KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Amarah Arya


__ADS_3

"Kak!"


"Ada apa Arya?" Sahut Gunawan, Clara mendongak menatap Arya. Clara merasa heran, kenapa Arya terlihat begitu serius? Tidak pernah sekalipun, Clara melihat dua saudara Adiputra duduk dalam satu meja makan. Hubungan yang merenggang, tanpa Clara tahu alasannya.


"Katakan pada Haykal Abimata, berhenti menyulitkan Embun. Jika tidak, dia akan berurusan denganku!" Ujar Arya lantang dan tegas, Gunawan menatap Arya heran. Seakan dia tidak mengerti, alasan amarah Arya? Sejak dulu, Arya tidak pernah peduli akan hubungan. Lalu, kenapa hari ini Arya seolah merasa penting melindungi Embun? Wanita yang tak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Adiputra.


"Apa maksudmu?"


"Cukup katakan itu pada Haykal. Aku rasa dia akan mengerti, sebagai seorang pengusaha. Dia pasti tahu akibatnya, jika dia mengusikku!"


"Arya, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Kenapa aku merasa kamu begitu marah pada Haykal?"


"Aku sangat marah, bahkan aku siap membuatnya tiada. Jika dulu, papa bisa melakukan apapun padaku? Tanpa aku bisa melawan, tapi saat ini aku bisa menghancurkan Haykal. Jika dia mengusik Embun!"


"Om Arya, apa hubungan kalian? Kenapa kasih sayangmu begitu besar pada Embun?" Ujar Clara heran, Arya mendekat pada Clara.


"Kasih sayangku padamu memang besar, tapi ketulusan kasih sayangku kini hanya untuk Embun. Sekarang kamu pikirkan sendiri, apa hubungan diantara kami?" Sahut Arya dingin, lalu meninggalkan Clara.


Arya berjalan menjauh dari Gunawan dan Clara. Meninggalkan keluarga yang menyayanginya dengan menggoreskan luka tak bernanah di hatinya. Arya melangkah dengan begitu santainya. Sampai Gunawan dan Clara bingung, mereka tidak mengerti arti perkataan Arya. Sampai akhirnya Gunawan dam Clara tersentak kaget mendengar teriakkan Haykal.


"Arya!" Teriak Haykal lantang, suaranya menggema di dalam rumah keluarga Adiputra.


Rumah megah, semegah rumahnya. Rumah mewah yang berada beberapa blok dari rumahnya. Haykal datang dengan amarah yang siap membakar rumah keluarga Adiputra. Entah apa yang membuat amarah Haykal membuncah? Namun apapun itu, nyatanya kini Haykal datang dengan emosi yang takkan mampu ditenangkan.


"Haykal, kenapa kamu berteriak?" Ujar Gunawan cemas, Clara berlari menghampiri Haykal. Ada rasa cemas, saat mendengar Haykal mencari Arya dengan nada marah.


"Dimana Arya? Dia harus menjeleskan sesuatu!" Ujar Haykal, Gunawan menatap nanar Haykal. Kebingungan Gunawan semakin besar. Belum lama Arya mengancam Haykal. Sekarang malah Haykal yang tengah mencari Arya.


"Ada apa dengan kalian?" Ujar Gunawan heran.


Braakkk


"Lihat itu, apa yang sudah dilakukan Arya padaku?" Ujar Haykal marah, tepat setelah melempar sebuah berkas ke arah Gunawan. Sebuah berkas yang jatuh sempurna di sebuah meja kecil.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Arya melakukan semua ini?" Ujar Gunawan tidak percaya.


Gunawan bingung memikirkan sikap Arya. Sejak dulu Arya selalu bekerja tanpa emosi. Dia aka melakukan apapun? Agar bisnisnya maju dan sukses. Namun hari ini, Gunawan melihat sikap konyol Arya. Tanpa sebab atau tanpa alasan, Arya menghentikan kerjasama dengan perusahaan Gunawan. Sebuah proyek yang sudah berlangsung hampir lima puluh persen. Namun tiba-tiba dihentikan begitu saja. Jelas ada kerugian yang harus dibayar, oleh dua belah pihak. Baik Arya atau Haykal, harus menelan kerugian yang tidak sedikit. Namun kerugian itu seolah sedikit bagi Arya. Melihat keputusan bulat Arya yang menghentikan kerjasama dengan Haykal.


