
Hampir seminggu Embun dirawat di rumah sakit. Kondisinya mulai membaik, sedangkan bayinya masih dalam observasi. Berat badan putranya ideal, hanya saja usia kehamilan yang kurang. Membuat dokter Fitri memutuskan mengobservasi lebih lama. Agar tidak ada komplikasi pada sang bayi.
Embun mulai jenuh berada di rumah sakit. Tubuhnya memang masih sangat lemah, tapi Embun merasa sudah lebih baik. Abra sudah membujuk Embun untuk tetap bersabar dan mengikuti arahan dokter Fitri. Namun sikap keras kepala Embun tidak mudah dikalahkan. Dia akan teguh dengan perkataannya. Apalagi jika itu berhubungan dengannya. Sebab itu akhirnya Abra mengalah, dia meminta dokter Fitri mengizinkan Embun pulang hari ini. Sedangkan bayi Embun akan tetap di rumah sakit. Paling tidak sampai semua hasil laboratoriumnya membaik.
"Kak Abra, bagaimana kondisi putra kita?" ujar Embun, Abra menghampiri Embun. Dia menghentikan pekerjaannya. Kebetulan Abra sedang memasukkan barang yang akan dibawa pulang.
"Aku baru saja melihatnya. Dia sangat sehat, tapi mama Fitri belum membiarkan dia pulang. Aku masuk ruang NICU dengan bantuannya. Mungkin besok dia akan ada di tengah-tengah kita!" ujar Abra, Embun mengangguk pelan. Lalu terdengar helaan napas Embun, Abra merasa ada yang salah.
Embun turun dari tempat tidurnya, Embun duduk di sofa panjang yang ada di ruangannya. Abra semakin gelisah melihat Embun yang nampak cemas akan sesuatu. Abra langsung menghampiri Embun, Abra duduk berjongkok di depan Embun. Sengaja Abra tidak duduk di samping Embun. Abra merasa Embun lebih butuh penopang, bukan sandaran.
"Sayang, apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" ujar Abra, tepat di depan Embun. Abra menggenggam erat tangan Embun, seakan ingin memberikan Embun dukungan yang sangat dibutuhkan Embun saat ini.
Embun menggenggam erat tangan Abra. Jelas ada rasa gundah dalam hatinya. Embun menunduk mencari ketenangan dalam gelisah tanpa sebab. Embun benar-benar tak percaya dengan semua yang terjadi. Ternyata semua tidaklah mudah baginya. Embun merasa rapuh dan tidak berdaya dengan rasa sakit. Rasa yang sangat ingin dilupakannya.
"Sayang!" ujar Abra, Embun diam membisu. Tangannya mulai terasa dingin, Abra semakin erat menggenggam tangan Embun. Abra semakin yakin ada yang sedang menganggu pikiran Embun.
"Kamu masih kecewa dengan pernikahan papa?" ujar Abra memberanikan diri, Embun mendongak menatap lekat Abra. Seketika Abra merasa yakin dengan perkataannya. Tak perlu jawaban dari bibir Embun. Dua mata Embun menjawab pertanyaan yang sesungguhnya tak pernah ingin Abra katakan.
__ADS_1
"Apa alasan rasa kecewamu? Papa bahagia bersama mama Fitri. Kamu juga melihat betapa bahagianya papa Arya. Mama Fitri wanita sholeha, dia juga menyayangimu dengan tulus. Sangat tidak adil, jika kamu kecewa dengan hubungan mereka!" ujar Abra, Embun mengangguk pelan.
"Kak Abra, kecewaku bukan amarah. Aku hanya merasa cemburu, ketika ada seseorang yang mampu menggantikan mama Almaira. Aku kecewa bukan karena membenci mama Fitri. Tidak mudah bagi seorang putri yang baru mengenal ayah kandungnya setelah dua puluh tahun. Menerima pernikahan kedua dan mengakui seorang wanita menjadi ibu sambungnya. Sebaik apapun sang ibu, seorang putri akan tetap kecewa dan merasa sang ibu tidak pantas tergantikan!"
"Tapi sayang!"
"Kak Abra, aku tidak akan menghalangi kebahagian papa Arya. Aku hanya butuh waktu menerima semua ini. Aku tidak marah, hanya saja semua ini terlalu mendadak. Mendengar kakak memanggilnya dengan begitu hangat. Semakin aku merasa, mama Almaira telah tergantikan. Salahkah aku cemburu akan semua ini?" ujar Embun, Abra menggelengkan kepalanya pelan.
