KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Rumah Sakit


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, seminggu sudah berlalu semenjak peristiwa itu. Sikap Embun lebih banyak diam, dia tak lagi semanja dan semanis dulu. Embun tak pernah marah atau menyalahkan sikap Abra. Embun mencoba memahami dunia yang dulu ada dalam hidup Abra. Dunia tanpa dirinya, dunia yang menampakkan perbedaan diantara dirinya dan Abra.


"Embun, hari ini kamu ada jadwal kontrol ke rumah sakit. Sebaiknya kita berangkat sekarang!" ujar Nur, Embun mengangguk pelan.


"Sayang, aku akan mengantarmu!"


"Kakak tidak sibuk!" sahut Embun dingin, Abra menggeleng lemah.


"Baiklah, kita berangkat sekarang!" sahut Embun lirih.


Tanpa penolakan atau perdebatan. Embun berjalan menuju mobil Abra. Nur mengikuti langkah Embun, dia akan ikut menemani Embun. Sebaliknya Abra mengusap wajahnya kasar, sikap penurut Embun. Bagi semua orang mungkin sesuatu yang baik. Namun bagi Abra, sikap patuh Embun bak es yang membekukan tubuhnya. Sikap dingin yang membuat Abra tak berkutik. Abra lebih suka melihat sikap Embun yang keras dan manja padanya. Walau artinya dia harus mengalah dan terus mengalah pada sikap keras Embun.


"Dingin sikapmu mampu membunuhku, diammu membuatku rapuh. Namun dibalik semua rasa takutku. Setidaknya aku masih bisa bernapas lega. Kala dua mata ini, masih menatapmu. Saat telingaku, masih mendengar suaramu. Aku akan bertahan menanti kata maaf darimu. Walau artinya aku harus bersabar dengan sepi dan sendiri ini!" batin Abra, sembari menatap punggung Embun yang pergi menjauh.


Abra mengemudikan mobilnya dengan perlahan dan hati-hati. Abra tidak ingin terjadi sesuatu yang tak pernah diharapkan. Dengan begitu sabar Abra menemani Embun. Sebaliknya dalam diam Embun, ada rasa hormat pada Abra. Sebuah rasa hormat yang pada suami yang selalu menyayanginya. Meski kini ternoda dengan satu kesalahan.


"Kak Abra, aku daftar dulu bersama Nur. Nanti kakak menyusul di poli kandungan!" ujar Embun, Abra mengedipkan mata. Entah kenapa Abra belum bisa bersikap biasa saja di depan Embun. Sikap diam tanpa amarah Embun, membuatnya merasa serba salah. Abra merasa Embun sangat terluka dengan sikapnya. Namun amarah yang tak pernah nampak, semakin membuat Abra merasa bersalah.


"Embun, pelan-pelan jalannya. Lantai masih basah, ingat kamu sedang hamil!" teriak Nur, Embun mengacungkan jempolnya ke udara.


"Aku baik-baik saja, selama ada kamu!" sahut Embun, Nur tersenyum simpul. Lalu mengikuti langkah Embun menuju poli kandungan.


Tak berapa lama Embun selesai melakukan pemeriksaan. Kondisi janin Embun sangat baik, meski ada satu masalah mengenai kesehatan Embun. Namun dengan sebuah senyum dan keberanian. Embun seolah menganggap itu bukan masalah besar. Abra dan Nur sempat khawatir, tapi lagi dan lagi Embun menyakinkan mereka. Jika semua akan baik-baik saja. Sampai putra kecilnya lahir mengisi hari-harinya.


"Sayang!" ujar Abra tepat di depan pintu poli kandungan. Embun menepis pelan tangan Abra, bukan menolak perhatian Abra. Melainkan Embun tidak mengharapkan rasa cemas yang tidak perlu. Dengan seutas senyum, Embun menyakinkan Abra. Jika dia akan baik-baik saja.


"Jangan bahas masalah ini pada siapapun? Terutama abah dan papa, mereka tidak boleh mengetahui kondisiku. Aku baik-baik saja, kalian yang terlalu khawatir memikirkan kondisiku!" ujar Embun tegas, Abra dan Nur diam membisu. Tak ada janji atau penolakan akan permintaan Embun. Mereka terdiam melihat keyakinan Embun yang begitu besar. Sebuah rasa percaya akan jalan terbaik yang sudah digariskan untuknya.


