KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
ANTARA CINTA dan KASIH SAYANG


__ADS_3

"Sayang, Rafan belum pulang!" sapa Abra, Embun menggeleng lemah.


Embun menoleh ke arah jam dinding, tepat pukul 23.00 WIB. Hampir tengah malam, tapi Rafan tidak kunjung pulang. Sejak sore, Embun mencoba menghubungi ponsel Rafan. Namun tak satupun panggilan darinya diterima oleh Rafan. Embun semakin cemas, tatkala Rafan melewatkan makan malam bersama keluarga Hanna. Embun tidak pernah melihat Rafan yang tidak bertanggungjawab akan janjinya. Namun malam ini, Rafan tidak hanya melanggar janjinya. Bahkan Rafan mengacuhkan rasa khawatir Embun dan Abra.


"Entahlah kak, dimana dia sekarang?" sahut Embun lirih, terlihat kedua tangannya mendekap erat tubuh yang mulai kedinginan.


Hampir satu jam, Embun menunggu putranya dengan perasaan cemas. Embun menunggu Rafan tepat di depan rumahnya. Melupakan sejenak angin malam yang dingin. Embun melawan sepi dan sunyi malam. Demi mengalihkan rasa cemas akan Rafan yang tak kunjung pulang. Lama Embun berdiri, tubuh lemahnya mulai merasa kedinginan. Gamis dan hijab panjangnya tak lagi mampu menghalau angin dingin yang bertiup. Dengan kedua tangannya, Embun mencoba menghangatkan tubuhnya. Bertahan menanti sang putra kembali pulang.


Sejak awal Abra sudah menyadari kecemasan Embun. Diam-diam Abra meminta seseorang mencari keberadaan Rafan. Namun usahanya sia-sia, Rafan tidak berada di rumah sakit. Namun Abra memilih tetap diam, tidak mengatakan pada Embun tentang pencariannya. Abra tidak ingin melihat kecemasan Embun yang semakin besar. Melihat Embun menanti Rafan tanpa kepastian. Jauh lebih baik, daripada melihat Embun cemas akan kondisi Rafan.


Hampir satu jam, Abra menemani Embun menunggu Rafan. Abra memilih menemani Embun sembari bekerja. Dia menyadari Embun butuh dirinya, tapi Abra jauh lebih memahami kuat Embun demi putranya. Sebab itu, Abra memilih menemani dari jauh. Kala Embun benar-benar lemah, dia akan menjadi sandaran paling kuat. Layaknya detik ini, ketika tubuh Embun mulai kedinginan dan tangan Embun tak mampu menghangatkan. Abra menghampiri Embun, menawarkan tubuh tegapnya sebagai sandaran paling kuat dan hangat.


"Sayang, Rafan seorang dokter. Tenaga dan pikirannya sangat dibutuhkan. Mungkin dia sedang ada keperluan mendesak. Sebab itu dia sulit dihubungi dan tidak sempat menghubungimu!" ujar Abra dengan hangat, Abra memeluk tubuh Embun dari belakang.


Abra mendekap erat tubuh wanita yang mengisi hidupnya dengan cinta dan kebahagiaan. Abra menyandarkan kepalanya tepat di pundak Hanna. Hembusan hangat napas Abra, sejenak menghangatkan pipi Embun yang terasa dingin. Satu ciuman mesra Abra, mengalirkan panas hasrat dalam dingin tubuh Embun. Namun Abra menyadari, hangatnya takkan mampu mengalahkan rasa cemas yang ada di hati Embun. Setidaknya Abra bisa sedikit lega, ketika hangatnya mampu membuat Hanna tenang.


"Sayang, kenapa kamu tidak mencoba menghubungi Hanna? Mungkin saja dia sedang bersama Rafan. Bukankah Hanna sedang sakit, mungkin Rafan menyusul Hanna ke tempat KKN!" ujar Abra, Embun menoleh. Dia merasa perkataan Abra ada benarnya, tapi tidak biasanya Rafan begitu peduli pada orang lain. Apalagi dia Hanna, wanita yang baru dijodohkan dengan Rafan.


"Kenapa kakak berpikir seperti itu?"