"Jika kamu saja bingung, apa lagi aku yang tidak tahu apa-apa? Selama ini tidak ada masalah dengan proyek. Baik aku dan Arya tidak pernah berselisih paham. Kami menjalankan bisnis ini dengan sangat baik. Sekarang, tanpa ada alasan jelas. Dia menghentikan kerjasama ini. Meski dia sadar, akan mengalami kerugian yang tidak sedikit!" Tutur Haykal cemas, Gunawan terdiam lalu menoleh ke arah Clara. Seketika Clara mengangkat kedua bahunya. Isyarat dia tidak mengetahui apa-apa?


"Sejak dulu, om Arya yang menangani proyek besar. Aku hanya menangani proyek-proyek kecil. Jadi, Clara tidak tahu apa-apa?" Sahut Clara santai, Gunawan menghela napas. Keputusan Arya salah, tapi melihat resiko yang siap diterima Arya. Jelas ada alasan penting yang mendasari keputusan Arya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Embun?" Ujar Gunawan lirih, Haykal menoleh tak percaya.


"Ada apa dengan wanita desa itu?" Ujar Haykal emosi.

__ADS_1


"Wanita desa yang baru saja kamu hina. Dia yang akan menjadi alasanku menghancurkan perusahaanmu!" Ujar Arya lantang dari lantai dua rumahnya.


Arya menopang tubuhnya dengan dua tangan berpegangan pada teralis besi pembatas. Sejak awal kedatangan Haykal, Arya sudah mengetahuinya. Sengaja Arya mengawasi kepanikan Haykal dari lantai dua. Arya seolah menikmati kebingungan dan ketakutan Haykal. Ketakutan akan kebangkrutan yang sudah direncanakan oleh Arya. Sebuah balasan atas sikap Haykal pada Embun. Kelicikan yang dibalas dengan kelicikan oleh Arya. Agar Haykal bisa merasakan sakit yang dirasakan Embun.


"Arya, apa maksud semua ini? Jelas kerugian yang kamu alami tidak sedikit. Kakak yakin, bukan hanya Embun alasanmu!" Ujar Gunawan seraya mendongak menatap Arya.


"Haykal, bagaimana rasanya? Ketika usaha yang kamu bangun dengan susah payah. Hancur hanya karena masalah pribadi!"


"Arya, kita akan mengalami kerugian yang tidak sedikit!"


"Aku tahu, tapi semua itu setimpal dengan rasa puasku melihat ketakutanmu!" Ujar Arya santai, Gunawan berjalan menaiki tangga. Namun langkahnya terhenti, ketika Arya melarangnya.


"Diam di situ, aku akan turun!"


"Baiklah!" Sahut Gunawan, Clara yang merasa ada yang salah. Diam-diam menghubungi Abra. Clara takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Meski perusahaan Haykal, tidak ada hubungannya dengan Abra.


"Haykal, keputusanku sudah bulat. Kerjasama kita berakhir, aku akan membayar pinalti dan kamu bisa mencari investor baru!"


"Tapi!" Sahut Haykal dengan suara bergetar.


"Kenapa kamu mengambil keputusan besar ini? Arya, kerugian yang kamu tanggung tidak sedikit!" Ujar Gunawan, Arya tersenyum sinis. Seakan menertawakan kekhawatiran Gunawan.


"Kakak takut jatuh miskin!"


"Arya, jaga bicaramu!" Ujar Gunawan marah, Arya berjalan menuju bar mini yang ada di dekat meja makan. Segelas minuman beralkohol sudah ada di tangannya.


"Siapa Embun? Kenapa kamu begitu membelanya? Apa yang dia berikan padamu? Sampai kamu mempertaruhkan segalanya? Ternyata, wanita desa itu sudah membuatmu bertekuk lutut. Dasar wanita murahan!" Tutur Haykal emosi, Arya meradang.


Buuuggghh


"Sekali lagi kamu menghina Embun. Akan kupastikan perusahaanmu hilang dari dunia bisnis. Ingat Haykal, aku masih memiliki tiga kerjasama denganmu. Jika satu kerjasama aku batalkan, sudah membuatmu kebingungan. Bayangkan, jika aku membatalkan semua kerjasama itu!" Ujar Arya, sesaat setelah melayangkan bogem mentah ke arah wajah Haykal. Arya marah mendengar rendahnya penilaian Haykal pada Embun.


