
"Kamu sudah datang!" Ujar Fahmi, Abra hanya berdehem. Tubuhnya ada di kantor, tapi hatinya tertinggal di rumah.
Hampir tiga hari Abra cuti dari kantor. Ini hari pertama Abra bekerja dengan status yang berbeda. Hampir seluruh karyawan Abra mengetahui pernikahan Abra. Namun tak satupun dari mereka yang mengenal sosok istri bos besar mereka. Tak ada acara besar dalam pernikahan Abra. Semua sangat sederhana dan terkesan pribadi. Meski seperti itu, pernikahan Abra tetap menjadi trending topik di kantor. CEO tampan dan dinginnya telah termiliki, hampir semua orang ingin mengenal wanita hebat yang mendapatkan hati Abra.
"Tuan besar!"
"Ada apa Fahmi?" Sahut Abra, Fahmi langsung duduk di depan Abra.
"Apa menikah bisa membuat orang kehilangan akal? Lihat dirimu sekarang, pikiran dan hatimu tidak sejalan!"
"Memangnya kenapa aku?"
"Sejak tadi aku mengetuk pintu, bukan menyahut kamu malah diam saja. Saat aku sudah di dalam, kamu hanya berdehem dan tidak peduli akan panggilanku!" Tutur Fahmi kesal, Abra mendongak menatap Fahmi.
Abra bersandar pada kursi kerjanya. Menatap Fahmi yang tengah kesal padanya. Tatapan Abra seakan tidak peduli pada perkataan Fahmi. Sebaliknya Abra merasa aneh melihat Fahmi yang datang dengan kekesalan. Fahmi mendengus kesal, melihat Abra yang tidak peduli padanya.
"Sekarang aku sudah menatapmu, katakan apa yang kamu inginkan?"
"Terserah kamu, intinya kita harus rapat. Dia sudah menunggu kita!" Ujar Fahmi, Abra hanya mengangguk pelan.
Abra hanya memikirkan Embun, penolakan keluarganya nyata. Meninggalkan Embun sendirian di rumah bukanlah hal yang benar. Seadainya Embun bersedia ikut dengannya ke kantor. Tentu Abra akan lebih tenang, sebab Embun akan baik-baik saja bersamanya.
"Abra!" Teriak Fahmi, Abra langsung menoleh. Fahmi hanya bisa menggelengkan kepala. Abra benar-benar tidak fokus, entah apa yang sedang dipikirkan Abra? Sampai Abra melupakan orang yang disekitarnya.
"Dasar cerewet!" Gerutu Abra, Fahmi melangkah lebih dulu. Abra mengekor di belakangnya. Ruang rapat tidak begitu jauh dengan ruang kerja Abra. Dengan langkah pelan, Abra mengikuti Fahmi yang terlihat begitu bersemangat.
Kreeeekkkk
"Maaf, kami terlambat!" Ujar Fahmi, sesaat setelah membuka pintu. Abra berjalan sembari menunduk. Abra terus berjalan sampai kursi tempatnya duduk. Abra tidak mengindahkan pandangan tamu yang sudah lama menunggunya.
"Apa kabar kak Abra?"
__ADS_1
"Clara Lexa Viviana!" Sahut Abra terkejut, melihat wanita cantik nan anggun yang tengah berdiri tepat di sampingnya.
Abra menatap tajam Clara, begitulah wanita cantik itu dipanggil. Terutas senyum manis di wajah Clara. Fahmi diam melihat pertemuan Abra dan Clara. Bukan pertemuan pertama kali, tapi pertemuan pertama setelah berpisah selama sepuluh tahun lebih. Pertemuan dua sahabat yang terjalin di kala masa kuliah. Abra dan Clara bagai dua mata uang, saling membelakangi. Namun takkan lengkap bila tidak ada salah satu.
"Apa kabar Clara?" Sapa Fahmi, Clara mengangguk pelan. Fahmi mengulurkan tangannya, sedangkan Clara menyambut dengan hangat tangan Fahmi.
"Aku baik-baik saja, lama tidak bertemu Fahmi!" Sahut Clara, Fahmi tersenyum. Sebaliknya Abra terdiam, menatap Clara yang tiba-tiba ada di depannya. Clara yang dulu pergi tanpa pamit. Kini ada tepat di depannya.
"Abra, aku harap kamu baik-baik saja. Aku mendengar tentang pernikahanmu. Sesungguhnya aku berharap kamu mengundangku. Namun menurut om Haykal pernikahanmu digelar tertutup!"
"Kamu tahu tentang pernikahanku!" Ujar Abra, Clara mengangguk.
Abra duduk di tempatnya, Clara juga duduk tepat di sisi kiri Abra. Fahmi duduk berhadapan langsung dengan Clara. Lama semua terdiam, ruang rapat yang semula riuh akan pertemuan tiga sahabat. Tiba-tiba sunyi, saat Clara menyinggu tentang pernikahan Abra.
