KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Rembulan Saksi Cinta


__ADS_3

Malam hari yang indah, semakin indah dengan gemerlapnya bintang. Malam ini bulan terang benderang, menyinari seluruh langit yang gelap. Malam sunyi tak terasa, hewan malam saling bersahutan. Menambah kecerian malam ini, apalagi bagi dua hati yang saling mencinta. Malam yang begitu indah dan tenang. Cahaya bulan menerangi langit, bahkan hati yang tengah gelisah dan gelap. Cahaya bulan menelisik jauh ke dalam hati insan yang penuh dengan kebimbangan.


Tepat di tepi taman kota, nampak seorang gadis berhijab. Dia duduk menatap langit yang terang benderang. Awan menampakkan keindahannya di malam hari. Bintang bertaburan, menemani bulan yang bersinar sendirian. Dia duduk sendiri tanpa ada yang menemani. Laksana bulan yang bersinar di tengah gelap dan sunyi malam.


Dia menjauh dari keramaian kota, sengaja dia mencari tempat yang sepi. Agar dia bisa menenangkan diri. Mencari kedamaian hati yang gelisah. Dia menatap lekat bulan purnama yang terlihat indah di atas taman kota. Tatapannya lurus ke arah bulan purnama. Mengagumi keindahan malam, bersyukur atas lukisan malam yang tak pernah bisa ditiru oleh tangan manusia. Malam terang yang membuatnya tenang dan bahagia, melupakan sejenak gelisah yang mengusik malam-malamnya.


Wanita itu tidak lain, Khairunnisa Azka Saniya. Setelah selesai rapat, Nissa memilih berhenti di taman kota, dia tidak langsung pulang ke tempat kostnya. Nissa menghentikan sepeda motornya di taman kota. Nissa tidak ingin cepat pulang, entah kenapa beberapa hari ini Nissa selalu cemas? Tak ada nyenyak dalam tidurnya, bahkan dia sering melewatkan makan malam. Nissa menghabiskan waktunya di kantor, jika tidak Nissa akan pergi ke masjid. Berhubungan hari ini dia tengah menstruasi, Nissa memutuskan untuk berhenti di taman kota yang tak jauh dari masjid.


Nissa merasa gelisah, bukan karena masalah pekerjaan. Namun masalah hati yang tak menemukan titik tengah. Nissa merasa bingung dengan hatinya. Suara hati yang seolah ingin mengenal Ibra, tapi jiwa menolak akan hubungan dengan Ibra. Kebimbangan akan cinta yang ada dalam hatinya. Ketulusan Ibra tak mampu menenangkan rasa takut Nissa. Ketakutan akan hinaan dan pendapat Haykal pada dirinya. Walau Nissa kini telah berubah, dia tak lagi sama seperti dulu.


Nissa menjelma menjadi CEO hebat yang patut diperhitungkan. Kehidupan mewah hanya tinggal menunggu waktu. Namun kegelisahan Nissa bukan hanya sebatas pada kemewahan. Melainkan hubungan yang tidak pernah baik antara dirinya dengan Haykal. Status sosial yang membuat Nissa merasa rendah diri.


"Seandainya mencintai memiliki syarat. Ingin aku tidak pernah merasakan yang namanya cinta. Jika cinta itu sebuah perubahan diri, bukan menerima dengan keikhlasan. Bolehkah aku tidak merasakan cinta ini. Sejujurnya cinta seperti apa? Kenapa rasa sakitnya mampu menghentikan napasku. YA ALLAH izinkan hambamu melupakan rasa ini. Sungguh hamba tidak ingin terluka dan sakit, karena rasa cinta ini. Ajari hambamu ini kata sabar, agar air mata tak menetes ketika hati ini tersakiti. Jadikan hati dan jiwa ini tangguh, agar saat kedua mata ini melihat dia bahagia. Bukan rasa iri, tapi kebahagian sebagai bentuk rasa cinta yang tak terpenuhi." batin Nissa pilu, dia mendongak menatap indahnya bulan malam ini. Keindahan yang mampu membuat semua orang bahagia dan tenang. Bayangan Ibra nampak di langit malam. Seolah Ibra ada dalam setiap napas dan langkahnya.


"Kenapa duduk sendirian?"


"Ibra!" sahut Nissa dengan nada terkejut.


