
"Abra, sarapan dulu!" Ujar Ardi, Abra menoleh. Namun gelengan kepala yang menjadi jawaban Abra.
Ardi merasa bingung dengan sikap Abra. Beberapa hari ini, Abra terlihat gelisah. Hampir tiap hari, Abra pulang larut malam. Bahkan Abra melewatkan sarapan bersama keluarganya. Memang Abra pribadi yang gila akan pekerjaan. Namun ada yang berbeda dengan sikap Abra. Kegelisahan Abra jelas terlihat, apalagi saat Ardi melihat Abra tengah melamun.
"Abra, duduklah. Sudah lama kakek tidak melihatmu sarapan. Meski kamu tidak sarapan, setidaknya kamu bisa menemani kakek. Tubuh tua ini, hanya meminta sedikit waktu berhargamu!" Ujar Ardi, Abra mengangguk pelan.
Abra berjalan perlahan menuju meja makan. Abra meletakkan tas kerjanya di atas meja ruang tengah. Nampak jelas Abra enggan duduk di meja makan. Entah apa alasan rasa malas Abra? Namun apapun itu, Ardi hanya peduli akan ketenangan Abra. Raut wajah Abra benar-benar murung. Tak ada gairah untuk terus menatap dunia.
"Mungkin dia mulai sadar, pernikahan dengan wanita itu hanya akan membuatnya hancur. Papa lihat sendiri, belum menjadi istri sah. Wanita itu sudah membuat Abra lemah!" Ujar Haykal sinis, Ardi langsung menatap tajam Haykal. Abra menunduk, dia tidak peduli akan pendapat Haykal. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Abra. Sesuatu yang ingin diketahuinya, tapi terasa menyakitkan saat dia tahu kebenarannya.
"Tutup mulutmu, jika perkataanmu tidak ada manfaatnya. Ingat Haykal, wanita yang sejak tadi kamu sebut. Dia memiliki nama, dia wanita yang papa pilih untuk Abra putramu. Wanita yang tanpa bertanya masa kelam putramu. Wanita yang dengan hati lapang, menerima Abra sebagai suaminya!"
"Bukan Abra yang beruntung mendapatkannya, tapi wanita itu yang beruntung menjadi menantu keluarga kita. Papa jangan lupa, dia hanya wanita desa tanpa pendidikan dan derajat!"
"Haykal, kamu sudah melewati batas. Embun mungkin hanya wanita desa. Namun satu hal yang harus kamu tahu. Embun, hanya Embun yang mampu membuat putramu hidup. Lihat kedua matanya, kapan terakhir kamu melihat mata sayu itu? Apa kamu juga lupa? Satu minggu yang lalu, Abra dengan penuh tawa bercanda hangat dengan Naura dan Ibra. Aku tidak habis pikir, dimana hati nuranimu? Jelas kamu melihat putramu berubah lebih hidup. Namun kamu terus menutup mata dan telinga. Menyangkal jika Embun alasan bahagia dan sedih Abra!" Tutur Ardi penuh emosi, Abra tetap menundukkan kepalanya.
Perdebatan di meja makan, sedikitpun tak membuatnya teralihkan. Abra terus diam, bermain dengan pikiran yang terus mengusik dalam benaknya. Haykal termenung, ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya. Kala dua mata tuanya, menatap putra yang entah kapan terakhir dipeluknya? Kepala Abra yang tertunduk, seakan menjadi busur panah tajam yang menusuk jiwanya yang gelap. Haykal merasa hancur, saat menyadari semua perkataan Ardi itu nyata dan benar adanya.
"Sayang, papa benar. Jangan terus berdebat dengan papa!" Ujar Indira menengahi, tangannya menepuk pelan lengan Haykal. Berharap Haykal menghentikan perdebatan yang tak seharusnya terjadi.
Indira menatap Abra yang duduk tepat di depannya. Putra yang tak pernah lahir dari rahimnya. Putra yang terus dia rindukan kehangatannya. Putra yang tak pernah menerima kehadirannya. Meski tak pernah Abra bersikap kasar, tapi jarak yang dibuat Abra terlalu dalam. Sampai Indira tak mampu melewatinya. Terkadang Indira berharap, sekali saja. Hanya sekali dalam hidupnya, Abra berlari memeluknya. Menghapus jarak antara ibu dan anak yang terus ada dan semakin dalam.
