KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Amarah Abra


__ADS_3

"Abra, kenapa Embun tidak turun?" Ujar Ardi, saat melihat Abra turun sendiri tanpa Embun.


Abra langsung duduk di meja makan. Abra sendiri merasa heran dengan sikap Embun. Sejak semalam, Embun terlihat gelisah. Bahkan dalam tidur Embun mengigau. Seolah ada beban berat yang sedang dipikirkannya. Abra berusaha menenangkan Embun, tapi Embun layaknya embun pagi yang dingin. Dalam sejuknya ada dingin yang membekukan. Sebab itu Abra hanya bisa melihat, tanpa mampu menggenggam Embun yang sejatinya rapuh.


"Abra!" Panggil Ardi, Abra menoleh dengan raut wajah datar.


"Aku tidak tahu kakek, sejak semalam Embun terlihat gelisah. Saat aku mengajaknya turun, dia malah menolak. Embun hanya duduk diam di dekat jendela!"


"Kalian bertengkar!" Ujar Ardi cemas, Abra menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu!"


"Entahlah kakek!" Sahut Abra, sembari mengunyah makanan. Haykal yang sejak tadi diam, sekilas tersenyum bahagia. Dia seolah senang melihat perselisihan Abra dan Embun. Berbeda dengan Indira yang seakan memahami perselisihan antara Abra dan Embun.


"Wanita ibarat sebuah kotak misteri. Jika kamu bisa menemukan jawabannya, belum tentu dia ingin kamu mengetahuinya. Sebaliknya, jika kamu tidak bisa memahaminnya. Mungkin saja malah dia ingin kamu peduli padanya. Wanita bukan dipahami dengan pikiran, tapi dengan hati. Tanyakan pada hatimu, apa yang sedang terjadi pada Embun? Niscaya, kamu akan mengetahuinya. Sebab hati kalian terpaut!" Ujar Indira, Abra diam mendengarkan penjelasan Indira.


"Aku heran, apa yang dimiliki Embun? Sampai kalian begitu peduli padanya. Sekali saja dia diam, seolah rumah ini akan runtuh!"


"Sebaliknya Haykal, apa alasan yang membuatmu begitu membenci Embun?" Sahut Ardi, Haykal seketika menunduk.


"Siapapun akan menjadi musuh papa? Jika dia tidak sejalan dengan pemikirannya!" Sahut Ibra, Haykal langsung menatap penuh amarah ke arah Ibra.


"Jaga bicaramu Ibra. Ada batasan dalam setiap perkataan!" Sahut Haykal, Ibra mengangguk pelan.


"Sebaliknya papa, ada batasan dalam bertindak. Jangan pernah lakukan sesuatu yang membuat kehormatan papa hilang!"


"Apa maksudmu Ibra?" Ujar Ardi, Ibra memberikan sebuah berkas pada Ardi.


Ardi dengan seksama membaca isi berkas yang diberikan Ibra. Sontak kedua mata Ardi melotot, Ardi tidak percaya dengan isi berkas yang ada di tangannya. Ardi menoleh ke arah Haykal, tatapan Ardi penuh amarah. Abra merasa ada yang salah. Dengan sigap, Abra mengambil berkas dari tangan Ardi.


"Apa maksud berkas ini?" Ujar Abra tidak mengerti, Ardi menoleh ke arah Abra. Lalu menoleh ke arah Haykal.


"Tanyakan pada papa tercintamu!" Ujar Ardi, Abra menoleh ke arah Haykal.


"Apa yang aku lakukan?" Ujar Haykal tidak mengerti. Abra memberikan berkas yang ada di tangannya pada Haykal.


"Tunggu, kenapa kamu bisa mengetahui semua ini?" Ujar Haykal pada Ibra, sesaat setelah dia membaca berkas yang diberikan Abra.


"Bukan hanya aku yang mengetahuinya. Embun sudah mengetahui, jika papa dalang dibalik penghentian aliran dana renovasi sekolah!"


"Ibra, bicara yang jelas!" Ujar Abra tak mengerti, Ibra menunduk. Ada batasan yang tak seharusnya dikatakan Ibra. Jika memang Abra harus mengetahui semuanya. Itu bukan dari dirinya, melainkan dari Embun.


"Kak Abra!" Panggil Embun lirih, Abra menoleh ke arah Embun. Abra berjalan menghampiri Embun, sebaliknya Embun berdiri mematung tepat di bawah anak tangga terakhir.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Maafkan aku kak, maaf aku menyimpan rahasia besar darimu. Seharusnya aku mengatakannya sejak dulu. Namun waktu seolah tak membiarkanku mengatakan semuanya. Hari ini, aku akan mengatakan yang seharusnya kukatakan sejak dulu!"


