KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sadarkan Diri


__ADS_3

"Kak!" ujar Embun dengan suara lemahnya. Tangan Embun membelai kepala Abra yang tengah tertidur di sampingnya. Abra tidur dengan berpangku pada kedua tangan kekarnya.


Embun membuka matanya perlahan, hanya sepi yang nampak di sekelilingnya. Suara hembusan napas Abra terdengar menggema di seluruh ruangan Embun. Menghapus sepi yang tercipta dalam ruangan Embun. Abra menjaga Embun tanpa meninggalkannya sedetikpun.


"Sayang, kamu sudah sadar!"


"Hmmm!" sahut Embun sembari mengedipkan kedua mata indahnya.


Abra berdiri menatap nanar Embun, wajah pucat dan mata sayu Embun membuat tubuh Abra lemas. Abra merasa tak berdaya, sekadar meringankan sakit yang di derita Embun selama ini. Embun menahan rasa sakit demi sang buah hati. Bukti cinta dirinya dan Embun. Harta berharga yang takkan bisa diganti dengan apapun.


Cup


Abra mengecup kening Embun dengan lembut penuh kasih sayang. Abra sangat merindukan Embun, keras kepala dan amarah Embun. Bak hembusan angin hangat dalam dingin jiwa dan perasaannya. Abra benar-benar tak berdaya, tubuhnya seolah tak bertenaga. Dia hanya ingin menghujani Embun dengan cinta. Sama halnya saat ini, Abra mengecup kening Embun dengan lembut penuh hangat dan cinta tulusnya.


"Terima kasih sayang!" ujar Abra, lalu mencium kening Embun lagi.


Setetes bening air mata jatuh di pelupuk matanya. Abra tak mampu menahan rasa rindunya, melihat dua mata Embun terbuka. Seolah bahagia tengah jatuh menimpa tubuhnya. Harapan seorang suami yang gelisah menanti sebuah cinta dari istri yang dirindukannya. Abra menggenggam erat tangan Embun. Seakan tak ingin jauh dari Embun, bahkan tak ingin Abra jauh dari bayangan Embun. Tetes demi tetes air mata haru Abra jatuh membasahi pipi Embun. Abra benar-benar bahagia telah melihat Embun tersadar.


"Kak, bagaimana putra kita?" ujar Embun lemah, Abra melepaskan ciumannya. Dengan lembut Abra menyeka air mata yang jatuh membasahi pipi Embun.


Abra menggenggam erat tangan Embun, dengan penuh cinta dan rasa terima kasih. Abra berulang kali mencium tangan Embun. Abra merasa kebahagiannya telah lengkap. Keluarga kecilnya telah utuh, dengan sekuat tenaga Abra akan menjaga dua orang yang paling berarti dalam hidupnya. Hadiah paling indah selama hidupnya. Kelahiran seorang putra yang begitu didambakannya.


"Kak, kenapa diam?" ujar Embun lirih, tubuhnya masih sangat lemah.


"Dia baik-baik saja, tapi dia masih ada di NICU. Kita tidak bisa melihatnya!" ujar Abra, Embun mengedipkan kedua mata indahnya.

__ADS_1


Tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak. Tulang belulangnya seolah remuk dan tak sanggup berdiri. Embun merasa lemah, tak ada kekuatan untuknya bangkit dan berdiri. Setidaknya Embun ingin duduk, tapi tubuhnya benar-benar lemah. Embun merasa tak ada tenaga dalam dirinya.


"Pasti setampan kakak!" ujar Embun, Abra langsung menggeleng.


Abra mencium kening dan tangan Embun. Seolah Abra tak merasa cukup, Abra selalu ingin menghujani Embun dengan cinta dan rasa terima kasih. Beberapa hari mata Embun tertutup, seolah setahun sudah Embun tertidur. Abra merasa lega dan bersyukur, melihat Embun kembali dengan binar indah di mata indahnya.


"Dia mirip dirimu, matanya indah dan teduh seperti dua mata indahmu. Bibirnya merah dan tipis, persis seperti bibirmu. Sedangkan hidungnya mancung sepertiku!"


"Hidungku juga mancung!" sahut Embun, Abra mengangguk mengiyakan. Abra langsung tidur tepat di samping. Abra menenggelamkan kepalanya di samping lengan Embun. Tangan Abra memeluk Embun dengan begitu lembut.


