KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Fakta


__ADS_3

"Haykal!" sapa Rafan dengan suara yang lirih.


Haykal menoleh, nampak Rafan berdiri tak jauh darinya. Sahabat yang pernah menjadi kakak iparnya. Berdiri dengan gagah menggunakan jas putih kedokteran. Sahabat yang pernah terluka oleh keputusannya. Namun tak pernah sekalipun menyalahkan atau bertanya alasannya. Lama keduanya berdiri mematung, tak berapa lama terdengar langkah kaki Rafan. Suara ketukan sepatunya, terdengar berirama mengiringi debaran jantung Haykal. Hubungannya dengan Kanaya telah berakhir, keputusan besar yang pernah dibuatnya. Berakhir dengan satu kata yang tak pernah terbayangkan olehnya.


Buuughhh


"Kenapa malah melamun? Kamu marah atau kesal padaku. Sampai kamu tidak bersedia menyapaku. Aku Rafan yang sama, sahabat yang pernah berbagi tempat tidur denganmu!" tutur Rafan, sesaat setelah menepuk bahu Haykal. Sontak Haykal mendongak, tepukan pelan Rafan terasa begitu keras. Tatkala Haykal larut dalam lamunannya.


"Hmmmm!" ujar Haykal ragu, tatkala dia tersadar dari lamunannya.


"Iya aku Rafan, bukan hantu!" ujar Rafan menggoda, menghangatkan suasana yang terasa dingin diantara dirinya dan Haykal.


Rafan menyadari alasan sikap Haykal. Sikap canggung dan rasa bersalah yang sesungguhnya tak perlu ada. Sejatinya Rafan tak pernah menyalahkan atau mempertanyakan alasan keputusan Haykal. Sebaliknya Rafan percaya, ada alasan besar yang membuat Haykal memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Kanaya. Kanaya mungkin adik kandungnya, tapi Haykal sahabat yang mengerti dirinya. Hubungan persahabatan yang dibuat dengan hati. Akan sama kuatnya dengan hubungan yang dibuat oleh darah. Rafan akan selalu melindungi dan memastikan kebahagian Kanaya. Sebaliknya, Rafan akan selalu percaya pada keputusan dan pemikiran sahabatnya Haykal.


"Maaf!"


"Untuk!" sahut Rafan, dengan suara yang datar. Seolah Rafan tak mengerti arti kata maaf yang terucap dari bibir Haykal.


"Rasa sakit Kanaya, adik kandungmu sekaligus wanita yang berarti dalam hidupku!"


"Tidak perlu meminta maaf, rasa sakit Kanaya bukan kesalahan. Terkadang seseorang akan menghargai kebahagian. Tatkala dia mengerti arti rasa sakit sesungguhnya. Sama halnya mereka, akan menghargai sehat ketika sekarang sakit!" tutur Rafan, sembari menunjuk ke arah orang-orang yang sakit.


Haykal tertunduk lesu, perasaan campur aduk. Kata talak yang terucap dari bibirnya, menjadi kata paling pahit dan menyakitkan dalam hidupnya. Haykal telah gagal menjadi seorang suami. Dia melepaskan cinta wanita yang membuatnya memahami arti hidup. Kanaya, satu-satunya wanita yang membuatnya begitu bahagia dan terluka. Dilema hati yang takkan pernah bisa dipahami oleh siapapun? Termasuk dirinya sendiri, sebab perpisahan bukan sesuatu yang diinginkannya.


"Kenapa Rafan? Kenapa?" ujar Haykal, seraya menggelengkan kepalanya pelan. Rafan menepuk pelan pundak Haykal. Menenangkan kegundahan hati sahabat yang begitu disayanginya. Jauh sebelum Haykal menjadi adik iparnya. Rafan telah menganggap Haykal selayaknya saudara kandung.


Rafan merangkul tubuh tegan nan rapuh Haykal. Rafan menuntun Haykal, berjalan perlahan menuju ruangannya. Haykal tertunduk, tak ada tatapan binar nan bijak dalam dua bola matanya. Cahaya kesuksesaan meredup bersamaan dengan pelita hatinya yang padam. Pelita cinta yang dipadamkan oleh Kanaya dengan perlahan tapi menyakitkan.

