
"Kopi!" ujar Embun, sembari memberikan secangkir kopi pada Rizal.
Rizal mengangguk pelan, lalu menerima kopi manis buatan Embun. Sebuah senyum terutas di bibir Embun. Tatkala Rizal menyeruput kopi buatannya. Embun merasa bahagia melihat adik angkatnya yang ada di sampingnya. Meski hubungan keduanya hanya sebatas persaudaraan tanpa ikatan darah. Embun dan Rizal saling menyayangi dengan batasan yang ada. Kasih sayang yang ada diantara adik dan kakak. Seperti rasa penasaran Embun akan rasa Rizal pada Aira saudara perempuannya.
"Katakan rasa penasaranmu, jangan hanya tersenyum menatapku!" ujar Rizal, saat merasakan senyum Embun yang terlihat aneh.
"Jika kamu sudah mengerti, kenapa tidak menjawabnya? Malah membiarkan aku terus penasaran dengan kejujuranmu tadi!" sahut Embun dingin, Rizal terkekeh mendengar perkataan Embun.
Embun dan Rizal duduk di teras rumah megah Abra. Selama tiga hari ke depan, Rizal akan tinggal di rumah keluarga Abra. Rizal kini menjadi tamu penting Abra. Mengingat akan ada proyek besar dengan Rizal dan Arya. Alasan yang membuat Rizal datang ratusan kilometer. Rafan dan Hanna sudah keluar dari rumah sakit. Hanya saja mereka tinggal di rumah Nur. Embun tidak melarang, bagaimanapun Fahmi dan Nur juga berhak merawat cucu pertamanya? Tinggalah Rizal, Abra dan Embun di bawah atap yang sama.
"Sayang, kenapa kamu begitu penasaran mendengar pengakuan Rizal? Aku rasa, Rizal berhak mencintai Aira!" sahut Abra, sembari membawa secangkir kopi susu kesukaannya. Abra berjalan keluar, Embun dan Rizal langsung menoleh ke arah Abra. Sedangkan Abra langsung duduk di samping Embun.
"Aku hanya bertanya, bukan menyalahkan atau melarang!" sahut Embun dingin, Abra langsung terdiam. Rizal terkekeh melihat pertengkaran Abra dan Embun yang penuh kemesraan. Rizal merasa bahagia melihat sikap dingin Embun yang menghangat kepada Abra.
"Kenapa kalian malah bertengkar?"
"Kamu penyebabnya!" ujar Embun sinis, Rizal mengangguk pelan. Abra menggeleng lemah, dia menyerah dengan sikap Embun yang begitu teguh ingin mengetahui kisah cinta terpendam Rizal.
__ADS_1
Rizal mengiyakan perkataan Embun. Perlahan Rizal meletakkan cangkir kopi di atas meja. Rizal menghela napas panjang. Tak berapa lama, terlihat Rizal menunduk. Abra dan Embun semakin heran, melihat sikap Rizal yang tak biasanya. Seorang ustad hebat, diam membisu tatkala ditanya tentang kisah cintanya.
"Apa yang ingin kakak ketahui tentang kisahku?" ujar Rizal lirih, sembari menoleh ke arah Embun. Nampak Embun mengeryitkan dahinya tak mengerti. Pertanyaan Rizal semakin membuat Embun penasaran. Seolah kisah cinta Rizal pada Aira menyimpan banyak rahasia.
"Maksudmu?" sahut Embun singkat, Rizal menunduk. Tangannya saling menggenggam satu sama lain. Rizal seolah mencari kepercayaan diri. Rizal benar-benar bingung menjawab pertanyaan sederhana Embun. Kejujuran yang begitu mudah terucap, tapi Rizal terlalu takut menjawabnya.
"Kakak ingin mengetahui, kenapa aku mencintai Aira dan menyimpan rasa ini untuknya? Meski aku menyadari, rasa ini tak mungkin bersambut. Atau kakak ingin mengetahui, kenapa aku tak pernah mengatakannya pada siapapun? Termasuk Abah dan Umi, orang tua yang paling menyayangiku dan berharap aku segera menemukan pendamping hidup. Namun dengan bodohnya aku menyimpan rasa ini untuk satu nama!"
"Rizal, kenapa aku merasa kamu begitu sulit untuk mengatakannya? Jujur Rizal, aku tak melarang rasamu ada untuk Aira. Aku tak pernah meragukan ketulusan rasamu untuk adik perempuan. Satu hal yang mengganjal dalam benakku. Sejak kapan rasamu ada? Kenapa aku tak pernah menyadari rasamu itu? Bahkan di atas segala perbedaan, kenapa harus Aira?" tutur Embun, Rizal diam membisu. Abra menepuk pelan tangan Embun yang mendingin.
