KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Arshan Arya Adiputra


__ADS_3

"Sayang, jangan lepaskan tanganmu. Aku tidak ingin, kamu jauh dariku!" Bisik Abra, Embun hanya diam. Abra merasa Embun mengerti perkataannya.


Embun dan Abra melangkah bersama memasuki sebuah hotel bintang lima. Sebuah pesta megah digelar bertabur cahaya. Lobi hotel dihias dengan begitu indah. Bunga bertaburan, seolah menyambut para undangan. Setiap sudut ruangan, dihiasi dengan kerlip lampu yang terang nan cantik. Sebuah acara mewah nan meriah, demi seorang putri cantik keluarga ternama. Sungguh pesta yang berkesan bagi tamu undangan.


"Kamu takut?" Bisik Abra, Embun menoleh seolah tak mengerti.


"Takutkah kamu bertemu dengan orang-orang itu!"


"Aku hanya takut pada sang pemilik hidup. Kekayaan mereka tidak lantas membuat mereka terlihat hebat di depanku. Tatapan hina mereka padaku, takkan bisa membuatku meneteskan air mata. Sejatinya hanya pada-NYA kita menangis. Bersimpuh memohon ampun, berharap pegangan. Namun jika kakak merasa ragu, aku bisa pulang!" Ujar Embun tegas, Abra langsung menggelengkan kepalanya. Abra menggenggam tangan Embun, menempelkan tangan Embun tepat di dadanya.


"Sayang!" Ujar Abra lirih, berharap Embun tidak salah paham kepadanya.


"Baiklah kita masuk, apapun yang terjadi padaku? Jangan pernah gunakan amarahmu. Biarkan mereka menilaiku, hanya pendapatmu yang penting bagiku. Amarahmu hanya akan membuatmu terlihat rendah. Pandangan miring mereka padamu, jauh lebih melukaiku. Daripada hinaan mereka padaku. Kakak imamku, penuntun jalanku, penerang hidupku dan sandaran di kala lelahku. Jangan pernah tumbang, karena mereka. Buktikan pada mereka, jika kebersamaan kita ada dengan ridho-NYA!" Tutur Embun, Abra mengangguk pelan.


"Sejernih embun pemikiranmu, sebening embun hatimu, sesejuk dingin embun hatimu. Sampai tak ada amarah dalam tutut katamu. Embunku, tetaplah ada di sampingku. Tanpamu aku merasa panas, tanpamu aku gerah, tanpamu aku bimbang. Malam ini, sekali lagi kamu membuatku tersadar. Hina bukan karena harta atau status. Sebaliknya hina tak lebih dari jiwa yang penuh dengan amarah. Selalu merasa hebat, mampu menyelesaikan semuanya dengan amarah. Embun, terima kasih hadir menyejukkan hidupku!" Batin Abra sendu.


"Baiklah, aku akan menahan amarahku. Jangan pernah biarkan mereka menghinamu. Lawan mereka dengan caramu, aku akan mendukung tanpa bertanya!"


"Cukup dengan rasa percayamu, sisanya aku yang mengurusnya!" Ujar Embun menyakinkan Abra.


Abra dan Embun melangkah semakin dalam. Pasangan yang sempat diragukan, kini ingin membuktikan diri. Abra yang semula penuh keyakinan, mulai merasa takut dan ragu. Ketika dia melihat banyaknya tamu yang datang. Jika di rumah Abimata saja, Embun terhina sehebat itu. Apalagi di tempat yang benar-benar membedakan status. Dalam bimbang dan galaunya, Abra menggenggam erat tangan Embun. Terasa hangat dan tenang tanpa ada rasa takut dan ragu.


"Akhirnya kamu datang Abra!" Sapa Haykal dingin, sekilas Haykal menoleh ke arah Embun. Haykal terdiam menatap Embun, seolah dia tidak percaya akan penglihatannya. Namun harga dirinya, seakan membuatnya buta.


"Kamu tetap membawa dia. Berharaplah dia tidak membuat kita malu!"


"Kenapa Embun harus membuat anda malu? Seharusnya anda bersyukur, dia menantu idaman setiap orang tua!" Sahut Arya lantang, Haykal dan Abrar menoleh. Nampak Arya berjalan ke arah mereka dengan memegang segelas minuman beralkohol.