"Abra, aku ucapkan selamat atas pernikahanmu. Kelak aku ingin bertemu dengan istrimu. Wanita yang beruntung menjadi pendamping hidupmu!"
"Terima kasih!" Sahut Abra dingin, lalu memulai rapat dengan Clara.
"Baiklah Clara, aku akan meminta Fahmi memperbaiki beberapa poin dalam kontrak. Setelah semua siap, aku akan meminta Fahmu menyerahkannya padamu. Lalu setelah kamu memeriksanya, kita akan memulai proyeknya!"
"Baik Abra, aku percaya sepenuhnya padamu!" Ujar Clara, sembari mengulurkan tangan ke arah Abra.
Dengan sopan, Abra menerima uluran tangan Clara. Abra bersikap profesional, dia tidak pernah mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan pribadi. Abra tetap menyambut hangat Clara. Tidak ada rasa kecewa yang dulu pernah ada. Fahmi mengutas senyum, melihat hangat pertemuan Abra dan Clara.
"Jangan terlalu lama berjabat tangan, takutnya khilaf!" Ujar Fahmi, Abra dan Clara langsung melepaskan tangan.
"Maaf!" Ujar Clara canggung, Abra diam tanpa kata. Abra mencoba menjaga jarak dengan Clara. Dia tidak ingin menghidupkan rasa yang mulai padam.
"Fahmi, antar Clara keluar!" Ujar Abra, Fahmi mengancungkan jempol kakinya. Clara merasakan dingin dan jarak yang dibangun Abra. Hubungan yang pernah hancur, seakan tak ingin kembali membaik.
Braakkk
__ADS_1
"Abra, antar pulang Clara!" Titah Haykal, bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
"Tidak perlu, Clara bisa pulang sendiri!"
"Biarkan Abra yang mengantarmu. Gunawan baru saja menghubungiku. Dia mengundangku makan malam. Sayangnya aku ada acara. Jadi biarkan Abra mengantarmu, nanti sekalian menggantikanku makan malam bersama keluargamu!" Ujar Haykal santai, Abra langsung menoleh. Abra jelas menolak permintaan Haykal dengan sorot tatapan yang tajam.
"Terima kasih, Clara bisa pulang sendiri. Nanti Clara sampaikan pada papa. Jika om Haykal tidak bisa datang!"
"Clara benar, papa yang diundang. Kenapa aku yang harus datang? Lagipula aku ada rapat dengan Fahmi!"
"Fahmi, apa benar Abra ada janji rapat!" Ujar Haykal, Fahmi langsung menggeleng. Kejujuran Fahmi menjadi bumerang bagi Abra.
"Clara permisi lebih dulu, sebab masih ada janji dengan orang lain!" Ujar Clara mengelak, penolakan Abra akan semakin terasa sakit. Seandainya Clara tetap berada di dalam ruangan yang sama dengan Abra.
"Baiklah Clara, kamu bisa pulang sendiri. Setidaknya Abra bisa mengantarmu sampai pintu masuk kantor ini!" Ujar Haykal final, Abra langsung menghela napas. Sepintas Abra melotot ke arah Fahmi. Sebab kejujurannya yang membuat Abra harus mengantar Clara.
"Apa yang sebenarnya papa rencanakan? Jangan sampai, Clara wanita yang hendak dijodohkan denganku!" Batin Abra bingung.
Clara dan Abra berjalan keluar, langkah kaki mereka sama. Ketampanan Abra sebanding dengan keanggunan Clara. Kepintaran keduanya tak lagi bisa diabaikan. Seandainya mereka bersatu dalam satu perusahaan. Tentu mereka akan menjadi tim yang kuat dan sukses.
"Abra, terima kasih sudah mengantarku!" Ujar Clara, Abra hanya diam sembari menatap Clara.
"Hati-hati di jalan!" Ujar Abra, Clara mengangguk pelan. Clara berjalan menjauh dari Abra. Sedangkan Abra memutar tubuhnya dan kembali menuju ruangannya.
"Abra!" Panggil Clara lantang, sontak Abra menoleh. Abra menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah Clara.
"Seandainya aku menemui satu detik lebih awal dari istrimu. Mungkin aku sudah menjadi bagian dari hidulmu!" Ujar Clara, Abra terdiam mencoba mencari maksud dari perkataan Abra.
"Clara, kita sudah berbeda. Tidak ada alasan, kita menjadi satu. Satu detik lebih awal atau satu detik setelahnya. Tetap saja, dia yang menikah denganku. Sebab dia wanita yang menenangkan hatiku. Dia yang membuatku sadar, bahagia itu ada dan cinta itu indah!" Ujar Abra, lalu kembali menuju ruangannya.
"Kamu sangat mencintainya Abra!" Batin Clara sendu.
__ADS_1