KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Cinta Embun


__ADS_3

"Kak Abra, makan malam sudah siap!" ujar Embun, Abra menoleh seraya mengangguk pelan.


Abra berdiri menghampiri Embun, keduanya berjalan menuju meja makan. Sejak tadi, Abra menemani Rafan sampai putra kecilnya tertidur. Embun sengaja meninggalkan Abra bersama Rafan berdua, sedangkan Via kembali ke kamarnya. Embun mencoba mendekatkan Rafan dengan Abra. Agar tak ada jarak diantara dua laki-laki yang paling berharga dalam hidupnya.


Embun keluar dari kamarnya lebih dulu, lalu Abra mengikuti dari belakang. Semenjak Abra menyerahkan sebagian aset yang dimilikinya pada Embun. Semenjak itu tak ada lagi pembahasan tentang masalah Haykal. Embun mencabut tuntutan, sedangkan Abra memutuskan fokus pada perusahaannya. Tak ada lagi perdebatan, semua kembali tenang. Bahkan terlalu tenang dan seolah bom siap meledak.


"Sayang, aku tidak pernah melihat Nur. Kemana dia pergi? Kalian sedang bertengkar!" ujar Abra membuka pembicaraan di meja makan. Embun menggelengkan kepalanya tanpa menoleh pada Abra.


"Nur pergi mengunjungi orang tuanya. Dia ikut pulang dengan tuan Dirgatantara. Jika bukan malam ini, mungkin besok dia kembali. Setelah Nur kembali, aku akan berhenti mengambil alih perusahaan Adijaya!" ujar Embun lirih, Abra langsung menoleh tidak percaya.


Abra merasa heran dengan perkataan Embun. Raut wajah datar Embun, semakin membuat Abra tak percaya. Entah apa yang ada dalam benak Embun? Abra tak mampu memahami pemikiran Embun. Semua terasa samar dengan sikap dingin dan keras yang ada dalam pribadi Embun. Abra sendiri pribadi yang bimbang dan tak mampu tegas. Dua pribadi yang bertolak belakang, tapi bersatu dalam cinta penuh ketulusan.


"Sayang, apa maksud dari perkataanmu? Kenapa kamu berhenti dari perusahaan Adijaya?" ujar Abra tak mengerti, Abra langsung meletakkan sendok dan garpu yang tengah dipegangnya.


"Aku akan memberi surat kuasa pada Nur dan Nissa. Mereka akan mengambil alih perusahaan Adijaya. Nur akan mengambil alih usaha perhotelan, sedangkan Nissa yang akan mengurus usaha kontraktor!"


"Sedangkan kamu?" sahut Abra, Embun langsung menunduk. Embun mengambil segelas air putih yang ada di depannya. Embun meneguk air dalam gelas, Abra menatap lekat Embun. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Embun.

__ADS_1


"Katakan yang sebenarnya, tidak mungkin kamu memutuskan pergi begitu saja. Ada alasan besar dibalik keputusan besarmu. Hanya dua bulan kamu mengambil alih perusahaan Adijaya. Terlalu cepat kamu mundur tanpa berperang!" ujar Abra dingin, Embun menoleh ke arah Abra.


"Satu-satunya alasanku ialah kakak!" sahut Embun santai, Abra menoleh dengan dua mata membulat sempurna. Abra merasa tak percaya, jika keputusan besar Embun karena dirinya.


"Tidak mungkin!"


"Hanya dua bulan aku bekerja di perusahaan Adijaya. Namun dua bulan telah membuatku angkuh dan sombong. Meski aku tidak pernah ingin bersikap seperti itu. Keangkuhan seorang istri yang telah membuat seorang suami terhina. Kesombongan seorang ibu yang telah membuat seorang ayah kalah dan hancur. Aku bak orang lain, harta keluarga Adijaya membuatku buta dan tuli. Dua mataku buta, sampai aku tidak bisa melihat kecemasan dan kegelisahan di wajahmu. Dua telingaku tuli, sehingga tak lagi aku mendengar suara tangismu di tengah malam. Harta yang penuh dengan racun, takkan pernah berubah menjadi madu. Harta membuat tuan Haykal tak pernah mengakuiku. Harta juga yang membuatku tak lagi bisa memahami. Di saat kakak memilih hancur demi tuan Haykal. Aku juga hancur, bukan karena keputusanmu. Namun aku hancur, karena akulah penyebab kehancuran laki-laki yang paling aku sayangi!"


"Embun!"


