
Sayub terdengar murrotal dari toa masjid yang berada tidak jauh dari rumah Rafan. Suara murrotal yang terdengar merdu, membangunkan penghuni surga dari tidur panjangnya. Suara yang begitu hangat terdengar di telinga Hanna. Nampak jam menunjukkan pukul 03.15 WIB. Hanna membuka perlahan kedua matanya. Hanna harus segera bersiap, dengan perlahan Hanna hendak turun dari tempat tidur.
"Tangan siapa ini? Kenapa dia memelukku?" batin Hanna heran dan takut.
Sontak Hanna menoleh, dia melihat Rafan tidur dengan lelapnya. Sejenak Hanna lupa, jika semalam dia pulang bersama Rafan. Hanna mengingat kejadian semalam. Bayangan indah yang pupus, hanya karena penolakan Rafan. Hanna kecewa dengan sikap Rafan, tapi Rafan berhak menolak melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Hanna percaya, Rafan memiliki alasan kuat menolak cinta dan hangat yang ditawarkan Hanna. Bukan Rafan tak mencintai Hanna, justru sebaliknya Rafan sangat menghargai Hanna. Dia tidak ingin memanfaatkan kerinduan Hanna. Demi hasrat cinta dalam hatinya.
Hanna mengurungkan niatnya, dia memilih tetap tidur di samping Rafan. Hanna menatap lekat wajah tampan Rafan. Dengkuran halus terdengar di sela tidur lelap Rafan. Tangan Hanna tergerak, suara hati Hanna memaksa tangannya bergerilya manja di atas wajah Rafan. Hanna sudah menahan diri, tapi rasa cinta dan rindu yang menggebu dalam hatinya. Tak lagi mampu dikendalikan Hanna. Pesona Rafan menghancurkan benteng iman yang dibangun Hanna. Perlahan Hanna menyentuh wajah Rafan.
Hanna menyibak rambut hitam legam Rafan. Menjauhkannya dari dua mata indah Rafan yang tengah tertutup rapat. Hanna menjerit dalam hati, ketampanan Rafan tak bisa dipungkiri. Hanna sangat bahagia, bisa menatap wajah Rafan begitu dekat. Tangan Hanna terus bermain di wajah Rafan. Berawal dari mata, turun ke arah pipi dan berakhir di bibir Rafan yang mempesona. Hanna benar-benar tak berdaya, pesona Rafan membuatnya lupa akan sekitar. Suara murrotal masjid, terdengar mengalun merdu. Seakan mengiyakan sebuah penyatuan dua hati dalam cinta dan hasrat
Tangan Hanna terus bermain di atas bibir Rafan. Hembusan hangat napas Rafan, terasa menerpa ujung jarinya. Hanna terbawa emosi, perlahan Hanna bergeser semakin dekat dengan Rafan. Hembusan napas Rafan mampu menyentuh kulit wajah Hanna. Hangat terasa mengalir dalam nadi Hanna. Kerinduan Hanna semakin membuncah. Wajah tampan dan tenang Rafan kala terlelap, menjadi alasan rasa cinta Hanna yang semakin besar.
"Ya Rabb, betapa indah ciptaan-MU. Diakah imam yang Engkau pilihkan untuk hamba. Seorang imam yang menghargaiku dengan dingin sikapnya. Seandainya hamba boleh meminta, ketuk hati terdalamnya. Agar dia bersedia, memiliki hamba seutuhnya. Hamba benar-benar mencintainya, hanya dengannya hamba ingin bersama. Melangkah bergandeng tangan menuju surga-MU!" batin Hanna, sembari terus mengusap lembut wajah Rafan. Debaran jantung Hanna, terdengar begitu keras. Sampai Hanna tak mampu menahannya.
Hanna menutup kedua matanya, hasrat cinta dalam hati membuatnya tersiksa. Hanna tak sanggup menahan rasa ini terlalu lama. Namun pergi tanpa pelukan hangat Rafan, jujur Hanna kecewa. Entah kenapa Hanna begitu mencintai Rafan? Hanna merasa dunianya berputar di dekat Rafan. Laki-laki yang terkadang dingin dan membuat hatinya terluka.
"Lebih baik aku pergi ke kamar mandi. Semakin lama aku menatapnya, rindu ini akan semakin menyiksa!" ujar Hanna lirih, berpikir Rafan takkan mendengarnya. Hanna menyibak perlahan selimut yang menutup tubuhnya. Hanna melangkah turun dari tempat tidur.
"Awwsss!" teriak Hanna, bersamaan dengan tubuhnya yang terhuyung ke belakang dan jatuh tepat di samping Rafan.
