
"Hanna, aku bisa masuk!" pamit Aira ramah, Hanna mengangguk. Mengizinkan Aira masuk ke dalam kamarnya.
Kebetulan Rafan sudah berangkat ke rumah sakit. Hanna memutuskan tinggal di rumah Embun. Setelah seminggu lebih tinggal di rumah Nur. Akhirnya Hanna memilih tinggal di rumah Embun. Agar Rafan merasa tenang, ketika dia dan putranya tinggal bersama Embun dan Abra. Hanna selalu merasa tenang dan nyaman di dalam keluarga Rafan. Tak pernah mereka menganggap Hanna sebagai orang lain. Sebaliknya, Embun selalu menganggap Hanna seperti putrinya sendiri.
Aira memutuskan mengunjungi Hanna, setelah dia pulang dari kampus. Hanna bukan hanya menantu keponakannya. Dia sahabat Aira sejak kecil. Sebab itu Aira merasa bahagia, melihat keluarga kecil Hanna. Apalagi wajah lucu dan tampan putra pertama Hanna. Membuat Aira merasa takjub dan sulit melupakannya.
"Tante Aira, sendirian!" ujar Hanna, Aira mengangguk pelan. Nampak Aira tengah menggendong cucu pertamanya. Putra pertama Rafan keponakannya yang kini menjadi cucu kesayangannya.
"Aku baru pulang dari kampus. Kebetulan tidak ada kegiatan, aku mampir kemari. Aku juga membeli beberapa pakaian bayi. Semoga kamu menyukainya!" ujar Aira lirih, sembari menatap ke arah paper bag coklat yang ada di atas meja.
Hanna menoleh ke arah yang ditunjuk Aira. Dengan anggukan kepala, Hanna mengucapkan terima kasih. Aira memberikan kasih sayang yang begitu besar pada putranya. Kasih sayang yang benar-benar tulus dari dalam hati. Hanna bisa merasakan betapa tulus kasih sayang Aira. Terlihat dari cara Aira menggendong putra kecilnya. Menenangkan putranya dalam dekapan hangat sang nenek muda. Sesekali Hanna melihat Aira mencium hangat putranya. Ciuman yang ingin mengatakan, betapa besar kasih sayang Aira pada Hanna dan putranya.
"Tante Aira, aku mendengar dari beberapa teman. Tante memutuskan untuk kuliah lagi di luar negeri!" ujar Hanna lirih, Aira diam membisu. Sebuah diam yang seolah membuat Hanna yakin dengan berita yang di dengarnya.
"Kenapa tante ingin pergi?" ujar Hanna lagi, Aira menoleh dengan seutas senyum.
Perlahan Aira meletakkan putra Hanna di atas tempat tidur. Aira menenangkan bayi mungil pembawa kebahagian dalam keluarga kecil Hanna. Setelah Aira merasa sang cucu sudah terlelap. Aira berjalan menuju jendela kamar Hanna. Sebuah jendela yang menghadap langsung ke halaman belakang. Aira membuka jendela, menyibak tabir yang menutupi angin sore masuk ke dalam kamar Hanna. Nampak sinar matahari senja, menyeruak dan memaksa masuk ke dalam kamar Hanna. Cahaya jingga yang menerpa sempurna wajah Aira yang tertutup hijab.
"Aku ingin terbang bebas bersama angin sore. Mengejar senja yang tak pernah bisa aku kejar. Mencari tempat paling tenang, agar tak ada lagi rasa cemas dan takut. Aku ingin hidup jauh tanpa bayang-bayang masa lalu. Mengenal orang-orang baru, teman atau saudara yang tak pernah mengenal sisi kelam seorang Khumaira Nabila Ikhsani!" tutur Aira, sembari menatap senja yang menyeruak di ufuk barat.
"Gus Rizal!" sahut Hanna lirih, Aira langsung menoleh. Dia terkejut dengan perkataan Hanna. Meski perkataan Hanna tak sepenuhnya salah. Namun ada banyak alasan yang membuat Aira tak mampu mengejar atau berjuang bersama Rizal.
"Dia memang alasan terbesarku pergi. Namun kehadirannya tak lantas membuatku galau. Aku hanya ingin mencari ketenangan. Aku perlu ilmu yang tinggi. Agar kelak aku bisa membantu papa di kantornya!" sahut Aira, Hanna mengangguk mengerti.
"Tante Aira, kak Hanif!" ujar Hanna lirih, Aira menoleh sembari mengangkat kedua bahunya pelan.
Semenjak Hanif memutuskan memilih perusahaan, daripada kedua orang tuanya. Aira tak pernah lagi bertemu dengan Hanif. Jangankan bertemu, menghubungi Hanif melalui ponsel pintarnya. Tak pernah dilakukan Aira, sebab Aira memilih menjauh dari Hanif. Rasa kecewanya pada Hanif terlalu besar. Sampai-sampai Aira tak ingin melihat wajah Hanif. Jika pada akhirnya hanya ada amarah dan rasa benci.
__ADS_1
"Tante Aira, mama mengetahui rencana kepergianmu!"
"Dia tidak mengetahuinya dan tidak perlu mengetahuinya. Aku telah mengecewakannya, kisah kelam di balik rasa Gus Rizal padaku. Tanpa sengaja membuatnya kecewa, kak Embun kehilangan asa akan kebahagian adiknya. Aku membuat kak Embun terluka, dengan mendengar penolakan orang tua Gus Rizal!" ujar Aira, Hanna mengangguk pelan. Aira menoleh kembali ke arah senja. Meski hangat senja tak mampu menghangatkan tubuhnya. Setidaknya sinar jingga senja, mampu menyinari gelap hatinya saat ini.