"Iya kak Abra, jika kakak tidak bisa memilih antara aku dan tuan Haykal. Sebaliknya, aku memilih dirimu daripada status yang diberikan keluarga Adijaya. Setelah aku mengembalikan semuanya, aku akan menjadi Embun Khafifah Fauziah yang dulu. Tanpa ada nama keluarga Adijaya atau nama keluarga Abimata di belakang namaku. Wanita desa yang beruntung menikah dengan tuan besar Abra Ahmad Abimata!"


"Keluarga Adijaya mungkin keluarga hebat dan tangguh, tapi mereka bukan keluarga yang picik. Mereka tidak akan menyalahkan, tanpa bertanya alasannya. Mereka tidak akan memutuskan, tanpa mendengar penjelasan. Mereka tidak akan menghukum, tanpa memberi kesempatan membela diri. Jangan pernah meragukan ketulusan keluarga Adijaya. Mungkin aku tumbuh besar jauh dari keluarga Adijaya, tapi mereka tetap keluargaku. Aku berharap, kakak tidak pernah berpikir buruk tentang mereka. Seperti aku yang tidak pernah membenci atau marah. Ketika tuan Haykal terus dan terus menghinaku. Meragukan ketulusan yang kuberikan padamu!"


"Sayang!" ujar Abra lirih, nampak jelas rasa bersalah Abra. Embun mengutas senyum, ketika merasakan tangan Abra menggenggam erat tangannya.


"Kak Abra, pepatah mengatakan. Nila setitik, rusak susu sebelanga. Jangan sampai pemikiran kakak, membuat hubungan baik kakak dengan keluarga Adijaya rusak!" ujar Embun lirih, Abra menunduk.

__ADS_1


Embun menarik tangan Abra, Embun mencium lembut tangan Abra. Kehangatan yang menjalar langsung ke dalam nadi Abra. Hembusan napas Embun, menyentuh lembut tangan Abra. Sejenak Abra merasa takut, perkataannya membuat Embun tersakiti. Abra merasa tak berdaya, ketika mendengar Embun mengungkapkan kekhawatirannya.


"Kakak, laki-laki paling berharga dalam hidupku. Tidak ada apapun yang mampu menggantikanmu. Jangan pernah berpikir, aku ingin menghina atau membuatmu terhina. Seandainya kakak pernah berpikir seperti itu. Jangan pernah menyimpannya dalam hati. Katakan langsung padaku, dengan tubuh tegap aku akan menjelaskannya padamu. Namun, ada kalanya ketulusan harus berakhir. Ketika keraguan terus mengusiknya. Aku mencintaimu kak, sangat mencintaimu!" ujar Embun, lalu menunduk mendekat ke arah wajah Abra. Hembusan napas Abra, menyentuh lembut wajah Embun. Rasa cinta yang terus diuji, bukan untuk perpisahan. Namun demi penyatuan yang abadi.


Cup


"Papa Rafan, aku akan mendukungmu. Walau kakak tak pernah mengetahuinya!" ujar Embun, sesaat setelah mencium kening Abra lembut dan mesra.


"Maaf!" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun. Nampak gelengan kepala Embun, dengan lembut Embun menepis tangan Abra.


"Aku harus menemui Rafan!" ujar Embun, Abra melepaskan Embun dengan tatapan nanar.


"Bodoh, kenapa aku bisa berpikir Embun ingin melihatku disalahkan? Apa yang sedang merasukiku? Kenapa aku melupakan ketulusan Embun begitu saja? Demi diriku, dia menjauh dari keluarganya. Seharusnya aku yang menghapus air matanya, bukan malah membuatnya menangis. Bodoh, aku sangat bodoh!" batin Abra penuh penyesalan. Tangan Abra mengepal menahan amarah yang siap meledak.


BUUUGGHH BUUUUGGGHH BUUUGGHHH


Abra menghantam meja makan sekuat tenaga. Tak lagi ada rasa sakit, sebab hatinya jauh lebih sakit melihat diam Embun. Kebodohan yang membuat Embun tertusuk, walau tanpa pisau di tangan Abra.

__ADS_1


"Amarahmu tidak akan pernah membuatmu memahami Embun. Lima menit yang lalu, kamu melihat cinta Embun. Detik ini, kamu akan mendengar pengorbanan Embun. Sebuah pengorbanan yang akan membuatmu malu dan merasa bersalah telah berpikir putriku dingin pada Haykal. Penyesalan yang akan menyadarkanmu, Embun terus tersakiti bukan kamu yang disakiti!"


"Abah!" sahut Abra terkejut.


__ADS_2