
"Dimana Embun? Aku ingin bertemu dengannya!"
"Dia sedang tidur, ada Abra yang menemaninya!" sahut Iman, Nur seketika cemberut.
Nampak wajah kecewa Nur, Iman tersenyum melihat kecemasan Nur. Kasih sayang yang jelas terlihat, untuk Embun putrinya. Padahal dia ingin bertemu dengan Embun. Saat dia menghubungi Nissa, Nur mendapatkan kabar Embun tengah sakit. Namun saat itu Nur sedang berada di luar kota. Sebab itu dia tidak bisa langsung menemui Embun. Nur merasa kecewa, ketika dia tak bisa menyapa Embun. Nur sangat cemas akan sakit Embun.
"Nur sayang, duduklah atau kamu ingin membersihkan diri lebih dulu. Mama akan menyiapkan makan malam untukmu!" ujar Fitri penuh kasih sayang, Nur langsung menoleh.
Nur setengah berlari menghampiri Fitri. Nur memeluk erat Fitri. Menumpahkan rasa kecewa dan cemasnya pada Fitri. Dengan penuh kehangatan, Fitri membelai lembut kepala Nur yang tertutup hijab. Hubungan yang terjalin begitu erat, meski tak ada darah yang mengalir dalam nadi. Nur menangis dalam pelukan Fitri, sesekali Fitri mengusap punggung Nur. Nampak jelas kecemasan Nur yang seolah terkesan berlebihan. Namun rasa cemas Nur begitu besar. Mengingat Embun bukan pribadi yang lemah. Embun tidak akan sakit, seandainya tubuhnya tidak benar-benar sakit dan tak sanggup lagi berdiri.
"Kenapa kamu menangis? Embun sudah baik-baik saja. Kamu tidak percaya pada mama, selama mama ada. Percayalah, Embun akan baik-baik saja!" ujar Fitri, Nur diam memeluk erat Fitri. Nur memeluk erat Fitri, seolah takkan pernah Nur melepasakan pelukannya. Nur menumpahkan seluruh ketakutannya di pundak Fitri. Air mata Nur, membasahi hijab abu-abu yang dikenakan Fitri.
"Tapi!" sahut Nur lirih dan terbata. Fitri mengusap lembut punggung Nur. Senyum manis terutas di wajah cantik Fitri. Walau tak satupun orang menyadari senyum di balik cadar yang Fitri kenakan.
"Nur sayang, lihatlah sekelilingmu. Semua orang ada untuk Embun. Dia tidak pernah sendirian. Jangan menangis, tidak akan terjadi sesuatu pada Embun. Doa dalam tangismu, akan membawa kesembuhan untuk Embun. Sekarang bersihkan dirimu, ganti pakaianmu. Mama akan menyiapkan makan malam untukmu. Jangan sampai Fahmi melihat penampilanmu yang berantakan!"
"Kenapa takut? Biarkan saja dia melihatku seperti ini. Nur bukan gadis anggun, adakalanya dia berantakan dan bau. Nur bukan gadis tangguh, ada masanya dia menangis dan terluka. Seorang laki-laki sejati, tidak akan mencintai wanita hanya dengan sempurnanya. Namun laki-laki harus menerima lemah dan kurangnya. Sebab tidak ada kesempurnaan dalam dunia!" sahut Nur ketus, lalu melepaskan pelukannya dari Fitri.
Nur menyeka air mata yang menetes tepat di pelupuk mata indahnya. Nur merasa kesal mendengar nama Fahmi disebut. Pertemuan pertama diantara mereka, setelah satu bulan tidak bertemu. Meninggalkan rasa kecewa yang tidak biasa. Nur merasa marah, melihat sikap dingin Fahmi. Seolah dia tidak pernah menyayangi Nur atau mungkin mengenal Aulia Nur Hikmah. Fitri menggelengkan kepalanya, Fitri merasa tak mengenal Nur. Amarah Nur jelas menunjukkan rasa sayang untuk Fahmi, tapi entah kenapa Nur menutupi rasa sayang itu?
"Aku tidak keberatan melihat penampilanmu saat ini!"
"Kak Fahmi!" sahut Nur tak percaya saat mendengar Fahmi menyahuti perkataannya.
"Mama Afifah!" teriak Nur, ketika melihat Afifah baru keluar dari dapur. Nur langsung berhambur memeluk Afifah.
Fitri tersenyum melihat tingkah Nur. Rasa cinta yang terselimuti oleh gengsi. Jelas Nur ingin mengalihkan perhatiannya. Merasa malu dengan perkataannya yang ternyata di dengar oleh Fahmi. Nur salah tingkah, menyadari Fahmi sudah ada di belakangnya. Dengan polosnya Nur menyapa Afifah yang berjalan ke arahnya. Iman diam memperhatikan tingkah Nur yang menggemaskan. Sebagai ayah angkat Nur, Iman tidak akan terlalu ikut campur. Dia sepenuhnya percaya pada keputusan Nur.