__ADS_1


"Duduklah, minum soda ini!" ujar Rafan, Haykal menggeleng lemah. Menggeser sebotol soda yang diberikan Rafan padanya. Rafan tersenyum simpul, melihat penolakan Haykal. Rafan langsung berdiri, meminta salah satu suster membuatkan secangkir kopi tanpa gula. Rafan mengambil sebotol air mineral, lalu memberikannya pada Haykal.


"Tenangkan dirimu, air putih mampu menghilangkan dahagamu. Namun dahaga hatimu, hanya iman yang bisa menghapusnya. Seperti Kanaya yang mencari cintamu dalam iman dan sujudnya!" ujar Rafan tenang, Haykal mendongak. Tatapannya penuh tanya, merasa heran dengan perkataan Rafan.


"Jika boleh jujur, Kanaya tak pernah hancur dengan keputusanmu. Mungkin dia rapuh, tapi dengan sisa cinta dan keyakinannya dia kuat menghadapi semuanya. Kanaya bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti janjinya padamu, dia pergi belajar bukan karena ingin menghindar dari kewajiban padamu. Namun Kanaya pergi, semua demi menjadi istri yang lebih baik. Sekarang kamu bisa melihatnya, Kanaya kembali menjadi wanita yang lebih baik!"


"Kamu benar, dia menjadi lebih baik. Bahkan sangat baik, sampai aku tak lagi pantas untuknya. Kanaya bukan anak kecil lagi, dia menjelma menjadi wanita dewasa dengan pemikiran bijaknya. Kanaya bukan lagi wanita lemah, dia berubah menjadi wanita tegar dan tangguh. Ketegaran yang menyadarkanku, jika pundakku tak lagi pantas menjadi sandarannya. Kebijakan yang menamparkan, jika Kanaya jauh lebih dewasa dariku. Ketangguhan yang menolak bahuku untuk menangis. Kini yang tersisa dariku hanya rasa malu, tak lagi ada harapan akan sebuah kata satu!" tutur Haykal, lalu meneguk habis sebotol air mineral yang diberikan Rafan.


"Kenapa aku merasa kamu begitu hancur dengan keputusan Kanaya?"


"Bukan hanya hancur, aku berdiri hanya dengan tulang yang lapuk. Tak lagi ada tenaga yang tersisa. Hanya satu alasanku tetap berdiri tegak!"


"Senyum Zahra!" sahut Rafan, Haykal mengangguk pelan. Rafan menatap nanar Haykal. Kehancuran yang benar-benar hancur dan tak pernah disadari oleh siapapun?


"Kenapa tidak kamu jelaskan alasan sejujurnya kepergianmu lima tahun lalu? Mungkin Kanaya akan berubah pikiran. Jelaskan juga status Zahra, agar Kanaya percaya kamu tidak pernah mengkhianati cintanya!"


"Kenapa?" sahut Rafan heran, Haykal menggelengkan kepalanya lemah. Rafan tersenyum, Haykal terus menggelengkan kepalanya. Berharap Rafan tak lagi membahas alasan kepergiannya. Rahasia besar yang tertutup rapat sampai saat ini.


"Tidak akan pernah, aku pergi dan itu kenyataannya. Tidak ada alasan yang bisa membenarkannya!"


"Termasuk penyakit yang sedang kamu derita!"


"Rafan, kamu!" ujar Haykal, dengan tatapan tak percaya. Menyadari Rafan telah mengetahui rahasia yang disimpan rapat olehnya. Haykal menatap dan menghiba, berharap Rafan tak pernah mengatakan pada Kanaya.


"Steven yang mengatakannya padaku. Dia menghubungiku, satu tahun setelah kepergianmu. Jika kamu berpikir Kanaya tidak mengetahuinya. Maafkan aku Rafan, Kanaya mengetahui semuanya dan memutuskan untuk tetap bertahan dengan status sebagai istrimu. Setelah dua tahun, saat ibu kandung Zahra meninggal dan kamu menerima transplantasi ginjal darinya. Kanaya ada di luar ruang operasi. Dia datang bersamaku, menjadi satu-satunya keluarga yang mendukungmu. Kami ada di dekatmu, meski kamu tak pernah menyadarinya. Kanaya tak pernah meninggalkanmu, dia ada dalam setiap perjuanganmu. Meski tak pernah kamu menyadari kehadiran Kanaya!"


