
Tepat pukul 13.00 WIB, Embun tiba di perusahaan Haykal. Perusahaan yang kini berada di bawah pengawasannya. Embun dan Nissa sampai tepat waktu. Sebagai seorang pembisnis pemula. Embun sangat menghargai waktu, dia tidak pernah telat dalam rapat yang sudah dijadwalkan. Siang ini pertama kalinya Embun datang ke perusahaan Haykal. Bukan sebagai menantu, tapi penerus keluarga Adijaya. Posisi yang akan mematik amarah Haykal. Status yang membuat Haykal merasa direndahkan.
"Assalammualaikum!" sapa Embun ramah, sesaat setelah Nissa membukakan pintu untuk Embun.
Embun datang tepat pukul 13.15 WIB, dia datang sembari menggendong Rafan. Kebetulan Rafan tidur dalam gendongan Embun. Secara otomatis Embun akan rapat dengan menggendong Rafan. Putra kecil yang begitu disayangi Embun, buah cintanya dengan Abra. Saksi cinta tulusnya pada Abra, imam dunia akhiratnya.
"Waalaikumsalam!" sahut seluruh anggota rapat. Embun mengangguk mengiyakan sapaan karyawan perusahaan Haykal. Embjn masuk dengan begitu anggun dan penuh wibawa. Nampak raut wajah tak percaya, ketika melihat Embun datang dengan menggendong Rafan.
"Rafan sayang, kamu aku bertemu kakek Haykal untuk pertama kalinya. Mama akan membuatnya mengakuimu, kamu berhak mendapatkan kasih sayangnya. Kamu wajib mengenalnya. Seandainya dia menolakmu, maka percayalah Rafan. Mama akan selalu ada di sampingmu. Setidaknya, bukan kita yang menjauh darinya. Namun dia yang menolak ketulusan kasih sayang kita!" batin Embun, seraya menunduk menatap Rafan yang tengah terlelap dalam gendongannya.
Embun mencium kening Rafan, lalu mendekapnya erat. Embun menanti Haykal dengan hati berdebar. Lima bulan lalu, Rafan lahir ke dunia. Selama lima bulan pula, tak sekalipun Haykal datang menyapa Rafan. Pernah Embun datang mengunjungi kediaman Abimata. Entah sengaja atau tidak Haykal keluar dari rumah? Sebab itu tak pernah Haykal dan Rafan saling bertemu. Hari ini jika memungkinkan, akan menjadi pertemuan pertama Haykal dan Rafan. Hubungan antara kakek dan cucu yang terhalang oleh keangkuhan Haykal Abimata.
"Maaf sebelumnya, terpaksa saya memimpin rapat sembari menggendong Rafan!" ujar Embun lirih, semua staf yang mengikuti rapat mengangguk pelan. Embun duduk di kursi paling depan. Nissa duduk tepat di sampingnya. Sedangkan Via memilih duduk sedikit menjauh.
"Baiklah, rapat kita mulai!"
"Maaf bu, tuan Haykal belum datang!" sahut Andi, kepala staf bagian keuangan. Embun menoleh ke arah jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. Hampir setengah jam Haykal terlambat mengikuti rapat.
"Jika kalian ingin menunggu tuan Haykal, saya tidak keberatan. Namun waktu saya tidak banyak, saya akan ada di perusahaan ini hanya sampai pukul dua siang. Jika kalian merasa menunggu tuan Haykal tidak menyita waktu. Saya siap menunggu sampai beliau datang. Namun jika sampai jam dua rapat ini tidak selesai. Saya pastikan, besok pagi akan perombakan kepala bagian!" sahut Embun tegas dan dingin. Seketika semua staf men
Embun meletakkan kembali laporan yang baru saja diterimanya dari Nissa. Embun menatap seluruh staf yang ada di dalam ruang rapat. Ketegasan Embun menghipnotis semua orang. Tak ada suara, bahkan suara napas mereka seolah terhenti. Embun tidak pernah bermain-main dengan perkataannya. Dia tidak pernah mentolelir sikap tidak disiplin. Haykal bukan staf biasa, dia pemimpin perusahaan. Sudah sepatutnya dia datang lebih awal, setidaknya datang tepat waktu. Sebagai teladan bagi para karyawan yang bekerja padanya.
__ADS_1
"Nissa, ambil semua laporan yang diperlukan. Lima belas menit lagi tuan Haykal tidak datang. Kita kembali ke kantor pusat. Saya minta tolong, kamu periksa semua data yang ada. Jika perlu kamu minta bantuan pak Fahmi dan Nur. Besok pagi, aku ingin semua sudah selesai!" titah Embun lirih, Nissa mengangguk pelan.