Hanna terkejut merasakan sebuah tangan besar menarik tubuhnya. Rasa kaget yang akhirnya membuat Hanna jatuh tepat di samping Rafan. Hanna langsung menoleh ke arah Rafan, tatkala dia merasakan tangan Rafan yang sengaja menariknya ke belakang. Rafan tersenyum menggoda, melihat raut wajah Hanna yang kesal.
"Kak Rafan, sakit!" ujar Hanna kesal, ketika merasakan tubuh Hanna yang terjatuh di atas tempat tidur.
Rafan tak peduli akan teriakkan Hanna, dengan santainya Rafan memeluk tubuh Hanna. Rafan menyandarkan kepalanya, dipundak Hanna. Menyusup ke dalam hijab Hanna, mencium lembut tengkuk Hanna yang putih. Ciuman hangat nan mesra Rafan, seketika membangkitkan gairah dalam diri Hanna. Darah Hanna mendidih, tubuhnya bergetar hebat. Aliran darahnya terasa panas, Hanna tak berkutik. Saat dia merasakan tangan Rafan bermain di balik piyama yang dipakai Hanna.
Tangan Rafan bergerilya tanpa arah, menyusuri setiap inci kulit Hanna. Menyentuh dan mengelus lembut seluruh tubuh Hanna. Rafan mematik api kerinduanya yang telah padam. Api cinta yang kini membakar dua hati, bersatu dalam ikatan suci yang halal. Rafan semakin tak terkendali, bukan hanya tangan Rafan yang bermain indah di atas tubuh Hanna. Ciuman mesra nan hangat Rafan, menghujani setiap inci tengkuk Hanna. Meninggalkan tanda merah cinta, bukti besarnya cinta dan hasrat Rafan akan ketulusan Hanna.
"Kak, lepaskan pelukanmu. Sebentar lagi azan subuh!" ujar Hanna lirih, Rafan tak bergeming. Pelukan Rafan semakin erat, Rafan meringkuk di balik punggung Hanna. Merasakan debaran hangat cinta Hanna padanya. Rafan semakin tak berdaya, hasratnya menggebu dalam hati dan benaknya.
__ADS_1
Hanna memutar tubuhnya, mengangkat dagu Rafan. Hanna menatap dua bola mata Rafan, mata indah yang membuatnya jatuh cinta. Hanna membalas ciuman Rafan, dengan lembut Hanna mencium mesra kening Rafan. Menenggelamkan Rafan dalam dekapan hangatnya. Hanna mengusap lembut rambut hitam legam Rafan. Sentuhan demi sentuhan Hanna yang penuh dengan cinta. Rafan diam tak bergeming, mengikuti arahan dan sentuhan hangat tangan Hanna. Rafan tenggelam dalam hangat cinta yang Hanna berikan. Keduanya tenggelam bersama dalam indah cinta. Melupakan sejenak suara merdu murrotal dari toa masjid.
Tangan Hanna memeluk tubuh Rafan, Hanna luluh dalam hangat cinta yang tersirat dalam dingin sikap Rafan. Kerinduan yang tersimpan dalam hati, kini berbalas dengan penyatuan cinta. Rafan merasakan sentuhan Hanna, sentuhan yang membuat Rafan semakin bergairah. Rafan menghujani Hanna dengan kecupan penuh cinta. Tak lagi hangat yang terasa, Hanna seolah terbakar oleh cinta yang diungkapkan oleh Rafan. Hanna lemah tanpa tenaga, Hanna pasrah akan sentuhan panas Rafan.
Tubuh Hanna serasa melayang, tak lagi Hanna mampu menahan hasrat yang menguasai hatinya. Rafan benar-benar mengungkapkan kerinduannya. Menyatukan hasrat yang seakan ingin membunuh Rafan dengan kerinduan. Suara ******* Hanna, menggugah gairah Rafan semakin liar. Tangan Rafan mulai terasa gatal, Rafan bermain dengan area sensitif Hanna. Rafan mulai kehilangan akal, gairah penuh cinta membuatnya tak berdaya.
Dengan penuh kelembutan Rafan membuka satu per satu kancing gamis yang dikenakan Hanna. Sentuhan demi sentuhan Rafan, membuat Hanna tak berdaya. Tubuhnya lemas, hanya ******* lirih yang terdengar dari bibir mungilnya. Hanna terbuai akan sentuhan demi sentuhan Rafan. Sampai Hanna tak menyadari, dirinya telah kalah oleh hasrat penyatuan. Rafan dan Hanna bersatu dalam cinta yang membakar hatinya.
Hanna diam tak berdaya, merasakan tangan Rafan semakin liar. Melepas satu per satu pakaian yang menutupinya. Hanna tak berdaya, sentuhan Rafan benar-benar memabukkan. Hanna begitu mencintai Rafan, cinta itulah yang membuat Hanna dengan tulus menyerahkan segalanya pada Rafan.
