
"Bu, semua sudah siap!" ujar Nissa, Embun mengangguk pelan.
Abra mengangkat kepalanya, dia melihat Nissa asisten yang dipilih oleh Embun. Sepupu Fahmi yang pernah bekerja di perusahaan Abra. Sejak seminggu lalu, Embun mulai bekerja. Dia mengambil alih perusahaan Adijaya di bidang perhotelan. Embun bekerja dengan izin Abra. Embun memutuskan bekerja sembari merawat Rafan. Embun hanya akan bekerja beberapa jam dalam sehari. Selebihnya Embun akan bekerja dari rumah. Embun tidak ingin pekerjaan, membuatnya lupa akan tanggunggjawab sebagai seorang istri dan ibu. Pekerjaan yang paling mulia dan takkan pernah bisa digantikan dengan harta.
"Sebentar lagi aku keluar, tolong lihat Rafan. Apakah dia sudah siap? Setelah kak Abra selesai sarapan. Kita berangkat!" ujar Embun ramah pada Nissa.
"Baik bu!" sahut Nissa lirih, lalu meninggalkan Embun dan Abra di meja makan. Nissa menuju kamar Rafan, dia ingin memeriksa Rafan. Hampir setiap hari, Rafan ikut dengan Embun. ASI eksklusive yang diberikan Embun pada Rafan. Mengharuskan Embun membawa Rafan, tentu saja dengan persiapan yang sangat matang.
Embun memperlakukan Nissa dengan sangat baik. Selain dia sahabat di kala putih abu-abu. Nissa masih sepupu dari saudara angkat suaminya. Hubungan bos dan bawahan, hanya ada saat bekerja. Namun setelah selesai bekerja, Embun memperlakukan Nissa selayaknya teman. Sejujurnya Embun lebih nyaman bersama Nur. Namun dengan statusnya sebagai pewaris tunggal bisnis keluarga Sanjaya. Embun merasa canggung meminta Nur membantunya di perusahaan. Meski sebenarnya Nur kecewa, ketika Embun lebih memilih Nissa daripada dirinya.
"Sayang!"
"Iya kak!" sahut Embun ramah, Abra menatap piring yang ada di depannya.
Suara sapaan Abra, tak membuat Embun cemas. Sebab langkah yang diambilnya saat ini. Semua dengan persetujuan Abra. Tak ada yang perlu Embun khawatirkan. Termasuk membawa Rafan bersamanya. Walau di awal Embun bekerja, Abra merasa keberatan Rafan ikut. Namun ketika Embun mengatakan akan bekerja hanya beberapa jam dalam sehari. Abra mengizinkan Rafan ikut. Sebab meninggalkan Rafan di rumah, bukanlah keputusan yang benar.
"Kamu tidak lelah!"
"Kenapa aku lelah? Apa kakak menyesal memberikanku izin bekerja?" sahut Embun, Abra menggelengkan kepalanya pelan.
"Melihatmu harus membagi waktu bekerja dan mengurus keluarga kita. Sedikit banyak membuatku cemas dan takut kamu kelelahan. Pagi ini, aku mengetahui kamu akan pergi ke beberapa perusahaan. Kamu harus mengatur bisnis yang tidak sedikit. Dengan waktu bekerja yang kamu batasi. Aku mengerti kamu harus bekerja cepat. Sebelum dan setelah kamu bekerja. Kamu masih menjaga dan merawat kami. Lalu, kapan kamu peduli akan kesehatanmu?"
__ADS_1
"Aku akan tetap sehat, selama kakak dan Rafan sehat. Mungkin waktuku tersita dengan semua tugas yang sekarang aku lakukan. Namun ada kebahagian tersendiri dalam hidupku. Aku bahagia dan merasa tenang, ketika aku melihat kakak dan Rafan sehat. Aky merasa bahagia dan mungkin bangga pada diriku. Saat aku menyadari, aku mampu mengemban amanah kakek. Bakti seorang cucu yang tak pernah merawat dan membahagiakan kakeknya!"
"Sayang, seandainya aku menolak permintaan abah Iman. Masihkah kamu menerima seluruh harta warisan kakek Dewangga?" ujar Abra lirih, Embun tersenyum ke arah Abra. Seakan pertanyaan Abra bukan sesuatu yang bisa menyinggung perasaannya.
"Aku tidak akan menerima amanah ini tanpa izinmu. Sebab aku bukan lagi bagian keluarga Adijaya. Seorang gadis hanya akan menjadi keturunan, bukan penerus keluarga. Sebab seorang gadis akan melahirkan penerus bagi keluarga lainnya. Jadi tidak ada alasan yang membuatku bertahan dengan nama belakang keluarga Adijaya. Namun darah yang mengalir dalam nadiku. Nyata darah yang sama mengalir dalam nadi keluarga Adijaya. Harta yang sekarang aku miliki, tak pernah aku miliki sejak awal. Harta ini hanya titipan yang akan kuserahkan pada penerus keluarga Adijaya, kelak saat tiba waktunya!"
"Kenapa kamu tidak menginginkan harta keluarga Adijaya?"
"Harta bukanlah sesuatu yang membuatku bahagia. Hidupku sudah sangat bahagia, bersama kalian berdua. Harta keluarga Adijaya tidak membuatku silau. Aku sudah sangat bahagia dengan harta tak bernilai yang kakak berikan!"
"Bagaimana dengan Rafan?" sahut Abra, Embun menoleh. Tatapan Embun mengisyaratkan sebuah keputusan.
