
"Tuan Abra, malam ini aku ingin mengkhitbah putrimu Kanaya. Wanita yang membuat pandanganku tak beraliha darinya. Bukan karena wajahnya, tapi sikap dan sifat baiknya. Ketenanganku pergi, tergantikan rindu dan tawanya yang mengusik hariku. Baru saja anda mendengar, bagaimana dia mengingatkanku dalam kebaikan? Alasan yang membuatku tersadar, dia yang membuatku jatuh hati dan hanya bersamanya aku akan bahagia. Sesungguhnya, aku ingin mengkhitbah Kanaya tepat di hari kelulusannya. Namun rasa ini tak lagi bisa aku tahan!" tutur Haykal lirih, Kanaya berjalan mundur. Dia tak percaya mendengar perkataan Haykal.
"Tuan Arya, maafkan saya. Namun hati ini telah memilih!" ujar Haykal lirih, Haykal menoleh ke arah Kanaya yang menjauh darinya.
Duaaarrr Duaaarrr Duaaarr
"Kanaya!" panggil Haykal, ketika melihat Kanaya berlari menjauh dari Haykal.
"Kanaya, maafkan aku!" batin Haykal, lalu berlari mengejar Kanaya.
"Sayang, kenapa secepat ini aku mendengar seseorang meminta putriku?" ujar Abra lirih, Embun menepuk pelan pundak Abra.
"Kita bicarakan di rumah!" sahut Embun, Abra mengangguk pelan. Suasana menjadi senyap, tak ada kata yang terucap. Hening tiba-tiba terasa, dingin malam menyapa semua orang.
Haykal berlari mengejar Kanaya, meninggalkan semua orang tanpa pamit. Tak ada yang begitu penting bagi Haykal. Selain Kanaya saat ini, bahkan Haykal tak peduli lagi akan suara gemuruh petir yang terdengar begitu keras. Cahaya petir bak kilatan putih yang mampu membelah langit. Haykal terus berlari mengejar Kanaya. Tepat di tempat parkir, langkah kakinya terhenti. Dia melihat Kanaya pergi menggunakan motor maticnya. Haykal bingung harus mengejar, meski mobilnya takkan secepat motor Kanaya. Atau tetap diam dengan rasa gelisah yang mampu membuatnya tiada.
"Aku harus mengejarny!" batin Haykal, sembari berlari menuju mobilnya.
Haykal memantapkan niatnya, berlari mengejar Kanaya yang jauh di depannya. Jalan terlihat sedikit lengang, sebab langit mendung mulai menyapa dan rintik hujan mulai menetes. Haykal semakin kalut, kejujurannya yang membuat Kanaya marah dan pergi di tengah gerimis yang mulai turun. Haykal terus mengemudikan mobilnya, terlihat Kanaya jauh di depannya. Haykal pesimis, dia bisa mengejar Kanaya. Namun semua sudah tertulis, motor matic Kanaya berhenti di tengah jalan. Nampak Kanaya kesal dengan motor maticnya. Haykal berhenti tepat di belakang Kanaya.
"Kenapa dia mengejarku?" batin Kanaya kesal, sembari menendang ban motor maticnya yang kempis.
Haykal berjalan menghampiri Kanaya, rintik hujan mulai turun. Hijab Kanaya mulai basah oleh air hujan. Haykal berdiri tepat di depan Kanaya. Berharap Kanaya menoleh, sekadar peduli akan kehadirannya. Namun Kanaya tak bergeming, Kanaya tidak peduli pada Haykal. Kanaya mencoba mengalihkan pandangannya. Haykal menghela napas, helaan yang penuh dengan penyesalan.
"Maaf!" ujar Haykal lirih, Kanaya mengangkat wajahnya. Dia menatap tajam dua bola mata Haykal. Seakan Kanaya siap menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Maaf!" ujar Haykal lagi, Kanaya tetap diam sembari menatap Haykal lekat. Tak ada kata atau keluhan dari bibir Kanaya. Haykal semakin tak berdaya, melihat rasa kecewa Kanaya yang dibumbui rasa marah.
