KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sarapan Pagi


__ADS_3

"Dimana Abra?" Ujar Abah Iman.


"Dia masih bersiap, sesudah subuh dia tidur. Maklum, pangeran keluarga Abimata tidak bisa tidur di tempat tidur yang keras!"


"Embun, jaga bicaramu!"


"Maaf!"


"Ingat Embun, dia suamimu. Abah tidak pernah mengajarkan sikap tak pantas seperti itu. Ingat Embun, Abra suami yang harus kamu hormati!" Tutur Abah Iman, Embun menunduk.


Embun merasa sedih, ketika dia melihat kekecewaan Abah padanya. Namun Embun tak mampu menutupi hatinya. Dia masih sulit menerima status yang melekat dalam dirinya. Apa yang terjadi semalam? Semakin menyadarkan Embun, statusnya kini tidak sendiri. Ada seorang suami yang harus dijaga kehormatannya. Meski Embun menolak, tetaplah Abra menjadi suami sepenuhnya. Kesucian Embun telah terenggut, mahkota terindahnya telah termiliki. Embun tak lagi bisa menampik kehadiran Abra dalam hidupnya kini. Bahkan Embun harus bernapas demi Abra.


"Maafkan Embun!" Sahut Embun, sembari menyiapkan sarapan untuk Abahnya.


Embun selalu menyiapkan sarapan terlebih dahulu untuk abah. Sebelum Embun keluar dari rumah atau melakukan kegiatan di luar rumah. Setidaknya Embun akan tenang, saat dia mengingat Abah pergi dengan perut terisi. Sebagai seorang putri satu-satunya, Embun terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Tak ada orang yang khusus dipekerjakan, untuk membantu Embun membersihkan rumah.


"Jangan pernah kecewakan abah. Hormati Abra, layaknya Embun menghormati Abah!" Ujar Abah, Embun memgangguk pelan.


Tap Tap Tap


"Duduklah Abra, makan sarapanmu. Hari semakin siang, takutnya kamu telat bekerja!" Ujar Abah, Abra duduk tepat di samping Embun.


Sekilas Abra melirik ke arah Embun, tapi tak sekalipun Embun mengangkat wajahnya. Embun seolah tak peduli akan kedatangan Abra. Kejadian semalam telah menyatukan keduanya. Namun nyata menciptakan jarak samar yang tak nampak, tapi jelas terasa. Abra merasa kalut, saat dia melihat diam Embun. Seandainya Embun marah, mungkin semua akan menjadi lebih mudah. Namun nyatanya Embun hanya diam, seolah tidak terjadi apa-apa diantara keduanya semalam?


"Hari ini Abra cuti!"


"Kenapa? Apa kamu sakit?" Ujar Abah khawatir, Abra menggelengkan kepalanya pelan. Abra menoleh ke arah Embun yang terus diam. Abah melihat jelas gelagat keduanya. Namun sebagai orang tua, Abah Iman hanya bisa mengawasi. Tanpa berhak ikut campur sedikitpun.


"Abra hanya ingin tinggal lebih lama di rumah ini!"


"Baiklah Abra, jika memang kamu baik-baik saja. Makan sarapanmu pelan-pelan, Abah harus ke ladang!"


"Terima kasih!" Ujar Abra, perlahan Abra mengambil sendok nasi. Namun dengan sigap, Embun merebutnya. Dengan penuh keramahan, Embun mengambilkan sarapan untuk Abra.


"Abah, sebentar lagi Embun menyusul. Sarapan untuk para pekerja sudah Embun siapkan. Hanya perlu membungkus beberapa lagi. Jika tidak keberatan, Abah berangkat lebih dulu nanti Embun menyusul!"


"Tidak perlu kamu ke ladang. Ada Abra di rumah, tidak pantas kamu meninggalkannya. Nanti sarapan pekerja, biar Abah minta salah satu dari mereka mengambilnya!" Ujar Abah tidak setuju perkataan Embun.

__ADS_1


"Abah, Abra tidak apa-apa ditinggal? Biarkan Embun mengantar makanannya!"


"Baiklah, terserah kalian berdua!" Ujar Abah singkat, lalu berdiri meninggalkan Embun dan Abra.


Seketika suasana terasa sepi, hanya terdengar suara sendok dan garpu. Bahkan hembusan napas keduanya, mampu terdengar jelas. Dingin yang terasa mencekam bagi keduanya. Abra hanya bisa diam menerima amarah Embun. Kejadian semalam, membuat Abra bahagia. Sekaligus kehilangan senyum Embun.


"Embun!"


