
Sejak malam itu, Rafan mulai aktif menghubungi Hanna. Hampir setiap hari, meski hanya sekali. Rafan pasti memberi kabar pada Hanna. Rafan mulai menghargai ketulusan Hanna. Melupakan permintaan bodoh Hanif, laki-laki yang ingin memaksakan cinta pada Hanna. Malam yang indah, tapi membawa duka bagi Rafan. Dia melihat tubuh Hanna tumbang tepat di depannya. Hati Rafan teriris melihat Hanna yang mendingin. Spontan saja Rafan mendekap erat Hanna, sebuah dekapan yang memancing amarah Embun.
Amarah yang akhirnya membuat status Rafan dan Hanna berbeda. Hubungan tanpa nama yang ada diantara mereka. Berubah menjadi ikatan suci pernikahan. Embun marah melihat sikap tak pantas Rafan pada Hanna. Meski semua terjadi secara spontan, tapi rasa khilaf yang diselimuti napsu. Hanya akan mengundang syahwat dan dosa yang menjerumus pada zina. Embun pribadi yang tegas, dia tidak akan main-main dengan hukum agama. Sebab itu, malam itu juga Embun meminta Rafan memutuskan. Menikah dengan Hanna saat itu juga? Atau Rafan kembali ke luar negeri. Tingggal jauh dari keluarga dan Hanna.
Rafan yang terdiam, membuat Embun meragukan kesungguhan Rafan pada Hanna. Namun keraguan berubah dengan rasa bangga. Kala dia mendengar, Rafan mengkhitbah dan akan menikah dengan Hanna tepat di depan Fahmi dan Nur. Dengan mengucapkan bismillah, Rafan menikah dengan Hanna secara agama.
Sejak malam itu, status Rafan berubah. Rafan tak lagi sendiri, dia telah menemukan tulang rusuknya. Abra hanya bisa menangis haru, putra kebanggaannya menemukan pendamping hidup. Pernikahan yang terjadi, karena permintaan tulus seorang ibu. Nyata membawa kebahagian tak terkira bagi Rafan dan Hanna. Namun Rafan memilih tinggal di rumah berbeda. Setidaknya sampai Rafan dan Hanna menikah secara hukum dan agama. Awalnya Hanna merasa kecewa dengan keputusan Rafan. Namun sebagai seorang istri, Hanna tak mampu menolak keputusan Rafan.
Tepat pukul 22.00 WIB, Rafan pulang dari rumah Hanna. Setelah pulang dari rumah sakit, Rafan menyempatkan diri pulang ke rumah Hanna. Selain Rafan mulai aktif menghubungi Hanna. Rafan juga tidak pernah absen mengunjungi Hanna. Rafan tidak pernah lama berada di rumah Hanna. Meski Fahmi selalu meminta Rafan menginap. Namun Rafan selalu menolak, dengan alasan ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Namun malam ini berbeda, alasan Rafan tak bisa mengalahkan tangis Hanna. Entah kenapa Hanna menangis ingin pulang bersama Rafan? Sikap manja Hanna yang tak bisa ditolak oleh Rafan.
"Kak Hanna!" teriak Kanaya bahagia, saat dia melihat Hanna pulang bersama Rafan.
Embun dan Abra langsung menoleh, mereka melihat Rafan pulang membawa menantu kesayangan. Hanna langsung menghampiri Abra dan Embun, mencium lembut punggung tangan mereka. Kanaya berhambur memeluk Hanna, dia merasa bahagia dengan kedatangan Hanna. Setidaknya Kanaya memiliki teman yang sama ceria dengannya.
"Sayang, ada angin apa sampai kamu bersedia ikut dengan Rafan?" ujar Embun tak percaya, Hanna menunduk tersipu malu.
Hanna duduk tepat di samping Rafan, sedangkan Rafan langsung menyandarkan tubuhnya di sofa. Rafan merasa lelah, sangat lelah. Bukan hanya lelah fisik, tapi hati dan pikirannya lelah. Mengingat sikap manja Hanna yang tak mudah diluluhkan. Rafan masih mengingat dengan jelas. Tangis Hanna yang histeris, hanya karena ingin pulang bersamanya. Rafan tak mampu menenangkan Hanna, alhasil dia harus bersedia mengajak Hanna pulang ke rumahnya.
