KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Tanah Lapang


__ADS_3

Hampir dua minggu Embun kembali dari perantauan. Namun sampai detik ini, dia memilih diam dan menjauh dari keluarganya. Bahkan Embun meminta Nur merahasiakan kedatangannya pada Arya dan Iman. Entah kenapa Embun memilih sembunyi? Namun satu hal yang pasti, Embun telah kembali dan takkan pergi lagi. Hanya saja waktu pertemuan belum ada. Sementara waktu hanya dengan menatap dari kejauhan kebahagian Arya dan Iman, menjadi cara Embun menghapus kerinduan.


Abra sibuk dengan perawatan Haykal. Hanya kesembuhan Haykal yang kini menjadi fokus Abra. Embun tak mempermasalahkan kesibukan Abra. Embun sudah sangat sibuk dengan Kanaya dan Rafan. Embun tak lagi bersikap keras dengan Abra. Embun memilih diam, tapi bukan artinya Embun mengalah dan lemah. Embun hanya mencoba menghargai Abra dan keluarganya. Embun hanya butuh ketenangan, agar dia bisa fokus pada pemulihan kesehatannya. Embun mencari sosok yang dulu pernah ada dalam dirinya. Sosok Embun yang sederhana dan penuh tawa.


Pagi ini, setelah mengantar Kanaya ke sekolah. Embun meminta izin pada Abra, untuk pergi ke suatu tempat. Tanpa bertanya atau mencemaskan Embun, Abra mengizinkan Embun pergi sendiri. Rafan sempat menawarkan diri, tapi Embun menolak tawaran Rafan. Embun tidak ingin menganggu kesibukan Rafan. Banyak orang yang membutuhkan Rafan, tak pantas rasanya. Seandainya Rafan meninggalkan kewajibannya, hanya untuk mengantar Embun. Menggantikan tugas sang ayah yang kini sibuk dengan kepentingannya.


Sekitar dua puluh menit, Embun mengemudikan mobilnya dari sekolah Kanaya. Sampailah Embun di sebuah jalan desa yang mulus dan lebar. Jalan desa yang dulu hanya setapak, kini telah menjadi jalan beton yang kuat dan lebar. Sisi kanan dan kiri yang dulunya curam, kini ada pembatas jalan yang kokoh. Embun terhenyak melihat perubahan desa yang begitu besar. Desa terpencil tempatnya tumbuh besar, telah berubah menjadi desa maju dan modern.


Embun memarkirkan mobilnya tepat di sebuah tanah lapang. Tanah lapang yang berada di tebing. Tanah yang menghadap langsung pada sebuah gunung tinggi yang ada di desa tempat tinggal Embun. Dari tempatnya berdiri, Embun bisa melihat kota. Tanah lapang yang menjadi tempat favorit gadis desa bernama Embun.


Huufff


Suara helaan napas Embun terdengar seirama anging yang berhembus. Embun melepaskan sejenak kerinduan akan desa tempatnya dia dibesarkan. Ketenangan yang selalu ada dalam setiap detik hidupnya. Kesederhanaan yang menemani hidupnya. Embun mendongak ke arah langit cerah. Sinar matahari mulai terasa panas menyentuh kulitnya. Namun angin seolah tak mengizinkan keringat menetes. Angin datang membawa dingin yang menenangkan panas tubuhnya. Lama Embun berdiri menatap gunung yang berdiri kokoh. Layaknya Embun yang dulu selalu kuat dan tegar. Tak pernah ada kata lelah atau lemah dalam hidupnya. Embun yang selalu optimis akan semua usahanya dan tak pernah pesimis akan hasil dari perjuangannya.


"Abah, aku merindukanmu!" ujar Embun lirih, suaranya terbawa angin pagi. Angin yang seakan ingin membawa kerinduan Embun akan masa kecilnya.


Embun terus berdiri tanpa lelah, dia menatap desa yang telah berubah. Hanya satu yang takkan pernah berubah. Desanya tetap asri dan menyimpan ketenangan dalam tiap jengkal tanahnya. Embun larut dalam angan masa kecilnya. Mengingat tawa yang pernah terutas dari bibirnya. Teriakkan kala bermain dengan teman masa kecilnya. Kenangan Indah yang membuat Embun lupa akan rasa rindu dalam hatinya.


"Kenapa berdiri di sini? Kamu lupa jalan menuju rumahmu?" sapa Iman lirih, seketika Embun menoleh. Dia terkejut melihat Iman sudah berdiri di belakangnya.


Embun memutar tubuhnya 180°, ada rasa bahagia bercampur rasa tidak percaya. Embun melihat sosok yang begitu dirindukannya. Belaian hangat tangan Iman yang selalu menemani malam sepinya. Suara merdu yang melantunkan ayat-ayat suci Al-quran, sebagai pengantar tidur di kala gelisah menyapa malamnya. Embun tak pernah menyangka, dia melihat Iman berdiri tepat di belakangnya.

