
"Selamat pagi tante!"
"Haykal!" sahut Embun terkejut, Haykal tersenyum simpu.
Embun tak menyangka, Haykal akan datang sepagi ini. Setelah acara pernikahan Rafan yang menguras tenaga. Pesta pernikahan yang berlangsung dari pagi dan berakhir sekitar pukul 22.30 WIB. Seharian mereka semua mengikuti acara demi acara yang membuat tubuh mereka lelah. Namun melihat Haykal datang sepagi ini. Antara percaya dan tidak, mengingat Haykal ambil bagian dalam acara semalam. Embun menoleh pada jam tangannya. Dia mengeryitkan dahinya tak prrcaya. Hari masih sangat pagi, jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB. Sang fajar baru menyapa memberikan kehangatan. Menghilangkan dingin embun pagi yang menyapa.
"Maaf tante, saya datang terlalu pagi!"
"Tidak apa-apa? Silahkan masukn tante panggilkan Rafan!" ujar Embun, Haykal menggeleng lemah.
Embun tak mengerti, kenapa Haykal menolak bertemu Rafan? Padahal satu-satunya orang yang dekat dengan Haykal hanya Rafan. Namun gelengan kepala Haykal, seolah dia datang bukan untuk bertemu Rafan. Embun merasa bingung, tapi sebisa mungkin Embun mencoba membuang rasa penasarannya.
"Jika bukan Rafan, lalu siapa?" ujar Hanna bingung, Haykal menoleh ke arah pintu. Nampak Abra datang dengan gagahnya.
Embun menatap Abra heran, seketika Embun meletakkan selang air yang tengah dipegangnya. Embun mematikan kran air, lalu berjalan menghampiri Abra. Nampak penampilan Abra sudah rapi. Seakan Abra akan pergi ke kantor.
"Kak Abra, dia mencarimu!"
"Iya, Haykal ingin bertemu denganku. Aku ada janji dengan Haykal. Kami akan rapat di ruang kerjaku. Haykal harus mengajar, jadi aku mengajaknya rapat sebelum dia mengajar!" ujar Abra tegas, Embun mengangguk mengerti.
"Dia tidak mengajar, sekolah malah aman. Kalau bisa, papa tahan dia selama mungkin. Setidaknya sampai jam sekolah selesai!" sahut Kanaya dingin, Haykal dan Embun menoleh bersamaan. Abra tersenyum mendengar kekesalan Kanaya.
"Kanaya, dimana sopan santunmu?" sahut Embun, Kanaya menunduk. Sekilas dia melihat penampilan Haykal yang berbeda. Namun tak sedikitpun ada ketertarikan Kanaya akan Haykal.
"Maaf, hanya berharap!" sahut Kanaya santai.
Kanaya turun dari sepeda motornya, dia memberikan secarik kertas pada Embun. Kanaya juga memberikan dompet kecil. Embun dan Abra tersenyum simpul, melihat kemendirian Kanaya. Sifat sederhana yang membuat Abra dan Embun bangga. Haykal merasa bingung, dia melihat Kanaya yang berbeda. Nampak Kanaya datang dengan belanjaan. Sepeda motor matic yang dikendarai Kanaya penuh dengan belanjaan. Haykal menunduk, terlihat sendal jepit Kanaya penuh dengan lumpur. Bahkan ujung gamis Kanaya penuh dengan noda tanah.
"Kanaya, ada yang ingin kamu jelaskan?" ujar Embun lirih, Kanaya menggelengkan kepalan. Lalu, Kanaya menganggukkan kepala.
"Kanaya!" ujar Embun, Kanaya menoleh ke arah Abra. Seolah mengerti maksud Kanaya. Abra langsung memeluk hangat Embun. Abra mengambil kertas yang diberikan Kanaya.
"Aku akan menggantinya!" ujar Abra, Kanaya mengangguk setuju.
"Mama, papa yang akan menggantinya. Aku tadi terlalu semangat belanjanya, maklum khilaf!"
"Kanaya, mama tidak masalah dengan uangnya. Namun sayur sebanyak itu, siapa yang akan menghabiskan? Dua hari lagi, kamu pergi ke pasar lagi. Kamu yakin, bisa menghabiskan sayuran sebanyak itu!"
"Yakin, bukankah ada dia yang datang untuk makan gratis!"
__ADS_1
"Kanaya, papa tidak suka cara bicaramu. Ingat Kanaya, Haykal datang karena papa yang memintanya. Dia tamu papa, jangan sampai dia marah dan akhirnya pulang!" ujar Abra tegas, kanaya menunduk terdiam.
"Kanaya, minta maaf pada pak Haykal. Dia bukan hanya tamu papa. Dia gurumu, ingat Kanaya seorang murid harus patuh dan hormat pada gurunya!" ujar Embun, Kanaya mengangguk pelan. Kanaya berjalan menghampiri Haykal. Nampak kedua kaki Kanaya bertelanjang kaki. Kanaya melepas sandalnya di depan teras. Kanaya tidak ingin lantai teras kotor. Kanaya tidak ingin merepotkan ART di rumahnya.
