KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Almaira Adijaya dan Sofia Adijaya


__ADS_3

"Aku bukan putrimu, mungkin anda salah mengenali orang!" Ujar Embun tegas, lalu berjalan keluar dari restoran.


"Embun, maafkan papa!" Teriak Arya histeris, Embun terus berjalan menjauh. Langkahnya seperti berlari. Nur mengejar Embun, Abra hendak mengejar Embun. Namun langkahnya terhenti, ketika Nur melarang Abra mengikuti Embun.


Praaaaayyyyrrr


"Tangan bodoh, kenapa kamu malah menampar Embun?" Teriak Arya emosi, sembari terus menghantamkan tangannya ke atas meja kaca. Suara pecahan kaca, terdengar nyaring dan mengiris hati Arya.


"Maafkan papa, maaf!" Batin Arya kesal dan pilu.


"Arya hentikan, tanganmu berdarah. Amarahmu tidak akan membuatnya kembali. Kamu tidak perlu menghiba, dia akan mencarimu. Kamu memiliki harta!" Ujar Gunawan, Arya langsung berdiri.


Arya menghampiri Gunawan, Clara merasa tidak nyaman dengan tatapan Arya. Clara langsung berjalan mundur, dia tidak ingin menjadi pelampiasan amarah Arya. Sekali Arya marah, tidak akan ada yang bisa menenangkannya. Clara sangat mengenal pribadi Arya. Apalagi menyangkut Embun, amarah Arya akan berlipat ganda.


"Darah yang menetes ini, tidak akan membuatku tiada. Namun kebencian putriku, mampu membuatku lupa akan hubungan diantara kita. Sebelum aku semakin tak terkendali, lebih baik kakak diam. Jika memang kakak tidak ingin membantuku!" Ujar Arya emosi, Gunawan langsung diam. Dia menjauh dari Arya, Gunawan paling mengenal Arya. Dia tidak ingin menjadi gelandangan hanya karena Embun.


"Sayang, tenangkan dirimu!"


"Menjauh dariku!" Ujar Arya emosi, lalu mendorong Sofia menjauh.


Semua orang terdiam, Arya terus menghantamkan tangannya ke meja. Bukan hanya setetes darah yang jatuh. Warna merah darah, seolah merubah warna putih keramik tempatnya berdiri. Haykal dan Indira hanya terdiam, mereka terkejut mendengar kenyataan akan hubungan Embun dan Arya. Status yang jauh lebih tinggi dari keluarga Abimata. Menyadarkan Haykal, tidak sepantasnya dia bersikap tak pantas pada Embun.


"Tuan Arya, apa yang dikatakan om Gunawan benar adanya? Amarahmu tidak akan membawa kembali Embun. Sikap kasarmu yang akan menjadi alasan Embun semakin jauh darimu. Aku mengenal Embun, baru beberapa bulan. Namun aku belajar satu hal darinya, jika semua butuh kesabaran dan keyakinan. Jujur tuan Arya, mungkin aku orang yang paling kaget mendengar semua fakta ini. Namun aku juga, orang yang tidak ingin melihat kalian saling menjauh. Jika selama puluhan tahun, Embun tumbuh besar tanpamu. Lalu, kenapa tuan seolah tidak sabar menunggu tenangnya? Jika selama puluhan tahun, Embun percaya akan kebahagiannya. Lalu, kenapa anda tidak yakin semua akan baik-baik saja? Tuan Arya, Embun tidak sejahat itu. Sampai dia mengacuhkan ayah kandungnya sendiri. Mengingkari darah yang mengalir dalam dirinya. Namun, salahkan jika Embun butuh waktu untuk semua pengakuan itu. Waktu, dimana dia bisa belajar menerima ayah hebat sepertimu? Waktu, agar dia bisa memahami masa lalu yang terjadi? Waktu, yang telah hilang dan seolah ingin kembali saat ini. Embunku bak embun pagi yang menyejukkan. Dinginnya terasa, tapi tidak akan mudah kita menggenggamnya. Biarkan Embun bebas terbang, mencari tenang yang akan membuatnya lupa sakit dalam hati terdalamnya!" Tutur Abra, sembari membalut tangan Arya dengan sapu tangan putih miliknya.


"Kamu tidak marah mendengar fakta ini!"

__ADS_1


"Tidak, kenapa aku harus marah?" Sahut Abra, Arya diam membisu.


"Embun pasti sangat membenciku!" Ujar Arya lirih, Abra tersenyum seraya menggelengkan kepala.


"Dia tidak membencimu, bahkan mungkin saat ini dia merindukanmu. Hanya saja kenyataan yang di dengarnya. Membuat dia bingung, harus memilih siapa? Ayah kandungnya atau ayah yang membesarkannya dengan penuh cinta!"


"Kamu benar, Embun tidak akan mudah menerimaku. Abah Iman yang membesarkan dirinya selama ini. Mengenalku, artinya Embun harus mengakuiku sebagai seorang ayah. Laki-laki yang bahkan tidak pantas di panggil ayah!"