"Aku merindukanmu sayang, aku merindukanmu!" ujar Abra lirih, Embun mengangguk sembari mengelus lembut kepala Abra. Harum rambut Abra, mengingatkan Embun akan kenangan yang pernah ada diantara keduanya.


"Maaf, aku membuat kakak cemas!" ujar Embun, Abra menggelengkan kepala.


"Aku tidaklah hebat, tapi putramu yang kuat. Dia alasan kuatku, ketika menahan rasa sakit. Setiap gerakan yang dia lakukan. Menyadarkanku akan sebuah dorongan. Jika aku tidak pernah sendiri. Dia ada bersamaku, merasakan sakit yang menggerogotiku. Putramu tumbuh dengan cinta dan kasih sayangmu. Dia penggantimu yang akan menemaniku melawan rasa sakit. Namun sepertinya aku dan putramu kalah. Rasa sakit ini mengalahkan kami, sampai akhirnya aku tumbang dan membuatmu cemas!" ujar Embun dengan suara lemahnya. Abra mendongak menatap Embun.


"Sayang, terima kasih. Kamu berjuang demi putra kita. Aku tidak akan melupakan rasa sakitmu!" ujar Abra lirih, sembari menutup mata.


"Kak Abra, aku bertahan demi dia buah cinta kita. Jangan pernah merasa bersalah. Waktu kita masih panjang. Curahkan kasih sayang padanya. Agar dia bisa merasakan keluarga yang utuh!" ujar Embun.


"Aku mencintaimu sayang!"


"Aku jauh lebih mencintaimu, sebab itu aku sanggup menahan rasa sakit ini!" ujar Embun, sembari menutup mata. Abra menarik tangan Embun, mencium lembut tangan Embun. Abra tak ingin meninggalkan Embun meski sesaat.


"Kak, aku ingin ke kamar mandi. Bisa bantu aku turun!" ujar Embun, Abra langsung berdiri.

__ADS_1


Dengan hati-hati Abra membantu Embun duduk. Rasa sakit setelah operasi, jelas membuat Embun tak berdaya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Embun merasakan rasa sakit yang teramat. Seolah-olah setiap kulitnya terkelupas dan lepas dari tubuhnya. Sesekali terdengar rintihan Embun. Abra tak sanggup menatap raut wajah Embun yang menahan sakit. Abra benar-benar tak menyangka, rasa sakit pasca operasi membuat Embun tak berdaya.


"Sayang, kamu tidak perlu ke kamar mandi. Kamu bisa buang air kecil di sini. Aku akan menyiapkannya!" ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya.


Jelas Embun menolak permintaan Abra. Sebagai seorang istri, Embun tidak ingin bersikap tak pantas pada Abra. Walau semua mungkin benar, sebab kondisi Embun sedang tidak baik-baik saja. Namun Embun takkan mampu melakukan semua itu. Dia merasa durhaka, seandainya Abra benar-benar membersihkan buang air kecilnya.


Dengan menahan rasa sakit, Embun menurunkan satu per satu kakinya. Kedua tangannya mengalung erat di pundak Abra. Embun berusaha berdiri dengan kedua kakinya. Namun rasa sakit seakan tak mengizinkan Embun berdiri. Embun kesakitan dan menjerit, rasa sakit yang membuat kondisi Embun terlihat memburuk.


"Sayang!" ujar Abra lirih, Embun tetap menggelengkan kepalanya.


"Aku pasti bisa kak, jangan buat aku durhaka. Permintaanmu tidak pantas dilakukan seorang suami. Biarkan aku berusaha, jadilah penopang di setiap langkahku. Semua itu sudah cukup, aku tidak mengharapkan yang lain!"


"Kalau begitu aku akan menggendongmu!" ujar Abra tegas.


"Aku gendut, pasti berat!" rengek Embun, Abra tersenyum simpul.


"Aku alasan tubuh gendutmu. Jadi biarkan aku bertanggungjawab!" ujar Abra, lalu mengangkat tubuh Embun.


"Aaaa!" teriak Embun, kedua tangannya langsung mengalung erat di leher Abra.


Cup


"Aku mencintaimu sayang, jangan pernah tinggalkan aku!" ujar Abra, sesaat setelah mencium bibir merah Embun. Seketika Embun menunduk malu.


"Aku sangat mencintaimu kak!" batin Embun

__ADS_1


__ADS_2