. Apalagi angin malam yang dingin, bisa membuat Rafan membeku selama perjalanan.
"Sebaiknya menginap, setelah sholat subuh baru kamu pulang. Kondisimu tidak memungkinkan untuk perjalanan. Sebagai tantemu, adik kak Embun aku memiliki kewajiban menjagamu!" ujar Aira tegas, Embun menghela napas.
Sekilas Rafan merasa Embun yang tengah bicara kepadanya. Rafan merasa Embun yang sedang memaksanya. Dalam hati Rafan mengakui kesamaan diantara Aira dan Embun. Sama-sama berhati keras dan tegas, tapi menyimpan hangat yang penuh kasih sayang. Rafan mulai merasa nyaman dengan status diantara dirinya dan Aira. Ikatan darah yang tidak mungkin bisa berubah menjadi cinta.
"Entahlah kak? Setengah jam lagi aku akan memeriksa kondisi Hanna. Jika masih tetap sama, aku akan tinggal. Namun jika mulai membaik, aku akan pulang malam ini. Aku bisa beristirahat di perjalanan!" ujar Rafan, Aira menggeleng lemah. Sikap dingin dan tegas yang takkan pernah bisa diubah oleh Aira. Sikap yang menurun dari Embun kakak kandungnya.
"Terserah padamu, aku lelah berdebat denganmu. Lebih baik aku masuk, aku akan membuatmu makan malam!"
"Tidak perlu, aku masih kenyang!" tolak Rafan sopan, Aira tersenyum di balik cadarnya. Penolakan yang jelas sebuah kebohongan.
Sejak tadi datang, Rafan tidak makan apapun. Kecemasan akan kondisi Hanna membuatnya lupa akan rasa kenyangnya. Bahkan rasa kantuk yang menyergap kedua matanya. Tak sedikitpun dihiraukannya. Aira bukan seorang peramal yang bisa menerawang. Namun suara perut Rafan, menandakan cacing di perut Rafan butuh asupan.
"Kamu tidak lapar, tapi cacing di perutmu mulai meronta. Lagipula, aku hanya akan membuatkanmu mie. Tidak ada makanan mewah nan lezat di desa. Sebungkus mie, aku rasa cukup mengganjal perutmu sampai besok pagi!" ujar Aira santai, Rafan diam membisu. Dia merasa malu, ketika Aira menyadari laparnya.
"Maaf, jika hanya ada mie yang mungkin makanan tidak sehat menurut dokter sepertimu!" ujar Aira, ketika menyadari raut wajah Rafan yang berbeda. Sontak Rafan menoleh, merasa Aira sangat menakutkan. Aira mampu membaca pikiran Rafan.
"Kak Aira!"
"Duduklah Rafan, aku akan membuatkanmu mie. Secangkir kopi tidak baik diminum, ketika perutmu kosong. Cukup Hanna seorang yang sakit. Aku tidak ingin dokter pribadinya sakit juga!" ujar Aira menggoda Rafan. Dengan perlahan, Rafan mengangguk mengiyakan perkataan Aira. Rafan tak lagi bisa menolak kebaikan Aira. Seorang tante yang sudah selayaknya ibu pengganti baginya.
Rafan duduk menatap langit di desa terpencil. Sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Sejak Rafan sampai di batas desa, Rafan hanya mendengar suara hewan malam yang saling bersahutan. Kanan dan kiri jalan desa ditumbuhi pohon-pohon nan rindang. Suara gesekan daun dan ranting yang tertiup angin. Menambah kesan syahdu dan indah malam ini. Bulan terlihat tersenyum, cahaya terangnya menebus di sela-sela pohon yang tinggi. Menyinari desa, menghilangkan gelap yang menyelimuti desa. Suasana malam yang begitu sunyi. Namun menyimpan keindahan malam yang tak terbantahkan.
Lama Rafan mengagumi keindahan malam. Merasakan hembusan angin malam yang bertiup dengan kencangnya. Namun Rafan tak merasakan dingin, sebaliknya Rafan merasa tenang. Rafan begitu bahagia, duduk diantara gelap malam dan sinar terang bulan. Keagungan sang pencipta yang takkan pernah bisa ditiru. Hanya dengan rasa syukur, cara kita menghargai keindahan malam.