"Sudahlah, kita ambil obat di apotik. Setelah itu kita pulang!" ujar Embun, sembari menarik tangan Nur. Embun berjalan menuju apotik yang berada di dekat pintu masuk rumah sakit.


Buuuggghh


"Aaawwwss!" teriak Nur kesakitan, dia memegang keningnya yang sakit akibat menabrak punggung Embun.


"Ada apa sayang?" ujar Abra cemas, ketika melihat Embun tiba-tiba berhenti. Nur merasa heran, saat melihat Embun yang menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Dokter Via dan papa!" ujar Embun tak percaya.


"Dimana?" ujar Nur terkejut, Embun menunjuk lurus ke depan.


Embun melihat Arya tengah duduk di kursi roda. Dia sedang berada di depan ruang Radiolagi. Embun langsung berlari menghampiri Arya. Embun tidak lagi peduli akan keselamatannya. Abra dan Nur berlari mengejar Embun. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Embun, hati-hati!" teriak Nur cemas, Embun terus berlari. Dia ingin segera memeluk Arya, Embun tak percaya melihat Arya duduk di atas kursi roda.


Tap Tap Tap


"Embun!" sapa Arya lirih dan lemah, Arya tidak menyangka akan bertemu Embun di rumah sakit. Apalagi dalam kondisi seperti ini, lemah dan tak berdaya. Tak ada nampak Arya yang tangguh dan kuat. Tinggallah Arya yang pucat duduk di atas kursi roda.


Duuugghh


"Papa!" sapa Embun diselingi tetes air mata. Suara lutut Embun yang menghantam lantai. Terasa menyakitkan bagi Arya, sebaliknya Embun merasa sakit melihat tubuh lemah Arya. Embun menangis dalam pangkuan Arya. Air mata yang tak lagi mampu ditahan Embun. Arya mengusap kepala Embun yang tertutup hijab. Arya membungkuk, lalu mengecup puncak kepala Embun. Mendekap erat kepala sang putri dalam dekapan hangatnya.


"Papa!" sapa Embun lirih, Arya mengangkat kepala Embun. Dua bola mata Arya, menatap nanar Embun. Dua tangan lemah Arya, menyeka air mata Embun. Dua tangan yang tak pernah menggendong Embun. Kini menyeka air mata putri kesayangannya.


"Embun, papa baik-baik saja!" ujar Arya, Nur dan Abra menghampiri Arya.


"Papa baik-baik saja, ini hanya chek up biasa!"


"Papa, kenapa tidak menghubungi Nur? Jika papa takut Embun cemas, bukankah ada Nur putri papa yang lain!" ujar Nur dengan tangis yang tertahan.


"Percayalah, papa baik-baik saja!" sahut Arya mengelak, Embun langsung bangkit. Dia berdiri tepat di depan dokter Via.


Via dokter spesialis dalam yang kini menangani penyakit Arya. Dia dan Arya bertemu tanpa sengaja. Ketika Arya pertama kali masuk ke ruang IGD. Hari ini, Arya akan melalukan general chek up. Sebab Via merasa ada yang salah dengan kesehatan Arya. Sengaja Arya meminta Via tidak mengatakan pada siapapun? Terutama Embun putri yang akan cemas memikirkan kondisinya.


"Dokter Via, apa yang terjadi pada papa?" ujar Embun lirih, seraya menggenggam tangan Via erat. Sekilas Via menoleh ke arah Arya, seolah meminta persetujuan. Namun suara tangis Embun, seketika membuatnya terenyuh. Via tak lagi menutupi kondisi Arya dari Embun.


"Tuan Arya, saya minta maaf. Sebagai seorang dokter memang saya wajib menjaga rahasia pasien. Namun sebagai seorang anak yang ikut merasakan kecemasan Embun. Saya tidak tega, bila melihat Embun menjadi orang terakhir yang mengetahui sakit anda!" ujar Via, Arya menunduk terdiam. Tubuhnya sangat lemah dan tak lagi mampu berdebat dengan siapapun?


