
"Selamat pagi tuan Haykal!" sapa Nissa ramah, sontak Haykal menoleh dengan raut wajah tak percaya.
Nissa wanita sederhana membuat Haykal malu di depan Embun. Dengan kepintaran, Nissa mengungkap kecurangan yang dilakukan Haykal. Korupsi yang dengan sengaja membuat perusahaan Adijaya merugi. Haykal meradang, ketika dia melihat Nissa berada di kantornya. Bahkan Nissa kini menjadi perwakilan Embun. Artinya Nissa yang memegang kekuasaan atas perusahaannya sekarang.
"Kamu ada di sini. Dimana wanita itu?" ujar Haykal dingin, Nissa tak menggubris pertanyaan Haykal. Dengan santai, Nissa duduk di kursi paling depan. Kursi yang khusus disediakan untuk pemimpin rapat.
"Kamu tidak mendengar aku bicara? Dimana wanita itu?" ujar Haykal dengan nada sedikit tinggi, Nissa langsung menoleh ke arah Haykal. Tatapan Nissa mengisyaratkan rasa tidak suka. Nissa marah dengan cara bicara Haykal. Nissa sudah mengerti, siapa wanita yang dimaksud Haykal? Namun Nissa tidak ingin menjawab, selama Haykal tidak menghargai Embun.
"Saya diam, karena saya tidak mengerti siapa yang anda maksud?"
"Jangan pura-pura bodoh, kamu jelas mengerti arah pertanyaanku. Kamu sangat mengenal wanita yang aku maksud. Sekarang katakan, dimana wanita itu? Kenapa kamu yang menggantikannya!"
"Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak mengerti wanita yang anda maksud. Jadi silahkan anda duduk, waktu saya tidak banyak!" ujar Nissa tegas, Haykal menggebrak meja. Nissa tersenyum tipis, tatapan Nissa jelas sedang mengolok-olok sikap Haykal.
"Ternyata anda tidak berubah, anda tetap angkuh dan sombong. Saya tidak akan menjawab pertanyaan anda. Selama anda tidak mengatakan dengan jelas siapa wanita itu? Saya mungkin mampu mengungkap kecurangan yang anda lakukan. Namun saya bodoh, jika berhubungan dengan wanita yang anda maksud!"
"Jaga bicaramu, aku pemilik perusahaan ini!"
"Anda mungkin pemilik perusahaan ini, tapi status itu hanya di atas kertas. Pemilik sesungguhnya perusahaan ini, tak lain putra anda. Dia yang mengorbankan segalanya demi menebus kebebasan anda. Dia yang kini berjuang dari nol, mengemis kepercayaan dari investor. Demi modal untuk bangkit, setelah kehancuran yang anda berikan!" ujar Nissa lantang, Haykal menatap tajam Nissa. Seakan dia tidak mengerti arah pembicaraan Nissa.
__ADS_1
"Kamu berbohong!"
"Untuk apa saya berbohong? Kenyataannya sekarang kak Abra dan kak Fahmi berjuang dari nol. Mereka berusaha mendapatkan modal, untuk mega proyek yang sekarang tengah mereka kerjakan!"
"Kenapa Abra tidak mengatakannya padaku?"
"Apa anda peduli dengan duka orang lain? Selama ini anda hanya ingin melukai, tidak sedikitpun anda berpikir memberi kebahagian pada kak Abra. Setidaknya ketenangan di tengah keluarga kecilnya. Hati anda terlalu gelap, sampai tawa riang Rafan tak mampu membuat anda tersentuh. Jadi jangan pernah bertanya, kenapa kak Abra atau Ibra memilih diam? Daripada mengatakan segalanya pada anda. Ayah yang seharusnya merangkul dalam kebahagian, tapi malah mendorong putranya dalam kesengsaraan. Maaf tuan Haykal, saya mengatakan semua ini. Bukan demi anda, tapi demi putramu yang tak pernah ingin melihat ayahnya hancur. Masih ada waktu anda menyadari kesalahan. Sebelum anda kehilangan segalanya, tepat setelah melihat putramu hancur tanpa sisa!"
"Sejahat itukah aku pada Abra?" batin Haykal pilu.
"Apa hakmu bicara seperti ini?"