"Rafan, makanlah dan ini air putihnya. Aku masuk ke dalam. Aku sudah meminta tuan rumah, meminta izin pada pak RT. Kamu bisa menginap di mushola depan. Aku akan memanggilmu, jika Hanna tersadar!" tutur Aira lirih, Rafan mengangguk mengiyakan.
Aira memilih masuk ke dalam. Aira hendak melakukan sholat isyak. Aira belum sholat, sebab sejak tadi Aira sibuk dengan kondisi Hanna yang memburuk. Sekarang kondisi Hanna membaik, Aira sudah tenang. Apalagi Rafan ada menemani Hanna. Alasan Aira merasa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Kak Aira, tolong periksa suhu tubuh Hanna. Takutnya dia demam!" pinta Rafan, Aira mengangguk pelan. Aira tersenyum penuh haru di balik cadarnya. Aira merasa begitu bahagia, melihat perhatian Rafan pada Hanna. Bahkan Aira merasa terharu jauh di dalam hatinya. Berharap kelak ada satu imam yang menjaga dan memperhatikan dirinya. Selayaknya perhatian tulus Rafan pada Hanna. Rasa cemas yang mengalahkan rasa lapar dan kantuk.
"Hanna, kenapa kamu bangun? Istirahatlah kembali!" ujar Aira dengan nada terkejut. Hanna menggeleng lemah, wajah Hanna nampak pucat. Jelas kondisi Hanna tidak baik-baik saja.
Aira hendak berjalan menuju kamar Hanna. Namun langkah kakinya terhenti, ketika dia melihat Hanna berjalan ke arahnya dengan langkah gontai. Hanna memaksakan tubuh lemahnya untuk berjalan menghampiri Aira. Lebih tepatnya berjalan menuju teras rumah. Mungkin Hanna ingin bertemu dengan Rafan. Aira sempat melarang Hanna, tapi tatapan sendu Hanna membuat hati Aira teriris. Hanna jelas ingin mengatakan, Rafan yang akan membuatnya baik-baik saja. Akhirnya Aira mengalah dan membiarkan Hanna berjalan menghampiri Rafan. Aira tidak ingin kondisi Hanna memburuk. Jika Aira terus melarang Hanna bertemu dengan Rafan.
"Baiklah Hanna, temani Rafan sebentar. Aku harus sholat isya!" ujar Aira, Hanna mengangguk pelan.
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki Hanna terdengar lemah. Hanna berjalan gontai menuju teras. Dia ingin melihat wajah Rafan. Wajah yang begitu dirindukan olehnya. Hanna mendengar suara Rafan, sebab itu dia bergegas keluar dari kamarnya. Hanya bertemu Rafan, setelah itu Hanna akan kembali istirahat. Hanna tidak akan tenang tanpa melihat Rafan.
"Kak Rafan!" sapa Hanna dengan suara lemahnya. Sontak Rafan menoleh ke arah pintu.
Nampak Hanna berdiri, sembari berpegangan pada daun pintu. Rafan langsung meletakkan piring di atas meja. Rafan bergegas menghampiri Hanna. Menuntunnya duduk di kursi yang ada di teras. Rafan berjongkok tepat di depan Hanna. Dia melihat bulir-bulir keringat dingin yang jatuh dari pelipis Hanna. Rafan menggeleng lemah, dia tidak percaya Hanna keluar dari kamarnya. Rafan ingin marah, tapi wajah pucat Hanna membuat amarah Rafan tertahan di tenggorokan.
Rafan menggenggam erat tangan Hanna yang mendingin. Lalu dengan tangan kekarnya dan penuh kelembutan. Rafan mengusap keringat dingin yang menetes dari balik hijabnya. Sebagai seorang laki-laki, Rafan telah melanggar batasannya. Namun sebagai dokter, kecemasan dan sikap Rafan wajar. Mengingat kondisi Hanna tidak baik-baik saja.