"Sayang, apa yang kamu sembunyikan? Sepahit apapun itu, aku mohon katakan. Percayalah, aku tidak akan marah!"


"Kak!" Ujar Embun tertahan, Abra menatap lekat wajah Embun. Tersirat sebuah keraguan yang begitu sulit diungkapkan.


"Berkas yang ada di tanganmu, itu salinan aliran dana dari para donatur. Dana yang aku kumpulkan, untuk renovasi sekolah tempatku bekerja dulu. Sekolah tempatku menimba ilmu, sekolah yang mulai rusak termakan usia. Aku sengaja melakukan penggalangan dana, agar bisa merenovasi bangunan sekolah yang mulai rapuh. Berharap dana yang aku kumpulkan mampu menjadi asa baru bagi anak-anak di desaku. Sebuah hadiah kecil yang aku tinggalkan sebelum aku pergi dari desa kecilku!"


"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku? Aku bisa membantumu, setidaknya demi anak-anak di desamu!" Ujar Abra kecewa, Embun menunduk lesu. Merasakan jelas rasa kecewa Abra.

__ADS_1


"Aku tidak ingin membebanimu dengan impianku!"


"Tapi kamu mampu mengatakannya pada Ibra. Apa kamu lebih suka meminta bantuannya? Ataukah kamu lebih percaya pada Ibra!" Ujar Abra lantang, Embun mendongak seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Kak Abra, kakak salah paham. Embun tidak pernah mengatakan apapun padaku. Aku mengetahuinya sendiri!" Ujar Ibra, mencoba membela Embun.


"Diam kamu!" Ujar Abra sembari menunjukkan tangan ke arah Ibra. Haykal dan Ardi cemas, melihat pertengkaran yang siap terjadi.


"Terserah kakak, apapun pendapat kakak aku akan terima. Namun percayalah, diamku bukan untuk mengacuhkan kasih sayangmu. Aku ingin semua terjadi dengan kerja kerasku, bukan bantuan orang lain!"


"Aku memang orang lain bagimu!" Ujar Abra lirih, Embun diam membisu. Kekecewaan Abra semakin besar. Abra salah paham dengan perkataan Embun.


"Abra, bukan itu maksud Embun. Sebenarnya kakek tahu tentang penggalangan dana itu. Namun saat kakek menawarkan bantuan, Embun dengan skopan menolaknya. Dia tidak ingin memanfaatkan hubungan dengan keluarga Abimata!"


"Tapi aku suaminya, bukan orang lain!" Ujar Abra lirih, Ardi mengangguk sembari menepuk pelan pundak Abra. Berharap Abra bisa mengerti alasan dibalik diam Embun.


"Seandainya aku tidak takut direndahkan oleh keluargamu. Mungkin kakak orang pertama yang akan kuberitahu. Namun status kita yang berbeda, tatapan sebelah mata keluarga besarmu. Membuatku sadar, jika aku bukan siapa-siapamu saat itu? Aku memang angkuh, berpikir aku mampu melakukan semuanya tanpamu. Namun pendapatku salah, ada harga mahal yang harus aku bayar saat menjadi menantu keluarga Abimata!" Tutur Embun, Abra menoleh heran. Merasa perkataan Embun sebuah isyarat. Jika hubungan diantara mereka, menjadi beban bagi Embun.


"Sayang, apa maksudmu?"


"Abra, tenangkan dirimu. Biarkan Embun mengatakan semuanya. Ingat Abra, apa yang kamu dengar? Belum tentu sesuai penilaianmu!" Ujar Ardi, Abra menggelengkan kepalanya pelan. Abra benar-benar tidak mengerti.


"Abra, papa sudah mengingatkan dirimu. Status kita dengannya berbeda, dia tidak pantas menjadi menantuku!"


"Tuan Haykal, mungkin aku bukan menantu idamanmu. Namun aku juga bukan orang sepertimu. Seseorang yang mampu berbuat hina, hanya demi keangkuhan semata!"


"Tutup mulutmu, kamu sadar sedang bicara dengan siapa?"


"Iya aku sadar, aku bicara dengan tuan Haykal Abimata yang kaya dan angkuh. Seseorang yang berpikir, harta mampu membeli segalanya. Bahkan membeli harga diri dan kebaikan seseorang. Dengan bangga anda menggunakan kekayaan, membeli hari nurani orang-orang yang membantuku. Hanya agar aku sadar, jika aku tak lebih dari pengemis dihadapanmu!" Tutur Embun lantang dan tegas, Abra menoleh menatap tak percaya.


