
Seminggu sudah Abra dan Fahmi pergi ke luar kota. Ada proyek yang tak bisa ditinggal. Seandainya kondisi Embun tidak selemah sekarang. Mungkin Abra akan membawanya, tapi nyatanya kondisi Embun sangatlah lemah. Akhirnya dengan berat hati, Abra meninggalkan Embun bersama dengan Nur. Sesekali Ibra datang bersama Indira. Sekadar mengecek keadaan Embun. Abra juga sudah menambah keamanan, agar Embun merasa nyaman di rumah tanpanya.
Namun ketenangan berubah, saat lima mobil mewah berwarna hitam masuk ke dalam rumah Abra. Nur yang kebetulan ada di halaman, langsung berlari masuk ke dalam rumah. Dia panik melihat beberapa orang turun menggunakan baju hitam. Bahkan pengawal yang dipersiapkan Abra tidak berkutik. Mereka tidak hanya kalah jumlah, tapi juga kalah dari segi postur tubuh.
"Hentikan!" teriak Embun, sontak semua berhenti berkelahi. Beberapa orang yang datang tanpa permisi ke rumah Embun. Seketika membungkuk, ketika melihat Embun datang.
"Nona muda!"
"Aku akan ikut kalian. Jangan sakiti mereka!"
"Silahkan nona!" ujar salah satu pengawal dan langsung membukakan pintu mobil. Embun masuk ke dalam mobil mewah.
Embun sudah menduga, siapa orang di balik kejadian ini? Orang yang sangat ditakutinya. Nur terdiam melihat Embun menghadapi semua orang yang datang. Nur melihat kedipan mata Embun. Isyarat semua akan baik-baik saja. Embun menarik tangan Nur, menggandengnya masuk ke salah satu mobil.
"Aku takut!" bisik Nur, Embun menepuk pelan tangan Nur.
"Ada aku, kamu akan baik-baik saja. Aku hanya butuh teman. Mereka tidak akan berani menyentuh seujung kulitku. Satu goresan dalam diriku, nyawa mereka taruhannya. Tenanglah Nur, kita akan baik-baik saja. Kak Abra pasti datang menyelamatkan kita nanti!" sahut Embun, seraya berbisik pada Nur.
Iringan mobil berjalan begitu cepat, membelah padat jalan raya. Embun terlihat tenang, meski sebenarnya hatinya gelisah dan ketakutan. Gemuruh dalam hatinya, hanya Embun yang menyadarinya. Ketenangannya yang tampak, sebagai cara Embun menenangkan Nur sahabatnya. Bagaimanapun Nur tidak salah dan tak seharusnya disalahkan?
Hampir setengah jam, mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sampai akhirnya mobil berhenti tepat di sebuah gerbang tinggi. Sebuah gerbang yang menutup sempurna rumah yang ada di dalamnya. Sebuah rumah yang besar dan luasnya. Hampir dua bahkan tiga kali lipat rumah Abimata. Kemegahan rumah yang tidak bisa dibantah. Kemewahan yang tidak bisa dielak. Kekayaan yang terpampang jelas sebagai identitas sang pemilik rumah. Embun tertunduk, tak sedikitpun dia ingin melihat kemegahan atau kemewahan yang seolah tengah menyambut kedatangannya.
"Silahkan nona muda!"
"Terima kasih!" sahut Embun sopan, Nur berjalan tepat di samping Embun. Gemetar tangan Nur, jelas ingin mengatakan rasa takutnya. Rasa yang membuat Embun harus menyembunyikan kegelisahan hatinya. Sahabat yang harus saling memahami, kapan harus lemah dan kuat?
__ADS_1
"Selamat datang Sayang!" sapa Dewangga, Embun terdiam menatap bingung wajah tampan kakek yang baru saja di lihatnya.
"Embun, dia siapa?" bisik Nur, Embun menoleh.
"Kakekku!" sahut Embun lirih hampir tidak terdengar. Dewangga tersenyum mendengar pengakuan yang terucap dari bibir Embun.
"Kamu yakin!" ujar Nur, Embun mengangguk pelan.
"Terima kasih sayang, kamu bersedia mengakui kakek. Sudah lama, kakek menunggu hari ini. Kami berjanji menemui kakek. Nyatanya, kakek yang datang menjemputmu!"
"Tuan Dewanggga yang terhormat, aku sudah ada di depan anda. Apa yang ingin anda katakan? Bukankah pertemuan ini ada, bukan tanpa alasan!"
"Duduklah, ini rumahmu. Kamu bukan tamu, jadi tidak pantas menunggu kupersilahkan. Seluruh harta yang aku punya, semuanya milikmu!" ujar Dewangga, Embun tak berkutik. Keindahan yang dijabarkan Dewangga, seolah tak menggugah dalam pikirannya.
"Tuan Dewangga, apa yang sebenarnya anda inginkan? Katakan sekarang, aku tidak punya banyak waktu!"
