
"Sayang!"
"Ada apa kak?" Sahut Embun, Abra meletakkan sendok dan garpu tepat di atas piring. Embun menoleh ke arah Abra, seolah ada sesuatu yang mengganjal dalam benak Abra.
"Apa kamu mengetahui jati diri Nur?" ujar Abra dingin, Embun diam membisu. Diam yang semakin membuat Abra merasa Embun mengetahui segalanya.
Abra menopang dagu dengan kedua tangannya. Embun mengambil segelas air, lalu meneguknya. Embun menyelesaikan sarapannya. Sejak awal pertanyaan tentang Nur terlontar dari bibir Abra. Sejak saat itu Embun merasa gelisah. Sejujurnya tidak ada yang salah dengan kebenaran jati diri Nur. Namun semua nampak salah, ketika jati diri Embun dikaitkan dengan kisah cinta Ibra adik kandung Abra.
"Kenapa diam? Jadi selama ini kamu mengetahui semua kebenaran itu dan kamu menyembunyikannya dariku!" ujar Abra dingin, Embun menoleh menatap Abra. Sikap dingin Abra yang nyata menyimpan sebuah keraguan akan ketulusan Embun.
"Beri satu alasan padaku? Alasan yang membuatku harus mengatakan kebenaran Nur!"
"Apa maksudmu?" ujar Abra dengan mengeryitkan dahinya. Embun tersenyum simpul, seakan pertanyaan Abra terdengar begitu lucu.
"Maaf sebelumnya kak Abra, bukan aku ingin melawanmu. Namun sikap dingin dan cara bicara kakak, ketika bertanya tentang jati diri Nur yang sebenarnya. Seakan menuduhku telah berbuat salah, bahkan aku merasa kakak marah dengan diamku selama ini!"
"Aku tidak marah, tapi aku kecewa dengan diammu. Aku terlihat bodoh, saat menyadari kamu menyembunyikan fakta sebesar ini. Bahkan kamu tetap diam, meski jati diri Nur terungkap. Tak sekalipun kamu menjelaskan dan berpikir aku berhak mengetahuinya. Jujur sayang, aku merasa kamu sengaja menutupi semua ini demi sebuah alasan!" ujar Abra, Embun langsung menatap lakat Abra.
"Alasan!" ujar Embun menegaskan, Abra mengangguk pelan. Jelas raut wajah Abra menunjukkan rasa kecewa. Entah karena Embun menyembunyikan fakta tentang Nur? Atau diam Embun yang telah membuat keluarganya malu?
"Apa yang ingin kakak katakan? Tidak perlu menutupi apapun, sikap kakak menyiratkan segalanya. Sekarang katakan pendapatmu, agar aku bisa membela diriku!" ujar Embun tegas, Abra diam menunduk. Kata yang sudah berada di ujung lidahnya. Seakan tak pernah ingin terucap. Abra mulai bimbang, mengatakannya atau tetap diam dengan rasa kesalnya.
"Kak Abra, jika kakak berpikir aku diam hanya demi balas dendam pada keluargamu. Aku pastikan kakak salah menilaiku. Tidak ada inginku menghalangi hubungan Nur dengan Ibra. Walau aku tahu, Nur tidak akan pernah terhina sepertiku. Tuan Haykal akan menghargainya, sebab Nur lahir dari keluarga terpandang dan terhormat. Nur akan menjadi menantu satu-satunya keluarga Abimata dan bukan aku. Fakta siapa sebenarnya Nur? Akan membuat tuan Haykal bangga dan bahagia memiliki menantu yang hebat. Tidak sepertiku yang hina ini?" ujar Embun lirih, Abra langsung menggelengkan kepalanya pelan. Nampak raut wajah bersalah Abra, dengan penuh rasa penyesalan. Abra menggenggam tangan Embun, berharap Embun tidak salah mengartikan perkataannya. Namun kata terlanjur terucap dan hati terlanjur menilai. Dengan lembut Embun menepis tangan Abra.
