
Pertemuan Embun dan Iman, menjadi awal sebuah kerinduan yang terjawab. Satu per satu orang dari masa lalu Embun mengakhiri kerinduannya. Embun tak lagi bisa bersemhunyi. Dengan tubuh tegak, dia harus menyapa semua orang. Embun mulai menyadari, kepergian tanpa pamitnya menghancurkan hati banyak orang. Namun kepulangannya tanpa kabar, akan lebih menyakiti orang-orang yang menyayanginya. Sebab itu, malam ini Embun berniat bersilaturahmi dengan Arya. Ayah biologis yang begitu merindukannya.
Embun datang bersama Kanaya dan Rafan. Abra akan menyusul, setelah mengantar Haykal pulang dari rumah sakit. Awalnya Abra berniat membawa Haykal dan Indira tinggal bersamanya. Namun Abra membatalkannya, saat dia ingat perlakuan Haykal pada Embun. Abra tidak mungkin membuka luka lama. Abra harus menjaga jarak antara Haykal dan Embun. Ketenangan yang telah lama tercipta, tak seharusnya terusik. Walau artinya, dia harus melihat Haykal jauh darinya. Setidaknya Abra masih bisa tenang. Sebab Ibra akan tetap menjaga Haykal dan Indira.
Tepat pukul 20.00 WIB, sebuah mobil mewah masuk ke dalam halaman luas sebuah rumah. Rumah yang begitu besar dan megah, menunjukkan sang pemilik bukan orang sembarangan. Setelah melewati penjagaan ketat, mobil masuk perlahan dan berhenti tepat di depan pintu rumah. Rumah nampak sepi tanpa penghuni. Entah karena rumah terlalu besar atau penghuni rumah yang terlalu sedikit? Satu hal yang pasti, kemegahan terasa menyeramkan. Kala tak ada suara penghuni yang terdengar.
TING TONG....TING TONG....TING TONG...
Terdengar tiga kali suara bel rumah berbunyi. Namun tak terdengar langkah kaki dari dalam rumah. Embun menghela napas, ketika hampir lima menit dia menunggu dan tak ada satu orangpun yang membukakan pintu. Embun merasa gelisah, takut kedatangannya bukan di waktu yang tepat. Rafan dan Kanya berdiri di belakang Embun. Tak nampak kecemasan dari wajah keduanya. Rafan yang selalu dingin dan acuh. Sedangkan Kanaya yang penuh tawa dan ceria. Keduanya tak pernah bertanya atau mengeluh, selama diam mereka memberikan ketenangan pada Embun. Rafan dan Kanaya akan memilih diam.
"Kita pulang!" ujar Embun lirih, memecah kesunyian yang tercipta diantara mereka bertiga. Hampir sepuluh menit, Embun berdiri menanti pintu rumah Arya terbuka. Namun tak ada tanda seseorang akan membuka pintu. Dengan hati lapang nan pedih, Embun memutuskan pulang membawa rindu yang tak terobati.
Tanpa mengiyakan atau menolak, Rafan dan Kanaya langsung memutar tubuhnya 180°. Mereka berjalan mendahului Embun, menuju mobil yang terparkir tepat di depan lorong rumah. Embun dengan menunduk, berjalan mengikuti langkah kecil kedua buah hatinya. Ada rasa kecewa menelisik jauh di dalam hatinya. Bayangan akan wajah Arya, membuatnya tersiksa dan sedih. Harapan bertemu Arya telah pupus. Dengan hati yang kecewa, Embun berjalan menuju mobil.
"Hanya lima belas menit, papa memintamu menunggu. Namun kamu kembali, saat papa tidak menemui dalam sepuluh menit. Kamu pulang dengan hati kecewa. Sekarang katakan pada papa, berapa tahun papa menyimpan kerinduan ini? Berapa menit yang papa lalui tanpa dirimu? Berapa besar rasa kecewa papa atas kepergianmu? Kamu meninggalkan papa tanpa bicara. Kamu menghancurkan hati papa, tapi saat kamu kembali. Kamu malah sembunyi, merasa papa baik-baik saja tanpamu. Kenapa hatimu begitu dingin?" tutur Arya, sesaat sebelum Embun melangkah masuk ke dalam mobil.
Rafan dan Kanaya sudah berada di dalam mobil. Mereka terkejut melihat seorang laki-laki paruh baya keluar dari rumah. Seorang laki-laki yang masih terlihat tampan. Walau usianya tak lagi muda, wajah yang hampir mirip dengan Embun. Menandakan ada hubungan darah diantara keduanya. Seketika Rafan dan Kanaya turun, mereka merasa ada yang belum selesai dan tak pantas mereka pergi tanpa menyapa sang pemilik rumah.
"Papa!" ujar Embun lirih, Arya diam menatap nanar putri kecilnya.
Embun terhenyak dan langsung menoleh, ketika dia mendengar suara Arya untuk pertama kalinya. Suara yang jauh dari telinganya selama beberapa tahun terakhir. Tubuh Embun bergetar, kerinduan bercampur rasa bersalah menguasai hati dan benaknya. Rasa kecewa yang terucap dari bibir Arya, semakin membuat Embun terpuruk. Namun di balik semua penyesalanny, tersisip rass bahagia. Kala kedua mata indahnya, menatap wajah laki-laki yang begitu dicintai ibu kandungnya.
__ADS_1
"Kenapa hatimu begitu dingin? Bertahun-tahun kamu pergi tanpa kabar. Tak ada suara atau helaan napasmu, sekadar ucapan perpisahan. Apa salah papa padamu? Sampai kamu begitu ingin menjauh dari papa!"