Abra menepuk pelan tangan Embun. Memberikan semangat pada istri yang sangat dicintainya. Setetes air mata Embun menetes. Jelas Embun merasakan kecewa yang teramat besar. Abra mencoba memahami perasaan Embun. Perasaan yang pernah dia rasakan, ketika Indira menjadi ibu sambungnya. Abra harus berjuang melawan kesepiannya. Abra menjauh dari seluruh anggota keluarganya. Demi menjauh dan menolak kasih sayang Indira. Abra menyeka air mata Embun, lalu menarika tangan Embun. Abra mencium lembut tangan Embun.
"Sayang, tumpahkan rasa kecewamu padaku. Aku akan menemanimu, kita akan melewati semua ini dengan tetap bergandeng tangan. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, sehangat apapun aku memanggil mama Fitri. Aku tetap menyimpan nama mama Almaira jauh dalam hatiku. Sebab dialah wanita hebat yang menghadiahkanmu untukku. Beliau ibu yang melahirkan Embunku dengan penuh cinta. Tidak akan ada ibu yang mampu menggantikan dirinya dalam hatiku. Mama Almaira tetap yang terbaik, dia yang mengajariku satu hal. Embunku lahir dengan cinta yang begitu besar dan akan tumbuh besar dengan kenangan yang pernah ada!"
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Perasaanmu benar, aku percaya waktu akan menyembuhkan lukamu. Mama Fitri tidak pernah ingin menggantikan mama Almaira. Dia wanita yang telah menyerahkan hidupnya dan mengabdikan sisa hidupnya menjaga papa Arya. Aku percaya, Embunku tidak akan sejahat itu. Dia akan membuka hati untuk semua orang yang menyayanginya dengan tulus!" ujar Abra, Embun mengangguk pelan.
"Aku akan berusaha menerima mama Fitri. Papa Arya bahagia dan aku harus bahagia demi papa!"
Kreeekkk
__ADS_1
"Assaalammualaikum!" sapa Fitri ramah. Abra dan Embun menoleh bersamaan. Mereka melihat Fitri masuk dengan membawa beberapa obat. Sepertinya itu obat untuk Embun selama rawat jalan.
"Waalalaikumsalam!" sahut Abra dan Embun serempak.
"Embun, bisa aku bicara!"
"Silahkan!" sahut Embun, Abra berdiri dan memilih keluar. Abra merasa Embun dan Fitri butuh waktu untuk saling bicara.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf, jika kehadiranku mengusik ketenangan hatimu. Namun percayalah, tak pernah ada inginku menjadi penghalang hubungan antara kamu dan kak Arya. Pernikahan kami terjadi begitu mendadak, tak ada cinta diawal pernikahan kami. Namun semakin aku mengenal kak Arya, hatiku merasa nyaman. Sebagai seorang wanita yang tak mengenal cinta. Aku merasa beruntung menjadi istri, laki-laki yang begitu menghargai seorang wanita. Mungkin aku egois, memaksa tetap menjadi istri kak Arya. Bahkan aku meminta kak Arya menutupi status diantara kami!"
"Kenapa mama Fitri melakukan itu?"
"Aku tidak ingin melihat kak Arya bersedih dan harus memilih diantara kita!" ujar Fitri, Embun menunduk merasa bersalah.
"Embun, aku tidak akan memaksamu menerimaku sekarang. Banyak waktu kita untuk saling mengenal. Biarkan semua berjalan apa adanya? Panggil aku tante Fitri, jika memang memanggilku mama terlalu sulit untukmu!"
"Anda begitu tulus, maaf jika ada rasa cemburu dihatiku. Mungkin aku iri, saat ada wanita yang lebih baik menggantikan posisi mama Almaira!"
__ADS_1
"Aku mengerti itu dan aku juga percaya, kelak kita bisa menjalin hubungan yang lebih baik!" ujar Fitri hangat, Embun mengangguk pelan. Embun langsung memeluk Fitri dengan hangat. Fitri mendekap erat Embun, putri yang menggetarkan hatinya sejak pertama kali bertemu.
"Hangat, inikah dekapan hangat seorang ibu yang selalu kurindukan!" batin Embun pilu.