KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Zahra Fauziah


__ADS_3

"Assalammualaikum tante!"


"Waalaikumsalam sayang, duduk!" sahut Aira ramah, Kanaya mengangguk. Tangan kanannya menggeser kursi ke belakang. Kanaya meletakkan tas punggung kecilnya tepat di depannya. Aira tersenyum melihat keponakan yang usianya tidak terpaut terlalu jauh dengannya.


Kanaya menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tak nampak sesuatu yang tengah dicarinya. Aira mengerti alasan sikap Kanaya. Siapa atau apa yang sedang dicari Kanaya? Aira sudah bisa menebak, tanpa bertanya dulu pada Kanaya. Dengan senyum yang terutas di balik cadarnya. Aira menatap lekat dua bola mata indah Kanaya. Tangan kanan Aira menepuk pelan punggung tangan Kanaya.


"Tenang Kanaya, bukan dia yang datang kemari. Sesuai permintaanmu, tante meminta bertemu dengan asistennya. Lalu, jika kamu mencari om Rizal dan Faiz. Mereka sedang bermain di wahana sebelah. Faiz merengek, dia merasa bosan berada di sini!" ujar Aira, Kanaya menunduk. Tangannya menggenggam erat, hangat sentuhan Aira tak mampu membuat hatinya yang membeku mencair.


"Maafkan Kanaya, jika Kanaya tidak bisa bersikap profesional. Bertemu lagi dengannya dan menganggap semua baik-baik saja. Itu tidak semudah yang Kanaya bayangkan. Meski hatiku tak pernah ingin membencinya. Namun bersikap dingin dan berpura-pura tidak pernah mengenalnya itu terlalu menyakitkan bagi Kanaya!" ujar Kanaya lirih, Aira mengangguk memahami isi hati Kanaya.


Hubungan yang terlalu cepat tercipta, menyisakan hati yang kecewa. Namun cinta yang bersemi tanpa kata, meninggalkan kasih sayang yang begitu dalam. Rasa sakit, kala mengacuhkan. Rasa rindu, ketika berpaling Rasa benci, saat ditinggalkan. Dilema hati yang mencinta, tapi terpisah oleh ego dan harga diri. Perasaan yang kini dirasakan oleh Kanaya. Kala hati merindukan, tapi pikiran mengalihkan dan jiwa mengacuhkan.


"Tante memahami rasa sakitmu. Biar waktu yang menghapus namanya di hatimu. Menyembuhkan luka yang ditinggalkannya untukmu. Menghilangkan cinta yang ada di jiwamu. Semua butuh waktu dan tidak ada yang akan pernah mengambil waktumu. Kamu berhak meminta waktu, sebanyak yang kamu butuhkan untuk menghapus nama dan cintanya!" ujar Aira lirih, Kanaya menunduk. Menutupi rapuh dengan ketegaran yang seolah mampu menghalau badai besar sekalipun.


"Kamu tidak akan bisa menghapus nama yang sudah ditakdirkan tertulis di hatimu. Kamu tidak akan pernah sanggup melupakan cinta yang tercipta untukmu. Kamu tidak akan mampu memutus tali jodoh yang sudah terpaut dengan jiwamu. Satu hal yang mungkin kamu lakukan, ikhlas menjalin hubungan baik dengannya. Agar rasa cinta antara dua insan, berubah menjadi cinta sesama muslim!" tutur Rizal tegas, Kanaya dan Aira menoleh bersamaan. Aira langsung menatap lekat Rizal. Sedangkan Kanaya menunduk, menutupi rasa bimbangnya akan pertemuan dengan Haykal.


"Sayang, apa yang aku katakan benar? Buktinya aku ikhlas dengan rasa cintaku. Aku terus mencintaimu, tanpa aku berharap bisa bersama denganmu. Namun jika jodoh sudah terpaut, jarak dan waktu yang takkan bisa menghalangi sebuah penyatuan. Sebesar apapun rasa marah? Sesakit apapun sebuah luka? Sekuat apapun penolakan? Semua akan kalah dengan ketetapan-NYA. Jujur Kanaya, aku orang pertama yang takkan setuju. Seandainya kalian bersatu kembali!" ujar Rizal tegas, Aira menggelengkan kepalanya lemah. Perkataan Rizal malah membuat semuanya semakin rumit.


"Lebih baik kita akhiri perdebatan ini. Sekarang kita fokus pada rapat malam ini. Namun sebelum aku memulainya, dimana perwakilan perusahaan beliau? Kenapa belum datang? Waktuku hanya tiga jam, sebelum keberangkatanku malam ini!"


