KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Awal Kehancuran


__ADS_3

"selamat siang!" sapa Embun, beberapa kepala staf menoleh. Nampak Embun masuk dengan wajah yang sedikit muram. Raut wajah yang penuh dengan kekecewaan. Entah apa alasan amarahnya? Satu hal yang pasti, Embun siap meluapkan amarahnya. Bak lava gunung berapi yang siap membakar semua orang.


"Ada apa nyonya bos? Tidak biasanya anda datang ke ruang karyawan rendah sepertiku!" ujar Hanif sinis, Embun berjalan menghampiri Hanif.


Langkah kakinya tegak, tatapannya tajam dan siap menerkam siapa saja? Embun berjalan tanpa rasa takut. Amarahnya terasa panas, bukan hanya membakar jiwanya. Namun mampu membakar, siapa saja yang ingin mendekat ke arahnya? Embun berdiri tepat di samping Hanif. Via dan Randy berdiri sedikit menjauh. Dua asisten pribadi yang selalu siap membantu Embun.


Braakkk


"Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?" ujar Embun lantang, suara berkas yang jatuh menggema di ruang kerja Hanif. Sontak seluruh kepala staf berdiri. Kebetulan mereka semua sedang berkumpul di ruangan Hanif.


Hanif mengambil berkas dari Embun. Sekilas Hanif membaca laporang yang tertulis. Hanif tersenyum sinis, lalu berdiri tepat di depan Embun. Tatapan Hanif seolah tengah menantang Embun. Berkas yang dibawa Embun, tak sedikitpun membuat Hanif ketakutan. Sebaliknya, beberapa staf yang menyadari kesalahannya. Hendak melarikan diri, tapi Via dan Randy berdiri menghadang. Randy langsung mengunci ruangan Hanif. Agar tak seorangpun keluar dari ruangan itu.


"Jelaskan!" ujar Embun dingin, Hanif tersenyum sinis. Tak berapa lama, terdengar tawa Hanif menggema di ruangannya. Embun meradang, nampak jelas sikap Hanif ingin menantangnya. Hanif menganggap remeh, apa yang sedang terjadi?


"Sekali lagi, jelaskan!" ujar Embun lantang dan dingin. Suara bentakan Embun, membuat seluruh orang bergidik ketakutan. Tak ada lagi yang berani mengangkat wajahnya. Hanya Hanif yang terus menatap tajam Embun. Hanif merasa Embun takkan mampu membuatnya ketakutan.


"Cukup Hanif, jelaskan atau kamu tidak akan melihat kebaikanku. Jika aku marah, abah Iman atau mama Afifah tidak akan bisa membuatmu selamat!" ujar Embun dingin, Hanif meradang. Nampak kedua tangan Hanif mengepal, dia merasa marah mendengar Embun menyebut Afifah sebagai mama. Apalagi Embun bersikap angkuh, merasa Afifah tidak akan bisa menyelamatkannya.


"Diam kamu, jangan pernah menyebut nama mama. Lagipula, apa kesalahanku? Ini perusahaan papa, kamu tidak berhak melarangku. Aku ingin menghancurkannya atau tidak? Kamu tidak ada urusannya dengan semua ini. Bertahun-tahun, kami hidup tenang tanpa kehadiranmu. Jadi tetaplah diam, jadilah bos boneka yang mengikuti arahanku. Jangan terlalu banyak bicara, semua orang di perusahaan ini orangku!" ujar Hanif kasar, Embun menghela napas. Tangannya mengepal menahan amarah, Randy dan Via mencoba tetap tenang. Percaya akan keputusan Embun.


"Katakan sekali lagi!" ujar Embun dingin.


"Aku akan menghancurkan perusahaan ini!" ujar Hanif sinis, tepat di depan kedua mata Embun.


Plaakkkk Plaakkkk


Dua tamparan mendarat sempurna di kedua pipi Hanif. Keras tamparan meninggalkan bekas merah di wajah Hanif. Embun tak lagi bisa menahan amarahnya. Hanif memegang pipinya yang memerah. Jelas amarah Embun tersulut akan perkataan Hanif.

