KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Ayah


__ADS_3

Waktu terus berjalan, kumandang suara aza Isya telah berlalu. Semua muslim telah menunaikan kewajibannya. Tidak terkecuali Embun dan Nur. Masjid megah tepat di dekat alun-alun kota menjadi tempat mereka bersujud. Setelah kejadian siang tadi, Embun berjalan tanpa arah. Tak ada kata yang keluar dari bibir Embun. Nur sahabat yang begitu dekat dengan Embun. Memilih diam dan terus mengikuti langkah Embun. Tanpa sedikitpun bertanya, kemana langkah Embun akan pergi?


Langkah yang semula goyah, tiba-tiba berhenti tepat di depan sebuah masjid. Rumah yang takkan menolak kehadiran Embun dan Nur. Rumah yang akan selalu menyimpan air mata Embun. Tanpa perlu Embun memintanya. Rumah yang akan diketuk Embun di kala bahagia dan sedihnya. Rumah yang membuat Embun menjadi tenang. Nur sangat percaya, Embun mampu memilah yang baik dan benar. Dengan sabar terus menemani langkah Embun. Sampai akhirnya langkah Embun terhenti di sebuah masjid.


"Dia ada di sana!" ujar Nur, seraya menunjuk ke arah sebuah tiang tepat di samping masjid.


Nampak Embun duduk bersandar pada tiang. Embun menatap langit yang terang. Sinar bulan purnama nampak begitu terang. Menerangi langit gelap, menggantinya dengan cahaya penuh keindahan. Abra langsung berjalan menghampiri Embun. Dadanya merasa sesak, saat dia jauh dari Embun. Kini Embun berada tepat di depannya. Abra seolah tak lagi mampu menahan rindunya.


"Tunggu!" ujar Nur, Abra menoleh seraya menghentikan langkahnya.


"Jangan duduk tepat di sampingnya. Embun akan merasa tidak nyaman. Jika ada yang melihat sakitnya. Demi Embun, sejenak tahan kerinduan dalam hatimu. Biarkan Embun yang mencarimu. Sebab saat itulah titik terendah embun. Titik dimana Embun akan percaya sepenuhnya?" ujar Nur, Abra mengangguk pelan.


Abra berjalan perlahan menghampiri Embun. Dia duduk sedikit menjauh, Abra mengikuti saran Nur. Sedangkan Ibra dan Nur duduk sedikit menjauh dari mereka. Sejak siang Abra mencari keberadaan Embun dan Nur. Namun tak satupun tanda keberadaan Embun. Baru setelah waktu sholat isya berlalu. Abra mendapat kabar tentang keberadaan Embun. Di sinilah Embun dan Nur, tepat di teras samping sebuah masjid.


"Sayang!"


"Maaf!" ujar Embun lirih, Abra menoleh dengan heran. Nampak Embun fokus menatap langit. Kata maaf yang terucap dari bibirnya. Seolah kata yang sudah ada dalam benaknya


"Untuk!"


"Fakta yang baru saja kakak dengar. Kenyataan yang terkuak, fakta tentang masa laluku yang kelam. Kisah gadis kecil yang kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hanya karena harta mati yang sesungguhnya tak berhati!"


"Sayang!" ujar Abra lirih, Embun mengangguk pelan.


"Semua itu benar kak, Arshan Arya Adiputra memang ayah kandungku. Darahnya yang mengalir dalam nadiku. Namanya yang ada menjadi waliku. Bukan abah Iman yang menjadi waliku!" ujar Embun lirih, Abra terdiam. Jika boleh jujur, Abra ingin semua yang dia dengar tidaklah benar. Bukan tidak ingin mengakui status Embun, tapi melihat luka yang terkuak dalam hati Embun. Jujur Abra tidak sanggup.


"Sayang, tidak perlu mengatakannya. Jika memang hatimu terlalu sakit. Aku tidak peduli, siapa tuan Arya bagimu? Apa hubungannya denganmu? Bagaimana dia bisa menjadi ayah biologismu? Kapan kamu mengetahuinya? Satu hal yang aku peduli, ketenangan dan rasa nyamanmu. Aku tidak akan meminta penjelasan darimu. Aku juga tidak terlalu bahagia, mendengar tuan Arya itu ayah kandungmu. Aku yakin, anpa status dan kekayaannya. Aku mampu membuatmu dan putra kita bahagia!" ujar Abra tegas, Embun menoleh.


Deg


Tatapan Embun sejenak menghentikan detak jantung Abra. Dua bola mata yang selalu teduh. Kini nampak sendu menahan rasa pilu. Mata merah yang terus meneteskan air mata. Seolah mengatakan pada Abra, betapa Embun terluka dengan semua yang terjadi? Embun hancur dengan fakta masa lalu yang terkuak.

__ADS_1


"Berapa lama kamu menangis sayang? Dua mata indahmu merah penuh dengan luka. Seberapa dalam luka yang kamu tanggung? Sampai air matamu terus mengalir tanpa henti. Sayang, jika memang hatimu terlalu sakit. Kenapa kamu tidak membaginya denganku? Aku lebih baik merasa sakit, daripada melihat rapuhmu. Aku mohon sayang, bersandar padaku!" batin Abra pilu.