"Bukankah tadi Nur mengatakan, Hanna sedang sakit di desa tempat dia KKN. Mungkin saja Hanna menghubungi Rafan, meminta Rafan datang untuk melihatnya. Kita tidak akan pernah mengetahui jalan pikiran anak muda. Terkadang sesuatu yang tidak mungkin bagi kita. Akan sangat mungkin bagi mereka. Sayang, anak muda itu memiliki rasa penasaran dan napsu yang besar. Rafan mungkin memiliki iman yang kuat, tapi ketika hatinya luluh akan sebuah rasa cinta. Rafan akan kalah dan tunduk. Namun aku percaya, Rafan kita tidak akan kalah oleh hawa napsunya!" tutur Abra lirih, tepat di samping telinga Embun. Hangat hembusan napas Abra, terasa hangat menerpa wajah Embun yang tengah kedinginan.

__ADS_1


Abra mencium lembut tengkuk Embun. Entah kenapa hasrat Abra terpancing? Ketika tangannya memeluk erat tubuh Embun yang kedinginan. Embun diam tak bergeming, kehangatan dan kemesraan Abra sudah bisa ditebak oleh Embun. Setiap kali tangan kekar Abra memeluk tubuh lemahnya. Pasti akan terjadi sesuatu yang lebih dan lebih. Awalnya hanya pelukan, berlanjut dengan satu ciuman dan semakin panas dengan ciuman yang mendarat di seluruh bagian tubuh Embun.


Embun tak pernah menolak atau mengecewakan Abra. Hasrat Abra sebuah kewajiban yang harus dilakukan Embun. Sebuah kehangatan yang menjadi jalan dirinya menuju surga. Entah kenapa Abra tak pernah bisa menahan hasratnya? Setiap kali tubuhnya begitu dekat dengan Embun. Di saat yang bersamaan, Abra akan terus menghujani Embun dengan kehangatan tanpa batas.


"Kak Abra, kita sedang di depan rumah. Memang gerbang rumah kita tinggi dan tidak akan ada yang bisa melihat kita. Namun lihatlah ke pos, berapa banyak pasang mata yang bisa melihat kita!" ujar Embun lirih, menghentikan bibir Abra yang terus bermain di balik hijab Embun. Abra seolah menemukan kehangatan di balik tengkuk Embun.


Embun tak pernah melarang atau menolak hangat yang diberikan Abra. Sebaliknya Embun tak pernah terhanyut dalam hangat Abra begitu saja. Embun selalu sadar akan tempat, dia pribadi yang mampu menahan hasrat yang menggebu di dalam hatinya. Desiran hangat dan gejolak hatinya, takkan pernah menang dengan akal pikirannya. Embun akan menghentikan Abra, di waktu yang tepat. Seperti saat ini, Embun menghentikan Abra yang tengah hanyut dalam hangat dan napsu. Embun merasa, Abra sudah mulai tidak terkendali. Jika tidak segera dihentikan, bukan hanya tangan dan bibir Abra yang akan bergerilya. Abra akan melalukan sesuatu yang takkan bisa dibayangkan oleh orang lain.


"Sayang, tapi ak menginginkamu!" ujar Abra lirih dan hangat. Suara terdengar begitu lemah, Abra tak mampu menguasai napsunya.


"Kak Abra, Rafan belum pulang. Aku akan memastikan, dimana dia sekarang? Setelah itu lakukan apapun yang kamu inginkan!" ujar Embun, Abra mendengus kesal. Hangat yang mulai membuncah, seketika meredup dan menghilang. Abra merasa tersisih dan teralihkan. Rafan menjadi prioritas utama Embun.


"Kak Abra!" bisik Embun mesra, Embun memeluk tubuh Abra dari belakang. Embun menyandarkan kepalanya tepat di punggung tegap Abra. Kedua tangannya memeluk erat tubuh yang kecewa akan penolakannya. Abra menggenggam erat tangan Embun yang kedinginan. Abra melihat cinta seorang ibu yang rela kedinginan demi putranya. Abra merasa malu, ketika dia merasa kecewa dan marah pada Embun. Hanya karena hangat yang tak terbalas. Padahal Embun tengah membutuhkannya, Embun butuh sandaran dan hangat pelukannya. Setidaknya demi menghilangkan rasa cemas dan gelisah di hati seorang ibu.


"Kak Abra, maafkan atas penolakanku. Tidak seharusnya aku mengecewakanmu. Apalagi mengacuhkan hangat cinta darimu. Namun tubuh lemah ini bimbang, menjadi istri yang baik atau seorang ibu yang penuh kasih sayang? Jujur kak Abra, aku tidak bisa memilih menjadi seorang istri atau ibu. Namun detik ini aku menyadari, aku telah salah dalam memutuskan. Aku seorang ibu, tapi sebelum menjadi seorang ibu. Aku sudah menjadi istrimu dan kebahagianmu segalanya bagiku!" tutur Embun penuh dengan cinta, Abra langsung memutar tubuhnya 180 °. Abra menggeleng lemah, isyarat dia tidak lagi marah akan sikap Embun.