"Arya, kamu tidak mengenalnya!" Ujar Haykal, Arya tersenyum lalu menyingkirkan tubuh Haykal dari hadapannya.


Arya berdiri tepat di depan Embun. Menatap penuh rasa kagum akan penampilan Embun. Kecantikan sederhana yang penuh keanggunan. Arya menatap Embun tajam, lalu dengan santai meminum segelas anggur yang tengah dipegangnya tanpa sisa. Arya seolah mengenal Embun dengan sangat dekat.


"Kenapa dia harus ikut campur? Aku bisa membela diriku sendiri!" Batin Embun kesal dalam diamnya. Tatapannya mengunci wajah Arya yang begitu ingin membelanya.


"Tuan Abra, tidak salah jika anda terpesona dengan kecantikannya. Minuman anggur yang aku teguk, tidak mampu membuatku mabuk. Namun kecantikan istrimu, seketika membuatku lupa ingatan!" Ujar Arya, Abra langsung meradang. Dia merasa perkataan Arya, seolah tengah merayu Embun.

__ADS_1


Namun amarah Abra langsung mereda. Saat Embun menggenggam tangannya, Abra menoleh dengan tatapan tidak percaya. Arya tersenyum melihat diam Embun. Seakan Embun merasa nyaman dengan perkataan Abra. Meski sebenarnya, sedikitpun Embun tidak peduli akan pendapat orang lain.


"Arya, jaga sikapmu. Dia menantu keluarga Abimata. Jangan ganggu dia, ingat akan usiamu!" Ujar Gunawan kesal, Arya menoleh ke arah Gunawan. Lalu menatap Haykal dengan tatapan penuh amarah.


"Seorang menantu layaknya anak, meski bukan darah daging kita. Lantas, kenapa aku mendengar Haykal merasa malu dengan menantunya? Seseorang yang merasa malu akan menantunya. Tidak pantas mendapatkan menantu sebaik Embun. Sejatinya seorang mertua harus bisa menjaga kehormatan menantunya. Mungkin dia menantu keluarga Abimata, tapi dia pantas menjadi menantu keluarga yang jauh lebih terhormat dari keluarga Abimata!" Sahut Arya penuh amarah, Gunawan meradang. Sedangkan Haykal terdiam, Abra bingung melihat perdebatan yang melibatkan Embun istrinya. Sebaliknya Embun tetap tenang, sedikitpun tidak terusik dengan perselisihan Gunawan dan Arya.


"Arya cukup, kamu sudah kelewatan!" Teriak Gunawan kesal.


"Tunggu, kenapa malah kalian yang bertengkar?" Ujar Haykal.


"Sayang, kenapa tuan Arya membelamu?"


"Kenapa tidak bertanya padanya?" Ujar Embun dingin, Abra menggeleng lemah. Dia jelas mengetahui, Arya Adiputra bukan orang biasa.


Arshan Arya Adiputra, putra kedua keluarga Adiputra. Pemilik lima puluh satu persen saham adiputra group. Saudara kandung Gunawan Adiputra, paman kesayangan Clara Lexa Viviana. CEO tampan yang tak pernah menikah hingga usia 40 lebih. Seorang laki-laki hebat yang hancur, karena cinta wanita biasa. Penerus keluarga Adiputra yang hancur, karena kesombongan keluarganya sendiri. Alasan yang membuat Arya tak pernah sepaham dengan Gunawan.


"Haykal, bersyukurlah keluargamu yang menjadikan Embun menantu. Jika tidak, banyak keluarga yang siap menerima Embun menjadi menantu? Percayalah Haykal, harta dan status yang kamu banggakan. Nyatanya hanya angin dalam hidup menantumu. Embun selamanya akan menyejukkan, tapi terkadang amarahnya mampu membekukan!" Ujar Arya lantang, Embun hanya diam menatap Arya. Sebaliknya Clara mulai panik, biasanya perdebatan sepele. Mampu menjadi pemicu pertengkaran hebat antara Arya dan Gunawan.


"Om Arya, jangan hancurkan pesta ulang tahun Clara. Apapun yang dikatakan papa, jangan dimasukkan ke dalam hati. Malam ini saja, Clara mohon jangan ada pertengkaran!" Ujar Clara lirih, sembari menangkupkan kedua tangannya. Arya tersenyum, lalu mengelus lembut kepala Clara. Keponakan yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri. Putri yang meninggalkan dirinya tanpa kabar.