"Tapi, apa yang dikatakan papa benar? Dia hanya akan menjadi benalu dalam hidup kak Abra. Sudah sepantasnya kak Abra mendapatkan wanita berpendidikan. Bukan wanita desa tanpa pendidikan!" Sahut Naura, Ardi melotot ke arah Naura. Ibra langsung menginjak kaki Naura dengan sangat keras.
"Awwwsss!" Teriak Naura, tepat setelah Ibra menginjak kakinya.
"Naura, kakek sudah mencabut satu kartu kreditmu. Jangan sampai kakek mencabut seluruh fasilitas mewah dalam hidupmu. Agar kamu belajar menghargai hidup orang lain. Satu hal lagi, Embun mungkin wanita desa. Namun siapa dia sesungguhnya kamu belum mengetahuinya? Jangan sampai, kamu menyesal atas perkataanmu!" Ujar Ardi tegas, Ibra menggelengkan kepalanya pelan.
Sedangkan Naura langsung tertunduk lesu. Ancaman Ardi tidak pernah bohong. Naura ketakutan setengah mati. Hidup tanpa fasilitas mewah, tak pernah dibayangkan oleh Naura. Sejak kecil, Naura terbiasa hidup dalam kemewahan. Akan sangat sulit baginya, jika semua fasilitasnya dicabut.
"Abra, kenapa kamu diam saja? Mereka semua meragukan Embun!" Ujar Ardi lirih, tapi Abra sedikitpun tak menoleh. Abra larut dalam pikirannya. Kejadian malam itu, jelas membuatnya sedih. Kejujuran Embun, nyata membuat Abra terluka.
Flash back
"Sayang!" Panggil Abra, Embun menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Abra yang tengah tertunduk. Abra mengalihkan pandangannya dari indah bulan purnama. Abra terlalu malu, untuk mengagumi kecantikan bulan.
"Seminggu lagi, kamu akan resmi menjadi milikku seutuhnya. Jika mungkin, kamu wanita yang kelak melahirkan putra-putraku. Demi hubungan yang akan kita jalani. Bersediakah kamu menjawab satu pertanyaan yang selama ini mengganjal pikiranku!" Ujar Abra, Embun mengangguk pelan.
"Katakan!" Sahut Embun dingin, sesaat setelah anggukan kepalanya.
"Siapa Ibrahim Dwi Abimata dalam hidupmu?"
Duaaaaarrrr
__ADS_1
"Kenapa dia menanyakan hal itu?" Batin Embun.
"Kenapa kamu diam Embun? Apa yang aku pikirkan tentang hubungan kalian benar? Jawablah Embun, agar aku tidak berpikir yang tidak-tidak!" Ujar Abra lirih, Embun berjalan menghampiri Abra.
Embun menggenggam tangan Abra, perlahan Embun menarik tangan Abra. Mendekatkan tangan Abra tepat di depan dadanya. Abra mengeryitkan dahinya, dia tak mengerti maksud sikap Embun. Sedangkan Embun terus mendekap erat tangan Abra. Dia berharap Abra bisa merasakan getaran dalam hatinya.
"Embun!"
"Kak, rasakan detak jantungku!" Ujar Embun, Abra mengangguk pelan. Meski lirih, Abra jelas merasakan degub jantung Embun yang begitu keras. Sepintas hati Abra merasa sakit, tanpa Abra mengetahui alasannya.
"Kakak bisa merasakannya?" Ujar Embun, Abra mengangguk pelan.
"Jantung yang berdegub hebat, ketika kakak mempertanyakan hubungan diantara aku dengan Ibra. Jantung yang seakan ingin melompat dari tempatnya. Jantung yang seolah hancur tersambar petir. Jantung yang terasa sakit, saat mendengar keraguan yang tersirat dalam pertanyaanmu!"
"Sayang, kamu salah paham!" Ujar Abra, Embun menggeleng lalu mengutas senyum simpul.