"Bukan angin, tapi hujan badai!" sahut Rafan dingin, Embun menatap tak mengerti. Abra tersenyum geli, mendengar perkataan Rafan. Dengan mudah Abra mengetahui maksud perkataan Rafan. Sedangkan Hanna terlihat diam, tangannya menggenggam erat lengan Rafan.
"Rafan, mama bicara serius!"
"Aku juga serius, tadi di rumah mama Nur. Ada hujan badai, sebab itu dia ikut denganku!" sahut Rafan dingin, Hanna menyenggol tubuh Rafan. Berharap Rafan berhenti menggodanya. Hanna mengeryitkan dahinya, dia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Rafan.
"Hanna, apa yang dikatakan Rafan benar? Bagaimana kondisi Fahmi dan Nur? Mereka baik-baik saja!" ujar Embun khawatir, Rafan membuka kedua matanya. Tak lagi ada lelah atau kantuk yang menyergap. Tangis histeris Hanna membuat Rafan lupa akan semua hal. Hanya menenangkan Hanna yang dipikirkan Rafan.
"Kak Rafan, mama terlalu polos. Sampai menganggap serius perkataanmu!" sahut Kanaya, sembari tertawa melihat Rafan. Kakaknya yang dingin dan acuh, kini tak berkutik di depan Hanna. Sikap dewasa Rafan, kalah oleh sikap manja Hanna.
"Kanaya, jangan lupa akan sopan santun. Ingat mama lebih tua, tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu!" ujar Embun, Kanaya langsung menunduk. Kanaya diam membisu, satu amarah dan kecewa Embun. Mampu membuat Kanaya membeku dan terdiam.
"Maafkan Kanaya!" ujar Kanaya lirih, Embun diam tak bergeming.
Kanaya langsung duduk tepat di samping Abra. Kanaya memeluk tubuh kekar Abra, menyembunyikan rasa takutnya dalam dekapan hangat sang ayah. Sikap manja anak perempuan yang lebih memilih bersandar pada tubuh kekar ayah kandungnya. Nampak Abra mengelus lembut kepala Kanaya yang tertutup hijab. Embun tak peduli akan sikap manja Kanaya. Salah tetap salah, Embun tidak akan mentolelir begitu saja sikap tak sopan Kanaya.
__ADS_1
"Papa!" ujar Kanaya dalam pelukan Abra. Berharap Abra membantunya meminta maaf. Kanaya mendongak ke arah Abra, terlihat anggukan kepala Abra. Isyarat Abra akan membantu Kanaya meminta maaf pada Embun.
"Dasar Kanaya manja, selalu bersembunyi kalau salah!" ujar Rafan menggoda Kanaya.
"Papa, kak Rafan!" ujar Kanaya lirih, Abra menarik kepala Kanaya dalam pelukannya. Berharap tak ada lagi perdebatan diantara mereka. Abra menatap nanar Embun, amarah Embun tidak salah. Namun terlalu keras pada Rafan dan Kanaya, juga tidak benar. Adakalanya orang tua mengerti gurauan seorang anak.
"Sayang, Kanaya hanya bercanda. Maksudnya tidak salah, dia hanya mengatakan tentang isi hatinya. Lagipula perkataan Kanaya benar, diantara kita berlima. Kamu yang memiliki hati bersih dan polos. Sampai kamu tidak bisa mengerti maksud dari perkataan Rafan!"
"Aku memang bodoh!" sahut Embun, Abra menggeleng lemah. Rafan dan Kanaya diam membisu, Embun pribadi yang kaku dan tegas. Tidak mudah membuatnya mengerti, apalagi jika Embun telah salah paham.
"Sayang, bukan bodoh tapi tulus. Kamu tidak akan berpikir buruk tentang orang lain!" ujar Abra, sembari memeluk tubuh Embun. Sesaat setelah Kanaya melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu, katakan dengan jelas maksud perkataan Rafan!"
"Sayang, Hanna menangis ingin pulang bersama Rafan. Hanya itu maksud perkataan Rafan!" ujar Abra hangat, Embun menoleh ke arah Rafan. Nampak anggukan kepala Rafan, isyarat perkataan Abra benar adanya.
"Sayang, lebih baik kita ke kamar. Rafan dan Hanna mungkin lelah. Besok pagi, kamu lanjutkan marahnya. Rafan dan Kanaya siap mendengarkannya!"