Nissa berdiri mengambil semua laporan dari para kepala staf. Nampak semua staf menunduk menahan napas. Mereka tidak percaya, Embun begitu cerdas dan tegas. Jiwa pemimpin yang tak pernah mereka lihat dari Haykal. Ketegasan yang penuh tanggungjawab. Disiplin yang bukan hanya kata, tapi dengan tindakan nyata. Kecerdasan Embun terdengar dari cara bicara. Embun membuat para staf tak berkutik. Mereka merasa bersalah, tapi semua terlanjur terjadi. Mereka sudah membuat Embun marah.
"Bu, semua laporan sudah saya terima!"
"Baiklah Nissa, tolong kamu periksa. Saya akan membantumu, tapi saya kerjakan dari rumah. Besok pagi, semua harus selesai!" ujar Embun lantang dan tegas, Andi semakin gelisah mendengar perkataan Embun. Secara sembunyi-sembunyi Andi sudah menghubungin Haykal. Tanpa Andi menyadari, jika Embun dan Haykal memiliki hubungan yang tidak biasa.
Embun menunggu Haykal hampir setengah jam. Sedangkan rapat belum juga dimulai. Embun menepati janjinya, dengan tetap menunggu Haykal. Nissa melihat raut wajah cemas para staf. Jelas mereka takut akan posisi yang siap diganti oleh Embun. Bahkan Nissa melihat tangan beberapa orang bergetar. Nissa kembali menatap laptop yang ada di depannya. Embun dan Nissa dua pribadi yang hampir sama. Mereka sama-sama disiplin dalam hal pekerjaan.
Sreeekkk
"Maaf, saya tidak bisa menunggu lagi!" ujar Embun, sesaat setelah mendorong kursi. Embun berdiri tepat di hadapan semua orang. Nissa dan Via berdiri mengikuti Embun.
"Sampai kapan saya harus menunggu tuan Haykal? Seorang pemimpin tidak seharusnya terlambat. Dia harus memberikan contoh yang baik. Bukan malah menunjukkan sikap tidak disiplin. Jika pemimpin kalian saja tidak disiplin, bagaiman kalian bawahannya? Pantas saja, beberapa proyek gagal dan mengalami kerugian. Saya mengerti, semua berawal dari sikap tidak disiplin kalian!"
"Bu, maafkan kami. Percayalah, kami takut akan amarah tuan Haykal. Beliau tidak akan memaafkan kami. Seandainya rapat hari ini berlangsung tanpa menunggunya!" sahut Andi, Embun menatap tajam Andi. Embun berdiri tepat di depan Andi.
"Kalian takut akan amarah tuan Haykal, tapi kalian tidak takut kehilangan pekerjaan. Mungkin kalian tidak mengenal saya, tapi sebagai perwakilan perusahaan Adijaya. Pemilik 60% saham di perusahaan ini. Saya berhak mendisiplinkan kalian semua. Jika kalian merasa tuan Haykal pemimpin yang baik. Dia tidak akan terlambat dan membiarkan kalian menghadapi saya sendiri!" ujar Embun dingin dan tegas, Andi langsung menunduk. Tiba-tiba Nissa menunjukkan sebuah email, entah tentang apa? Namun raut wajah Embun langsung berubah merah. Seakan Embun tengan menahan amarah.
"Darimana kamu mengetahui laporan itu?"
__ADS_1
"Salah satu staf keuangan perusahaan ini teman kuliahku!" sahut Nissa lirih, Embun mengangguk mengerti. Embun berdiri tepat di depan Andi.
"Bukankah anda kepala bagian divisi keuangan!" ujar Embun, Andi mengangguk pelan.
"Sebelum saya membuat laporan kepolisian. Sebaiknya anda perbaiki laporan yang anda buat dan pertanggungjawabkan dana yang anda ambil dari perusahaan ini!"
"Bukan saya bu, saya hanya disuruh!"
"Siapa?" sahut Embun lantang dan dingin, Andi gemetaran. Kesalahannya telah ditemukan oleh Embun dengan begitu mudah. Sekarang bayangan jeruji besi menantinya.
"Siapa?" teriak Embun, Andi langsung menunduk. Embun benar-benar marah melihat kecurangan yang terjadi.
"Nissa, segera buat laporan kepolisian. Diamnya sekarang, akan membuatnya merasakan dingin penjara!"
"Baik bu!" sahut Nissa tanpa ragu, Andi menggelengkan kepala. Nampak kedua tangannya tertangkup. Memohon belas kasihan Embun, agar dirinya tidak dilaporkan.
"Siapa yang memintamu melalukan kecurangan ini?" ujar Embun lirih, lalu menghitung mundur. Andi tak mampu bicara, tapi tetap diam hanya membuatnya dalam masalah.
"Maaf bu!"
"Siapa?" sahut Embun lantang, suara yang langsung membuat Rafan terbangun dalam gendongannya.
__ADS_1
"Aku!" sahut Haykal lantang.