"Ada apa?" Sahut Embun dingin, tanpa menoleh ke arah Abra.


"Maafkan aku, semalam aku terbawa napsu!" Ujar Abra, Embun mengangguk pelan. Lagi dan lagi Abra melihat dingin Embun. Tak sekalipun Embun menoleh ke arahnya.


Sreeekkk


Embun berdiri seraya menggeser kursi tempat dia duduk. Abra langsung menoleh, spontan Abra menahan tangan Embun. Suara geseran kursi, nyata menambah ketakutan Abra. Kehilangan Embun setelah kejadian semalam. Jelas Abra tidak akan sanggup.


"Kemana?" Ujar Abra sembari menahan tangan Embun. Seketika Embun menoleh, dengan tatapan dingin Embun menyahuti Abra.


"Dapur!"


"Setidaknya temani aku!" Ujar Abra, Embun menunduk. Dia duduk kembali di kursinya. Abra hanya bisa pasrah menerima sikap dingin Embun.


Sekitar sepuluh menit, Abra memakan sarapannya. Embun langsung berdiri, seakan dia tak ingin duduk terlalu lama di samping Abra. Sontak Abra menghela napas, amarah Embun membuat tenggorokkannya tercekik. Abra semakin kalut, melihat Embun berjalan menjauh. Dengan spontan, Abra mengejar Embun. Tangannya menarik tubuh Embun, memeluk erat dalam dekapannya. Kegelisahan hati Abra, membuatnya bersikap sedikit tak masuk akal. Abra seolah lupa akan sekelilingnya.


"Lepaskan!" Pinta Embun, Abra menggeleng lemah.


"Aku harus ke dapur!"


"Kamu marah padaku!"


"Kata siapa?" Sahut Embun, Abra menarik tubuh Embun. Lalu dengan lembut, memegang dagu Embun. Abra menatap lekat dua bola mata Embun. Sejenak keduanya larut dalam indah cinta tanpa cela.


"Aku!"


"Kenapa aku marah?"


"Kejadian semalam!" Ujar Abra, Embun tersenyum sinis. Embun melepaskan diri dari Abra. Lalu membalikkan badan, kemudian berjalan ke arah dapur. Namun Abra tidak ingin melepaskan Embun. Dengan sigap dan cepat, Abra menarik Embun masuk kembali ke dalam pelukannya. Namun kali ini, Abra memeluk Embun dari belakang. Tangan Abra melilit sempurna di tubuh langsing Embun.

__ADS_1


"Ada apa lagi?"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Jika memang kamu marah. Luapkan amarahmu, tampar aku bila perlu. Namun aku mohon, jangan hanya diam. Aku tidak sanggup menerima diam dan dinginmu!"


"Pertama, tidak ada hakku marah atas kejadian semalam. Sebab apapun yang terjadi, itu hakmu dan kewajibanku sebagai seorang istri. Amarahku dan penolakanku, malah aku membuatku durhaka padamu. Kedua, kejadian semalam membuatku sadar. Aku tidak lagi sendiri, ada batasan antara aku dengan yang bukan mukhrim. Ketiga, amarahmu semalam membuatku yakin. Kita memang berbeda dan selalu berada di dua jalan yang tak sama!"


"Sayang!" Ujar Abra lirih penuh kehangatan.


"Sejak kapan kamu memanggilku seperti itu? Sekarang lepaskan pelukanmu. Hari semakin siang, para pekerja sebentar lagi sarapan!" Ujar Embun, Abra menghela napas.


"Aku lepaskan, asalkan kamu tidak marah!"


"Terserah kamu!" Ujar Embun kesal, sembari melepaskan diri. Abra termenung menatap Embun yang begitu dingin.


"Aku ikut ke ladang!"


"Lebih baik kamu pergi ke kantor. Pak Fahmi menghubungiku, ada rapat direksi!"


"Sial, kenapa Fahmi menghubungimu?"


"Pulang atau tidak bertemu denganku lagi!"


"Tapi!"


"Pilihlah, sebelum aku berubah pikiran!" Ujar Embun tegas, Abra dia membisu.


"Baiklah aku pulang, asalkan kamu ikut aku pulang!" Ujar Abra memelas, Embun seketika menoleh tajam ke arah Abra.


"Aku harus ke ladang!"


"Aku ikut ke ladang, setelah itu kamu ikut pulang denganku. Sekalian kita pamit pada abah!"


"Fine, aku lelah berdebat denganmu!"


Cup


"Terima kasih sayang!" Ujar Abra memelas, sesaat setelah mencium pipi Embun mesra.

__ADS_1


__ADS_2