"Hanna, istirahatlah di kamar Kanaya!" ujar Embun, Hanna menunduk dengan raut wajah kecewa. Rafan terkekeh melihat raut wajah kesal Hanna.
"Maaf Hanna, mama lupa kalau kalian sudah menikah. Kalau begitu istirahatlah di kamar Rafan. Besok pagi, ikut mama ke pasar!" ujar Embun, lalu meninggalkan Rafan dan Hanna berdua. Kanaya langsung berlari ke kamarnya. Dia tidak ingin menjadi obat nyamuk, jika tetap duduk bersama Rafan dan Hanna.
"Maaf!" bisik Rafan mesra tepat di telinga Hanna. Seketika tubuh Hanna bergetar, hangat hembusan napas Rafan membangkitkan gairah dalam dirinya.
"Aku lelah, kamu akan terus di sini atau ikut denganku!" ujar Rafan dingin, Hanna menatap tak percaya. Baru beberapa menit yang lalu, Hanna merasakan hangat cinta Rafan. Namun dalam sekejap Rafan kembali pada sifat aslinya. Rafan yang dingin dan tak berhati.
"Dasar gunung es, tidak ada hangat-hangatnya sama sekali!" batin Hanna kesal, sembari menatap punggung Rafan yang berjalan tepat di depannya.
Rafan dan Hanna berjalan menaiki tangga, menuju kamar Rafan yang ada di lantai dua. Sikap santai dan tenang Rafan, seakan lupa status yang sudah disematkannya pada Hanna. Rafan seolah lupa, jika Hanna istri yang berhak akan cinta dan kehangatannya. Sebaliknya tak sedikitpun Rafan menunjukkan cinta yang ada di hatinya untuk Hanna. Dengan santainya, Rafan berjalan tanpa menggandeng tangan Hanna. Layaknya pasangan yang baru saja menikah. Rafan malah terlihat acuh dan tidak peduli akan keberadaan Hanna.
"Masuklah, aku akan membersihkan diri dulu!" ujar Rafan, sesaat setelah membuka pintu untuk Hanna.
Hanna diam terpaku, dia merasa asing dengan Rafan. Tak sedikitpun Hanna merasakan hangat sikap Rafan. Hanna merasa tersisih di kamar suaminya sendiri. Hanna merasa tak dianggap, hatinya terasa sakit menerima sikap acuh Rafan. Kedua mata Hanna mulai terasa panas. Air matanya siap meluncur, sekadar mengatakan pada dunia. Jika hatinya tengah terluka oleh sikap dingin Rafan. Hanna berjalan menuju balkon kamar Rafan. Hanna mendekap erat tubuhnya, entah kenapa tubuhnya terasa dingin? Sedingin sikap Rafan padanya. Hangat yang dibayangkannya pupus, terbang bersama angin malam yang dingin. Hanna benar-benar tak menyangka. Dia akan merasakan dingin sikap Rafan yang terasa begitu menyakitkan.
__ADS_1
Hanna memilih keluar dari kamar Rafan, berdiri di balkon kamar Rafan. Menatap nanar langit yang malam yang menyimpan keindahan. Tatapan Hanna tak berarah, tapi hati Hanna hanya tertuju pada sikap dingin Rafan. Sikap Rafan tanpa sengaja melukai hati Hanna begitu dalam. Kejujuran Rafan akan rasa yang belum ada, menyakitkan hati Hanna. Namun tak sesakit sikap dingin Rafan yang mengacuhkan kerinduan dan hasrat cinta yang menggebu di hati terdalamnya.
Lama Hanna termenung menatap langit malam ini. Bintang-bintang bertaburan, bulan terlihat bersinar terang. Langit malam yang begitu indah dan cerah. Hanna mematung menatap keindahan alam yang tersimpan dalam gelap dan sunyinya malam. Hanna selalu berdiri menatap langit, saat hatinya gelisah dan sepi. Sekadar ingin menenangkan hati, melupakan kegelisahan dan mengusir rasa sepi. Perlahan tapi pasti, Hanna mulai melupakan sikap dingin Rafan. Hanna mulai menyadari, masih banyak hal yang bisa membuatnya bahagia.
"Hanna, kenapa belum tidur? Kamu baru saja sembuh, angin malam tidak baik!" ujar Rafan lirih, sesaat setelah di keluar dari kamar mandi.
