
"Abra, kamu datang sendirian. Dimana Embun dan Rafan?" ujar Indira lirih, Abra diam menunduk. Sejenak ada rasa sakit yang menusuk hatinya. Abra tak mampu menjawab pertanyaan Indira. Sebuah ketulusan yang mungkin takkan pernah lagi terdengar oleh Embun.
Abra mengingat malam, ketika Embun keluar dari rumah keluarga Abimata. Embun menangis dan meratap di pangkuan sang pemilik hidup. Mengeluh akan rasa sakit yang terus dirasakannya. Menyesal akan cintanya yang begitu besar pada Abra. Rasa kecewa, saat dihatinya mulai ada keraguan akan ketulusan kasih sayang Indira padanya. Embun menumpahkan semua keluh kesahnya. Embun baru pulang sekitar pukul 02.30 WIB, Embun terus bersujud dan berdoa. Mencari ketenangan dalam gelisah hatinya. Demi satu iman yang tak pernah ingin Embun pertaruhkan. Mencari kembali arti cintanya pada Abra.
Abra menghela napas, kejadian malam itu membuat Abra tersadar. Rasa sakit Embun dan kesalahpahaman diantara mereka. Semua terjadi karena ketidakpercayaannya pada Embun. Rasa nyamannya bersama Sabrina, menjadi tanda hati Abra mulai mendua. Pengkhianatan Abra membuat jarak tak terlihat dengan Embun. Kata maaf yang terucap dari bibir Abra, seolah hanya kata tanpa makna. Namun semua harus berakhir dan hanya Abra yang bisa mengakhirinya. Sebab itu malam ini Abra datang ke rumah Abimata. Dia ingin mengakhiri duka yang terus menyelimuti hati Embun.
"Dimana papa dan yang lainnya? Aku ingin bicara dengan mereka!" ujar Abra, Indira menatap nanar Abra. Indira merasa aneh dengan cara bicara. Indira semakin yakin dengan firasatnya. Ketika Abra bertanya tentang semua orang, tapi Abra mengacuhkan pertanyaan Indira.
"Abra, ada masalah?" sahut Indira, Abra menggelengkan kepalanya lemah.
"Baiklah Abra, tunggu di ruang tengah. Mama akan memanggilkan semua orang!" ujar Indira lirih, Abra mengangguk tanpa menoleh ke arah Abra.
Indira menekan dadanya pelan, ada rasa ngilu yang teramat. Entah apa yang terjadi? Indira merasakan sakit hati yang tak biasanya. Indira merasa sikap Abra tidak seperti biasanya. Tatapan Abra mengisyaratkan sebuah kepedihan yang tak terucap. Indira mencoba menenangkan gelisah yang mengusik hatinya. Dengan langkah tenang, Indira berjalan menemui semua orang. Indira terus menyakinkan dirinya. Semua baik-baik saja.
"Ada apa Abra? Kenapa kamu meminta kami berkumpul?" ujar Haykal heran, sepintas terlihat Haykal menoleh ke kanan dan ke kiri. Seolah tengah mencari seseorang, tapi tak ada siapapun di samping Abra? Haykal merasa kecewa, ketika kedua mata senjanya. Tak lagi bisa melihat Rafan cucu kesayangannya.
"Kak Abra, kenapa sejak tadi kakak diam? Kakak sedang ada masalah atau perusahaan sedang tidak baik-baik saja!" ujar Ibra cemas, Abra diam membisu. Nampak Abra mencoba menenangkan hatinya. Abra mencoba memulai semuanya dengan ketenangan.
Ibra yang duduk berdampingan dengan Nissa, mulai merasa gelisah. Abra pribadi yang dingin, tapi Abra tidak akan diam atau lemah seperti sekarang. Namun dengan kedua matanya, Ibra melihat kakak kebanggaannya lemah tak berdaya. Diam Abra menyimpan duka yang mudah terlihat oleh Ibra. Sedangkan Indira terus menenangkan hatinya. Mengusir rasa cemas yang menyergap hatinya. Kedua tangan lemahnya, menggenggam erat tangan Haykal. Ketakutan yang akan terjawab, ketika Abra mengatakan semuanya.