"Maaf!" sahut Embun, kata yang menjadi penjelasan kepergian Embun. Suara Embun terdengar bergetar, perasaannya bercampur. Rasa bersalah, penyesalan dan kerinduan menjadi satu dalam hatinya yang rapuh.
"Mama!" sapa Rafan, sembari merangkul tubuh Embun. Sedangkan Kanaya bergelayut manja di lengan Embun. Putra-putri yang akan menjadi penopang dan benteng kokoh yang melindungi Embun. Rafan dan Kanaya seolah memahami ketakutan Embun. Dengan hangat dan penuh kasih sayang, keduanya menyakinkan Embun. Jika semua baik-baik saja.
"Papa, maafkan Embun!" ujar Embun, sembari berjalan mendekat ke arah Arya. Sekilas nampak Arya menunduk, menyeka air mata yang menetes di pelupuk matanya. Arya bahagia melihat putrinya kembali. Wajah Embun yang begitu dirindukannya.
"Papa, maafkan Embun. Percayalah pa, tidak pernah satu detik saja dalam hidupku melupakanmu. Abah dan papa, ayah yang sangat aku sayangi. Mungkin papa tidak akan percaya, tapi putrimu selalu merindukanmu. Namun rindu dan rasa sayangku, hanya terucap dalam sujud dan doa. Sebab hanya pada-NYA, aku menyerahkan seluruh harapan dan doa. Semoga kalian sehat dan bisa melihat dua buah hatiku tumbuh besar. Mereka berdua cucumu, jangan hukum mereka karena kesalahanku!" tutur Embun lirih, lalu menarik tangan Arya.
Embun mencium punggung tangan Arya. Setetes air mata jatuh membasahi punggung tangan Arya. Air mata suci yang jatuh dari dua mata indah Embun. Air mata yang penuh kerinduan akan sosok ayah. Embun menempelkan tangan Arya tepat di pipinya. Merasakan hangat yang lepas darinya selama ini. Hangat yang pernah diharapkannya, saat sepi menyapa hatinya.
"Jangan tinggalkan papa, jangan menjauh dari papa. Kamu putri papa, selamanya kamu yang paling penting dalam hidup papa. Seandainya Abra meminta papa bersujud, agar papa selalu dekat denganmu. Papa akan melakukannya, bertahun-tahun tanpa wajah dan bayanganmu. Jujur sayang, papa tidak sanggup. Papa hancur menahan rindu dan rasa bersalah!" tutur Arya hangat, seraya mendekap erat tubuh Embun.
"Kakak, aku terharu!" ujar Kanaya lirih, lalu bergelayut manja pada lengan Rafan. Sontak Rafan menoleh, ada rasa dingin yang menyergap ke dalam tubuh Kanaya. Tatapan dingin Rafan, mampu membekukan aliran dalam darah Kanaya.
"Hmmmm!" ujar Rafan dingin, tanpa menepis tangan Kanaya. Sikap hangat yang tak biasa dilakukan Rafan, walau itu pada Kanaya.
"Tidak ada hakku melarang seorang putri bertemu dengan papa. Aku yang berutang budi pada papa, karena papa telah mengizinkanku menikah dengan wanita sebaik dan sehebat Embun!" sahut Abra, Embun dan Arya langsung menoleh.
"Kak Abra!" ujar Embun, Abra mengangguk pelan.
__ADS_1
"Apa kabar Abra? Lama tidak bertemu, akhirnya kamu ingat pada laki-laki tua ini!" ujar Arya lirih, Abra berjalan perlahan. Abra mencium punggung tangan Arya.
Cup
"Maaf sayang, aku terlambat!" ujar Abra, sesaat setelah mengecup puncak kepala Embun. Kedipan mata Embun, seolah jawaban akan kata maaf yang terucap dari bibir Abra. Dengan penuh kasih sayang, Abra merangkul tubuh Embun.
"Kanaya, papa tersayangmu sudah datang. Kenapa kamu hanya diam saja? Biasanya kamu langsung berlari memeluknya!" bisik Rafan lirih tepat di telinga Kanaya.
"Memeluk papa sangatlah mudah, sebaliknya kesempatan memelukmu begitu langkah. Sangat bodoh, jika aku melepaskan pelukan hangat kakak!" sahut Kanaya lirih, Rafan menatap datar Kanaya. Seolah perkataan Kanaya tak membuat hati Rafan bergetar.
"Kalian tidak ingin memeluk kakek!" ujar Arya, Kanaya mengangguk dengan wajah cerianya. Sebaliknya Rafan terlihat datar, tanpa rasa haru atau sedih.
"Kakek, Kanaya cantik datang!" teriak Kanaya, sembari merentangkan kedua tangannya. Kanaya hendak berlari, berhambur memeluk Arya.
"Tidak perlu berlari, kakek tidak akan pergi kemana-mana? Kamu perempuan, jaga sikap dan tutur katamu!" ujar Rafan, sembari menahan tangan Kanaya. Menghentikan langkah Kanaya yang penuh kegembiraan.
"Papa, kak Rafan jahat!" ujar Kanaya mengadu, Abra diam menatap Rafan. Sikap dingin putranya takkan pernah bisa diubah oleh Abra. Selama Rafan tidak membencinya, Abra akan memilih diam dan membiarkan Rafan dengan sikap dinginnya.
"Rafan!" sapa Embun, sontak Rafan melepaskan tangan Kanaya.
"Kalian tetap di sana, kakek yang akan menghampiri kalian!" ujar Arya bahagia.
__ADS_1