"Kenapa keluar dari kamar? Kamu harus istirahat, kondisimu masih sangat lemah!" ujar Rafan lirih, Hanna menunduk terdiam. Hanna menggenggam erat tangan Rafan. Hanna merasa kedinginan dan hanya tangan Rafan yang membuatnya terasa hangat dan tenang.
"Sebaiknya kita masuk, kamu butuh istirahat. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu!" ujar Rafan, sembari berdiri tepat di depan Hanna. Hanna menggeleng lemah, tatapan Hanna sayu. Tatapan menghiba, agar Rafan tidak membawanya masuk. Rafan menghela napas, jelas dia bingung dengan sikap Hanna yang terlihat kekanak-kanakan.
Tangan Hanna memegang erat tangan Rafan. Seolah Hanna tidak ingin jauh dari Rafan. Sikap manja yang tiba-tiba diperlihatkan oleh Hanna pada Rafan. Berharap Rafan memahami sepi dan rindunya. Alasan Hanna sulit makan dengan teratur. Sebab hampir satu minggu lebih, Rafan dan Hanna tidak bertemu. Rafan sibuk dengan pekerjaannya dan Hanna sibuk dengan KKNnya.
"Hanna!" sapa Rafan, ketika menyadari Hanna diam menahan rasa kecewa. Hanna terus menunduk, Rafan semakin cemas dengan kondisi Hanna. Perlahan Rafan melepaskan tangan Hanna. Rafan melepas jaket kulit yang dipakainya. Rafan memakaikannya pada Hanna, berharap Hanna tidak kedinginan.
"Kak Rafan, aku ingin berada di dekatmu!" ujar Hanna lirih, sembari menyandarkan kepalanya di pundak Rafan.
Seketika Rafan membeku, tubuhnya terasa kaku. Kala Hanna bersandar pada tubuhnya. Hanna menghilangkan jarak diantara mereka. Rafan tak mampu menolak hangat dan rindu yang ditunjukkan Hanna. Entah karena Rafan merasa kasihan pada Hanna? Atau Rafan merasakan hal yang sama seperti Hanna. Rasa rindu dan nyaman yang mulai ada di dalam hatinya.
"Kak Rafan, kenapa diam saja? Kakak marah aku berkata jujur!" ujar Hanna, saat menyadari Rafan tidak peduli akan kejujurannya.
"Hanna, sudah larut malam. Lebih baik kamu masuk ke dalam. Tubuhmu masih sangat lemah!"
"Kenapa kakak selalu menolakku?"
"Aku tidak menolaknya Hanna, tapi kamu masih sakit. Aku tidak ingin kamu semakin sakit. Lagipula, jika aku tidak peduli padamu. Aku tidak akan datang sejauh ini, hanya untuk memeriksa kondisimu!" ujar Rafan, Hanna mendongak menatap Rafan. Hanna melihat tatapan Rafan yang lurus ke arah bulan. Wajah tampan Rafan, terlihat begitu sempurna dari bawah dagunya. Hanna benar-benar terbius dengan ketampanan dan pesona Rafan.
"Kak Rafan mencintaiku!" ujar Hanna, sembaru mendongak menatap Rafan. Sedangkan Rafan yang terkejut mendengar perkataan Hanna, langsung menunduk. Alhasil, wajah keduanya begitu dekat. Tatapan mereka saling mengunci satu dengan yang lain.
"Aku…!" ujar Rafan terhenti, Hanna langsung menunduk. Jelas Rafan belum memiliki rasa padanya. Hanna mengingat kejujuran Rafan tempo hari. Namun menyadari rasa itu belum ada, sungguh Hanna merasa sakit.
"Hanna, sudah lima belas menit. Sekarang kita masuk, aku akan menemanimu sampai kamu tertidur!" ujar Rafan, Hanna diam membisu. Hanna mencoba bangun dari duduknya, Hanna merasa kecewa dengan diam Rafan.
__ADS_1
"Hanna!" ujar Rafan, sembari menahan tangan Hanna. Dengan tatapan datar, Hanna menoleh ke arah Rafan.
