KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Mengantar Pulang


__ADS_3

Temaram lampu jalan menghiasi kota. Langit biru tak lagi nampak. Tergantikan jingga senja yang menyapa. Hawa panas tak lagi menyentuh kulit. Tinggallah angin sore yang sejuk menerpa. Menenangkan tubuh yang lelah dan penat. Meninggalkan hari yang padat lagi berat. Senja menyeruak menghapus siang, demi menyambut petang yang datang. Syahdu terasa menyentuh hati. Suara burung kembali ke sarang terdengar merdu.


"Sebentar lagi gelap, tapi belum ada taxi yang lewat!" batin Nissa resah, sesaat setelah dia melirik jam di tangannya.


Helaan napas Nissa menandakan berat hari yang dilaluinya. Jam di tangannya menunjukkan pukul 17.15 WIB. Senja mulai beranjak meninggalkan peraduan. Petang mulai menyapa awal malam hari yang akan datang. Namun Nissa masih berdiri tegak di depan perusahaan Abra. Semua orang sudah pulang sejak satu jam yang lalu.


Lama Nissa berdiri menatap ke jalan besar. Ramai kendaraan tak mampu menghapus gelisah Nissa. Tak ada satupun taxi yang kosong. Maklum jam pulang kantor, akan sangat sulit mendapatkan taxi. Biasanya Nissa baru sampai di rumah saat gelap.


Tin Tin Tin


Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Nissa. Membangunkan Nissa dari mimpi sejenaknya. Nissa tersadar akan ramai sekelilingnya. Seketika Nissa mendongak menatap mobil mewah berwarna silver di depannya. Lama Nissa terdiam, memikirkan siapa yang ada di dalam mobil?


"Nissa, silahkan masuk!"


"Tidak, terima kasih!" tolak Nissa, Ibra menghela napas. Amarah Nissa padanya jelas masih ada. Meski kejadian itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Namun kembalinya Nissa saat ini, tidak lantas menghapus semua kenangan pahit itu.


Braakkk


Ibra turun dari mobil mewahnya. Dia berjalan dengan gagah menghampiri Nissa. Lalu Ibra berdiri tepat di depan Nissa. Ibra mencoba menjelaskan atau lebih tepatnya meminta maaf atas kejadian di masa lalu.


"Nissa, ini sudah sore. Sebentar lagi magrib, jalanan pasti macet dan taxi akan sulit kamu dapatkan!"


"Pergilah Ibra, aku baik-baik saja. Sebentar lagi pasti ada taxi yang lewat!" sahut Nissa dingin, Ibra melonggarkan dasi yang sedang dikenakannya. Dia merasa gerah melihat sikap dingin Nissa. Sejak pertama kali mereka bertemu, Nissa selalu menatap sinis ke arah Ibra. Seolah Ibra musuh yang sangat dibencinya.


"Nissa yang cantik, tidak baik berdiri di pinggir jalan sendirian. Apalagi di petang hari, takut ada yang berniat jahat padamu!" ujar Ibra tegas, Nissa diam tidak peduli akan perkataan Ibra.


Nissa menganggap kepedulian Ibra sudah tidak penting. Baginya kehadiran Ibra tidak akan membuatnya melupakan kenangan pahit yang pernah terjadi. Sikap acuh Ibra padanya dulu. Kini menjadi terbalik, Nissa yang malah mengacuhkan Ibra. Menganggap Ibra tidak pernah ada dan berpikir Ibra tidak pantas dimaafkan.


"Tuan Ibra, terima kasih atas perhatianmu. Namun percayalah, aku bisa menjaga diri!" ujar Nissa keras kepala, Ibra mengusap wajahnya kasar. Dia merasa marah, setiap kali Nissa bersikap dingin padanya.

__ADS_1


"Nissa aku mohon, jangan hari ini kamu keras kepala!" pinta Ibra menghiba, Nissa tidak bergeming. Dia tetap keras kepala menolak ajakan Ibra. Sekilas Nissa menatap langit, angin bertiup begitu kencang. Anomali cuaca yang cepat berubah.


DUaaarrr Duaaarrr Duaaarrr


Suara guntur menggema di seluruh penjuru langit. Kilatan petir menyambar bergantian, menerangi langit. Biru langit seketika tergantikan awan gelap. Pertanda langit akan memuntahkan air mata sucinya. Anugrah terbesar bagi seluruh penghuni bumi. Kala langit bersiap memuntahkan kesedihannya. Langit yang terus bertasbih dengan gelegar suara petir.


"Masuk sekarang atau aku akan menarikmu!" ujar Ibra marah, ketika mendengar suara petir yang saling bersahutan.


Langit yang awalnya cerah, entah kenapa berganti menjadi gelap gulita? Senja pergi tanpa pamit, saat mendung menyapa petang. Ibra sudah menduga akan turun hujan. Angin dingin yang menusuk tulangnya. Sebuah pertanda nyata, jika langit ingin menangis. Nissa yang semula keras kepala, mulai ragu dengan kegigihannya. Amarah Ibra seolah benar, ketika Ibra mencemaskan dirinya. Akhirnya dengan terpaksa, Nissa masuk ke dalam mobil Ibra.


"Terima kasih!"


"Tidak perlu, kamu saudara kak Fahmi. Jadi aku bertanggungjawab akan keselamatanmu. Lagipula kak Fahmi banyak berjasa pada keluargaku. Aku hanya ingin membalas budi padanya!"