"Tidak mungkin!" ujar Haykal lirih, sembari menggelengkan kepalanya pelan. Rafan mengangguk, seolah dia menyakinkan Haykal. Bahwa semua yang dikatakan Rafan, benar adanya.

__ADS_1


"Haykal, selama ini Kanaya tinggal di negara yang sama denganmu. Dia berada begitu dekat denganmu, tapi sangat jauh dari tatapanmu. Jika mungkin kamu ingat, hari dimana kamu kembali ke negara ini? Kanaya ada di penerbangan yang sama denganmu dan bertemu denganmu di bandara. Hanya saja rapuhnya dan lemahnya cintamu, membuatmu tak pernah merasakan kehadiran Kanaya!"


"Rafan, aku harap semua ini bohong. Kamu tidak serius, Kanaya tidak akan mengakhiri hubungan kami. Jika dia melihat sakitku, Kanaya akan memahami alasan kepergianku!" ujar Haykal lantang, Haykal tidak percaya dengan pendengarannya.


"Maaf, itulah kebenarannya. Kanaya kecilku tak pernah melupakan kewajibannya padamu. Dia menjadi istri terbaik, di kala masa terburuk suaminya. Dia menjadi pelindung, di saat lemahmu. Dia menjadi penguat, ketika rapuhmu. Tangis dan jerit yang terdengar dari bibirmu. Alasan dan tegar Kanaya menggenggam tanganmu. Air mata yang menetes di sela tangis kala kedua matamu terpejam. Tangan mungilnya yang menyekanya!"


"Kanaya, wanita yang selalu ada dalam mimpiku. Menggenggam erat tanganku, menghapus air mataku dan menenangkan rasa sakitku. Kenapa Kanaya diam? Kenapa kini dia meninggalkanku? Kenapa Kanaya kejam mencampakkanku? Kenapa Rafan? Kenapa?" teriak Haykal histeris, Rafan langsung berlari merangkul tubuh Haykal. Meminta Haykal duduk kembali. Menenangkan amarah Haykal yang mungkin akan mengganggu kesehatan Haykal.


Kreeeekkkk


"Karena suaraku hanya akan menjadi lemah dan putus asamu. Kakak memilih pergi, karena tidak ingin melihat rasa kasihanku. Sebab itu aku menjauh, agar kakak tak menganggap rasa sayang dan baktiku sebagai rasa kasihan. Aku tidak pernah meninggalkanmu, tapi kakak yang tak pernah percaya akan rasa cinta diantara kita. Hubungan kita berakhir, sebab pondasi cinta ini terlalu rapuh. Tidak akan sanggup menopang tiga jiwa sekaligus!"


"Tiga jiwa!"


"Zahra bukan putrimu, tapi ginjal ibu kandungnya ada dalam dirimu. Zahra bagian dari hidupmu dan dia separuh dari hatimu sekarang. Menopang dua hati, cinta kita tidak mampu. Apalagi dengan hati yang lain. Setidaknya kakak kini bahagia bersama Zahra. Tak ada lagi rasa khawatirku, ada alasan senyummu terus terutas!" sahut Kanaya, Haykal dan Rafan langsung berdiri. Kanaya menyerahkan sebuah berkas pada Rafan. Kanaya memutar tubuhnya tanpa berkata apa-apa lagi?


"Tapi hidup kami tidak lengkap tanpa kehadiranmu. Tidakkah kamu bersedia menjadi istriku dan ibu dari Zahra putri angkatku?" ujar Haykal, Kanaya diam mematung.


"Maaf, tanggungjawab itu terlalu besar dan hatiku masih terlalu kecil untuk menanggungnya!"


"Mungkinkah ada kesempatan itu?" ujar Haykal, Kanaya menunduk membisu.


"Kak Rafan, semua sudah siap. Tuan Haykal sudah bisa melalukan pemeriksaan lengkapnya!" ujar Kanaya mengalihkan pertanyaan Haykal.


"Kanaya, jawablah!" teriak Haykal, Kanaya menoleh. Tatapan penuh cinta terlihat jelas di kedua mata indahnya.


"Menatapmu sudah membuatku bahagia!" sahut Kanaya lirih, Haykal terpaku mendengar jawaban Kanaya yang penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2