
Tujuh bulan berlalu dengan cepat, hanya ada tawa dan bahagia. Kanaya menjalani peran barunya sebagai calon ibu. Sedangkan Galuh setia menemani Kanaya melewati kesakitannya. Rafan dokter yang senantiasa ada dalam hari-hari sang adik. Embun menjadi penopang, kala lemah mengusik jiwa Kanaya. Abra menjadi pelindung yang siap menjaga Kanaya dengan tubuh tuanya. Semua bersatu menyambut calon keluarga baru. Sampai tujuh bulan terasa begitu cepat.
Rasa sakit tak lagi terasa, ketika semua menopang tubuh Kanaya. Tendangan-tendangan kecil sang buah hati, penguat di kala lelah dan lemah menyergap tubuh Kanaya. Sentuhan lembut Galuh di atas perut buncitnya. Terasa hangat dan nyaman, bak obat yang menghilangkan rasa sakitnya. Kanaya semakin kuat dengan dukungan para keluarga. Terutama Galuh, suami yang selalu ada dalam sakitnya.
Namun kebahagian itu terusik, di malam yang pekat dan sunyi. Teriakkan Kanaya bak petir yang menyambar, membangunkan seluruh anggota keluarga. Sejak usia kandungan Kanaya menginjak trimester ketiga. Kanaya memilih tinggal di rumahnya, Galuh tidak keberatan dengan permintaan Kanaya. Sebab di rumahnya, Kanaya jauh lebih tenang dan nyaman. Apalagi ada Rafan yang siaga menjaga Kanaya. Galuh akan menginap, tapi tidak setiap hari. Entah kebetulan atau tidak? Jeritan Kanaya terdengar, kala Galuh tidak berada di sampingnya.
Malam terasa mencekam, ketika Rafan melihat kesakitan Kanaya. Air ketuban Kanaya pecah, tepat di usia tujuh bulan. Rafan kalut melihat banyaknya air ketuban Kanaya. Tanpa berpikir panjang, Rafan membawa Kanaya ke rumah sakit. Tangis Aulia mengiringi kepergian Kanaya menuju rumah sakit. Abra dan Embun berdiri tegak, meski tulang belulangnya terasa remuk. Kala air mata Kanaya menetes tanpa henti. Hati Embun rembuk redam, ketika mendengar jeritan penuh rasa sakit yang keluar dari bibir putri kecilnya.
Tepat tengah malam, ambulans yang membawa Kanaya tiba di rumah sakit. Suara roda brankar menggema di lorong rumah sakit. Raut wajah Rafan pias, melihat Kanaya kesakitan. Rafan telah menghubungi dokter yang selama ini merawat Kanaya. Rafan hanya dokter bantu, sebab dia bukan dokter kandungan. Terkadang Rafan menyesal, kenapa dia tidak menjadi dokter kandungan? Namun semua telah terjadi dan kini dia hanya bisa berdiri di samping melihat adik kecilnya kesakitan.
Tap Tap Tap
"Kanaya!" ujar Galuh lirih penuh kecemasan, Abra menoleh ke arah ruang operasi. Galuh berlari ke arah pintu, tapi terlambat pintu sudah tertutup rapat.
"Maafkan papa Galuh, papa yang mengizinkan operasi pada Kanaya. Kondisi Kanaya tidak baik-baik saja, Rafan takut akan terlambat bila menunggumu!" ujar Abra, Galuh terdiam membisu. Tangannya menempel di pintu ruang operasi. Air matanya tertahan, kebahagiannya terhenti dan tergantikan ketakutan akan kehilangan Kanaya.
"Galuh, duduklah!" pinta Abra, Galuh menggeleng lemah. Galuh menempelkan kepalanya, seolah dia ingin menyentuh tubuh Kanaya. Galuh marah pada dirinya sendiri. Menyesal tidak ada di samping Kanaya.
"Kanaya, maafkan aku!" ujar Galuh lirih, suara Galuh terdengar pilu. Penyesalan yang membuatnya marah pada dirinya sendiri.
Buuugghhh
"Tenangkan dirimu Galuh, kuatlah demi Kanaya. Bukan saatnya kamu lemah atau menyalahkan dirimu sendiri. Kemarahanmu takkan pernah membuat semuanya kembali dan baik-baik saja. Bersujudlah, minta pertolongan-NYA. Mama yang akan menjaga Kanaya. Hanya doa tulusmu yang mungkin membuat semuanya baik-baik saja!" tutur Embun, sesaat setelah menepuk pelan pundak Galuh.
"Kenapa Kanaya?" ujar Galuh lirih, Embun mengedipkan kedua matanya. Embun mencoba menenangkan Galuh, berharap putranya kuat menerima kemungkinan terburuk. Embun tetap tegar, bukan dia kuat atau tidak sedih melihat ketakutan Galuh. Namun ketegarannya yang akan menopang lemah Galuh dan Kanaya.