__ADS_1


"Abah!"


"Kamu sudah melupakan laki-laki tua ini!" ujar Iman lirih, Embun menggelengkan kepalanya lemah.


Embun menyeka air matanya, kerinduan yang seolah menemukan akhirnya. Embun menatap nanar Iman yang tak lagi muda. Namun di balik usia senjanya, Iman masih sangat muda dan kuat. Tubuh yang selalu kuat menopang dan menjadi sandarannya dulu. Embun berhambur memeluk erat Iman, menangis dalam dekap hangat pelukan ayah yang menyayanginya.


"Akhirnya kamu kembali!" ujar Iman lirih, sembari mengusap kepala Embun yang tertutup hijab. Embun mengangguk dalam pelukan Iman. Mencurahkan seluruh kerinduan yang ada dalam hatinya.


"Maafkan Embun!"


"Kamu tidak salah, abah yang telah membuatmu menjauh. Keegoisan abah yang membuatmu harus mengalah. Seandainya Abra membiarkanmu memilih, mungkin kamu tidak akan mengenal Haykal Abimata. Seorang ayah yang takkan pernah menerimamu sebagai putrinya!"


"Abah, Embun baik-baik saja. Kak Abra sangat menyayangiku!"


"Abah akan baik-baik saja. Rafan dan Kanaya akan memberikan cicit. Abah akan hidup sampai mereka bahagia dengan keluarga kecilnya!" ujar Embun lantang, Iman menunduk lalu menggeleng lemah.


"Abah tak ingin apa-apa? Melihatmu sekarang, sudah membuat abah bahagia. Sudah saatnya, abah mengembalikan amanah papa padamu. Keluarga Adijaya membutuhkanmu!"


"Abah sakit!" ujar Embun cemas, Iman diam membisu. Embun menatap sendu wajah tampan yang sedikit pucat. Embun merasa aneh dengan sikap Iman. Seolah ada yang tengah disembuyikan oleh Iman.


"Abah!" sapa Embun membuyarkan lamunan Iman.

__ADS_1


"Tubuhku tak sekuat dulu, kepergianmu membuatku rapuh. Kerinduan akan tawa dan wajah teduhmu. Membuatku lupa akan kesehatan, hanya bekerja dan bekerja yang aku lakukan selama ini. Sampai akhirnya tubuhku melemah dan terus melemah!"


"Tidak mungkin, abah terlihat bahagia bersama mama Afifah!"


"Aku bahagia, tapi hatiku menangis. Kamu putri yang aku besarkan dengan kedua tanganku. Memang bukan darahku yang mengalir dalam tubuhmu, tapi kasih sayangku yang menemani hari-harimu. Memang aku hanya ayah angkat, tapi bagiku kamu putri kandung yang lahir dari ketulusanku!"


"Maafkan Embun, maaf!"


"Embun sayang, terima kasih kamu kembali. Tubuh renta ini, tak lagi mampu menopang tubuhmu. Namun percayalah, pelukan abah masih hangat dan mampu membuatmu tenang!" ujar Iman lirih, Embun menunduk membisu. Rasa bersalah Embun menguasai hatinya. Tak pernah dia membayangkan, Iman akan serapuh ini.


"Abah, Embun sudah kembali. Aku tetap Embun yang sama dan takkan pernah berubah. Dulu abah yang merawat Embun, karena kasih sayang tulusmu. Aku tumbuh tanpa merindukan kasih sayang seorang ibu. Sekarang dengan ketulusanku, biarkan aku menjaga dan menyayangimu. Mungkin waktu abah tidak lama, tapi aku akan membahagiakanmu di sisa hidupmu. Menebus puluhan tahun yang hilang!"


"Terima kasih, tapi aku baik-baik saja!" sahut Iman, Embun menggelengkan kepalanya pelan.


"Abah akan semakin baik, jika bertemu dengan Kanaya. Dia putri yang ceria dan Rafan putraku yang tampan!"


"Tidak, tubuh tua ini hanya akan merepotkan!"


"Puluhan tahun aku membebani hidupmu. Aku menghalangi semua kebahagianmu. Sekarang aku yang akan merawat abah, sebagai bukti cinta seorang anak. Jangan pernah merenggut hakku, biarkan aku bahagia dengan cara merawatmu!"


"Embun!" ujar Iman lirih, sesekali terdengar suara batuk dari bibir Iman.

__ADS_1


"Aku sangat menyayangjmu!" ujar Embun, lalu memeluk erat tubuh Iman.


"Aku akan merawatmu abah, bukan untuk balas budi. Namun demi Rafan dan Kanaya. Mereka belum merasakan hangat kasih sayangmu dan jangan pernah abah merenggut hak itu. Rafan dan Kanaya berhak mengenal keluarganya. Percayalah abah, semua akan baik-baik saja!" batin Embun pilu, lalu menyeka air mata yang menetes dipelupuk matanya.


__ADS_2