Ibra mengedipkan kedua matanya, spontan Ibra duduk tepat di samping Nissa. Sejak pulang dari kantor, Ibra sengaja menunggu Nissa pulang. Namun Ibra tidak jadi mendekat, saat melihat Nissa bergegas pulang. Akhirnya Ibra memilih membuntuti Nissa, setidaknya sampai Ibra merasa Nissa baik-baik saja. Ibra merasa Nissa dalam kondisi yang tak stabil. Nampak jelas dari cara dia mengendarai sepeda motor miliknya. Kegelisahan Ibra terjawab, ketika sepeda motor Nissa berhenti di area taman kota.

__ADS_1


"Minum, kamu pasti haus!" tawar Ibra, sembari menyodorkan sebotol air mineral pada Nissa. Dengan penuh rasa terima kasih, Nissa mengambil sebotol air mineral dari tangan Ibra.


"Kenapa ada di sini?" ujar Nissa, sembari menggenggam erat botol minum yang ada di tangannya.


Nissa mencoba menenangkan rasa gugupnya. Duduk begitu dekat dengan Ibra, membuatnya merasa sesak. Ada rasa yang menelisik jauh ke dalam hatinya. Nissa tak lagi bisa menyangkal. Jika ada rasa suci untuk Ibra di dalam hatinya. Satu nama yang tertulis indah di dinding hatinya.


"Aku kebetulan lewat, melihat sepeda motormu terparkir. Aku berpikir kamu pasti ada di sini. Hampir setiap hari aku datang ke taman ini. Bakso yang ada di depan taman bermain anak, itu bakso favoritku!" ujar Ibra santai, mencari cara menenangkan hati Nissa.


"Bakso!" sahut Nissa tidak percaya.


"Hmmm, tidak percaya. Sebentar lagi akan ada yang mengantar bakso kemari!" sahut Ibra santai, Nissa langsung menunduk.


"Ibra, kamu sengaja mengikutiku!"


"Kenapa kamu terus mengikutiku? Keberadaanmu menyiksaku!" sahut Nissa lirih.


"Bukan aku yang menyiksamu, tapi hatimu yang terlalu takut mengakui cinta diantara kita. Kamu mencoba menolak suara hatimu. Walau sejujurnya, kamu tidak akan pernah bisa menolaknya. Suara hati itu ada tanpa kita mengucapkannya. Sedangkan rasa cinta itu ada tanpa bisa hindari. Kamu akan terus gelisah, sebab hatimu selalu menolak rasa sayang tulusku!"


"Tapi keluargamu!"

__ADS_1


"Papa tidak berhak atas hidupku. Aku berhak memilih kebahagianku!" sahut Ibra lantang dan tegas.


Tak berapa lama, nampak tukang bakso mengantar dua mangkok bakso spesial. Ibra langsung melahap habis satu mangkok bakso. Nissa terkesima dengan kesederhanan Ibra. Status sosial yang tinggi, tidak lantas membuat Ibra malu dan merasa rendah.


"Kenapa malah diam? Makan sampai habis, wajahmu terlihat pucat. Aku takut kamu kelaparan, hanya karena bimbang memutuskan!"


"Ibra, maafkan aku!" ujar Nissa lirih, Ibra menatap nanar Nissa. Gadis cantik dan sholeha yang membuatnya jatuh hati.


"Aku tidak butuh kata maaf darimu. Aku hanya butuh keyakinanmu!"


"Tapi Ibra, kedua orang tuamu!" ujar Nissa menolak dengan lembut perasaan Ibra.


"Mereka tidak berhak atas kebahagianku. Jika kamu setuju, kita akan menemui kedua orang tuaku. Namun seandainya mereka menolakmu. Aku akan menikahimu tanpa restu mereka. Aku akan membuatmu menjadi istriku, dengan atau tanpa restu mereka. Hasrat cinta di hatiku tak lagi bernalar. Hanya bersamammu, menjadi angan terbesar dalam hidupku. Jadi sebelum kamu menjadi istriku, aku tidak akan menyerah. Membahagiakanmu alasan aku ingin menikah denganmu!"


"Aku hanya anak orang miskin!"


"Harta dan status sosialmu, tidak akan membuatku goyah. Aku yakin akan rasa ini, karena dihatiku hanya ada cinta untukmu!" ujar Ibra, lalu menarik tangan Nissa.


CUP

__ADS_1


"Aku mencintaimu, bersediakah kamu menjadi istriku. Izinkan sang rembulan menjadi saksi cintaku. Ibrahim Dwi Abimata, takkan berjanji apa-apa? Namun membahagiakanmu menjadi tujuan hidupnya!" sesaat setelah mengecup lembut punggung tangan Nissa.


"Aku mencintamu Nissa, sangat mencintaimu!" ujar Ibra berkali-kali, mencoba menyakinkan Nissa yang diam dan tersipu malu.


__ADS_2