KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Malam Acara


__ADS_3

Semua kembali seperti semula, tak ada yang berbeda dari kehidupan Embun dan keluarganya. Semua berjalan sangat baik, bahkan terlalu baik. Tak ada perdebatan atau perselisihan antar anggota keluarga. Semua saling menghormati satu dengan yang lain. Ada kebahagian yang tengah dinanti Rafan dan Hanna. Setelah kepergian Kanaya, Hanna dipastikan mengandung buah cintanya dengan Rafan. Kini usia kandungan Hanna memasuki trimester terakhir. Masa-masa paling mendebarkan bagi seorang ibu.


Namun kebahagian Rafan berbanding terbalik dengan kerinduan Haykal akan Kanaya. Hampir satu tahun, Haykal tak pernah menatap wajah Kanaya. Meski semimggu sekali Haykal datang berkunjung. Namun tak sekalipun Haykal bisa bertemu dengan Kanaya. Peraturan pesantren melarang seorang santri putri bertemu dengan pengunjung putra. Meski laki-laki itu saudara atau ayah kandungnya. Peraturan yang membuat Haykal selalu pulang dengan rasa rindu yang begitu berat. Hanya Embun yang bisa bertemu dan memeluk Kanaya.


Malam ini, diadakan acara tasyakuran tujuh bulanan Hanna. Seluruh keluarga besar Embun berkumpul. Arya datang bersama Fitri dan Aira. Iman datang berdua dengan Afifah. Fahmi dan Nur datang bersama dengan Mira dan Dirgantara. Mereka semua berkumpul dalam satu acara yang sederhana dan penuh rasa syukur. Cucu pertama Abra dan Embun, buah cinta Rafan dan Hanna. Selain mereka semua, Haykal ayah kandung Abra datang bersama Indira dan juga Ibra. Nissa tidak ikut, sebab salah satu putranya tengah demam.


Acara dimulai pukul 18.00 WIB dan berakhir tepat pukul 19.00 WIB. Malam ini sengaja Embun mengundang semua orang. Sebab Embun ingin merasakan kebahagia ini, dengan orang-orang yang disayanginya. Termasuk Haykal menantunya yang tak pernah lalai menanyakan kabar dirinya dan Abra. Menggantikan kewajiban yang seharusnya dilalukan Kanaya.


"Kak Rafan, selamat atas kabar gembira ini. Kakak akan menjadi ayah dan aku akan menjadi paman!" ujar Haykal lirih, Rafan menunduk tersipu malu. Aira tersenyum di balik cadarnya. Kebahagian Rafan sejenak mengusik ketenangan hatinya. Jauh dari Hanif dan menyadari cinta mereka tidak akan bersatu. Membuat Aira tak berdaya dan lemah, seolah tubuhnya tak memiliki tenaga. Namun Aira tak pernah mengeluh akan ketetapan yang diterimanya.


"Kenapa baru datang? Acara baru saja selesai!" ujar Rafan lirih mengisyaratkan sebuah rasa kecewa. Haykal tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf kak, aku baru saja dari luar kota. Ada rapat penting yang tidak bisa aku wakilkan!" sahut Haykal lantanng dan tegas. Bukti jika Haykal benar-benar baru pulang dari luar kota. Tak berapa lama, Rafan mengangguk menerima kata maaf dari Haykal.


"Sudahlah, lebih baik kamu menyapa mama dan papa. Sejak tadi, mereka menanyakanmu. Sekalian kamu makan malam, pasti kamu lapar!"


"Terima kasih, aku belum terlalu lapar!" sahut Haykal, Rafan mengangguk. Haykal langsung duduk bersila tak jauh dari Aira. Wanita bercadar yang pernah ditolaknya. Namun hubungan keduanya baik-baik saja. Tak ada amarah atau rasa kecewa, karena perjodohan diantara mereka batal.


"Apa kabar?" sapa Haykal ramah, Aira menoleh dengan senyum yang takkan pernah bisa dilihat Haykal.


"Aku baik-baik saja dan aku harap kamu juga sama!" ujar Aira ramah, Haykal diam membisu. Mungkin jasmaninya baik-baik saja, tapi rohani Haykal menjerit. Dia sangat merindukan Kanaya.

__ADS_1


"Aku baik!" ujar Haykal, Aira mengangguk mengiyakan. Meski Aira menyadari, Haykal tidak dalam kondisi baik-baik saja. Namun Aira mencoba memahami kepedihan yang dirasakan Haykal. Dengan tidak terlalu bertanya tentang isi hatinya.