"Aku mengetahui kebenaran Nur, beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat Nur mengalami kecelakaan. Bik Salma yang merawat Nur, mengatakan semua kebenaran itu. Ternyata ibu yang selama ini merawat Nur, tidak lebih dari pengasuh yang dipekerjakan oleh keluarga Nur. Pada saat itu juga, pertama kalinya aku bertemu dengan kedua orang tua Nur. Ayah dan ibu yang tak pernah ada buat sahabatku Nur. Orang tua yang hanya peduli akan kebutuhan duniawi putrinya. Daripada ketenangan batin putri kandungnya. Luka yang aku ketahui, meski Nur tak pernah mengatakannya padaku. Alasan yang membuatku diam tentang jati diri Nur. Berpikir sahabatku sudah cukup terluka dengan masalah keluarganya. Nur menutupi kelebihan dalam dirinya dan menyimpan rapat lukanya, semua demi sebuah ketenangan. Sangat tidak pantas, jika aku mengatakan pada orang lain dan akhirnya mengusik ketenangannya!"
"Sayang, maafkan aku!"
"Kak, Nur mungkin putri keluarga terpandang dan kaya. Namun sahabatku miskin akan kasih sayang. Sejak awal aku melihat cinta kak Fahmi pada Nur. Saat itu aku menyadari, kak Fahmi laki-laki yang akan memberikan kasih sayang tulus untuk Nur sahabatku. Laki-laki yang menyayangi Nur dengan kesederhanaannya. Laki-laki yang menghargai Nur karena imannya. Kak Fahmi tak pernah memaksa atau mengutarakan cintanya pada Nur. Dia tetap diam, menyerahkan segalanya pada jodoh dan ketetapan-NYA. Dia laki-laki sejati yang menghormati prinsip sahabatku Nur!"
__ADS_1
"Laki-laki sejati yang siap melihatku menikah dengan orang lain. Laki-laki yang kini kalah sebelum memperjuangakanku!" sahut Nur dingin, Abra dan Embun langsung menoleh.
Nur duduk tepat di samping Embun. Nampak raut wajah Nur lesu. Nur bersandar pada bahu Embun, helaan napas Nur terdengar jelas. Suara gelisah hati yang tak bisa ditutupi oleh Nur. Abra menatap Nur, ada rasa tak percaya melihat sahabat Embun yang selalu tangguh berubah menjadi rapuh. Sebaliknya Embun hanya bisa pasrah, mendengar kenyataan yang dikatakan Nur. Sejak awal Fahmi menyimpan cinta untuk Nur, tapi di sisi lain Fahmi tidak pernah yakin akan kemampuannya. Pemikiran yang membuat seseorang hancur, jauh sebelum cinta menyatu.
"Sekarang, apa keputusanmu?" sahut Embun santai, Nur diam membisu. Embun melirik Nur yang tengah bersandar padanya. Embun percaya Nur bukan wanita lemah. Nur tidak akan menangis hanya karena satu penolakan. Laksana Nur yang berarti cahaya, Nur sahabatnya akan menjadi cahaya bagi hati lemah Fahmi.
"Menurutmu!" ujar Nur, Embun tersenyum. Merasa Nur sedang menguji kepedulian Embun akan rasa sakit yang dirasakan sahabatnya.
"Kamu sudah mengerti maksudku!"
"Apa kita sepemikiran?" sahut Nur, Embun mengangguk tanpa ragu. Keduanya saling bicara dengan isyarat dan hati. Abra merasa bodoh, melihat dua sahabat yang tak peduli padanya.
"Haruskah aku melakukan itu!" ujar Nur lagi, Embun mengangguk. Abra semakin heran dengan sikap Embun dan Nur.
"Dalam cinta semua sah, selama tidak melewati batas. Berjuang bukan berarti merendahkan diri. Selama kamu yakin, dia imam yang terbaik dan mampu membimbingmu!"