Ardi terdiam melihat amarah Embun, rasa sakit yang seolah benar. Setelah semua yang dilakukan Haykal pada Embun. Rasa hormat yang menghilang dan tak pantas lagi diterima Haykal sebagai seorang ayah mertua. Ardi duduk menjauh, dia tidak ingin ikut campur. Ardi percaya, Embun mampu menyelesaikan semuanya sendiri.


"Sayang, tenanglah!"


"Kakak mungkin bisa tenang, tapi apa aku harus tenang? Ketika melihat anak-anak desaku terancam putus sekolah. Apa aku harus bersabar? Menerima sikap tuan Haykal yang melebihi batas. Aku diam dan terus menghormatinya, semua demi ingin melihat tenangmu. Namun kesabaran seseorang ada batasnya. Aku akan diam, seandainya tubuhku yang terluka. Namun dengan teganya, tuan Haykal menghentikan renovasi. Hanya demi menyakitiku!" Ujar Embun lirih, sontak Abra menarik tubuh Embun. Mendekap erat tubuh mungil Embun yang bergetar hebat. Amarah dan rasa sakitnya begitu jelas. Abra merasa sesak mendengar isak tangis dan suara Embun yang bergetar.


"Papa, apa yang ingin kamu buktikan?"


"Abra, papa tidak melakukan apapun!"


"Bohong, anda meminta para donatur menghentikan sumbangan mereka. Anda mengancam mereka dengan kekuasaan anda!" Teriak Embun histeris, Abra meradang mendengar teriakkan Embun.


"Sayang, tenanglah aku ada di sampingmu!" Ujar Abra, sembari menangkup wajah Embun. Mencoba menenangkan Embun, bukan demi Haykal. Abra hanya takut terjadi sesuatu pada Embun.


"Tapi!" Ujar Embun di sela isak tangisnya.


"Husssttt, selama ada aku. Percayalah, semua akan baik-baik saja!" Ujar Abra, sembari menutup mulut Embun dengan telunjuknya.


"Tante Indira, bisa minta tolong antar Embun ke kamar!" Pinta Abra, Indira mengangguk pelan.


Indira berjalan menghampiri Embun, dengan penuh kelembutan. Indira menggandeng tangan Embun, tapi Embun hanya diam mematung. Embun menoleh ke arah Abra, seakan tidak ingin pergi meninggalkan Abra.


"Sayang, aku akan menyelesaikannya dengan papa. Istirahatlah, tenangkan dirimu. Apa yang dimulai oleh papa? Akan aku akhiri sekarang juga!" Ujar Abra lirih, lalu mengecup kening Embun lembut.


Tap Tap Tap

__ADS_1


Langkah Embun terdengar menjauh. Abra menghela napas, mencoba menenangkan diri. Ardi dan Ibra merasa hawa yang tidak biasa. Sebuah amarah yang siap meledak, menjadi awal kehancuran sebuah keluarga. Haykal terdiam, menatap punggung Abra yang menyimpan amarah. Sekilas Haykal melihat tatapan penuh amarah Abra. Sebuah bom yang siap meledak menghancurkan pondasi keluarga Abimata.


"Abra, papa tidak melakukan apapun? Dia hanya mengada-ada. Wanita itu ingin melihat pertengkaran kita. Percayalah, papa tidak melakukan semua itu. Dasar wanita desa, dia benalu dalam keluarga kita!" Ujar Haykal lantang, Abra menunduk menatap lantai tempatnya berpijak. Kedua tangannya mengepal dengan begitu erat.


Praaaaayyyyrrrr


Abra melempar ponsel pintarnya ke sembarang arah. Suara pecahan ponsel, menggema ke seluruh rumah. Amarah Abra benar-benar tak lagi bisa dikendalikan. Abra kecewa, dengan perbuatan Haykal. Perkataan Haykal yang malah memojokkan Embun. Semakin membakar amarah Abra. Kekecewaan teramat besar akan sosok ayah yang membesarnya. Membuat Abra emosi, bukan sebuah didikan akan kebaikan yang ditunjukkan Abra. Melainkan sikap tak pantas yang melukai orang lain. Abra seakan malu menjadi putra seorang Haykal Abimata yang angkuh.


"Abra, kendalikan emosimu. Kamu tidak melihat ada kakek!"


"Papa yang seharusnya diam, sikap papa yang membuat Abra marah. Papa orang yang paling bersalah, tapi dengan angkuhnya papa menyalahkan Embun. Apa papa tidak malu? Embun, Wanita desa tanpa harta. Wanita yang selalu papa rendahkan, bisa memiliki hati mulia. Sedangkan papa, laki-laki kota dengan limpahan harta. Tak lebih dari seorang laki-laku berhati batu dan dingin. Buta akan kesusahan orang lain, arogant dengan kekuasaan!" Ujar Abra lantang penuh emosi tepat di depan Haykal.