"Maaf pak!" ujar Kanaya tepat di depan Haykal. Tatapan Kanaya menunduk, tak ada nama yang disebut Kanaya.
"Hanya pak!" sahut Haykal, Kanaya mendongak. Tatapannya dingin, Haykal tersenyum melihat tatapan Kanaya.
"Kanaya!" ujar Embun, Kanaya menggeleng lemah.
"Tidak perlu tante, aku hanya ingin menggodanya. Kanaya tidak akan berani memanggil namaku!"
"Kenapa?" sahut Embun, seraya mengeryitkan dahinya. Haykal menggelengkan kepalanya berpura-pura tidak mengerti. Meski dia sudah mengetahui alasan sikap Kanaya padanya.
"Kanaya, masukkan semuanya ke dalam. Kamu belum menyiapkan sarapan!" ujar Embun hangat, Kanaya mengangguk pelan. Kanaya mengambil semua belanjaannya. Dia berjalan perlajan menuju dapur. Haykal menatap haru Kanaya. Banyak hal istimewa yang membuat Haykal ingin mengenal Kanaya.
"Haykal, silahkan masuk. Kita bicara di ruang kerja om!" ujar Abra, Haykal terkejut mendengar suara Abra. Haykal tersipu malu, ketika menyadari dirinya termenung menatap Kanaya.
Sekitar hampir satu jam, Abra dan Haykal membicarakan bisnis. Sedikit demi sedikit, Haykal mulai menggeluti dunia bisnis. Namun Haykal tetap mengajar, sebab mengajar bukan pekerjaan bagi Haykal. Melainkan impian yang tersimpan jauh di dalam hatinya.
"Silahkan Haykal, ala kadarnya!" ujar Abra mempersilahkan Haykal ikut sarapan bersama.
"Haykal, kenapa hanya diam? Tenang saja, Kanaya tidak akan meracunimu!" ujar Rafan menggoda Haykal. Kanaya diam, tak sedikitpun Kanaya peduli dengan perkataan Rafan.
"Apa hubungan semua masakan ini dengan Kanaya?"
"Jelas ada, dia juru masak yang baru. Kanaya Fauziah Abimata, juru masak paling hebat di rumah ini!" sahut Rafan, Haykal menoleh tak percaya. Kanaya hanya diam, rasa penasaran Haykal tak membuatnya peduli. Dengan santai, Kanaya mulai melahap sarapannya.
"Makanlah Haykal, memang Kanaya yang memasaknya. Namun lihatlah, kami semua juga memakannya. Jadi tidak akan Kanaya meracunimu!" ujar Embun, Haykal mengangguk seraya tersipu malu. Haykal sempat melirik ke arah Kanaya. Namun tak sekalipun Kanaya menoleh dan peduli padanya.
"Cukup Kanaya, aku tak lagi mampu melihat sisimu yang lain. Belum satu hari, aku berada di rumahmu. Kamu membuatku tertunduk malu, aku merasa malu menatap dirimu yang penuh dengan kelebihan. Kedua mataku tertunduk, ketika aku melihatmu pergi ke pasar tradisional. Kedua kakimu yang penuh lumpur dan gamis yang kotormu. Bukti hatimu jauh lebih bersih dariku. Sebaliknya hatiku jauh lebih kotor, karena keangkuhan dan kesombongan diri yang menjauh dari kesederhanaan. Sekali lagi, kamu mengajarkan aku. Jika sederhana itu membuat hati kita bahagia dan tenang. Lagi dan lagi kamu membuatku kagum. Di balik sikap tomboy dan kasarmu, tersimpan tangan yang begitu hangat dan penuh kelembutan. Tangan yang membuat kedua mulutku tertutup. Masakan yang kamu hidangkan sederhana, tapi dalam sederhananya terbersit sebuah kenangan masa laluku. Kenangan saat aku bahagia, ketika lapar dan dahaga hilang oleh tangan lembut mama kandungku. Jujur Kanaya, aku tak lagi mampu melihat lebih dan hangat. Seandainya, sekali lagi aku merasakan hangatmu. Entah apa yang akan terjadi padaku? Sanggupkah hati ini bertahan, agar tak menyimpan rasa pada gadis sederhana sepertimu. Rasa tulus yang tak seharusnya ada di hati seorang guru pada muridnya!" batin Haykal tak percaya, sembari terus melahap sarapannya. Haykal tak mampu mengeluh atau sekadar memuji Kanaya. Bibirnya tertutup, seolah kekaguman Haykal hanya akan membuat keadaan terasa berbeda.
Kreeekkk
"Kanaya sudah selesai!" ujar Kanaya lantang, sembari menggeser kursinya.