"Ternyata dia membantuku demi sebuah balas budi. Aku pikir dia akan meminta maaf. Ternyata aku salah, Ibra tetap sama. Dia tidak akan pernah menghargai orang lain. Selamanya dia hanya peduli pada kesenangan dirinya sendiri!" batin Nissa, lalu menoleh ke luar jendela mobil Ibra.


Ciiiittt


Suara rem mobil Ibra, seketika membuyarkan lamunan Nissa. Tanpa dia sadari, mobil Ibra sudah sampai di rumahnya. Lebih tepatnya rumah pribadi Fahmi. Ibra sudah mengantarnya dengan selamat. Nampak Nissa mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya. Entah kenapa dia menangis? Padahal semua sudah lama berlalu. Namun sebuah hati tak pernah bisa memungkiri. Jika hati telah memilih, akan sangat sulit untuk mengakhiri.


"Terima kasih!" sahut Nissa, lalu membuka pintu mobil Ibra.


"Tunggu!" ujar Ibra lirih, tangannya menahan tangan Nissa. Seketika Nissa menoleh, dia melihat tatapan Ibra begitu teduh. Wajah tampan yang pernah membuatnya kacau. Kini nampak begitu dekat dengannya.


"Maaf!" ujar Ibra, ketika menyadari telah menyentuh tangan Nissa. Ibra langsung melepaskan tangan Nissa.


Seandainya itu Nissa yang dulu, mungkin Ibra tidak akan merasa bersalah. Ketika menyentuh lengan Nissa. Namun saat ini Nissa berbeda, ada batasan yang sengaja ingin ditunjukkan Nissa pada Ibra. Bagaimanapun Ibra harus menghormati perubahan dalam diri Nissa?


"Ada apa?" sahut Nissa heran.

__ADS_1


"Tunggulah sebentar, aku akan mengambilkan payung. Kalau kamu keluar sekarang, kamu akan basah kuyub oleh hujan!"


"Tidak perlu Ibra, terima kasih!" tolak Nissa sopan, Ibra diam menatap Nissa.


"Aku tahu kamu alergi air hujan. Setetes air hujan, mampu menumbangkanmu. Berhentilah bersikap kuat, jika nyatanya kamu membutunkan orang lain. Lagipula, aku tidak mengharapkan balasan atau kata terima kasih darimu!" ujar Ibra tegas, Nissa diam menunduk. Sekarang Nissa tak lagi mampu menolak permintaan Ibra.


"Nissa, keluarlah!" ujar Ibra, tangan Ibra memegang sebuah payung yang siap melindungi Nissa dari air hujan.


"Ibra, kamu basah!" teriak Nissa, ketika menyadari Ibra memilih menjauh. Saat dirinya berlindung di bawah payung yang dipegang Ibra.


"Air hujan tidak akan membuatku sakit!" sahut Ibra, sembari terus memayungi Nissa. Sesekali nampak Ibra mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.


"Ibra, terima kasih sudah mengantarku!" ujar Nissa ramah dan hangat, sesaat setelah Nissa sampai di teras rumahnya. Ibra memgedipkan kedua matanya. Mengiyakan kata terima kasih dari Nissa.


"Nissa!" panggil Ibra, Nissa langsung menoleh.


"Maafkan aku, jika pernah melukai harga dirimu. Namun sikap keras dan penolakanku, semua demi melindungimu. Saat itu aku menerima tantangan itu, agar tidak ada laki-laki yang akan mempermainkan hatimu. Sebaliknya saat aku menolak rasamu, semua itu demi keselamatanmu. Sebab banyak teman kita yang akan menyakitimu. Bukan karena mereka menyukaiku, tapi melihatmu dekat denganku. Mematik rasa cemburu di hati mereka. Namun keputusanku salah, kamu malah menjauh tanpa kata. Niatku melindungimu, malah aku orang yang paling menyakitimu. Sekali lagi maaf!" tutur Ibra menjelaskan, lalu berpaling tanpa menunggu Nissa menerima kata maafnya.


"Ibra, apa yang sedang kamu lakukan? Satu kepedulianmu mampu meruntuhkan benteng yang aku bangun selama ini. Hari ini, ketika kamu mengetahui alergiku terhadap hujan. Jujur aku terkejut, sebab tidak semua orang mengetahuinya. Bahkan kak Fahmi orang yang paling dekat denganku. Namun dengan hangat kamu melindungiku. Kamu mengorbankan dirimu, hanya agar aku tetap kering. Salahkah, jika aku merasa berharga dalam dirimu. Atau aku harus menelan kenyataan pahit. Jika kamu tidak akan pernah melihat ke arahku. Sungguh Ibra, sikap hangatmu ini nyata atau hanya mimpi!" batin Nissa sembari menatap mobil Ibra yang terus menjauh.


"Dia laki-laki baik, kamu menyukainya!" bisik Fahmi.


"Aku tidak menyukai Ibra!" sahut Nissa spontan. Fahmi terkekeh mendengar jawaban Nissa.


"Jelas kamu menyukainya, tapi malah mengelak!"


"Aku tidak menyukai Ibra!" teriak Nissa.


"Aku hanya mengatakan laki-laki itu, bukan Ibra. Namun kamu mengatakan tidak menyukai Ibra. Jelas Ibra yang ada dalam pikiranmu!" ujar Fahmi lalu menjauh, meninggalkan Nissa termenung menatap langit yang terus menangis.

__ADS_1


__ADS_2