"Entahlah? Aku sudah memintanya tepat waktu. Lagipula, kenapa kamu harus pergi? Bukankah kamu janji akan menetap!" ujar Aira kesal, Kanaya tersenyum di balik cadarnya.


"Tante, aku pergi bukan kabur. Aku ada urusan beberapa hari. Setelah selesai, aku akan kembali. Lagipula, satu bulan lagi pernikahan om Hanif. Tidak mungkin aku pergi, bisa-bisa dia menghancurkan pestanya sendiri!" ujar Kanaya dengan suara yang terdengar bahagia. Rizal menoleh ke arah Aira, tatapan Rizal seolah tengah mengolok-olok Aira. Sebab dia telah mencurigai kepergian Kanaya.


"Jangan pedulikan tante Aira, maklum dia mulai tua. Hanya ketakutan dan rasa khawatir kehilangan dirimu yang ada dalam benaknya!"


"Memangnya salah, jika aku khawatir pada Kanaya!" sahut Aira kesal, menyahuti sindiran Rizal. Kanaya berdiri menghampiri Aira, dengah penuh kasih sayang. Kanaya memeluk Aira dari belakang. Kanaya menyandarkan kepalanya di pundak Aira.


"Kanaya sayang tante Aira!" teriak Kanaya lantang, Aira tersenyum haru menerima kehangatan yang diberikan Kanaya.


"Selamat malam, maaf saya terlambat!"

__ADS_1


"Selamat malam, silahkan duduk!" sahut Rizal, Kanaya dan Aira membisu. Mereka tak percaya melihat kedatangan Haykal. Mereka cemas Haykal mendengar semuanya.


"Tuan Haykal, dimana asisten anda!" ujar Aira lirih, Haykal diam membisu. Tatapannya mengunci wajah dan tubuh Kanaya. Dia tak mampu berpaling dari Kanaya. Wanita yang pernah mengetuk hatinya dengan cinta.


"Maaf, Fandy ada urusan lain. Jika tidak keberatan, saya yang akan menggantikannya!"


"Kanaya!" ujar Aira lirih, Kanaya menggeleng lemah.


"Silahkan saja!" sahut Aira lirih, Haykal diam membisu. Tatapannya tak lepas dari Kanaya. Rizal memahami isi hati Haykal. Dia pernah berada di posisi Haykal. Mencintai dan merindukan yang terhalang oleh ego. Sesuatu yang tak mudah dilalui oleh siapapun?


Kanaya memberikan dua salinan berkas. Ada beberapa detail yang akan dijelaskan oleh Kanaya. Aira dan Haykal menerima berkas dan langsung membukanya. Rizal datang hanya untuk menemani Aira dan Kanaya. Bertemu dengan Haykal atau Fandy tidak boleh tanpa mahram. Sebab itu Rizal hanya berada di samping. Mendampingi Aira dengan penuh cinta.


Kanaya menjelaskan satu per satu isi kontrak yang telah direvisi. Kanaya menunjukkan desain yang sudah diperbaiki. Dengan tenang dan jelas, Kanaya menjelaskan semuanya. Aira dan Haykal mendengarkan tanpa menyahuti. Bahkan tatapan Haykal tak sedikitpun berpaling dari Kanaya. Bukan hanya wajah cantik, tapi kepintaran Kanaya mulai mengusik Haykal. Aira dan Rizal terus memperhatikan Haykal. Rasa rindu yang begitu besar dan tak bisa diungkapkan.


"Saya sudah menjelaskan semuanya. Jika ada pertanyaan, silahkan katakan sekarang. Setelah malam ini, proyek sepenuhnya diambil alih oleh om Hanif!" ujar Kanaya, Haykal menoleh ke arah Kanaya. Ada rasa tidak nyaman di hatinya. Isyarat perpisahan yang terucap dari Kanaya. Perpisahan yang mengguratkan luka di hati Haykal.


"Maksudnya!" sahut Haykal tidak mengerti.


"Apa semua karena keberadaanku?" ujar Haykal lirih, Kanaya menggeleng. Haykal menghela napas, ada rasa berat yang membuat napasnya terhenti sesaat.


"Aku mungkin tidak profesional dengan menghindar bertemu dengan kakak. Namun percayalah, aku bukan pengecut yang tak bertanggungjawab akan tugasnya. Semenjak kota ini menyisakan luka. Sejak saat itu, aku tak pernah menetap di kota ini. Aku hanya datang, ketika aku dibutukan!"