"Papa!" Teriak Abra, ketika melihat Haykal tersungkur. Abra berlari menghampiri Abra, lalu membantu Haykal berdiri.


Gunawan dan Clara membisu, amarah Arya nyata dan tak bisa dicegah. Kemarahan yang tak pernah terlihat dan kini tersulut hanya karena satu nama. Sebuah nama yang tak memiliki hubungan apapun dengannya? Gunawan tak pernah menyangka, jika Arya akan bersikap sekasar itu. Pribadi Arya sangat tenang, sangat jauh dengan pribadi yang ada di depannya saat ini.


"Gunawan, kenapa kamu diam saja? Arya bersikap semena-mena padaku!"


"Haykal, aku mungkin kakak kandungnya. Namun perusahaan Adiputra Group ada dalam kendalinya. Tidak ada hakku membantah keputusannya. Sebagai seorang kakak aku akan mengingatkannya. Namun sebagai seorang sahabat, maaf aku tidak bisa membantumu. Apalagi melihat amarah Arya, akan sulit membuat Arya menarik keputusannya!" Ujar Gunawan, Haykal terdiam.


Arya berjalan membelakangi Gunawan dan Haykal. Arya benar-benar marah, saat mendengar hinaan Haykal. Sebuah hinaan yang tak pantas keluar dari mulut seorang ayah mertua. Abra yang datang tepat saat Arya memukul Haykal. Meradang, dia hendak membalas pukulan Arya. Namun langkahnya terhenti, ketika Haykal melarangnya. Apa yang terjadi? Sudah cukup menjadi alasan kehancuran Haykal. Jika amarah Abra tersulut, akan semakin sulit memperbaikinya.


"Arya, aku mohon maafkan aku. Jangan hancurkan perusahaanku. Aku membangunnya dari nol. Akan aku lakukan apapun? Asalkan kamu bersedia menarik keputusanmu!"


"Terlambat!" Sahut Arya sinis, lalu meninggalkan Haykal yang tertunduk lesu.

__ADS_1


"Tunggu tuan Arya!"


"Ada apa Abra?"


"Kenapa anda begitu keras membela Embun? Ada hubungan apa diantara kalian? Sebagai seorang suami aku berhak bertanya. Agar tidak ada salah paham diantara kami!"


"Aku dan Embun tidak ada hubungan apa-apa?"


"Tidak mungkin, seorang laki-laki membela dengan mengorbankan segalanya. Jika tidak ada maksud tersembunyi!" Ujar Abra tidak percaya.


"Layaknya Haykal yang tak pernah peduli akan peringatanku. Sekarang kamu tidak percaya akan penjelasanku. Jika Haykal aku sendiri yang menyelesaikannya. Namun keraguanmu pada Embun tidak ada hubungannya denganku. Embun sendiri yang akan menilai cintamu. Jadi berhati-hatilah Abra, satu langkah salahmu. Akan membuatmu kehilangan Embun!" Tutur Arya bijak, Abra terdiam.


Arya pergi dari rumah Adiputra. Dia enggan melihat wajah Haykal. Arya meninggalkan semua orang dengan rasa penasaran yang belum terjawab. Gunawan menghampiri Haykal, lalu mengajak Haykal duduk di ruang tengah. Keduanya mencoba menenangkan diri, mencari jalan agar Arya menarik keputusannya. Sedangkan Abra yang dipenuhi rasa tak percaya. Keluar dari rumah Adiputra, Abra berdiri di taman.


"Minumlah Abra, apapun yang terjadi? Percayalah, Embun tidak akan mengkhianatimu!"


"Mungkinlah itu Clara, tuan Arya seorang laki-laki dewasa. Dia memiliki pesona dan kekuasaan yang selalu diimpikan setiap wanita. Tuan Arya sempurna sebagai seorang imam. Pengorbanannya demi membela Embun, tidak akan dilakukan tanpa ada alasan!"


"Perkataanmu benar, om Arya memiliki segalanya. Keputusan besar yang diambil hari ini. Benar-benar tidak bisa aku nalar. Alasan sepele yang membuatku merasa heran. Apa hubungan Embun dengan om Arya? Sampai dia mempertaruhkan perusahaan!"