"Seminggu sebelum pernikahan kita. Aku mengetahui semua kebenaran itu. Abah Iman mempertemukan diriku dengannya. Pertemuan yang seolah menghancurkan hidupku. Aku bertemu dengan ayah kandungku. Pertemuan yang selalu ditunggu seorang putri, tapi tidak diriku. Ayah kandung yang tak pernah aku bayangkan. Tiba-tiba berdiri dengan begitu gagahnya. Bukan kasih sayang yang dia tawatkan. Melainkan harta sebagai balasan puluhan tahunku tanpa dirinya. Kekayaan yang seolah ingin membeli kasih sayang tulus abah Iman. Menilai kemurnian cintanya padaku. Dengan jutaan, bahkan milliaran rupiah. Antara kerinduan seorang ayah atau sikap arogansi orang kaya. Berpikir harta yang dimilikinya mampu membayar puluhan tahunku tanpanya. Alasan terbesarku menolak mengenalnya!" tutur Embun, lalu menghela napas. Embun menunduk, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Berharap dada yang terasa sesak, menjadi sedikit lega.


"Kenapa kamu diam saat itu? Bukankah aku pantas mengetahuinya!"


"Kakak benar, sebab itu aku meminta maaf. Aku menutupi semua itu, karena aku takut kakak menganggap diriku tak lebih dari anak yang tak pernah diharapkan. Seminggu, hanya seminggu aku harus menentunkan jalan hidupku. Aku harus menerima dia, jika aku ingin menikah denganmu. Sebab abah Iman bukan wali yang berhak menikahkanku!"


"Apa ini alasanmu menghilang saat itu? Kamu tidak bisa dihubungi atau menghubungiku. Bahkan aku sempat berpikir, kamu ingin membatalkan pernikahan kita. Sampai akhirnya kamu datang, membawa kabar yang bisa membuatku tenang!" ujar Abra, Embun mengangguk pelan.


"Jujur, seandainya saat itu aku harus memilih. Mungkin aku akan memilih membatalkan pernikahan kita?"


"Kenapa?" ujar Abra tidak percaya, sekaligus heran.


"Sebab aku benci dengan orang-orang yang selalu menganggap harta segalanya. Ayah yang seharusnya penuh kasih sayang. Malah menawarkan harta demi pengakuan putrinya. Seorang ayah yang seharusnya bahagia demi putranya. Malah kecewa, ketika menyadari menikah tanpa harta. Sedangkan seorang ayah yang membesarkanku dengan tulus tanpa pamrih. Tersisih dan terhina hanya karena tak berharta. Entah ada janji apa? Sehingga aku harus menikah denganmu dan mengenal orang-orang yang menganggap harta segalanya!"


"Sayang, aku tidak seperti itu!"


"Aku tahu itu, sebab itu aku percaya dan tulus mencintaimu!" sahut Embun lantang, Abra menunduk.


"Dia yang akhirnya mengalah dan meminta abah Iman menggantikan dirinya menjadi wali dalam pernikahanku. Namun dengan satu syarat. Aku bersedia bertemu dengan tuan besar Adijaya, kakek sekaligus ayah kandung mama Almaira!"


"Kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Abra, Embun menggeleng pelan.


"Kenapa? Apa kamu takut?"


"Iya, aku takut bertemu dengan ayah yang telah membunuh ibuku!" ujar Embun lirih, Abra menggeleng tidak percaya.


"Tidak mungkin, beliau orang yang baik. Tuan Adijaya sangat dermawan. Rumah sakit yang dibangunnya, untuk orang-orang tidak mampu!"


"Dia memang dermawan dan tegas, sikap yang membuat ibuku terbuang dari keluarga besarnya. Seorang anak yang terasing, hanya karena hasutan orang lain. Fitnah yang membuat ibuku terusir dari rumah tempat dia dibesarkan. Hidup dalam kekurangan yang akhirnya membuat ibuku kehilangan nyawa saat melahirkanku. Lagi dan lagi, semua itu hanya berpusat pada satu dasar. Harta yang membuat silau mata orang yang tamak dan serakah. Sekarang katakan, tidakkah dia yang tanpa sengaja membunuh ibuku? Seorang ayah yang seharusnya merangkul putrinya. Percaya akan kesucian putrinya, malah dia orang pertama yang membuatnya terusir!" ujar Embun dengan nada tinggi, napas Embun naik turun. Seakan ingin mengatakan, rasa sakit yang teramat dalam di hatinya.

__ADS_1


"Sayang hentikan, aku tidak ingin kamu tertekan!" ujar Abra khawatir, Embun begitu marah. Dia tak terkendali, Abra begitu takut melihat amarah yang seolah membuncah dalam dada Embun.