"Saya memang tidak berhak, tapi sebagai seorang anak yang merasakan hal yang sama dengan kak Abra dan Ibra. Aku menyadari benar, apa yang paling mereka inginkan? Pergi sejauh mungkin melupakan ayah yang tak pernah peduli akan sakit anaknya!" ujar Nissa tegas, Haykal diam membisu. Tak ada lagi kata yang mampu terucap dari bibir Haykal.
"Kita mulai rapat!" sahut Haykal lirih, Nissa mengangguk pelan.
Nissa dan Haykal mulai mendiskusi point yang ada dalam kontrak. Embun meminta Nissa mengatur kembali sistem kontrak dengan perusahaan Haykal. Embun tidak ingin terjadi kecurangan untuk kedua kalinya. Nissa memegang kendali atas kerjasama dengan perusahaan Adijaya. Namun semua atas pengawasan dari Embun.
"Baiklah tuan Haykal, saya harus pergi. Jika ada pertanyaan tentang isi kontrak. Silahkan katakan sekarang!" ujar Nissa lugas, Haykal tak lagi peduli dengan isi kontrak yang baru saja ditandatanganinya. Haykal teringat akan perkataan Nissa. Dia gelisah mengingat, betapa kejamnya dirinya.
__ADS_1
"Tunggu!" ujar Haykal, tepat bersamaan dengan langkah Nissa keluar dari ruang rapat.
"Iya!" sahut Nissa sembari menghentikan langkahnya.
"Jika aku sejahat itu, kenapa Abra tidak pernah memusuhiku?"
"Sebab kak Abra putra yang akan selalu menyayangi ayahnya. Jauh sebelum kak Abra menjadi seorang suami, dia putra kecilmu yang kagum akan dirimu. Walau kini dia menjadi seorang suami, kak Abra tetap putra kebanggaanmu yang takkan pernah ingin menjadi musuhmu. Bahkan saat dia menjadi seorang ayah, kak Abra tetaplah putra yang ingin melindungimu. Kak Abra menangis, ketika menatap wajah polos Rafan. Dia merasakan kerinduan yang ada dalam dirimu. Sebab itu kak Abra sanggup mengorbankan segalanya demi dirimu!"
"Kamu hanya asal bicara, bagaimana mungkin kamu mengetahui semua itu?"
"Tuan Haykal, Embun wanita yang tak pernah anda anggap keberadaannya. Wanita yang bahkan menyebut namanya saja, anda seolah jijik. Dia wanita yang penuh dengan pengertian. Seorang menantu yang tak pernah ingin membuat anda jauh dengan kak Abra. Bahkan Embun rela melepas statusnya sebagai penerus keluarga Adijaya. Hanya demi menjaga kehormatan suaminya. Ayah dari putra kecilnya, cucu yang tak pernah ingin anda lihat!"
"Tidak mungkin!" ujar Haykal tak percaya, ada rasa bersalah yang tertutup oleh keangkuhan.
"Tuan Haykal, jauh sebelum Embun menjadi menantu keluarga Abimata. Embun itu sahabatku, jangankan menyakiti anda. Mengecewakan atau membalas orang yang jahat padanya. Embunku tidak akan pernah sanggup. Kebenciannya bukan dengan amarah, tapi dengan kasih sayang yang tak pernah ada habisnya!" ujar Nissa lantang, lalu memutar tubuhnya. Namun Nissa kembali menoleh ke arah Haykal. Nissa merasa ada yang mengganjal di hatinya.
"Tuan Haykal, ketuk pintu rumah menantumu sekali saja. Agar anda bisa merasakan kehangatan Embun yang sesungguhnya. Aku percaya, hatimu tidak segelap itu. Masih ada cinta, walau itu hanya seujung kuku. Percayalah tuan Haykal, tidak ada kata terlambat. Embun masih membuka hatinya, semua belum terlambat. Demi Kak Abra, pergilah!" ujar Nissa dengan tulus.
"Kenapa aku merasakan sakit? Aku memang ayah yang tidak berguna. Abra selama ini menjauh dariku, tapi dia tidak pernah meninggalkanku. Kenapa aku begitu angkuh? Sekadar mengakui istri Abra, aku tak sanggup. Haruskah aku datang menemuinya? Tidakkah dia membenciku, setelah semua yang kulakukan padanya. Namun aku tetap harus mencoba, demi kebahagian putraku Abra!" batin Haykal.
__ADS_1
"Nissa cantik, kamu hebat bisa membuat tuan Haykal terdiam!" ujar Ibra yang tiba-tiba muncul.
"Hmmmm!" sahut Nissa dingin.