"Selalu mengalihkan pembicaraan. Tadi di kantor sengaja menghindar dariku. Sekarang mengacuhkanku, apa yang dia inginkan? Lihat saja, saat tidak ada orang aku akan membuat perhitungan denganmu!" batin Fahmi kesal.
__ADS_1
"Duduklah, tidak perlu kesal melihat sikap Nur. Kamu menyayanginya, artinya kamu harus siap menerima sikap yang seperti itu. Kadang lembut, kadang acuh bahkan menyebalkan!" ujar Iman dengan suara lantangnya. Iman sengaja menggoda Fahmi dan Nur. Dia ingin melihat reaksi keduanya.
"Iya abah!" sahut Fahmi, sembari melirik ke arah Nur. Nampak Nur menoleh kesal, Fahmi menatap lekat Nur. Sekilas nampak senyum di wajah Fahmi, Nur langsung mengalihkan pandangannya.
"Gunung es jelek!" batin Nur kesal, lalu berjalan menuju kamar tamu di lantai atas.
"Fahmi, sudah makan malam!" sapa Fitri ramah, Fahmi mengangguk pelan.
"Baiklah, tante akan menyiapkan makan malam untuk Nur saja!" sahut Fitri, Fahmi diam seraya menunduk.
Iman menepuk pelan pundak Fahmi. Dia memahami arti diam Fahmi. Iman pernah dalam posisi Fahmi. Menyayangi seseorang dengan tulus, tapi hati terlalu takut mengungkapkannya. Fahmi menoleh dengan tatapan sendu, seolah Fahmi butuh sandaran. Setidaknya mencari jawaban dari kegelisahan hatinya.
"Fahmi, abah memahami perasaanmu. Abah pernah dalam posisimu. Saat itu abah tidak mengenal aturan rasa cinta dalam agama. Abah mencintai tanpa berlandaskan iman dan ibadah. Sebuah rasa yang hanya berlandaskan napsu sesaat. Namun abah beruntunng Fahmi, rasa cinta itu kalah oleh rasa malu. Sehingga tak pernah abah melampaui batasan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Pengertian yang sama akan abah katakan padamu. Sebuah dasar rasa yang harus dimiliki oleh setiap laki-laki. Kala hatinya mulai menyimpan rasa suci pada seorang wanita!" tutur Iman, Fahmi menatap lekat Iman.
"Apa yang harus Fahmi lakukan? Jujur abah, rasa ini terasa sesak. Fahmi bingung menghadapi sikap Nur. Hanya dia yang ada dalam langkah Fahmi. Mengisi hati dan benakku tanpa sisa. Sedangkan prinsip Fahmi, seolah menahan penyatuan cinta kami. Fahmi begitu ingin menggenggam tangan Nur, tapi harga diriku menghadang keinginan itu. Ketakutan akan kehilangan Nur nyata terasa, melumpuhkan langkah hidupku. Namun kekuranganku dan perbedaan itu ada. Aku bingung harus memiliha jalan yang mana. Mengalah demi rasa cinta dan ketakutan ini, dengan meletakkan harga diri dan prinsip yang aku pegang teguh selama ini. Atau aku membiarkan harga diriku kalah dan memilih bersatu dalam rasa suci yang tak mampu Fahmi tahan lagi!" ujar Fahmi lirih.
"Fahmi, kamu sudah mendengar jawaban terbaik. Sekarang tenangkan dirimu, bila perlu kamu sholat isya. Barangkali saja, kamu menemukan kekuatan mengungkapkan rasamu pada Nur!" sahut Iman, Afifah menepuk pelan bahu Iman.
"Kakak, jangan membuat Fahmi takut. Lihat wajahnya pucat pasi. Nur memang periang, tapi dingin Nur bisa membekukan tulang Fahmi. Jika dia salah melangkah, bukannya kata cinta. Malah Fahmi akan kehilangan Nur selamanya!" sahut Afifah, menggoda Fahmi.
"Laki-laki harus berani, tidak boleh takut. Apalagi terhadap wanita, laki-laki harus bertanggungjawab akan perkataan dan janjinya. Jika Fahmi memang tulus pada Nur. Tentu dia akan yakin pada rasanya. Melupakan sejenak ego dan harga diri. Sebab wanita tidak butuh kata atau janji, tapi bukti nyata dari dalam hati!" ujar Arya lantang, Iman dan Afifah tersenyum melihat wajah Fahmi yang ketakutan.
Fahmi mungkin merasa nyaman dan santai, jika berhadapan dengan Iman. Namun dia akan tegang, bahkan takut bila berurusan dengan Arya. Nur bukan hanya putri seorang Dirgantara, tapi juga putri angkat Arya. Ketegasan Arya sudah terlihat sejak awal. Arya tidak akan mengizinkan Fahmi mempermainkan hati Nur. Dirgantara mungkin wali nikah Nur, tapi tanpa izin dari Arya. Fahmi tidak akan pernah bisa menikah dengan Nur. Sebaliknya, Nur sangat percaya akan ketegasan Arya. Nur yakin, izin Arya dan Iman akan mengantarnya pada kebahagian sejati.