"Kakak tidak perlu takut, aku tidak marah. Kakak berhak menanyakan itu, agar pernikahan kita diawali dengan sebuah kejujuran!"
"Sayang!"
"Ibrahim Dwi Abimata, dia awalnya hanya teman satu sekolah. Ketampanan Ibra mampu membius seluruh mata kaum hawa, terkecuali aku. Namun satu hal dalam diri Ibra yang membuatku tertarik dan mengaguminya. Ringan tangan Ibra, saat menolong beberapa tunawisma. Menggetarkan jantung hatiku, membuatku terenyuh dan menyadari. Jika masih ada pemuda kaya yang peduli pada hidup orang lain. Entah kapan hubungan kami bermulai? Dua orang yang awalnya tak saling mengenal, menjadi begitu dekat dalam waktu yang singkat. Setiap ada Ibra, pasti disitu ada aku dan Nur. Kami bertiga bersama-sama membantu orang. Penggalangan dana, pembelajaran gratis anak-anak pemulung. Semua kami lakukan selama tiga tahun di SMU. Kedekatan yang terjalin dari satu visi yang sama. Membuat kami begitu dekat dan saling memahami. Sampai akhirnya kata cinta terucap dari bibir Ibra. Sebuah rasa yang tak pernah aku inginkan. Rasa yang terhalang oleh janji pada Abah. Sebuah rasa yang mungkin kurasakan pada Ibra, tapi tak pernah kugenggam!"
"Lalu, kenapa kalian menjauh?"
"Sebab itu kamu memanggil namanya dalam tidur!"
"Entahlah kak, jika memang aku pernah menyebutnya. Percayalah, jantungku berdegub hebat bukan karena rasa itu masih ada. Jantungku berdegub hebat, sebab jantung ini masih belajar menerima dirimu. Satu keraguanmu, mampu menghentikan detaknya!"
"Kenapa kamu tetap menerimaku? Meski kamu mengetahui hubunganku dengan Ibra!"
"Sebab aku percaya, hubungan diantara kita ada jauh sebelum aku mengenal Ibra. Rasa diantara kami tak pernah nyata. Namun keyakinanku padamu, nyata adanya. Salahkah seandainya hatiku butuh waktu, untuk menerima kakak sepenuhnya. Masih ada waktu kakak mundur dari pernikahan ini. Seandainya hatimu masih ragu akan kejujuranku!"
FLASH BACK OFF
"Abra!" Ujar Ardi, sembari menggenggam tangan Abra. Sontak Abra terkejut, saat merasakan hangat tangan kakeknya. Abra menoleh, dia tersadar dari lamunanya.
"Ada apa?"
"Apa yang kamu pikirkan?" Ujar Ardi, Abra menggelengkan kepalanya pelan.
"Paket!" Teriak Fahmi lantang, semua orang langsung menoleh. Fahmi datang sembari menenteng rantang yang cukup besar. Rantang yang jelas berisi makanan, entah dari siapa dan untuk siapa?
"Diam!" Teriak Abra, Fahmi menutup mulutnya. Lalu meletakkan rantang tepat di depan Abra.
__ADS_1
"Jangan marah, ini ada paket untukmu. Tadi di depan aku bertemu Embun. Dia sengaja datang, hanya untuk mengantarkan sarapan untukmu. Satu hal lagi, ponsel Embun rusak. Dia belum sempat membeli yang baru. Dia masih sibuk mempersiapkan pernikahan kalian. Tadi juga dia membawa banyak belanjaan. Jadi sekarang, berhenti marah tidak jelas. Embun baik-baik saja, dia tidak bisa menghubungi beberapa hari ini!"
"Aku pikir dia sengaja menjauh dariku. Ternyata dia memiliki alasan, kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Apa kini perkataan Embun benar? Jika aku masih ragu akan kejujurannya. Aku belum sepenuhnya percaya, jika Embun akan bersamaku. Kenapa aku begitu gusar saat tak mendengar kabarnya? Bukan Embuj yang harus belajar menerimaku, tapi aku yang harus belajar bersabar menanti kata cinta darinya!" Batin Abra, saat mendengar penjelasan Fahmi.