Kanaya berjalan menghampiri Abra dan Embun. Kanaya bergantian mencium punggung tangan Abra dan Embun. Lalu beralih pada Rafan dan Hanna. Kanaya mencium punggung mereka bergantian. Haykal terdiam membeku, dia melihat Kanaya yang berbeda. Penuh keramahan dan sopan santun. Terdengar helaan napas Haykal, dia merasa tak mampu menahan gejolak hatinya. Sekilas terlihat Haykal memegang dadanya pelan. Detak jantung Haykal, berdegub begitu cepat. Kanaya menundukkan kedua matanya, menutup rapat bibirnya, menyentuh hati terdalamnya dan kini membuat detak jantunganya berdegub begitu cepat.
"Sayang, ini kunci mobil papa!" ujar Abra, sembari memberikan kunci mobilnya pada Kanaya. Embun menoleh tak mengerti, Abra mengedipkan kedua matanya. Berharap Embun percaya padanya.
__ADS_1
"Terima kasih papa, Kanaya janji akan mengganti bensinya!" ujar Kanaya, sembari mengutas senyum.
"Tidak perlu sayang, papa sudah mengisi full tangkinya!" ujar Abra, sembari menggelengkan kepalanya lemah. Kanaya berhambur memeluk erat Abra. Mencium berkali-kali pipi Abra.
"Mbak Kanaya, ini kotak makannya!" ujar mbok Inem. Kanaya menoleh, lalu tersenyum simpul.
"Mbok, letakkan di situ. Kanaya akan membawanya sendiri ke dalam mobil!" ujar Kanaya, mbok Inem mengangguk pelan. Nampak dua kantong kresek besar kotak makan.
"Kanaya!" sapa Embun.
"Maaf mama, hari ini Kanaya izin tidak masuk sekolah. Kanaya ingin pergi bersama kakek Iman. Hari ini ada pemeriksaan gratis di desa. Aku ingin menemani kakek Iman. Sengaja aku membuat makanan, untuk beberapa tetangga kakek yang ada di sana!" ujar Kanaya, tatapannya menunduk. Kanaya takut Embun melarangnya pergi.
"Sayang, dia sudah meminta izinku. Kanaya hanya ingin menemui orang-orang yang dulu baik padamu!"
"Tapi!" sahut Embun lirih, Kanaya menunduk semakin dalam. Tangannya meremas ujung hijabnya. Rafan berdiri memeluk tubuh Kanaya. Sebuah dukungan yang dulu tak pernah Rafan tunjukkan pada Kanaya.
"Kakak yakin, mama tidak akan memarahimu. Selama ada papa dan kakak, mama tidak akan bisa memarahimu. Satu hal lagi Kanaya cantik, kakak mempunyai beberapa kaos dan kemeja baru yang belum terpakai. Kamu bersedia tidak membawanya bersamamu. Kamu bisa memberikannya pada siapapun di sana? Ada beberapa selimut dari hadiah, daripada tidak terpakai. Kamu bisa memberikan pada mereka!" bisik Rafan, Kanaya menoleh dengan senyum termanisnya.
"Terima kasih kak!" sahut Kanaya berbisik. Rafan mengangguk, sembari memeluk Rafan erat.
"Sayang, Kanaya pergi dengan abah Iman!" ujar Abra, tangannya menggenggam erat tangan Embun. Berharap kata izin keluar dari mulut Embun. Setidaknya tidak ada amarah yang mengiring langkah Kanaya.
"Baiklah, tapi kamu pergi dengan supir. Mama tidak ingin terjadi sesuatu denganmu dan abah. Jalan ke desa memang sudah lebih baik. Namun ada beberapa tanjakan yang belum tentu bisa kamu lewati!" ujar Embun, Kanaya menunduk menyimpan rasa kesalnya.
"Baiklah!" sahut Kanaya lirih, Embun mengangguk mengiyakan.
"Mbok, masukkan semua makanan di bagasi. Aku akan mengambil beberapa gamis yang tak terpakai. Sekalian panggil pak Salim, supaya dia bersiap!"
"Baik nyonya!" sahut mbok Inem, terlihat Embun masuk ke dalam kamarnya. Rafan juga ikut masuk ke dalam kamarnya. Rafan mengajak Hanna, untuk mengambil beberapa barang yang ada di kamarnya.
"Tidak perlu heran, baik Kanaya atau Rafan mewarisi sifat ibunya. Mereka tidak akan berpikir dua kali. Jika semua itu untuk kebaikan. Sebentar lagi kamu akan melihat, niat sederhana Kanaya akan menjadi besar. Ketika Embun dan Rafan ikut terlibat!" ujar Abra, Haykal diam mendengarkan.
"Kanaya, bawa semua ini!" ujar Rafan lirih, Kanaya dan Haykal menoleh. Seketika keduanya menatap heran, banyaknya barang yang dibawa Rafan. Seperti satu lemari yang tengah dikosonginya.
"Lihatlah, Haykal!" ujar Abra, Haykal mengangguk pelan.
"Aku sudah menduga!" sahut Kanaya, ketika melibat banyaknya barang yang diturunkan Rafan.
"Gadis sederhana pembawa cahaya. Penuh misteri yang mengejutkan hati!" batin Haykal tak percaya.
__ADS_1