"Maaf!" ujar Haykal ketiga kalinya. Kanaya menggeleng lemah, Haykal menunduk penuh penyesalan. Kanaya berjalan perlahan, dia terus berjalan dan Haykal mengikuti langkah kecil Kanaya.
Keduanya berjalan di bawah gerimis yang semakin deras. Kanaya terus berjalan, sampai langkahnya terhenti tepat di sebuah jembatan panjang. Kanaya berdiri tepat di samping pembatas jembatan. Haykal terus mengikuti langkah kecil Kanaya. Walau terbersit ketakutan dalam hatinya. Haykal takut Kanaya berbuat nekat, melihat Kanaya berdiri tepat di pinggir jembatan. Nampak Kanaya melihat ke arah sungai yang ada tepat di bawah kakinya. Haykal semakin cemas, dia langsung berdiri di samping Kanaya. Tak ada suara yang keluar dari bibir Kanaya. Hanya rintik hujan yang memecah kesunyian malam.
"Kanaya, maafkan aku. Maaf, jika kejujuranku membuatmu terluka. Namun percayalah, aku melakukannya secara spontan. Aku tidak bisa membayangkan hidup bersama dengan wanita lain. Jika nyatanya dalam benakku hanya ada bayanganmu. Tidak mungkin aku berpura-pura mencintai wanita lain. Jika sejatinya hanya ada namamu di dalam hatiku. Sesempurna apapun wanita itu, tapi dalam jiwaku hanya ada dirimu. Benci aku dengan sepenuh hatimu, tapi jangan pernah melakukan hal bodoh dengan pergi selamanya dari pandanganku!" tutur Haykal lirih, Kanaya diam tak bergeming. Tatapannya tetap lurus, perkataan Haykal tidak membuat teralihkan.
"Kanaya, maafkan aku!" pinta Haykal memelas, berharap Kanaya menjauh dari pinggir jembatan. Haykal takut Kanaya berpikir dangkal.
"Kenapa harus aku?" ujar Kanaya dingin, Haykal menoleh tak mengerti.
"Maksudmu apa Kanaya?"
"Kenapa anda memilih saya? Kenapa anda yakin pada saya? Kenapa anda mengkhitbah saya?" ujar Kanaya lirih, Haykal menoleh lalu menunduk.
"Anda yakin, aku masih SMA. Pernikahan masih sangat jauh dari khayalku. Aku hanya anak manja, sikap kerasku takkan mudah ditaklukkan. Aku pribadi yang tak mudah dihadapi, aku bukan wanita lembut. Mungkin anda bisa menerimaku, tapi keluarga besarmu. Mereka tentu mengharapkan menantu yang sempurna. Seorang wanita yang kelak melahirkan penerusmu. Wanita lembut yang membuat mereka bangga. Bukan aku yang keras dan liar!"
"Apa maksud perkataanmu?" ujar Haykal, tanpa Haykal sadari dia memegang tubuh Kanaya.
Duaaarrr Duaarrrr Duaaaarrr
Suara gemuruh petir, tak lantas membuat Haykal dan Kanaya bergeming. Deras hujan yang mengguyur tubuh mereka. Tak membuat keduanya beranjak. Dingin tak menyurutkan hasrat Haykal. Malam dingin menjadi saksi bisu kedua hati yang berbeda, tapi berharap bersatu dalam satu ikatan suci.
"Pak…!"
__ADS_1
"Panggil aku senyaman yang kamu inginkan. Jika perlu, aku akan merubah namaku. Aku akan menggantinya, selama itu bisa membuatmu nyaman berada di sisiku!"