Braakkkk
"Assalamualaikum!" ujar Kanaya lantang, sesaat setelah membuka pintu kamar Hanna. Sontak Hanna dan Aira terkejut, mereka langsung menoleh ke arah pintu. Nampak Kanaya dengan wajah cantiknya, berdiri dengan senyuman manis.
"Waalaikumsalam!" sahut Aira dan Hanna bersamaan. Kanaya berhambur memeluk Aira, lalu bergantian memeluk Hanna. Kanaya meluapkan kerinduannya pada Aira dan Kanaya.
Kanaya langsung mencium pipi gembul keponakannya. Kanaya meluapkan rasa bahagianya, karena telah menjadi seorang tante muda yang cantik. Kebahagian Kanaya semakin lengkap, ketika dia memiliki kesempatan menemui Hanna dan keponakannya. Kanaya mendapatkan izin khusus dari pesantren. Semua karena sang keponakan yang tampan.
"Kanaya, jika kamu ada di sini. Artinya…?" ujar Aira menduga-duga. Kanaya menoleh, lalu mengangguk tanpa ragu. Seakan dia mengerti maksud dari perkataan Aira dan mengiyakan kata yang belum terucap.
"Aku datang bersama Umi dan Gus Rizal!" sahut Kanaya santai, Aira menunduk membisu. Terdengar helaan napas, entah rasa bahagia atau sebuah beban? Aira hanya bisa ikhlas, jika hari ini dia akan bertemu dengan Umi. Setelah sekian lama mereka tak pernah bertemu.
"Malam ini, Umi akan menemui calon makmum Gus Rizal. Jika Gus Rizal setuju, Umi akan langsung mengkhitbahnya. Jika tidak, Umi akan mencari calon yang lain!" ujar Kanaya, Aira mengangguk pelan. Hanna menatap Aira, Hanna merasa sakit mendengar perkataan Kanaya. Sebab akan ada hati sahabatnya yang hancur.
"Semoga Gus Rizal menerima calon makmumnya!" ujar Aira tulus dari dalam hati.
"Amiin, semoga saja tante!" sahut Kanaya bahagia, Aira memutar tubuhnya kembali. Menatap senja yang terlihat indah dengan keanggungan-NYA.
"Engkau maha mengetahui, lagi maha melihat. Tunjukkan yang terbaik bagi hamba. Dekatkan dia, jika jodoh terbaik yang Engkau tetapkan. Jauhkan dia, seandainya hubungan ini hanya akan membuat hamba jauh dari-MU!" batin Aira lirih penuh ketulusan.
"Kak Hanna, mama memintamu dan si kecil keluar. Umi ingin melihat kalian!" ujar Kanaya, Hanna mengangguk pelan. Hanna menoleh ke arah Aira. Tatapan yang seolah meminta Aira ikut dengannya. Namun secara tegas, Aira menolak dengan gelengan kepalanya.
"Kalian keluarlah, aku akan ke kamar Kanaya. Aku belum membersihkan diri. Sebentar lagi senja pergi dan pentang akan menyapa. Kakak akan marah, jika melihatku belum mandi. Lagipula tidak sopanN menemui dengan tubuh yang kotor!"
__ADS_1
"Baiklah tante Aira, aku keluar bersama Kanaya!" sahut Hanna, Aira mengangguk. Aira menoleh ke arah senja, sinar jingganya mulai menyilaukan mata. Tak lagi terasa panas sinar matahari, yang tersisa hanya cahaya terang jingga yang meneduhkan mata dan hati yang gundah.
"Kanaya, aku pinjam kamarmu!"
"Silahkan!" ujar Kanaya santai, Aira mengangguk seraya tersenyum.
"Sayang!" teriak Haykal dan Rafan hampir bersamaan. Keduanya datang hampir bersamaan. Haykal langsung memeluk Kanaya dari belakang. Sedangkan Rafan, mencium kening Hanna lembut.
"Aku merindukanmu!" ujar Haykal lirih, Kanaya tersenyum menerima pelukan Haykal. Sikap dingin Kanaya sedikit berubah. Dia mulai menyadari, statusnya yang tak lagi sendiri.
"Hmmm!" sahut Kanaya santai.
"Kalian bisa keluar tidak, sesuka hati bermesraan di depanku. Kalian sedang menggodaku, sebab aku masih sendiri. Dasar kalian keponakan yang kejam!" ujar Aira lantang, Aira berpura-pura kesal pada keponakannya. Meski sebenarnya, tidak ada sedikitpun amarah Aira pada mereka.
"Maaf tante Airaku yang cantik!" sahut Kanaya dan Hanna hampir bersamaan.
"Lebih baik aku pergi, terlalu lama di sini. Hanya akan membuatku darah tinggi!" ujar Aira, lalu berjalan melewati Kanaya dan Haykal yang tengah berdiri di dekat pintu.
Deg
"Parfum ini!" batin Aira kaget, bersamaan dengan detak jantungnya yang tiba-tiba berhenti.
"Sampai kapan kalian akan membuat Umi menunggu?" sahut Rizal dingin, sontak Aira mendongak. Nampak Rizal berdiri tepat di depan pintu.
"Maaf!" ujar Kanaya dan yang lain serempak.
"Permisi Gus Rizal!" ujar Aira lirih, meminta Rizal sedikit minggir ke samping. Rizal mengangguk, lalu berjalan beberapa langkah ke samping.
__ADS_1