"Demi dirimu, om akan diam!" Ujar Arya, lalu meninggalkan Gunawan.


"Gunawan, kenapa Arya semarah itu padaku?" Bisik Haykal, Gunawan mengangkat kedua bahunya. Seakan dia tidak mengerti alasan amarah Arya.


Embun melangkah dengan begitu anggun. Dengan ketulusan, Embun mengulurkan tangan ke arah Clara. Embun mengucapkan kata selamat. Clara termenung menatap Embun yang begitu anggun dengan gaun cantiknya. Jelas kesederhanaa Embun membius seluruh mata yang memandangnya. Dalam hati Clara setuju dengan perkataan Arya. Jika Embun lebih memabukkan daripada minuman beralkohol.


"Embun!"


"Ada apa nona Clara?"


"Kamu mengenal om Arya?" Ujar Clara, saat Embun hanya berdua saja dengannya. Emnun diam membisu, tidak ada kata iya atau tidak. Clara merasa aneh dengan sikap Embun.


Abra harus menemui beberapa rekan kerjanya. Embun tidak bersedia ikut. Embun merasa tidak nyaman dengan tatapan lapar para kaum adam. Sejatinya Embun tidak terlalu cantik, tapi make up tipis yang dipakainya. Memancarkan aura natural yang menenangkan, meneduhkan bagi mata lapar yang melihatnya. Sebuah kata cantik yang terucap dari hati tulus dan terpancar dari hati.


"Kenapa anda berpikir seperti itu?"

__ADS_1


"Aku mengenal om Arya selama hidupku. Aku tumbuh besar dalam bimbingannya. Aku merasakan hangat kasih sayang, hanya dari tangan dan dekapnya. Aku sangat mengenal om Arya melebihi siapapun?"


"Lantas, apa yang membuat anda heran?"


"Cara dia menatapmu? Cara om Arya membelamu? Amarah om Arya yang seolah membuncah, ketika melihatmu terhina. Siapa sebenarnya kamu? Sampai om Arya menganggapmu spesial lebih dari kehormatan keluarganya!" Ujar Clara heran.


"Aku Embun Khafifah Fauziah, jati diriku sejak kecil dan takkan pernah aku ubah!" Ujar Embun lantang dan tegas. Clara menatap ragu akan jawaban Embun. Meski nyata itulah jawaban yang keluar dari bibir Embun.


"Sayang, aku mencarimu. Ternyata kamu ada di sini!"


"Ada apa kakak mencariku?"


"Aku ingin makan bersamamu!" Rengek Abra, Embun mengangguk pelan.


"Maaf nona Clara, kami tinggal sebentar. Sekali lagi aku ucapkan selamat atas ulang tahunmu. Semoga keinginanmu segera terpenuhi!" Ujar Embun ramah, Clara mengangguk.


"Harapanku sirna, bersama dengan terutasnya senyum di bibirmu. Inginku pupus, tatkala tawamu terdengar di telingaku. Mungkin aku salah mengharapkan bahagiamu. Namun hatiku seolah benar mengharap dekap hangat suamimu!" Batin Clara pedih, seraya terus menatap hangat mesra Abra dan Embun.


"Kak Abra, tidak ingin berdansa dengan Clara!" Ujar Embun, Abra menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin berdansa denganmu!" Ujar Abra singkat, Embun tersenyum seolah senang dengan jawaban Abra.


"Sayang, kamu tidak cemburu melihatku bersama Clara!"


"Kenapa harus cemburu?"


"Artinya kamu tidak cemburu!" Ujar Abra lirih, Embun menggelengkan kepalanya. Abra menunduk lesu, kecewa dengan jawaban Embun.


"Aku tidak akan cemburu, karena hatiku percaya kamu tidak akan mengkhianatiku!"


"Tapi cinta itu cemburu!"


"Ajari aku cara mencintaimu, agar aku memahami sakitnya cemburu!" Bisik Embun mesra, Abra menoleh tidak percaya.

__ADS_1


"Kalian menganggap aku angin!" Ujar Fahmi lantang, merasa diacuhkan oleh Abra dan Embun.


"Pengganggu!" Ujar Abra kesal.


__ADS_2