"Maaf, jika aku menyakitimu!"


"Terlambat, luka telah tertoreh. Sakit sudah kurasakan. Takut mengisi hidupku. Kini, aku belajar berdamai dengan rasa ini. Mencari ketenangan yang pernah menghilang. Bukan membenci atau menyalahkan, sebab semua sudah tertulis atas ketetapan-NYA. Tidak ada hakku menentang, apa yang sudah ditakdirkan? Imanku menolak kebencian padamu!" tutur Kanaya dengan tegas, Kanaya berdiri lalu mencium punggung tangan Aira.


"Tante, Kanaya pamit. Setelah sampai, Kanaya akan menghubungi tante!" ujar Kanaya, Aira mengangguk.


"Jaga diri baik-baik, kembalilah dengan imam pilihanmu. Sudah waktunya tante menimang cucu!"


"Dua putra dari kak Rafan, sudah cukup memanggilmu nenek!" sahut Kanaya menggoda, Haykal menunduk. Tangannya menempel tepat di dadanya. Terasa ngilu saat mendengar harapan yang terucap dari bibir Aira. Kebahagian Kanaya bersama orang lain, seakan belati tajam yang menusuk jantungnya. Menghentikan detak jantung yang selama ini berdetak dengan satu asa.

__ADS_1


"Om Rizal, jaga tante Aira. Jangan biarkan dia memikirkan keponakan cantiknya ini!" ujar Kanaya menggoda Aira.


"Tante Kanaya!" teriak Faiz, bocah empat tahun yang terlihat berlari kecil menghampiri Kanaya.


"Tante cantik!" ujar Zahra lantang, gadis kecil tiga tahun yang menyukai Kanaya sejak pertemua pertama mereka.


Bruuuukkk


"Ini tanteku!" teriak keduanya, berebut memeluk Kanaya.


"Tidak perlu berebut, tante milik kalian berdua!" ujar Kanaya, sembari memeluk tubuh Faiz dan Zahra bersama-sama.


"Faiz, kemari sayang. Tante Kanaya harus pergi, pesawatnya akan segera berangkat!" ujar Aira, Faiz mengangguk pelan. Lalu berjalan menghampiri Aira.


"Zahra, kemari sayang!" ujar Haykal, Zahra berjalan perlahan menghampiri Haykal. Kanaya menatap haru kebahagian Haykal. Tatkala Zahra memeluk tubuh Haykal dengan erat dan penuh kasih sayang.


"Zahra Fauziah!" ujar Haykal lirih, Kanaya tersenyum di balik cadarnya.


"Nama yang cantik, selaras dengan kecantikan wajahnya. Semoga kelak menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya!" ujar Kanaya, Aira menatap nanar Kanaya. Nampak jelas rasa sakit yang tersimpan di balik doa tulus Kanaya untuk Zahra.


"Sudah saatnya aku pergi, dua jam lagi pesawatku berangkat!" pamit Kanaya, lalu memutar tubuhnya. Kanaya berjalan menjauh dari Haykal. Berharap hatinya kembali tenang.


"Kamu tidak bertanya, siapa Zahra?" ujar Haykal lantang, Kanaya menggeleng lemah tanpa menoleh ke arah Haykal.


"Kenapa?"


"Kenapa aku harus bertanya tentang kebahagian kakak? Sedangkan alasan kakak meninggalkanku saja, tak pernah aku tanyakan atai ingin aku ketahui. Lagipula, kebahagian yang aku lihat, sudah menjawab semua kecemasanku. Ketakutanku selama ini, bukan takut kehilangan atau hidup jauh darimu. Namun aku takut memikirkan hidup kakak tanpa siapapun? Setelah melihat kebahagian yang terselimuti senyum penuh ketulusan. Kakak berhak bahagia, memilki keluarga kecil yang utuh. Jangan pernah memikirkan hubungan masa lalu diantara kita. Anggap hubungan diantara kita tidak pernah nyata!"


"Jika kamu berharap aku bahagia. Kenapa kamu masih terpuruk dengan masa lalu? Sudah seharusnya kamu bangkit dan menemukan cinta sejati!"


"Aku bahagia dengan menjadi sauadar semua 0rang!" sahut Kanaya santai, sambil berlalu.

__ADS_1


"Tapi dinginmu, membunuhku!" batin Haykal pilu.


__ADS_2