"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir. Aku yang salah, karena tidak bisa merasakan kecemasanmu sebagai seorang ibu. Aku terlalu egois, berpikir kebahagian dan keinginanku harus segera terwujud. Maafkan aku sayang, maaf!" ujar Abra, lalu mencium lembut kening Embun. Desiran hangat yang menghilang, tiba-tiba kembali membuncah. Abra menghela napas, dia merasa kesal dengan napsunya yang tak pernah ingin kalah. Abra harus berjuang keras, menenangkan gemuruh hasrat yang terlanjur menguasai hati dan jiwanya.


"Kak!" sapa Embun hangat dan mesra, Embun menangkup wajah Abra. Menatap lekat dua bola mata indah Abra. Embun mendekatkan wajahnya, menghebuskan hangat napas ke arah wajah Abra.


Napas Embun dan Abra saling memburu, naik turun seirama penuh dengan rasa hangat. Keduanya mulai merasakan kerinduan dan gejolak dalam hatinya. Embun menempelkan kening keduanya, sejenak Embun merasakan debaran hangat menjalar di seluruh aliran nadinya. Abra semakin gelisah, hasrat semakin tak terkendali. Abra tidak akan sanggup menahan, jika Embun terus berada sedekat ini dengannya.

__ADS_1


Cuuup


"Sayang!" ujar Abra tak percaya, ketika merasakan hangat ciuman Embun tepat di bibirnya. Abra menatap tak percaya, ketika Embun memberikan ciuman manis.


"Antara cinta dan kasih sayang, aku akan memilih cinta. Jangan pernah ragukan cintaku, sebab selamanya kamu pemilik hati dan cintaku!" ujar Embun lirih, Abra diam penuh rasa haru.


"Rafan!" ujar Abra, sembari memeluk erat tubuh Embun. Abra menarik Embun dalam dekap hangatnya. Abra tidak akan menahannya lagi, Abra tidak akan melepaskan Embun dari jerat hangat cintanya.


"Dia sedang mengejar cintanya, kasih sayangku harus mengalah. Rafan sudah dewasa, sudah saatnya seorang ibu percaya sepenuhnya. Seorang putra ibarat sebuah burung. Semakin dia terkurung. Semakin dia ingin terbang bebas. Aku tidak ingin kehilangan putraku, hanya karena kasih sayangku yang terlalu besar padanya. Aku tidak ingin mengubah kasih sayangku menjadi sangkar bagi putraku. Sekarang, kamu yang utama dalam hidupku. Cintaku sama besar seperti cintamu padaku. Malam ini, aku akan membuat kakak melihat besar cinta itu. Agar tak pernah lagi ada keraguan dalam dirimu. Jika aku tak lagi menyimpan cinta untukmu. Kak, kamu segalanya dan cinta dalam hidupku. Tidak mungkin kehangatan yang kuberikan padamu, hanya sebatas kewajiban. Aku melakukannya dengan cinta, demi cinta dan untuk cinta di hatiku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" tutur Embun, lalu mendekatkan bibirnya tepat di bibir Abra. Embun mencium lama dan penuh kehangatan, Abra hanyut dalam hangat yang diberikan Embun.


Duuuuuaaaaarrr Duuuuuuaaarrrr


"Asthgfirullahhaladzim!" ujar Embun, ketika suara petir mengagetkannya. Embun tersadar dari hangat yang tercipta tanpa perencanaan.


"Sayang, aku mengingikanmu!" bisik Abra lirih, tepat di telinga Embun. Dengan anggukan kepala, Embun mengiyakan permintaan Abra.


"Terima kasih!" sahut Abra, lalu menggendong Embun.


"Turunkan aku!" teriak Embun, ada rasa malu mengingat tubuhnya tak ringan lagi. Namun Abra tetap menggendongnya, sampai akhirnya Embun mengalah dan mengalungkan kedua tangannya di leher Abra. Teriakkan Embun tidak akan menghentikan Abra, sebaliknya teriakkannya hanya akan membangunkan semua orang. Sebab itu Embun memilih diam, membiarkan Abra menggendongnya menuju kamar mereka.


"Aku mencintaimu!" bisik Embun, sembari bersembunyi di balik tengkuk Abra.

__ADS_1


__ADS_2