"Kenapa kamu tidak katakan dari tadi?" Ujar Abra berdiri, lalu hendak menemui Embun.
"Percuma, dia sudah pergi. Embun langsung pergi, setelah memberikan makanan ini!" Sahut Fahmi, Abra menghela napas kecewa.
"Abra!"
"Ada apa lagi?" Sahut Abra kesal pada Fahmi.
"Tiga hari lagi pernikahan kalian. Embun tidak ingin melihatmu sakit, jadi makan sarapanmu. Jika kamu tidak menghabiskannya. Aku akan mengatakannya pada Embun. Dan...!"
"Tutup mulutmu, aku akan memakannya!" Ujar Abra sembari membekap mulut Fahmi.
"Embun benar-benar hebat!" Ujar Fahmi sembari tertawa. Ardi tersenyum melihat Abra kembali ceria.
"Tante Indira!"
"Iya Fahmi!" Sahut Indira.
"Ini ada titipan dari Embun. Dia memintaku menyerahkannya pada tante!" Ujar Fahmi ramah, lalu memberikan paper bag titip Embun pada Indira. Dengan raut wajah bingung, Indira mengambil paper bag dari Fahmi.
"Kenapa mama menerimanya?" Sahut Naura kesal.
"Diam kamu!" Ujar Indira lantang.
Indira membuka paper bag dari Fahmi. Nampak sebuah surat di dalamnya. Indira mengambil surat yang ditempeli setangkai bunga tulip segar. Indira mengeryitkan dahinya, dia heran melihat setangkai bunga tulip. Bukan hanya Indira, Abra dan Ardi merasa penasaran dengan surat yang ditulis Embun. Indira mengambil bunga tulip, lalu mencium harumnya. Sejenak hati Indira terenyuh, menerima sikap hangat Embun.
^^^Assalammualaikum Wr. Wb.^^^
Maaf sebelumnya nyonya Indira, perkenalkan saya Embun Khafifah Fauziah. Maaf jika saya memperkenalkan diri melalui surat. Pertemuan pertama kita, tidak berjalan baik dan meninggalkan kesan yang buruk. Jadi izinkan saya, menyapa anda dengan penuh rasa hormat.
Bersama dengan surat yang aku kirim. Ada setangkai bunga tulip dan sehelai gamis sederhana. Bunga tulip yang sengaja aku petik, demi rasa hormatku pada anda. Seorang ibu dari laki-laki yang akan menjadi suamiku. Nyonya Indira, sehelai gamis sederhana yang aku kirim. Gamis yang aku jahit dengan harapan akan menjadi bukti kasih sayangku pada ibu yang membesarkan suamiku.
Nyonya Indira, mungkin gamis ini tak semahal gaun pesta yang mampu anda beli. Namun demi senyum suamiku. Aku berharap, anda mengenakan gamis ini saat pernikahan kami. Kak Abra mungkin tak pernah mengatakannya pada anda. Namun percayalah, ada ruang kosong dalam hatinya. Ruang yang merindukan sosok ibu. Sehari saja, aku berharap nyonya menjadi ibu yang sempurna bagi kak Abra. Ibu yang dirindukan jauh dalam hatinya.
Seandainya anda tidak berkenan, tidak akan aku kecewa. Namun tetaplah datang menggantikan ibu yang yang tak pernah ada dalam hidup kak Abra. Sekali lagi maaf dan terima kasih atas waktunya.
^^^Embun Khafifah Fauziah^^^
Indira mengambil gamis berwana abu-abu tua. Gamis yang terlihat sederhana, tapi sangat mahal artinya. Indira langsung mendekap gamis itu. Setetes bening air mata jatuh di pelupuk mata Indira.
__ADS_1
"Hadiah yang tak pernah aku dapatkan dari putri kandungku. Kini dia berikan sebagai jalan penghapus jarak diantara aku dan putraku yang lain. Embun, hatimu sebening namamu. Terima kasih, telah mengingatkan diriku. Jika Abra merindukan ibunya, bukan ibu yang ingin menggantikan ibu kandungnya. Terima kasih, bunga tulip yang indah dan cantik!" Batin Indira pilu.