Abra bisa melihat kecemasan Embun. Seorang kakak yang tidak ingin melihat adiknya terluka, akan penolakan dari adiknya yang lain. Embun tak pernah membayangkan, jika Rizal mencintai Aira. Seorang wanita yang tak sepadan dengan Rizal. Baik secara garis keturunan, usia dan iman. Meski sesungguhnya tidak pernah ada perbedaan di dunia. Semua sama di hadapan-NYA, hanya ketakwaan dan iman yang membuat setiap orang berbeda.
"Kak, Aku menyimpan rasa untuk Aira sejak dia masih SMP. Aku menganggumi keimanannya, sejak pertama kali dia menjadi muridku. Khumaira Nabila Ikhsani, nama indah yang tersimpan dalam hatiku. Semenjak langkah pertamanya di pesantren. Mungkin rasa ini salah, tapi aku sudah mencoba menguburnya. Aku mencoba membuka hati untuk banyak perempuan. Namun hati ini menolak dan terus menolak. Hanya dia yang ada di hatiku!" ujar Rizal, sembari menunduk. Abra membisu, dia bisa merasakan kesulitan Rizal. Kesulitan yang pernah membuatnya putus asa, untuk hidup bersama Embun.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Abah atau Umi? Jika kamu mengharapkan Aira, setidaknya mereka bisa mengkhitbah Aira untukmu!" ujar Embun, Rizal menggelengkan kepalanya lemah.
"Kenapa?" sahut Embun tak mengerti.
__ADS_1
"Mengkhitbah Aira, artinya mengurung burung bebas dalam sangkar emas pesantren. Aira wanita hebat dengan banyak cita-cita mulia. Langkah dan niat baiknya, tidak boleh terhenti di dalam pesantren. Apalagi hidup bersama denganku, laki-laki yang tak pantas menjadi suaminya!"
"Usia!" sahut Abra, Rizal mengangguk pelan.
"Aku dan Aira lebih pantas menjadi om dan keponakan. Delapan tahun rasa yang tersimpan untuknya. Tak lantas membuat dua belas tahun perbedaan usia diantara kami menghilang. Aku dan Aira takkan mungkin bersama. Dia pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku!" ujar Rizal, Embun dan Abra diam membisu.
"Rizal, jika Aira mengiyakan pinanganmu!" ujar Embun, tapi terhenti ketika Rizal menggelengkan kepalanya pelan.
"Dia tidak akan mengiyakan pinanganku, sebab aku takkan pernah meminangnya. Aku sengaja mengatakannya pada kalian. Bukan dengan niat mengkhitbah Aira. Sejak aku mengaguminya, lalu mencintainya dan kini mengikhlaskannya. Tak pernah aku berharap ada penyatuan diantara kami. Hanya kebahagian Aira yang ada dalam doaku. Dia berhak menemukan imam terbaiknya!"
"Kamu egois Rizal, cintamu angkuh!" sahut Embun, Rizal langsung menoleh tak mengerti.
"Mungkin hatimu mampu menyimpan rasa dan nama Aira selama-lamanya dalam hatimu. Namun pernahkah kamu berpikir, jika hati Abah dan Umi tak sekuat hatimu? Mereka menginginkan seorang menantu yang mampu menjaga putranya. Rasamu angkuh, bukan tulus. Sebab cinta yang tulus takkan pernah menyiksa hati yang memilih. Seharusnya hatimu berhak mengatakannya, diterima atau ditolak. Setidaknya suara hatimu terdengar. Kamu sombong Rizal, dengan angkuh kamu mendholimi dirimu sendiri!"
"Kak Embun!" ujar Rizal tak percaya.
"Katakan pada Aira akan rasamu. Buktikan pada dunia, rasa bahagia dan sakit cinta itu indah penuh warna. Meski kamu pulang dengan penolakan, setidaknya keikhlasanmu ada setelah kejujuran. Jika kamu merasa sulit mengatakannya, biarkan aku yang mengatakan pada Aira dan papa Arya. Sudah saatnya aku menjadi seorang kakak yang baik!"
__ADS_1
"Tapi, aku takut Aira tertekan dan terpaksa menerimaku!"
"Itulah alasan aku memaksamu mengatakannya pada Aira. Bukti kepedulianmu akan kebahagian Aira. Awal pengertian seorang imam yang sangat menyayangi makmunya. Lagipula Aira takkan pernah terpaksa menerimamu. Hanya ketetapan-NYA yang membuat rasamu terbalas atau ditolak. Perjuangkan Aira di sepertiga malammu seperti delapan tahun terakhir. Sisanya aku yang mengurusnya!"