"Kalian sedang bicara apa? Sejak tadi, kalian mengacuhkanku!" ujar Abra kesal, Embun dan Nur tertawa bersama.
"Kak Abra, kakak akan melihat Nur yang lain. Semua demi memperjuangkan cintanya. Menunjukkan pada sahabatmu, cinta itu tidak mengenal perbedaan. Sejatinya sejak awal cinta itu berbeda dan akan menyatu dalam ikatan suci pernikahan!" ujar Embun lirih.
"Sayang, kamu tidak marah lagi!"
"Tentang masalah kita, nanti kita lanjutkan. Jangan harap kakak lolos dariku!" sahut Embun dingin, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Nur. Abra mengusap wajahnya kasar. Abra menyulut percikan api yang tak seharusnya. Entah apa yang akan dilakukan Embun? Abra hanya bisa pasrah, sebab amarah atau kekesalan Embun nyata terlihat.
"Aku akan berjuang demi rasa ini, tapi seandainya perjuanganku gagal. Aku akan pergi ke luar negeri. Mengikuti keinginan papa, menikah dengan putra rekan bisnisnya!" ujar Nur, Embun menoleh dengan raut wajah tidak percaya.
"Serius!"
"Hmmmm, aku hanya memiliki waktu dua minggu. Setelah dua minggu, tuan Dirgantara dan nyonya Mira akan membawaku pergi!"
__ADS_1
"Nur, mereka orang tuamu!" sahut Embun, Nur tersenyum mendengar kekesalan Embun.
"Nur sayang, apapun yang mereka lakukan? Terkadang demi kebaikanmu, orang tua tidak akan menghancurkan hidup putrinya. Mungkin saja, laki-laki yang dijodohkan denganmu. Dia pemilik tulang rusukmu!" sahut Fitri, Embun menganggaku setuju dengan perkataan Fitri. Sebaliknya Nur diam menghela napas.
"Mama Fitri setuju dengan rencana mereka!" ujar Nur lirih, Fitri mengangguk pelan.
"Jika itu yang terbaik, kenapa mama harus menentangnya?" sahut Fitri santai, Nur semakin gelisah. Fitri yang selalu menjadi panutannya, kini malah setuju dengan rencana kedua orang tuanya.
"Jadi aku harus membatalkan rencanaku!" ujar Nur lirih, Embun mengangkat kedua bahunya pelan. Nur menghela napas, dia merasa gelisah setelah melihat jawaban Embun.
"Nur, lakukan apa yang hatimu percaya? Jika masih ada keraguan, sholat istikharah minta petunjuk pada-NYA!" ujar Fitri, sembari mengelus kepala Nur yang tertutup hijab.
"Nur sayang mama!" sahut Nur, seraya memeluk tubuh Fitri dan Embun bersamaan.
"Nanti perkenalkan laki-laki yang dijodohkan padamu. Mama ingin mengenalnya!" ujar Fitri menggoda Nur.
"Ternyata dia dijodohkan!" batin Fahmi.
"Abra, kita harus berangkat ke luar kota. Kita harus sampai di sana sebelum jam 09.00 WIB!" ujar Fahmi lirih, Embun dan Nur saling menoleh.
"Dia ada di depanmu!" bisik Embun, Nur mengangguk pelan.
"Embun, nanti malam ikut denganku. Aku harus bertemu laki-laki pilihan papa!" ujar Nur lantang, Embun mengangguk pelan.
"Sayang, aku berangkat!" pamit Abra, lalu mencium kening Embun mesra.
"Ayo Fahmi jalan, kenapa malah diam? Kamu cemburu mendengar Nur dijodohkan!" ujar Abra, Fahmi hanya diam.
"Belum terlambat Fahmi, Nur masih belum termiliki!" bisik Abra lirih.
__ADS_1