"Setelah kamu selesai KKN, kita menikah. Malam ini, aku merasakan kecemasan yang mampu membuatku tiada. Sebagai seorang dokter, aku bisa merawatmu. Namun sebagai seorang Rafan, aku tidak berhak mendekatimu. Jujur Hanna, aku tidak akan mampu menahan hasrat dalam diriku. Aku memiliki iman, tapi rasa yang mulai tumbuh dihatiku tak memilikinya. Rasa ini buta dan tuli, sampai aku bisa menghalalkan sesuatu yang sejak awal haram!"
"Kak Rafan serius!" sahut Hanna bahagia, Rafan mengangguk tanpa ragu.
"Aku serius, tapi jika kamu bersedia!"
"Kenapa tidak besok?" sahut Hanna lantang, kedua bola mata Rafan membulat sempurna. Dia sangat-sangat terkejut mendengar perkataan Hanna.
"Kenapa terburu-buru? Masih banyak waktu Hanna, hanya dua bulan. Setelah dua bulan, kita akan resmi menikah!"
"Dua bulan waktu yang cukup lama!" ujar Hanna kesal tanpa alasan.
"Hanna, apa yang ingin kamu katakan?" ujar Rafan tak mengerti dengan kekesalan Hanna.
"Dalam dua bulan, akan ada banyak wanita yang mendekatimu. Mungkin kakak mampu menolak mereka, tapi lama-kelamaan bisa saja mereka mendapatkan simpatimu!" ujar Hanna jujur dan polos. Rafan menggeleng seraya tersenyum. Rasa cemburu Hanna terdengar manis. Rafan sampai tidak bisa marah atau kesal melihat rasa cemburu Hanna yang tanpa alasan.
"Hanna, lebih baik kamu makan. Tidak baik tidur dengan perut lapar!" ujar Rafan, lalu menyuapi Hanna dengan mie buatan Aira.
"Tangan ini hanya menyuapimu, sebab laparmu akan menjadi laparku. Aku bisa menahan lapar, asalkan kamu kenyang. Aku tidak akan membuktikan atau berjanji padamu. Namun percayalah, aku hanya ingin melihat bahagiamu!"
"Kak Rafan, aku kedinginan. Boleh aku memelukmu!" ujar Hanna santai, Rafan langsung menyuapi Hanna lagi. Berpikir Hanna akan berhenti bicara.
"Makanlah dan minum obat, lalu tidur. Jangan berpikir yang tidak-tidak!" ujar Rafan, Hanna mendengus kesal.
"Tidak romantis!" ujar Hanna lirih hampir tidak terdengar. Rafan tersenyum simpul, mendengar kekesalan Hanna. Sikap manja Hanna yang mulai menjadi candu dalam dingin sikap Rafan.
"Sekarang kamu masuk atau aku pulang. Ingat Hanna, jika aku pulang sekarang. Kamu tidak akan bisa bertemu denganku!" ujar Rafan tegas, Hanna berdiri lalu menempelkan telunjuknya tepat di bibira Rafan.
"Jangan katakan itu, aku takut kehilanganmu!" ujar Hanna dengan mata yang mulai berair.
"Maaf!" sahut Rafan, merasa telah salah bicara di depan Hanna.
"Jangan menjauh dariku!" ujar Hanna, lalu memeluk Rafan erat.
"Hanna!" panggil Aira, Hanna menoleh seraya tersenyum.
"Maaf kak Aira, aku khilaf memeluk kak Rafan. Tubuhnya terlalu gagah, sayang jika tidak dipeluk!" ujar Hanna dengan kepolosannya. Sontak Rafan menggeleng tak percaya, dia melihat sikap Hanna yang lain.
"Masuk!" ujar Aira tegas, Hanna mengangguk.
"Kak Rafan, selamat malam dan love you!" ujar Hanna, Rafan menepuk pelan jidatnya.
__ADS_1
"Hanna yang unik!" batin Rafan dengan perasaan hangat dan bahagia.