"Kenapa Kanaya? Karena Kanaya wanita pilihan, dia ibu pilihan dan dia hamba pilihan. Kenapa Kanaya? Sebab hanya Kanaya yang mampu melewati semua ini. Tidak ada ujian yang melebihi kemampuan hamba-NYA. Kenapa Kanaya? Oleh karena Kanaya hamba yang beriman. Percayalah Galuh, semua akan baik-baik saja. Yakinlah, apapun yang terjadi? Semua yang terbaik. Sekarang pergilah, bersujudlah dan berdoa demi istri dan putramu!" tutur Embun, Galuh mengangguk pelan.
Embun menatap punggung Galuh menjauh. Tatapan Embun lurus ke arah pintu ruang operasi, hatinya teriris melihat sakit Kanaya. Embun merasakan kepedihan Kanaya dan ketakutan Galuh. Abra merangkul Embun, menopang tubuh tegak Embun yang sebenarnya lemah. Abra mengenal Embun, pribadi kuat di luar tapi sangatlah rapuh di dalamnya.
__ADS_1
"Semua pasti baik-baik saja!" bisik Abra, Embun mengangguk setuju.
Setelah hampir dua jam, akhirnya ruang operasi terbuka. Rafan keluar dengan tubuh yang terlihat lelah. Wajahnya kusut tak berwarna, Rafan melangkah gontai. Rafan tertunduk lesu tepat di depan Embun. Rafan memeluk Embun, mencari kekuatan di balik tubuh lemah ibunya. Embun memeluk Rafan, mengusap lembut punggung Rafan. Menenangkan kegelisahan seorang kakak yang takut akan kondisi Kanaya.
"Terima kasih kak, terima kasih sudah berusaha menjaga Kanaya!" bisik Embun, Rafan diam membisu.
"Maafkan aku!"
"Kamu sudah berusaha, sekarang hanya DIA yang menentukan. Semua atas kehendak-NYA, jangan putus asa dengan ketetapan-NYA. Percayalah, semua ini yang terbaik!" ujar Embun, Rafan mengangguk dalam pelukan Embun.
"Kak!" sapa Galuh, Rafan mendongak menatap sendu Galuh.
"Masuklah Galuh, azani putramu sebelum dia masuk ke ruang NICU!" ujar Rafan lirih dan lemah, Galuh diam tak bersuara. Seakan dia tak percaya, putranya lahir sebelum waktunya. Galuh terpaku, mendengar Kanaya telah melahirkan buah hati mereka.
"Kanaya!"
"Dia masih di ruang operasi. Kista di rahim Kanaya membengkak dan harus di angkat!" ujar Rafan, Galuh terhuyung lemah.
"Bagaimana keponakanmu?" ujar Embun, Rafan menatap dengan diam.
"Mungkinkah dia bertahan?" ujar Embun lagi, Rafan menunduk tak sanggup lagi menatap wajah Embun.
Embun mengangguk mengerti, dengan tegarnya Embun memeluk Rafan. Menenangkan ketakutan Rafan, berpikir semua akan baik-baik saja. Embun mencoba tetap tegar. Meski hati dan jiwanya menjerit. Embun takkan tumbang, demi kuat putra-putrinya. Setelah hampir tiga jam, semua akhirnya selesai. Kanaya berada di ruang ICU, sedangkan si kecil berada di ruang NICU.
"Rafan, pulanglah dan tenangkan dirimu. Mama yang akan menjaga Kanaya!"
"Aku tidak akan pulang, sebelum Kanaya tersadar!"
"Papa, dimana Galuh?" ujar Embun, Abra meninggalkan Galuh di depan ruang NICU. Galuh tak ingin jauh dari putra kecilnya.
__ADS_1
"Sayang, lebih baik kamu pulang. Aku dan Rafan yang akan menjaga Kanaya!"
"Aku tetap disini!" sahut Embun tegas, Abra mengangguk pelan.
"Kita akan menjaga Kanaya bersama!" ujar Abra, lalu berdiri di samping kanan Embun. Sedangkan Rafan berdiri tepat di sisi kiri Embun. Mereka saling merangkul, menatap lurus ke arah ruang ICU. Menatap pilu tubuh lemah Kanaya yang terbaring tak berdaya.
"Kanaya sayang, kami semua ada disini menjagamu!" batin.
......................
IBU......
seorang wanita yang rela merubah dirinya menjadi pengasuh, untuk anak-anaknya.
IBU.....
orang pertama yang terluka, ketika melihat sakit putranya.
IBU...
rela menahan lapar asalkan anaknya kenyang.
IBU...
ikhlas bila lelahnya menjadi berkah, untuk anak-anaknya.
IBU...
tidak membutuhkan perkataan, untuk memahami anaknya. Sebab ibu mengenal dan memahami putranya dengan perasaan dan kasih sayang.
__ADS_1
Tidak setiap wanita bisa melahirkan seorang putra, tapi setiap wanita berhak menjadi seorang ibu. Terima kasih ibu, telah melahirkan dan membesarkan kami. Salut bagi para ibu tangguh, kalian wanita kuat dan hebat. Surga berada di bawah telapak kalian. Pengorbanan kalian bukti kemurnian hati seorang wanita.
IBU....Terima kasih