Rafan terlihat memegang handuk, mengelap rambut basahnya. Wajah Rafan terlihat lebih segar, harum shampo tercium sampai tempat Hanna berdiri. Rafan tak sedikitpun merasa bersalah pada Hanna. Tanpa Rafan sadari, sikap tenang dan santainya telah melukai Hanna. Wanita yang begitu menyayangi Rafan, sampai sanggup menahan luka dan tangis jauh dalam hatinya.
"Hanna!" sapa Rafan lirih, ketika menyadari Hanna tak menyahuti panggilannya. Bahkan Hanna tak menoleh, sekadar mengiyakan panggilan Rafan. Hanna bersikap dingin dan acuh akan perhatian Rafan.
"Sayang, udara malam tidak baik untukmu!" ujar Rafan, sembari memakaikan jaket pada tubuh Hanna.
Rafan memeluk erat tubuh Hanna, dia mencium lembut rambut Hanna yang tertutup hijab. Hembusan hangat napas Rafan, seketika membius tubuh Hanna. Tulangnya terasa lemah tak bertenaga. Seakan Hanna tak mampu berdiri di kedua kakinya. Sontak Hanna menyadarkan tubuhnya pada dada bidang Rafan. Hangat sikap Rafan, menyusup jauh ke dalam hati Hanna. Rasa sakit yang terasa di hati Hanna, dalam sekejap menghilang tergantikan rasa hangat yang membahagiakan.
Sikap manis Hana menelisik hati Rafan, pertama kalinya Hanna menyadarkan tubuhnya pada Rafan. Pelukan erat tangan Rafan, menyatukan dua tubuh yang penuh hasrat cinta. Tanpa Rafan sadari, sikap beraninya memantik hasrat yang menggebu dalam hatinya. Desiran hangat yang sejak awal ditahan oleh Rafan. Kini membuncah, menguasai hati dan pikirannya. Debaran jantung Hanna, terdengar begitu nyaring di telinga Rafan. Darah Rafan mendidih, tangan Rafan tak lagi diam. Pikirannya tak lagi bernalar, hatinya dikuasai hasrat akan sebuah penyatuan.
Hanna merasakan dekapan hangat Rafan. Hanna terdiam tak berkutik, dekapan hangat Rafan membius tubuh Hanna. Kerinduan Hanna terbayar, dekapan hangat Rafan menghilangkan rasa sakit yang beberapa saat lalu dirasakan Hanna. Lama Hanna berada dalam dekapan Rafan, tubuhnya mulai bergetar. Cinta yang tersimpan, membuncah mengasai hati dan benaknya. Hanna memutar tubuhnya menghadap Rafan. Seketika Rafan menarik tubuh Hanna, mendekap erat dalam pelukannya.
Cup
"Sudah malam, kita istirahat. Tubuhmu masih lemah, kamu butuh istirahat!" ujar Rafan, sesaat setelah mencium puncak kepala Hanna.
"Kenapa harus mengacuhkan hasrat yang ada dihatimu? Aku istrimu bukan orang lain. Meski pernikahan kita sah secara agama, tapi aku halal untukmu. Aku istrimu yang merindukan hangatmu. Miliki aku sepenuhnya, agar aku yakin dan percaya. Rasamu hanya untukku seorang. Kak, aku mencintaimu dengan iman. Sebaliknya miliki aku, karena iman dan demi pahala surga yang kelak ditawarkan untukku!" batin Hanna, sembari memeluk tubuh Rafan. Hanna tenggelam dalam hangat pelukan Rafan.
Rafan menuntun Hanna ke tempat tidur, menyelimuti tubuh Hanna yang terasa dingin. Rafan mengecup mesra bibir Hanna. Merasakan hembusan hangat napas Hanna. Rafan beralih pada kening Hanna, mencium penuh hangat dan lama kening istri cantiknya. Hanna menutup matanya, merasakan ciuman demi ciuman hangat Rafan yang membahagiakan.
"Selamat malam, semoga mimpi indah!" bisik Rafan mesra di telinga Hanna. Rafan berdiri menjauh dari Hanna, tapi langkahnya terhenti. Ketika Hanna menarik tangannya, Rafan menoleh tak percaya.
"Kenapa?"
"Miliki aku sepenuhnya!" pinta Hanna lirih dan hangat, Rafan diam membisu.
"Tidak sekarang, masih banyak waktu!"
__ADS_1
Cup
"Tidurlah, aku mencintaimu!" ujar Rafan mesra penuh cinta.