"Hanna, aku menginginkanmu sekarang?" ujar Rafan hangat, Hanna mengangguk pelan. Sebuah persetujuan akan izin penyatuan yang tak terucap. Hanna siap menyerahkan dirinya pada Rafan, laki-laki yang berhak memilik mahkota indahnya. Imam dunia akhirat, tempat Hanna mendapatkan pahala surga.
Rafan dan Hanna menyatu dalam cinta. Tak ada lagi jarak yang memisahkan keduanya. ******* hangat penuh cinta, menjadi bukti cinta mereka yang menyatu. Sentuhan hangat Rafan, membuai hangat Hanna. Tak ada paksaan, semua berjalan dengan keikhlasan dan cinta. Rafan dan Hanna mencurahkan hasrat yang membuncah. Menyatukan rindu yang menggebu dalam cinta yang utuh.
"Terima kasih!" bisik Rafan, Hanna mengedipkan kedua matanya. Hanna merasa malu, sekaligus bahagia. Kehangatan yang dibayangkannya terjadi semalam, telah terwujud tanpa Hanna rencanakan. Penyatuan cinta yang tulus dari dalam hati. Bukti adanya cinta di hati Hanna dan Rafan.
Rafan mengecup lembut kening Hanna, yang penuh dengan keringat. Rafan memeluk erat tubuh Hanna, seolah Rafan tak ingin jauh dari Hanna. Rasa rindu yang terbayar, menghilangkan ketakutan yang mengusik hati dan jiwa Hanna. Keraguan akan cintanya yang tak terbalas, kini telah hilang tanpa jejak. Rafan membuktikan pada Hanna. Dalam setiap sikap dinginnya, ada cinta tulus untuknya. Sebuah cinta yang tersimpan dalam jauh di hati Rafan.
"Kamu meragukanku, kenapa?"
"Karena semalam, kakak menolak menyentuhku. Kakak mengacuhkan rinduku, dengan santainya kakak meninggalkanku dalam kerinduan. Kakak menyakitiku sampai aku merasa sesak. Aku merasa kakak terpaksa menikah denganku!" tutur Hanna lirih, dalam dekapan Rafan. Seketika Rafan mengeryitkan dahinya tak percaya. Dia mendengar kejujuran yang membuatnya bahagia dan kesal di waktu yang bersamaan. Rasa sakit Hanna tidak salah, tapi keraguan Hanna salah besar. Tak pernah Rafan berpikir seperti perkataan Hanna. Jangankan berpikir, terlintas dalam benaknya tidak.
"Apa kamu pikir, hanya kamu yang tersiksa dengan kerinduan ini? Semalaman aku tidak bisa tidur, melihatmu berada di kamarku. Sudah cukup membuat pikiranku kacau. Kedua mataku tak mampu terpejam, hanya wajahmu yang terbayang. Hampir saja aku khilaf, tak mampu menahan hasrat menggebu di hatiku. Sungguh Hanna, aku telah kalah oleh pesonamu? Kamu membuatku hancur dalam cinta. Aku baru tertidur, dua jam yang lalu. Namun sentuhan demi sentuhanmu membangunkanku. Bukan hanya tidurku, sentuhanmu mengusik hati dan jiwaku yang mulai tenang. Maaf, jika akhirnya aku kalah. Aku meminta sesuatu yang paling berharga darimu. Aku mencintaimu Hanna, sangat mencintaimu. Bukan kamu yang harusnya berterima kasih, akulah yang seharusnya mengatakan itu. Terima kasih telah memberikan mahkota terindahmu. Kini hanya aku yang ada di hatimu dan hanya dirimu alasan kebahagianku!" batin Rafan, lalu mencium lembut kening Hanna.
"Seburuk itukah aku dalam benakmu!" ujar Rafan pura-pura kesal, sontak Hanna mendongak. Hanna menoleh ke arah Rafan yang tiba-tiba diam tak bersuara.
Hanna duduk tepat di samping Rafan. Dia melihat raut wajah kesal Rafan. Hanna kebingungan melihat kemarahan Rafan. Dengan memegang selimut yang menutupi tubuhnya, Hanna mendekat ke arah Rafan. Namun sikap kesal Rafan nyata, bahkan Rafan mengalihkan pandangannya. Hanna semakin bingung, dia tak percaya kejujurannya telah menyakiti Rafan.
"Kak Rafan, maafkan aku!"
__ADS_1
"Hmmm!" sahut Rafan lirih, suara Rafan terdengar dingin dan acuh akan kehadiran Hanna.
"Kak Rafan!" ujar Hanna lirih, Rafan diam tak bergeming. Sejenak Hanna merasa tak mengenal Rafan. Dalam sekejap Rafan berubah dingin, hangat yang baru beberapa menit yang lalu tercipta. Menghilang tergantikan dingin sikap Rafan. Bak kabut yang tengah menyelimuti pagi, menantikan sang fajar menghangatkannya dan merubahnya menjadi embun yang menyejukkan. Dalam sekejap mata, Rafan kembali dengan dingin yang menyakitkan.