"Entahlah Clara, sebagai seorang suami aku marah. Aku kecewa, seandainya aku mengetahui ada laki-laki lain yang memperhatikan istriku!"


"Sudahlah Abra, tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Embun tidak akan mengkhianatimu!"


"Entahlah!" Sahut Abra lirih, lalu menunduk menatap bumi tempatnya berpijak.


"Abra, aku akan selalu mendukungmu!" ujar Clara, sembari menyandarkan kepalanya di lengan Abra. Sejenak Abra lupa akan statusnya, membiarkan Clara menyandarkan kepalanya. Seakan sikap Clara tak lebih dari sebuah persahabatan.


Lama Abra dan Clara berdiri menatap langit yang sama. Abra dan Clara meneguk minuman yang selama ini dihindari oleh Abra. Namun malam ini, seakan minuman ini yang mampu menghilangkan gelisah dan rasa penasarannya. Kedekatan Abra dan Clara terlihat oleh sepasang mata indah. Kedekatan yang terlihat begitu hangat, seolah lupa akan sekelilingnya.


"Kalian begitu serasi!" Batin Embun lirih, ketika melihat Abra dan Clara yang terlibat perbincangan hangat.


Embun berdiri mematung menatap Abra dan Clara. Mendengarkan setiap keraguan yang keluar dari mulut Abra. Rasa percaya yang mulai terkikis, ketika sebuah kecurigaan mengusik. Lama Embun menatap Abra dan Clara, menyembunyikan diri di balik rimbun tanaman pagar di depan gerbang rumah keluarga Adiputra. Lalu, tiba-tiba Embun merasakan sakit yang teramat di dadanya. Hatinya terasa ngilu, saat tawa mulai terdengar di kedua telinganya. Embun memegang dadanya, lalu berjalan menjauh dari Abra dan Clara. Hatinya tidak terlalu kuat mendengar semua hangat yang tercipta.


Duaaaarrr Duaaaarrr Duaaaarrr


Embun mendongak, menatap kilatan cahaya di langit merah. Tangannya memegang erat hatinya yang terasa ngilu. Embun berjalan perlahan menerobos malam yang gelap. Langkah yang semakin lama, semakin lemah. Namun sakitnya membuatnya kuat berjalan di antara lalu-lalang jalan raya.


Duaaarrrrrr


Suara petir kembali menggelegar, memecah kesunyian malam. Bertasbih menganggungkan nama sang pencipta. Bersiap menyambut rahmat alam yang begitu besar. Air mata langit yang siap menetes. Seakan ingin menemani Embun yang tengah terluka.


"Maafkan aku kak, telingaku tak sehebat itu. Sehingga aku sanggup mendengar tawamu bersama dia. Maafkan aku kak, jika mataku tak sejernih embun. Sehingga aku mampu tetap tenang melihat hangatmu bersama dia. Aku hanya wanita biasa, hati dan jiwaku terlalu rapuh. Sejak dulu aku akan berjuang demi sebuah keyakinan, tapi mendengar keraguanmu. Membuatku takut menatap wajahmu. Percayalah kak, aku tak pernah mengkhianatimu!" Batin Embun.


Duuuuuuuaaarrrr

__ADS_1


Embun mendongak, langit mulai menangis. Rintikan kecil kian lama semakin deras. Embun berjalan di bawah guyuran hujan, tanpa tahu kemana kakinya melangkah? Melangkah pulang ke rumah Abimata, langkah Embun terlalu berat. Pulang kembali ke desa, Embun tak mampu melihat kecemasan Abah Iman. Embun terus melangkah, mencari tenang dalam hatinya. Setidaknya hanya malam ini, Embun pergi menjauh. Sampai semua kembali tenang dan kembali seperti semula.


"Kenapa aku mencintai? Jika nyatanya aku harus tersakiti. Sayatan pisau terasa perih, tapi akan hilang saat darahnya kering. Lalu, kapan hatiku sembuh? Apa saat hatiku tak lagi menyimpan cinta untuknya? Sejujurnya, aku tidak sanggup menahan sakit ini. Dadaku terasa sesak, sakit sangat sakit!" Batin Embun, seraya memegang dadanya pelan. Air matanya jatuh bersama hujan yang turun semakin deras.


__ADS_2