"Kenapa aku harus berhenti? Kakak harus mendengar semuanya. Aku wanita yang di kelilingi laki-laki tangguh, tapi lemah di depan harta. Tuan Arya, ayah yang seharusnya menyayangiku. Dia yang paling lantang tidak percaya akan keberadaanku sebagai putrinya. Dia dibutakan oleh cintanya pada mama Almaira, sampai dia tidak melihat ketulusan mama. Berpikir mama mengkhianati cinta suci mereka. Tuan Dewangga Adijaya, kakek yang begitu dermawan bagi orang lain. Namun begitu pelit, ketika seorang putri meminta bantuannya demi kelahiran sang cucu. Kebencian yang disulut oleh cinta mati pada istri keduanya. Sehingga dia tega mengusir dan mengacuhkan putri kandungnya. Tuan Gunawan Adiputra, seorang paman yang seharusnya bahagia menyambut kelahiranku. Malah merasa takut dengan kelahiranku. Dia mencari segala cara, agar aku tiada dan tidak diakui. Tuan Haykal Abimata, seorang ayah mertua yang begitu aku hormati. Namun memandang rendah diriku, hanya karena status sosial yang tidak sepadan. Sedangkan Abah Iman, seorang ayah yang tak pernah ingin melihatku terluka. Kini dia yang paling terluka dan tersisih. Ketika harta menjadi bayaran kasih sayangnya. Saat semua ayah menolakku, membuangku dan mengacuhkanku. Dia ayah yang merangkul dan mendekap di kala dingin dan sakitku. Namun dia yang kini harus sendiri menahan sepi, tanpa mampu mengharap lebih dariku. Haruskah aku menerima uluran tangan mereka yang telah menghina ketulusan abah Iman. Seorang paman yang menganggapku layaknya anaknya sendiri!"


"Sayang, maafkan aku!"


"Kini kakak sudah mengetahui, betapa hubungan dalam hidupku? Namun satu hal yang harus kakak tahu. Aku tidak ada datang pada mereka. Meski mereka menawarkan seluruh harta yang mereka punya. Aku akan menerima tangan mereka. Ketika mereka menghargai abah Iman, ayah yang membesarkanku. Harta yang kalian miliki, tidak lantas membuat kalian memiliki derajat lebih tinggi. Sebab semua hanya titipan, kelak semua akan kembali ketika DIA sudah mengambilnya!" tutur Embun, Abra hanya bisa diam. Rasa sakit Embun termuntahkan, semua diam dan penolakan Embun terjawab.


"Embun sayang, maafkan papa yang khilaf telah menyakiti mamamu!" ujar Arya, Embun dan Abra menoleh dengan raut wajah terkejut.


"Anda!" sahut Embun, lalu berdiri dan berjalan mundur.


"Apa yang anda lakukan bukan khilaf? Semua itu pengkhianatan akan janji suci yang diawali akan keraguan!"


"Sayang? Berhenti, jangan pergi lagi. Ingat sayang, kamu sedang hamil!" ujar Abra khawatir, saat melihat Embun berjalan mundur. Arya langsung menghentikan langkahnya. Dia tidak ingin melihat Embun pergi menjauh lagi.


"Tuan Arya, aku mohon jangan memaksa Embun. Dia butuh waktu!" pinta Abra, Arya mengangguk lalu berjalan mundur.


"Kalian laki-laki hanya bisa meragukan. Tanpa berpikir kami wanita hancur, ketika cinta kami lagi dihargai!" ujar Embun lantang.


"Cukup Embun, kita pulang. Aku sudah lelah mengikutimu. Cacing dalam perutku sejak tadi menjerit. Kita pergi dari sini, lupakan sejenak sakit dan amarahmu. Putramu butuh asupan makanan, sahabatmu ini sudah kelaparan!" ujar Nur santai, sembari menahan langkah Embun.


"Ibra, bawa kami ke warteg lalapan. Keponakanku sejak tadi ingin makan lalapan!"


"Siap kucing manisku, silahkan!" sahut Ibra, lalu berjalan menuju mobil.


Nur menggandeng tangan Embun, menariknya menuju mobil Abra. Tanpa lagi peduli, penolakan atau persetujaun Embun. Sebaliknya Embun diam mengikuti ajakan Nur. Sekilas Nur memberi isyarat pada Abra, agar dia ikut.


"Tuan Arya, mewakili Embun sahabatku. Aku meminta maaf. Namun alangkah bijaknya, jika kalian bertemu saat semuanya tenang!" ujar Nur, Arya mengangguk pelan.


"Ponakakanku yang tampan atau cantik, kita makan malam!" gumam Nur dengan riang, sembari mengelus perut Embun yang masih rata. Sikap santai Nur, membuat Embun tersenyum. Nur, sahabat yang tahu kapan dia harus bicara atau diam?

__ADS_1


"Kucingku yang manis, hatimu begitu tulus. Beruntung aku mengenalmu!" batin Ibra, seraya menatap Nur tanpa henti.


"Jangan Menatapku, takutnya kamu tidak bisa tidur. Terbayang kecantikakku!" ujar Nur lantang pada Ibra. Sontak Ibra tersenyum kikuk, malu saat Nur menggodanya.


__ADS_2