__ADS_1


"Tutup mulutmu anak muda. Aku sudah memperingatkanmu, jangan pernah membuatku marah. Perusahaan yang ingin kamu hancurkan, bukan hasil keringatmu. Perusahaan Adijaya tidak serta-merta besar. Bukan hanya keringat, tapi ada air mata almarhumah mama Almaira. Air mata seorang anak yang terlupakan begitu saja. Hanya demi kesuksesan perusahaan ini. Sekarang dengan mudahnya kamu ingin menghancurkannya. Berpikir sikap licikmu tak tercium olehku. Kamu salah memilih lawan, sekarang kamu akan melihat kebencianku!" ujar Embun keras, Hanif terdiam. Tatapan dan perkataan Embun, membuat Hanif tak berkutik. Bukan rasa takut yang kini dirasakan Hanif. Melainkan amarah seorang anak yang terluka.


"Randy, berikan berkas itu!" ujar Embun, Randy memberikan berkas bersampul biru. Hanif menerima dengan tangan yang tiba-tiba bergetar. Embun berjalan menjauh dari Hanif. Embun berdiri tepat di depan jendela kaca ruangan Hanif. Tatapan Embun keluar, menatap langit biru yang penuh dengan keindahan.


"Maafkan Embun kakek, maaf jika Embun menyerah dengan kebenciannya. Abah, maafkan Embun yang tak mampu mendidik Hanif. Keras kepala dan keangkuhannya membuatku takut. Kebencian yang begitu besar, takkan bisa aku redakan begitu saja. Sebelum kebenciannya menjadi kebencianku. Aku ingin mundur, membuat garis batas yang jelas diantara kami. Maaf, jika akhirnya perusahaan Adijaya hancur di tanganku!" batin Embun pilu, sekilas nampak Embun menyeka air matanya.


"Ini!" ujar Hanif dengan suara bergetar. Embun menoleh ke arah Hanif. Nampak gelengan kepala Hanif. Jelas ada rasa tak percaya yang terlihat di wajah Hanif. Embun memutar tubuhnya, menghadap ke arah luar jendela.


"Itu pembagian saham perusahaan Adijaya. Kini kamu bisa memiliki semuanya, tapi dengan satu syarat. Kamu harus menandatangani semua persyaratanku. Jika tidak, sampai kapanpun kamu tidak berhak akan perusahaan ini? Masalah yang kamu ciptakan, akan membuatmu masuk ke dalam penjara!"


"Kamu tidak bisa melakukan ini!" ujar Hanif tak percaya, Embun diam tak bersuara. Embun menahan air matanya, agar Hanif tak pernah melihat sisi lemahnya.


"Sekarang pilihlah, 100% saham Adijaya akan menjadi milikmu. Jadi tidak perlu kamu menghancurkan perusahaan Adijaya!"


"Tidak akan aku menandatangani syaratmu!"


"Aku tidak akan menandatanganinya!" ujar Hanif lantang dan tegas.


"Baiklah!" sahut Embun dingin, lalu menekan beberapa nomer di ponselnya.


"Tunggu!" cegah Hanif, Embun menoleh dengan raut wajah dingin.


"Aku akan menandatanganinya, asalkan mama Afifah tetap bersamaku. Aku tidak peduli pria tua itu pergi bersamamu. Selama harta kekayaan Adijaya menjadi milikku. Aku tidak peduli dia hidup atau tidak bersamaku!" ujar Hanif sinis, Embun menggenggam erat ujung hijabnya. Embun mencoba menahan amarahnya. Demi sesuatu yang tak pernah dibayangkan Hanif sebelumnya.


"Artinya hanya 40% saham yang akan kamu dapatkan!"


"Aku setuju, selama aku masih memiliki saham Adijaya!" sahut Hanif tegas, Embun menghampiri Hanif.