"Tuan Arya!" ujar Fahmi lirih.
"Ingat Fahmi, kamu harus tegas dalam hidup. Jika saat ini kamu masih ragu dan berpikir perbedaan menjadi penghalang. Lantas, kapan kamu akan yakin dengan rasamu. Yakin jika bersama Nur, kamu akan bahagia dunia akhirat. Melangkah meniti jalan terhal berbatu, dengan terus bergandeng tangan!" ujar Arya tegas, Fahmi mengangguk tanpa menoleh ke arah Arya.
"Kak Arya, bukannya memberi dukungan pada Fahmi. Kakak malah membuatnya semakin takut!" ujar Fitri, Arya berdiri menghampiri Fitri. Memberikan obat yang baru saja dibelinya pada Fitri. Arya memeluk erat tubuh wanita yang mulai mengusik harinya.
__ADS_1
"Seorang penakut, bukanlah pengecut. Sebab penakut selalu menggunakan pikiran dan hatinya. Mencari titik pasti kebahagian diantara kepedihan. Sebelum memutuskan jalan terbaik bagi hidupnya. Sedangkan pengecut pastilah penakut, karena pengecut tidak akan pernah memutuskan. Hanya mundur dan bersembunyi menjadi dasar hidupnya!"
"Maafkan Fahmi!" ujarnya lirih, Arya menepuk pelan pundak Fahmi.
"Tidak ada kata maaf untukmu, sebelum aku melihat kebahagian Nur. Ingat Fahmi, Nur mencintaimu dengan tulus dan jangan pernah kecewakan cintanya!" ujar Arya sesaat setelah menepuk pelan pundak Fahmi.
Tap Tap Tap
Suara langkah Nur terdengar menggema. Sontak semua mata menoleh ke arah tangga. Nampak Nur turun dengan wajah yang lebih segar. Nur mengenakan gamis sederhana berwarna merah muda. Nur terlihat cantik dan mempesona. Fahmi menatap Nur dengan penuh rasa kagum. Seandainya tidak ada Iman dan Arya, mungkin Fahmi sudah berlari memeluk Nur. Namun lagi dan lagi, rasa malu dan gengsi membuatnya menahan rasa cintanya. Fahmi hanya bisa menatap sebentar, lalu menunduk mengalihkan pandangannya dari Nur. Iman tersenyum bangga, melihat sikap sopan Fahmi pada Nur.
Buuughhh
"Seorang laki-laki terlihat gagah dan hebat, ketika dia bisa menjaga pandangannya. Menghargai seorang wanita seperti ibunya sendiri. Kini aku percaya, kamu mampu menjaga dan membahagiakan Nur. Dengan menjaga pandanganmu, kamu membuktikan padaku. Bukah hanya kecantikan wajah yang kamu lihat dari Nur, tapi kecantikan hati yang tersimpan jauh dalam hati Nur. Jujur Fahmi, aku bangga padamu!" tutur Iman, lalu berdiri meninggalkan Fahmi sendirian.
Iman menarik tangan Afifah dan mengajaknya masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan Embun. Fahmi menunduk terdiam, jarak dengan Nur sangat dekat. Namun entah kenapa jarak itu terasa jauh dan sulit ditempuh? Arya meminta Fitri ikut dengannya. Semua orang pergi, seakan memberi waktu pada Fahmi dan Nur. Mencari arti dari rasa yang ada dihati mereka. Agar tidak ada lagi keraguan dalam langkah mereka.
"Fahmi, aku percaya kamu mampu menjaga kehormatan Nur. Kami memilih pergi, memberikan kalian waktu dan ruang untuk bicara. Namun selalu ingat Fahmi, jika dua orang bersama dan yang ketiga itu setan. Jika memang kamu menghargai Nur. Kamu sapa Nur bukan sebagai Fahmi. Melainkan calon imam dunia akhiratnya. Putuskan sekarang atau tidak sama sekali!" ujar Arya lirih, lalu meninggalkan Arya dan Nur di ruang tengah.
"Nur sayang, kami tidak melihat. Namun Tuhan melihat semuanya. Jangan pernah kecewakan kepercayaan kami!" ujar Fitri, tepat di samping Nur. Seketika Nur mengangguk pelan.
Semua orang memilih masuk ke dalam kamar masing-masing. Sejujurnya pertemuan Fahmi dan Nur malam ini tidaklah sengaja. Fahmi datang ke rumah Abra, sebab ada beberapa hal yang ingin dikatakan pada Abra. Sedangkan Nur datang, karena ingin bertemu dengan Embun. Jodoh seakan ingin melihat mereka bersatu. Agar terhindar dari fitnah dunia dan akhirat yang keji.
"Nur!" sapa Fahmi ramah, Nur menunduk menjauhkan pandangannya dari Fahmi. Laki-laki yang membuat Nur seperti kehilangan akal.
"Kita harus bicara!" ujar Fahmi, Nur menggeleng lemah.
"Aku mohon!"
"Nanti saja, aku lapar!" sahut Nur polos.
__ADS_1