Nampak Aira dan Haykal larut dalam percakapan hangat. Rafan yang semula ada diantara Haykal dan Aira. Memilih pergi tepat setelah Hanna memanggilnya. Rafan menemani para saudara yang sengaja datang ke rumahnya. Mereka yang datang dengan ketulusan, sekadar mengucapkan kata selamat untuk Rafan dan Kanaya. Entah apa yang menjadi topik percakapan Haykal dan Aira? Nampak jelas keduanya akrab dan merasa nyaman satu dengan yang lain. Kenyamanan yang terlihat oleh dua mata indah Kanaya Fauziah Abimata.


"Kanaya!" sapa Daffa, sahabat Kanaya yang kebetulan hadir sebagai tamu undangan.


Kanaya menoleh dan langsung menempelkan telunjuknya tepat di tengah-tengah bibirnya. Daffa yang mengerti isyarat Kanaya, langsung diam membisu. Daffa melihat ke arah tatapan Kanaya. Sejenak Daffa merasakan amarah yang tiba-tiba ada dalam hatinya. Namun saat menoleh ke arah Kanaya. Nampak gelengan kepala Kanaya, sebuah isyarat Kanaya melarang Daffa melakukan sesuatu.


"Kenapa Kanaya?" ujar Daffa lirih, Kanaya hanya menggeleng. Dengan langkah tegap, Kanaya berjalan menuju taman di halaman depan rumahnya. Kanaya duduk di atas ayunan besi yang sengaja dipasang Abra untuknya. Daffa mengikuti langkah Kanaya tanpa banyak bicara.


"Mereka tidak mengetahui rencana kepulanganmu!" ujar Daffa, Kanaya mengangguk pelan.


"Kamu ingin memberikan kejutan untuk mereka!" ujar Daffa lagi, Kanaya mengangguk tanpa ragu.


"Lantas, kenapa kamu diam di sini? Mereka semua merindukanmu, masuklah dan peluk semua orang. Terutama Haykal suami sahmu sekarang!"


"Mereka bahagia tanpa aku!" sahut Kanaya singkat.


"Kanaya, sejak kapan kamu berubah menjadi pribadi yang perasa? Kanaya yang aku kenal, tidak akan mudah menilai orang lain. Apalagi menilai salah, tanpa bertanya atau sekadar mencari tahu kebenarannya!"


"Daffa, mungkin aku salah. Namun kehangatan mereka, ketika malam dingin menyapa. Mampu membuat siapapun hanyut dalam pesona cinta? Kak Aira memiliki segala kelebihan yang diinginkan seorang laki-laki. Sekarang, pantas tidak jika aku merasa rendah diri? Berpikir Kanaya akan baik-baika saja!"

__ADS_1


"Jika memang kamu merasa cemburu, sapa Haykal dan katakan pada dia, untuk menjauh dari Aira. Setidaknya demi ketenangan hatimu!"


"Aku tahu Daffa, sebentar lagi aku masuk ke dalam. Aku ingin membekukan hatiku dengan dingin angin malam ini. Agar hatiku tak merasakan sakit, ketika kehangatan mereka terlihat oleh kedua mataku!" ujar Kanaya lirih, Daffa diam membisu. Daffa duduk di atas rumput tidak jauh dari Kanaya. Keduanya duduk menatap langit yang penuh kerlip bintang.


"Daffa, jika langit tak hanya milik bulan. Mungkinkah kak Haykal menjadi milik semua orang. Seperti langit yang terus ada, demi bintang dan bulan!"


"Seandainya Hakkal langit, dia bukan untuk menaungi hati dan jiwa orang lain. Haykal sepenuhnya milikmu, hati dan jiwamu yang selalu dinantikan Haykal!" ujar Daffa, Kanaya diam menunduk. Daffa melihat jelas rasa cemburu di hati sahabatnya. Kanaya terdiam, Daffa melihat sosok Kanaya yang lemah dan tak berdaya.


"Kanaya!"


"Kamu sangat mencintainya, sampai kamu rela duduk sendiri di dalam gelap dan beratapkan langit!"


"Entahlah Daffa? Namun aku merasakan sesak napas, ketika berada di dalam. Melihat keakraban kak Haykal dan tante Aira!"


"Sebab itukah kamu berlalu pergi tanpa menyapaku. Kamu mengabaikan rinduku, berpikir kehangatan antara aku dan Aira itu nyata adanya.!" ujar Haykal lantang, Kanaya menoleh. Dia melihat Haykal yang berdiri tak jauh darinya.


"Kak Haykal, maaf jika cemburuku salah!" ujar Kanaya lirih. Haykal menggeleng lemah, dia duduk berjongkok tepat di depan Kanaya.


"Sayang, aku merindukanmu. Maaf jika kamu melihat aku dan Aira bersama. Aku dan Aira hanya bicara biasa. Tidak ada rasa nyaman seperti pemikiranmu!" ujar Haykal menyakinkan Kanaya yang terdiam menunduk.


"Sayang, percayalah!" ujar Haykal lirih

__ADS_1


__ADS_2