__ADS_1


"Sayangnya, mama Afifah dan abah Iman satu. Tidak ada tawar menawar, saham atau mereka!" ujar Embun dingin, lalu duduk tepat di depan Hanif. Nampak Hanif bimbang, Embun menanti dengan sabar. Tak ada paksaan, saham atau orang tua yang kini harus dipilih oleh Hanif.


"Baiklah anak muda, waktu berpikirmu sudah habis!" ujar Embun dingin, terlihat Embun berjalan menghampiri beberapa kepala staf yang membantu Hanif.


"Kalian tidak akan pernah menyadari, perbuatan kalian telah menjadi jalan kehancuran bagi diri kalian sendiri. Demi keluarga kalian, aku akan membiarkan kalian bebas dari gugatan hukum. Namun percayalah, takkan ada satupun perusahaan yang akan mempekerjakan kalian lagi!"


"Maafkan kami, jangan lakukan itu pada kami!" ujar salah satu kepala bagian.


"Seharusnya kalian memikirkan resiko yang akan kalian tanggung. Jauh sebelum kalian ingin menghancurkan perusahaan keluargaku!" ujar Embun dingin, lalu berjalan keluar dari ruangan Hanif.


"Baiklah, aku memilih perusahaan. Lagipula mereka akan tinggal bersamamu. Sudah saatnya kamu membalas budi pada mereka!" ujar Hanif, Embun mengangguk pelan. Randy mendekat ke arah Hanif. Nampak Hanif menandatangani berkas kepemilikan perusahaan Adijaya. Perusahaan yang kini berada di ujung tanduk.


"Selamat tuan Hanif, anda menandatangani berkas kehancuranmu. Mulai detik ini, kita akan bersaing secara sehat. Beberapa menit yang lalu, aku membuatmu menyerahkan kedua orang tuamu. Beberapa hari ke depan, kamu akan menyerahkan perusahaanmu. Sebuah awal kehancuran yang akan kamu membuatmu menyesal seumur hidup!" ujar Embun dingin, tepat bersamaan dengan pintu ruangan Hanif yang terbuka.


Kreeeekkkk


"Mama!" sapa Hanif lirih, tubuhnya terasa lemas. Air mata Afifah menjadi air cuka penghancur tulangnya. Rasa kecewa Afifah pada Hanif membuatnya sedih dan hancur. Nampak Hanif hendak berjalan menghampiri Afifah. Namun dengan perlahan, Afifah berjalan mundur. Dia menjauh dari putra yang dilahirkannya dengan bertaruh nyawa. Putra yang menggadai dirinya dengan saham perusahaan Adijaya.


"Mama tidak percaya Hanif, kamu menggadai mama dengan saham itu. Selama ini mama bodoh, selalu menuruti kemauanmu. Kini mama menyadari, siapa yang benar-benar menyayangi mama? Anak yang rela kehilangan hartanya, daripada kehilangan kedua orang tuanya. Mama bersalah pada papa. Sebab rahim mama yang telah melahirkan darah daging sepertimu. Kasih sayang mama yang membuatmu tumbuh dengan penuh kebencian. Mama kecewa Hanif, mama kecewa!" tutur Afifah lirih, sembari menangis. Afifah menoleh ke arah Embun, lalu berjalan keluar dari ruangan Hanif. Afifah hendak mengejar Iman yang keluar lebih dulu. Iman hancur tak terkira, ketika menyadari dirinya tak lebih laki-laki tua yang menjadi beban bagi putranya.


"Mama!" teriak Hanif, Afifah terus berjalan tanpa menoleh.


"Kamu penyebab semua ini!" teriak Hanif marah.


"Sekarang nikmatilah harta tanpa kedua orang tuamu. Setelah ini, kamu akan merasakan kesepian yang mampu membunuhmu. Harta yang kamu pilih, takkan bisa menyayangimu setulus mereka kedua orang tuamu. Bersiaplah tuan Hanif, kehancuranmu dihitung mundur!" ujar Embun dingin, lalu keluar dari ruangan Hanif.


"Aku telah salah menyimpan rasa ini untukmu!" ujar Aira lirih penuh dengan rasa kecewa, Hanif mendongak sembari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2