Plaakkk


"Abra, jangan melebihi batasanmu!"


"Papa yang melebihi batas!" Teriak Abra, Haykal meradang. Amarah Abra dan Haykal tak lagi bisa ditutupi.


"Abra!" Teriak Haykal emosi, Abra menatap Haykal dengan penuh rasa kecewa.


"Wanita itu hanya beberapa bulan di sampingmu. Namun seakan hidup puluhan tahun bersamamu. Ingat Abra, papa yang membesarkanmu. Seharusnya kamu membela papa, bukan wanita itu!"


"Cukup papa, cukup papa merendahkan Embun. Jika memang papa keberatan dia tinggal di rumah ini. Malam ini juga, kami akan pergi. Embun tanggungjawabku, aku bertanggungjawab atas hidupnya. Jika memang dia tidak diterima di rumah ini. Maka akupun harus keluar dari rumah ini!"


"Abra!" Ujar Ardi lirih, Abra menoleh ke arah Ardi. Laki-laki tua yang telah membesarkan dirinya dengan limpahan kasih sayang. Ardi yang seolah takut kehilangan Abra dan Embun.


"Kakek, terima kasih telah membesarkan Abra. Terima kasih telah mengenalkan Embun. Maafkan Abra, jika pergi menjadi jalan terakhir!"


"Berhenti Abra!" Teriak Haykal, saat melihat Abra melangkah menuju kamarnya. Abra menghentikan langkahnya, tanpa menoleh Abra menanti perkataan Haykal.


"Demi dia, kamu meninggalkan papa!"


"Jangankan pergi dari rumah ini. Demi dia Abra rela tiada. Embun yang mengajarkan Abra arti sebuah keluarga. Embun yang menunjukkan, apa itu kehangatan? Embun yang menyadarkan Abra, betapa cinta itu indah? Hidup Abra hampa tanpa nyawa, tapi setelah mengenal Embun. Abra merasa hidup itu penuh dengan keajaiban. Embun wanita desa tanpa harta, tapi hati Embun kaya dengan ketulusan!" Sahut Abra, lalu melangkah menaiki tangga.


"Baik Abra, papa akan menyelesaikan semua kekacauan ini. Papa akan meminta mereka memberikan kembali sumbangan itu. Papa mohon, jangan tinggalkan papa!" Ujar Haykal menghiba, Abra terus berjalan menuju kamarnya.


"Katakan apa yang kamu inginkan? Papa akan melakukannya!" Teriak Haykal, Abra terus menaiki tangga. Sedikitpun Abra tidak peduli akan teriakkan Haykal.


"Papa, bujuk Abra!" Ujar Haykal menghiba pada Ardi. Haykal menangkupkan kedua tangannya, bersimpuh di kaki ayah yang membesarkannya. Haykal benar-benar takut kehilangan Abra.


"Abra, jangan pergi. Setidaknya demi laki-laki tua ini!" Ujar Ardi, seketika Abra menghentikan langkahnya.


"Katakan pada putramu, minta dia datang menemui Abah Iman. Katakan padanya, untuk meminta maaf. Sebab dia telah menghina seorang putri yang diserahkan padaku dengan penuh cinta dan ketulusan!"


"Haykal kamu mendengarnya!" Ujar Ardi, Haykal mengangguk pelan.


"Satu hal lagi, minta dia mengembalikan semua donatur yang membantu renovasi sekolah!"


"Haykal akan memenuhi semua syaratmu. Jangan pernah pergi meninggalkan kami!" Ujar Ardi menghiba, Abra mengangguk pelan.


"Abra, maafkan papa!"


"Jangan pernah menyentuh Embun, setetes air matanya. Akan menjadi badai besar dalam rumah ini. Bisa saja aku merenovasi sekolah itu tanpa bantuan mereka. Namun, Embun lebih nyaman menggunakan dana dari mereka. Ingat satu hal papa, Embun jiwa putramu. Sekali Embun pergi, dia pergi membawa jiwa putramu. Jika itu terjadi, putramu akan tiada di depanmu!" Tutur Abra dingin, lalu melangkah pergi.


Duuuukkkk

__ADS_1


"Tidak, jangan tinggalkan papa!" Ujar Haykal sembari terduduk lemas. Ibra yang melihat rapuh Haykal. Langsung berhambur memeluk tubuh Haykal.


"Kenapa papa sehancur ini? Seistimewa itukah kak Abra, sampai papa rapuh dan bersimpuh demi kata maaf darinya!" Batin Ibra pilu.


__ADS_2