"Nyonya Embun, kondisi tuan Arya tidak baik-baik saja. Dia mengalami dehidrasi parah, saat pertama kali datang kemari. Beberapa jam tuan Arya kehilangan kesadaran. Artinya kondisi fisik tuan Arya sangat lemah dan perlu penangan khusus. Pemeriksaan awal saya, beliau mengalami gejala asam lambung akut. Sehingga asam lambung naik, lalu menekan ke saluran pernapasan dan akhirnya mengakibatkan beliau gagal napas!"


"Separah itu, lalu kenapa papa dan dokter Via menyembunyikannya?" ujar Embun emosi, air mata Embun tak lagi bisa disembunyikan.

__ADS_1


"Sekali lagi maaf, saya hanya memenuhi permintaan pasien. Pemeriksaan hari ini, akan menjawab semua keraguan saya. Sebab itu, sementara waktu tuan Arya harus rawat inap!" sahut Via lirih, Embun menoleh ke arah Arya.


"Kenapa papa menyembunyikannya dari Embun? Papa tidak percaya pada Embun!"


"Sayang, papa tidak ingin melihat kecemasanmu. Kamu sudah memiliki hidup yang baru. Tidak sepantasnya papa menjadi bebanmu. Tenanglah sayang, papa sudah ada di rumah sakit. Ada banyak dokter dan suster yang merawat papa!"


"Jika aku tidak berhak merawat papa, kenapa papa terus melindungi dan menjaga Embun? Jika papa mampu merawat Embun saat ini. Percayalah, Embun mampu merawat papa juga!" ujar Embun, lalu menoleh ke arah Abra.


"Iya sayang, kita akan menjaga papa bersama!" sahut Abra, memahami arti tatapan Embun.


"Baiklah, sekarang sebaiknya tuan Arya masuk. Akan ada dokter spesialis radiologi yang memeriksa anda!" ujar Via ramah, Arya masuk ke dalam ruang radiologi. Sedangkan Embun, Abra dan Nur menunggu di luar.


"Kalau begitu saya permisi, masih ada pasien yang harus saya periksa!" pamit Via, Embun menoleh ke arah Via.


"Tunggu!" ujar Embun seraya menggenggam erat tangan Via.


"Iya, ada apa?"


"Dokter Via, terima kasih telah merawat papa!" ujar Embun penuh rasa terima kasih.


"Sudah tugas saya sebagai seorang dokter!" sahut Via hangat, Embun mengedipkan kedua mata indahnya.


"Seandainya tidak perbedaan itu tidak pernah ada. Mungkin dokter Via, wanita yang tepat menjaga papa saya. Namun jurang perbedaan itu nyata dan anda berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari papa!" ujar Embun lirih, Via langsung menunduk. Embun tersenyum sembari menepuk pelan tangan Via.


"Sekali lagi terima kasih!"


"Sama-sama!" sahut Via, lalu meninggalkan Embun.


"Embun, kamu setuju hubungan diantara mereka!" ujar Nur, Embun menatap bimbang Nur.


"Meski aku merestui hubungan mereka, tapi lingkungan tidak akan menyetujui. Masih banyak orang yang berpikir dangkal. Jika usia menjadi hal yang tak mungkin menyatukan. Apalagi papa seolah ingin menyangkal rasanya pada dokter Via. Aku tidak akan melarang, asalkan papa tidak terluka. Sebaliknya, aku akan menolak hubungan mereka. Jika dokter Via merasa terpaksa. Sekarang, biarkan waktu yang menjawab. Kesehatan papa jauh lebih penting!"


"Kamu benar Embun, waktu yang akan menjawab. Layaknya cinta suci abah dan dokter Afifah. Puluhan tahun terpisah, tapi akhirnya menyatu saat waktunya tiba!" ujar Nur, Embun mengangguk seraya tersenyum.


"Dokter Via, sekali lagi terima kasih atas ketulusanmu merawat papa. Entah murni sebagai seorang dokter atau sebagai seorang wanita biasa? Terima kasih, telah menggantikan diriku merawat papa. Di kala tangan dan kakiku tak mampu merawat papa!" batin Embun.

__ADS_1


__ADS_2