"Tuan Arya, aku harus mengejar Embun. Rawatlah lukamu, agar kamu bisa menemui Embun besok atau lusa. Jangan melukai dirimu, jika nyatanya itu semua hanya membuat Embun semakin menjauh!" Ujar Abra, lalu berdiri meninggalkan Arya.


"Papa!"


"Ada apa Abra?" Sahut Haykal, Abra berdiri tepat di depan Haykal. Sekilas nampak senyum di wajah Abra. Senyum yang seolah ingin menertawakan Haykal selama ini.


"Arya, tidak mungkin Embun putrimu. Pernikahanmu berakhir tanpa seorang anak. Lalu dengan siapa kamu memiliki anak?" Ujar Gunawan penasaran, Ardi berdiri lalu menghampiri Gunawan.


"Apapun yang terjadi, kamu lebih tahu segalanya. Ingat Gunawan, apa yang telah kamu perbuat dua puluh tahun silam? Apa kamu sudah lupa? Jerit tangis Almaira Adijaya, saudara sambung Sofia Adijaya!" Ujar Ardi, sembari menepuk pelan pundak Gunawan. Seketika Gunawan menoleh, tubuhnya bergetar hebat.


"Tuan Ardi!"


"Iya Gunawan, perbuatanmu sudah kami ketahui!"


"Kami, maksud tuan?" Ujar Gunawan terbata-bata. Ardi tersenyum tipis, Arya menghampiri Gunawan. Tangannya bersiap menghantam Gunawan. Namun terhenti di udara, ketika melihat tangis Clara.


"Aku dan Iman sengaja merahasiakan semua ini. Rahasia yang kami tutup sampai Embun menikah. Namun saat Embun menikah, Arya tahu segalanya. Sebab dialah yang menjadi wali sah pernikahan Embun!"

__ADS_1


"Arya, maafkan aku. Sungguh saat itu aku dibutakan oleh cintaku pada Silla. Dia yang terus menghasutku, agar memfitnah Almaira. Sungguh aku tidak pernah menyangka. Jika semua itu menjadi akhir pernikahan kalian!" Ujar Gunawan memohon ampun.


"Sekarang, apa kakak puas melihat kehancuranku? Kakak sudah membuatku kehilangan dua orang yang paling berarti dalam hidupku. Bertahun-tahun aku hidup dengan kebencian pada Alamaira. Aku mengira dia telah mengkhianati cinta kami. Mengingkari janji suci kami, tapi nyatanya aku sendiri pengkhianat itu. Aku yang menghancurkan pondasi pernikahan kami. Hanya karena hasutan bodoh darimu. Saat aku sadar semua hanya fitnah, Almairaku sudah pergi. Dia pergi untuk selamanya, meninggalkan diriku tanpa kata maaf. Almaira tiada saat melahirkan Embun. Dia meninggalkan hadiah terindah yang tak pernah aku sadari. Semua karena sikapmu, karena kakak yang menyulut api permusuhan diantara kita!" Tutur Arya lantang penuh amarah.


"Arya!" Ujar Gunawan bergetar, Arya menepis tangan Gunawan.


"Lihatlah kak, putriku membenci ayah kandungnya. Jangankan mengakuiku, melihat wajahku saja dia enggan. Putriku besar dalam pengasuhan abah Iman. Semua itu tak lain, karena keserakahan dan ambisi kakak yang ingin menguasai harta papa. Dimana Silla sekarang? Wanita hina yang hanya peduli pada hartamu. Bukankah dia pergi, setelah papa mengambil selurih bagianmu!"


"Mama, mama masih hidup!" Ujar Clara, Arya mengangguk tanpa ragu.


"Dia masih hidup, Silla bersembunyi dari kejaranku. Apa kamu pikir aku benar-benar mencintai Sofia? Jawabannya tidak, Sofia hanya alatku untuk menemukan Silla. Aku akan membuat Silla membayar mahal, atas semua perbuatannya padaku dan Almaira!"


"Sayang, sungguh aku tidak tahu?" Ujar Sofia, Arya menggelengkan kepalanya lemah.


"Silla sahabatmu, tentu kamu tahu dimana dia? Aku berada di sampingmu, agar aku bisa menemukan dia. Sekaligus aku ingin membuatmu terluka, tanpa perlu menggores tubuhmu. Kamu seorang saudara yang begitu tega mekukai saudaranya demi diriku. Sekarang, cintamu yang akan menyiksa dirimu. Saat cintamu takkan pernah bersambut!"


"Arya, kamu kejam. Aku mencintaimu dengan tulus, tapi kamu menyakiti hatiku!"


"Aku tidak sekejam dirimu Sofia. Kamu meneteskan darah saudara sambungmu sendiri!" Teriak Arya lantang.


"Sayang!" Ujar Sofia lirih, tak pernah menyangka melihat amarah Arya yang begitu hebat.


"Kak, berharaplah Embun baik-baik saja. Jika tidak, aku akan lupa darah merah yang mengalir dalam nadi kita. Akan kubuat kakak melihat sisi terburukku!" Ujar Arya lantang.


"Maafkan aku, maaf!" Ujar Gunawan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2