"Anda tidak berhak!" ujar Embun lantang, Dewangga tersenyum dengan angkuh dan licik. Embun mundur beberapa langkah. Rasa takutnya tak lagi bisa ditutupi. Nur mencoba menopang tubuh lemah sahabatnya.
"Selama ini, aku cukup sabar menerima sikap Ardi Abimata. Terutama Haykal putranya yang sok kaya itu. Setiap keangkuhan dan kata hinaannya padamu. Bagai sayatan pisau di hatiku. Dengan lantang dia menghina keturunanku, pewaris tunggal ssluruh perusahaan Adijaya. Sekarang semua kesabaran telah berakhir. Hanya akan ada balas dendam dan amarahku yang akan mereka lihat!" ujar Dewangga bengis dan tegas, Embun menggelengkan kepalanya pelan. Berharap semua yang di dengarnya hanya kebohongan semata. Namun senyum sinis dan angkuh Dewangga. Seketika membekukan aliran dalam darahnya. Embun mematung, melihat betapa dingin dan kejam laki-laki yang ada di depannya?
"Apa yang anda rencanakan? Aku bukan cucu penerus keluarga anda. Hidupku tidak ada hubungannya dengan balas dendam anda. Jangan libatkan aku dalam semua itu. Aku hanya ingin bahagia!" ujar Embun dengan suara liroh menghiba.
"Kamu cucuku, sampai kapanpun kamu penerusku? Jika bukan karena Iman yang menyembuyikan dirimu. Aku sudah membuatmu menjadi cucu kebanggaanku. Pewaris sah seluruh kekayaan Adijaya. Putra yang tengah tumbuh dalam rahimmu. Dia cicitku, dia keturunan yang akan meneruskan seluruh harapan kakek buyutnya. Pewaris satu-satunya keluarga Adijaya yang perkasa!" ujar Dewangga lantang dan tegas, Embun menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak percaya mendengar rencana besar untuk dirinya dan putranya.
"Tuan, aku mohon. Jangan libatkan aku dalam balas dendam diantara kalian. Lakukan apapun yang anda inginkan. Apapun itu, tapi tidak berhubungan denganku dan bayiku!"
__ADS_1
"Ada, tentu saja ada. Kamu satu-satunya keturunanku. Pewarisku dan penerusku, keluarga Abimata atau Arya Adiputra. Tidak berhak mendapatkanmu, terutama Abra Abimata yang pengecut!"
"Cukup, dia suamiku. Anda tidak berhak menghinanya. Cicit yang anda ingin akui, dalam darahnya mengalir darah suamiku. Abra Achmad Abimata, akan ada nama Abimata di belakang namanya kelak!"
Praaaaayyyrrr
"Hanya darah yang membuat mereka sama, tidak hal lain. Aku akan pastikan itu, mereka akan jauh darimu. Ardi Abimata sudah merencanakan semua ini. Aku tidak akan diam begitu saja. Akan kubuat mereka membayar atas perbuatan mereka. Kamu cucuku yang sengaja mereka jauhkan. Semua ini terjadi, tak lain karena kebodohan Arya. Laki-laki yang hanya percaya pada kakaknya yang tak bermartabat itu!" ujar Dewangga emosi, sesaat setelah dia membanting gelas yang ada di tangannya.
Embun tersenyum sinis, mendengar lantang Dewangga ketika menyalahkan orang lain. Entah keberanian darimana? Embun berjalan maju ke depan, mendekat ke arah Dewangga yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Beberapa pengawal yang siap di samping Dewangga, seketika berdiri sedikit minggir. Seolah memberikan celah pada Embun, untuk mendekat ke arah Dewangga. Jarak Dewangga dan Embun sangat dekat, sampai dia bisa melihat wajah tampan yang masih tersisa di usia senja Dewangga.
"Anda mungkin lupa, siapa ayah yang mengusir putrinya dalam keadaan hamil besar? Siapa laki-laki pengecut yang takluk di bawah hasutan seorang wanita? Siapa yang pantas disalahkan atas semua kondisiku? Kenapa sekarang aku merasa? Anda bicara, seolah anda yang paling berjasa!"
"Jaga bicaramu, aku kakekmu!"
"Kakek yang menelantarkan cucunya, tepat di hari dia dilahirkan!"
"Sayang, semua itu salah paham!"
"Nyatanya semua itu benar!"
"Diam kamu anak rendah!" teriak Sofia, Embun menoleh.
"Satu lagi, saudara yang tak pernah menghargai merah darah. Wanita yang tak peduli air mata wanita lain. Namun kini mengatakan diriku rendah. Nyatanya dia wanita yang jauh lebih tidak terhormat!" ujar Embun, Sofia mengangkat tangan.
"Jangan berani menamparnya Sofia. Apalagi saat masih hidup!" teriak Dewangga, Sofia mundur. Beberapa pengawal langsung memegang tangan Sofia.
__ADS_1
"Ayah, aku tidak salah!" ujar Sofia, Dewangga tak peduli.
"Antarkan nona Embun ke kamarnya. Sedangkan temannya ke kamar tamu, sekarang!" titah Dewangga tegas.