"Pak Haykal, mengkhitbah bukan hanya satu kata. Ada banyak makna dalam sederhana kata khitbah. Ada ikatan suci yang mengiringi kata khitbah. Ada ketulusan yang terwujud dari kata khitbah. Satu hal yang jauh lebih penting, ada keterikatan yang harus terjalin tepat setelah kata khitbah. Tanggungjawab yang begitu besar, tak semudah kata khitbah terucap. Jujur pak Haykal, sejak aku bertemu denganmu sampai detik ini. Tak sedikitpun aku tertarik mengenalmu. Aku tak pernah berpikir, jika hidupku akan berputar di sekitarmu. Bahkan tak pernah aku bayangkan, jika tulang rusuk yang ada ditubuhku itu milikmu. Namun beberapa menit yang lalu, dengan lantang dan di depan keluarga besarku. Anda mengkhitbah diriku, mengikat jiwaku dalam ikatan suci. Meski anda menyadari, aku takkan mampu menjadi bagian dari hidupmu. Bukan karena tak ada rasa di hatiku untukmu. Melaikan usiaku yang masih jauh dari syarat untuk ikatan itu. Sekarang, jawab pertanyaanku. Jika aku mengiyakan khitbahmu, apa yang akan terjadi pada hubungan kita? Sebaliknya, jika papa menolak lamaranmu. Apa yang akan anda lakukan pada hidup anda? Akankah anda terjun ke dalam sungai ini. Membuktikan ucapanmu, jika aku yang terbaik dan penting dalam hidupmu!" tutur Kanaya, Haykal menatap tak percaya. Haykal melepaskan tangannya, Haykal berjalan mundur sembari menggelengkan kepalanya pelan. Haykal tak percaya dengan perkataan Kanaya. Tatapan dingin Kanaya, seakan menghentikan jantung Haykal.
"Aku mengerti semua perkataanmu. Aku mengkhitbahmu dengan sepenuh hati dan aku yakin dirimu yang terbaik. Aku sanggup menunggu kesiapanmu. Aku tidak pernah ragu akan rasaku. Aku siap berjuang demi dirimu. Menerima segala liar dan kerasmu. Aku akan belajar dan terus belajar memahamimu. Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tidak bisa bernapas tanpa melihatmu. Namun maafkan aku, jika aku takkan pernah mengakhiri hidupku demi membuktikan rasaku padamu!"
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa Kanaya, maafkan aku!" ujar Haykal lirih, Kanaya tersenyum sinis.
"Sekarang, apa keputusanmu? Jika aku mengiyakan lamaranmu!" ujar Kanaya, Haykal mendongak menatap Kanaya.
"Aku akan menunggumu, sampai kamu siap menikah denganku. Aku tidak akan menikahimu sekarang. Aku akan menanti kata siap darimu. Asalkan aku satu-satunya dalam benakku. Aku siap menanti selama yang kamu inginkan!"
"Jika kamu yakin dengan keputusanmu. Datanglah ke rumah, tanyakan pada papa. Sudah siapkah dia melepas putri kecilnya? Aku siap menerima khitbahmu!" ujar Kanaya santai, lalu berjalan menuju motor maticnya. Hujan semakin deras, tubuh Kanaya dan Haykal basah kuyub. Namun dingin tak membuat mereka beku. Sebab kehangatan tercipta jauh dari dalam hati mereka.
"Kamu menerimanya, kenapa?" sahut Haykal tak percaya.
"Karena anda mencintaiku karena-NYA. Anda menolak menggadaikan iman demi bukti cinta untukku. Satu alasan yang membuatku yakin. Anda calon imam yang memiliki iman. Seorang imam yang akan menuntunku menuju jannah-NYA!" ujar Kanaya, lalu pergi hendak mendorong motor maticnya.
"Kita pulang bersama, jika kamu terus kehujanan. Aku yakin, besok pagi kamu tidak akan bisa menyambut kehadiranku!"
"Tapi!"
"Masuklah ke dalam mobil, aku akan meminta seseorang mengantarnya ke rumah besok!"
__ADS_1
"Baiklah, kepalaku mulai pusing!" sahut Kanaya santai.
"Terima kasih makmumku, akhirnya kamu mempercayaiku!" batin Haykal bahagia.