"Rafanku tak perlu bergantung pada harta Adijaya. Selama ada kakak, ayah terbaik yang akan selalu melindungi dan menjaganya. Putraku takkan pernah kekurangan, sejatinya harta bukan sesuatu yang diperlukan putraku. Keluarga yang penuh kasih sayang, jauh lebih berharga bagi putraku. Agar tak ada lagi seorang anak yang tumbuh tanpa keluarga sepertiku!" tutur Embun, Abra diam menunduk. Ada rasa bahagia terselip ke dalam hatinya. Perkataan Embun membuat Abra merasakan kehangatan yang tak terucap. Pengertian Embun akan status Abra, membuatnya merasa dihargai. Kasih sayang Embun yang selalu diharapkan dalam hidupnya.
"Tak pernah aku meragukanmu, selamanya percayaku dan yakinku hanya untuk imamku!" ujar Embun final.
Embun berdiri mengambil piring kotor Abra dan meletakkannya di dapur. Embun menghampiri Abra, menarik tangannya dengan penuh cinta. Embun mencium lembut punggung tangan Abra. Mencurahkan rasa bahagia yang kini menguasai hatinya. Abra membalas kehangatan Embun dengan kecupan selamat pagi tepat kening Embun.
"Kak!"
"Hmmm!" sahut Abra, lalu menoleh ke arah Embun. Abra tengah mengambil tas kerjanya, ketika Embun memanggilnya dengan nada tak biasa.
__ADS_1
"Jika mungkin nanti setelah makan siang. Kakak datang mengunjungi tuan Haykal!" ujar Embun lirih, Abra mengeryitkan dahinya. Abra tidak mengerti maksud perkataan Embun.
"Kenapa aku harus menemui papa? Kebetulan nanti siang aku harus pergi ke luar kota. Papa Arya yang memintaku pergi. Ini berhubungan dengan kerjasamaku dengan tuan Dirgantara!" tutur Abra menerangkan, Embun mengangguk dengan hati sedikit kecewa. Abra menangkap raut wajah kecewa Embun.
"Baiklah kak!" sahut Embun singkat, Abra semakin yakin dengan dugaannya. Raut wajah Embun jelas mengisyaratkan kekecewaan. Abra hanya bingung, kenapa Embun merasa kecewa dengan penolakannya?
"Sayang, apa yang ingin kamu katakan?" ujar Abra mencari tahu, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Nissa, biarkan aku yang menggendong Rafan!" ujar Embun, ketika melihat Nissa keluar dari kamar Rafan. Nissa tengah menggendong Rafan, sedangkan Via membawa perlengkapan Rafan.
"Kak, aku berangkat lebih dulu!" pamit Embun, lalu masuk ke dalam mobil. Abra berjalan menghampiri Embun, mencium pipi gembul Rafan.
"Kenapa aku harus ke kantor papa?" ujar Abra, Embun tersenyum. Abra menggenggam erat tangan Embun. Berharap Embun mengatakan alasan kekecewaannya.
"Sayang!" ujar Abra, ketika menyadari Embun hanya diam saja. Nissa dan Via memilih menjauh. Mereka tidak ingin mengganggu kehangatan diantara Abra dan Embun. Rafan tertawa dalam pangkuan Embun. Rafan seolah mengerti, dia alasan kebersamaan Embun dan Abra.
"Tepat pukul 13.00 WIB, aku ada rapat di kantor tuan Haykal. Pertama kalinya aku datang sebagai pewaris keluarga Adijaya. Aku ingin kakak datang kesana. Agar kakak bisa menjadi penengah diantara aku dan tuan Haykal. Aku tidak ingin ada perselisihan yang akhirnya mempermalukan tuan Haykal. Kantor yang akan aku datangi, itu kerja kerasnya selama ini. Jadi sangat tidak pantas, jika beliau harus dipermalukan di kantornya sendiri!"
"Sayang, papa selalu menyakitimu. Kenapa kamu masih peduli akan harga dirinya?"
"Tuan Haykal seorang ayah yang akan melindungi keluarganya. Selama ini dia menghinaku, semua demi kebahagianmu. Di balik sikap kasarnya, beliau ayah yang membesarkanmu. Sebagai seorang putri, aku tidak akan terima dan pasti terluka saat melihat papa Arya dipermalukan. Sama halnya tuan Haykal, dia ayah yang membesarkan kakak. Sudah sepantasnya kakak menjaga kehormatannya. Aku tidak berniat mempermalukan tuan Haykal. Namun kakak jelas menyadari sikapnya padaku. Sedangkan aku datang ke kantornya, bukan sebagai menantu yang tak direstui atau gadis desa yang tak dianggap. Aku datang sebagai Embun Khafifah Fauziah, penerus keluarga Adijaya!" ujar Embun final, lalu menutup pintu mobilnya.
__ADS_1
"Sayang, ketegasanmu yang terkadang membuatku merasa tak pernah mengenalmu. Aku seolah melihat Embun yang dingin tanpa kehangatan cinta. Namun perkataanmu tidaklah salah, kamu menemui papa bukan sebagai istriku. Kamu datang sebagai pewaris tunggal bisnis Adijaya. Maafkan aku, jika hari ini aku akan diam menepi. Cukup sudah papa menghinamu. Sudah saatnya papa melihat ketulusan hatimu. Kebaikan hatimu tidak akan pernah terlihat oleh papa, sebab papa terlalu sombong!" batin Abra.