"Kak Rafan!" ujar Hanna di sela isak tangisnya. Sekilas Hanna melirik ke arah Rafan, tak ada sahutan dari Rafan. Sebaliknya sikap dingin Rafan yang mampu membuatnya tiada.
Hanna tak lagi merasakan sakit penyatuan. Bercak darah merah masih basah, tapi sikap dingin Rafan membuatnya tak terlihat dan tak berharga. Hanna merasakan sakit yang menyesakkan, ketika menyadari kesalahannya. Tanpa sengaja Hanna telah menyakiti Rafan. Rasa cintanya yang terlalu besar, malah membuat Rafan terhina dan diragukan. Hanna merutuki kebodohannya, dia merasa kesal akan keraguan yang terbersit dalam benaknya. Hanna menunduk, menyembunyikan tangis yang terasa menyesakkan dadanya.
"Kenapa menangis?" ujar Rafan lirih, Hanna menggelengkan kepalanya lemah. Rafan duduk menghadap Hanna. Rafan mengangkat dagu Hanna perlahan. Dengan lembut dan hangat, Rafan menyeka air mata Hanna. Rafan menangkup wajah Hanna. Rafan mendekatkan wajah Hanna, lalu mencium lembut kening Hanna.
"Aku tidak marah, tapi jujur keraguanmu menyakitiku. Mungkin aku tak sehangat laki-laki yang pernah menyatakan cinta padamu. Namun percayalah, jauh di dalam hatiku hanya tertulis namamu. Aku tak bisa merayumu dengan kata-kata mesra. Namun yakinlah, bibirku hanya memanggil namamu dalam sujud dan doa. Aku pribadi dingin dan tak peduli pada orang lain. Namun satu hal yang harus kamu ketahui, dirimu satu-satunya wanita yang membuatku ingin berubah. Sebuah perubahan yang butuh waktu dan aku berharap kamu sabar menanti Rafan yang baru!"
"Maaf!" ujar Hanna lirih, Rafan menggelengkan kepalanya pelan.
"Hanna, terima kasih atas cintamu yang begitu besar padaku. Namun cinta tanpa kepercayaan, hanya akan membuatmu ragu. Aku mencintaimu Hanna, sangat mencintaimu. Wajahmu yang menghilangkan lelah dan gelisahku. Menatapmu membuat dua mataku teduh dan tenang. Tangismu yang menyadarkan aku, jika ada orang yang begitu menyayangiku dan rela menangis demi diriku. Sungguh Hanna, aku bahagia menikah denganmu. Tak pernah aku merasakan kebahagian ini. Kepolosan dan keceriaanmu, membuatku merasa berharga. Kamu segalanya, dalam hidup seorang Rafan yang dingin. Cintamu laksana cahaya di hati gelapku!" tutur Rafan hangat, Hanna menunduk dengan rasa bersalah yang menguasai hatinya.
"Maafkan aku, maaf!" ujar Hanna lirih, Rafan menarik Hanna dalam pelukannya. Rafan menempelkan telinga Hanna tepat di dadanya. Hanna mampu mendengar debaran hati Rafan yang berdegub begitu hebat.
"Jantung ini berdetak hanya demi dirimu. Jangan pernah meragukannya lagi, jika tidak ingin melihat jantung ini berhenti berdetak!" ujar Rafan, Hanna mengangguk dalam dekapan hangat Rafan.
"Suara azan subuh, kita harus segera bersiap. Jika tidak ingin terlambat sholat berjamaah!" ajak Rafan, Hanna mengangguk tanpa bertanya.
Cup
"Hapus air matamu, jika mama melihatnya. Dia akan memarahiku, karena telah menyakitimu!" ujar Rafan, Hanna diam tak menyahuti.
Hanna dan Rafan bergantian membersihkan diri. Semua orang pasti sudah menunggu mereka. Kehangatan yang tercipta, harus tersisipi keraguan. Namun semua akan kembali membaik, ketika hati dan jiwa kembali tenang. Hanya dengan bersujud di hadapan-NYA, hati dan jiwa akan mendapatkan ketenangan.
"Kak Rafan, cepatlah turun. Jangan karena kalian pengantin baru. Kami harus menunggu kalian berdua begitu lama!" teriak Kanaya lantang, Hanna menunduk tersipu malu. Dia merasa malu telah membuat semua orang menunggu. Apalagi hanya karena penyatuan cinta Hanna dan Rafan.
__ADS_1
"Kanaya, diam!" ujar Embun dingin.
"Maaf!" sahut Kanaya.