"Apa kakak akan bercerai dengan Embun? Jika memang benar, aku orang pertama yang akan bahagia. Aku akan merayakannya bersama anak-anak yatim. Sebab kakak kebanggaanku akan kembali ke tengah-tengah keluargaku!" ujar Naura lantang, sontak Abra mendongak. Abra terkejut dan tak percaya, perpisahannya menjadi hal yang paling diinginkan keluarganya. Kehancuran kebahagiannya, seolah perayaan besar yang pantas dirayakannya. Abra menggeleng lemah, tak lagi ada amarah atau kebencian. Semua menyisakkan keyakinan akan keputusan yang sudah diambil Abra.
"Diam kamu Naura, sekali lagi kamu bicara. Dengan kedua tanganku, aku akan menutup mulutmu!" ujar Ibra marah, emosi Ibra terlihat di kedua matanya. Seketika Naura diam, menunduk ketakutan melihat amarah Ibra.
Kakak yang sangat menyayanginya, selalu ramah dan ceria bila bersamanya. Menampakkan amarah yang siap membunuhnya. Nissa langsung memegang tangan Ibra, menenangkan amarah Ibra. Sebab bukan amarahnya yang harus diperlihatkan. Namun diam Abra yang mengisyaratkan kegelisahan.
__ADS_1
"Ibra, kenapa kamu marah? Perkataan Naura memang benar. Jika wanita itu pergi dari hidup Abra. Kita semua akan bahagia, Abra bisa berkumpul bersama kita!" ujar Haykal sinis, Ibra menggelengkan kepalanya tak percaya. Nissa langsung menunduk, dia merasa sakit mendengar kebencian Haykal pada Embun. Bagaimanapun Embun sahabat terbaiknya? Nissa akan terluka, ketika Embun terhina tepat di depannya.
"Abra, jangan pedulikan perkataan papa. Tatap mata mama, katakan ketakutan yang tersimpan di hatimu. Jujur Abra, mama tak sanggup menahan sakit hati ini. Sejak kamu melangkah masuk ke dalam rumah ini. Hati mama terasa sakit, mama tidak merasa kedatanganmu membawa kepedihan. Mama mohon bicaralah Abra, marah dan maki papamu. Jika itu bisa membuatmu tenang, tapi mama mohon jangan hanya diam. Mama takut melihat diammu, jika akhirnya mama kehilanganmu!" tutur Indira lirih, setetes air bening jatuh tepat di pelupuk matanya.
Indira menangis tanpa alasan. Haykal merasa heran, kenapa tiba-tiba Indira menangis? Haykal mencoba menenangkan Indira, tapi usahanya gagal. Bukannya mereda, tangis Indira semakin pecah. Ibra dan Nissa cemas, Naura langsung memeluk Indira. Bahkan isak tangis Indira membuat napasnya sesak. Sontak Nissa mengambilkan Indira minum. Haykal tak mengerti alasan tangis Indira, tapi Haykal lebih tidak mengerti akan diam Abra. Ketika semua mencemaskan Indira, Abra terlihat diam dengan wajah yang terus menunduk. Tak ada rasa cemas atau khawatir, seolah Indira bukan siapa-siapa dan tak berarti bagi Abra.
"Abra, kamu bukan patung yang tak berhati. Kenapa kamu diam melihat mama Indira menangis? Walau dia bukan ibu kandungmu, setidaknya kamu mencemaskannya sebagai ibu dari adik-adikmu!" ujar Haykal lantang penuh emosi, Abra tetap menunduk. Seolah tangis Indira tak mampu mengetuk hatinya. Haykal meradang, dia marah melihat sikap tak pantas Abra. Indira tak pernah melahirkan Abra, tapi Indira menyayangi Abra seperti putra kandung. Sangat tak pantas, jika Abra mengacuhkan kecemasan Indira. Ketakutan Indira akan firasat seorang ibu.
"Abra!" teriak Haykal, seketika suara lantang Haykal memecah kesunyian. Tangis Indira terhenti, ketika mata sembabnya melihat Haykal mencengkram erat leher Abra. Tangan kanan Haykal bersiap menampar Abra. Sontak Indira menahan tangan Haykal, berharap Haykal tak melakukannya.
"Jangan, aku mohon!" pinta Indira menghiba, Haykal menurunkan tangannya. Haykal memapah Indira duduk. Abra tetap tak bergeming, Abra layaknya patung tak berhati. Beku dan dingin, tanpa ada rasa iba atau benci. Abra hidup tapi seolah mati.
"Abra, katakan pada mama. Firasat mama salah, kamu tidak akan pergi jauh dari kami. Kamu akan tetap bersama kami!" ujar Indira lirih, Abra mendongak menatap Indira. Sontak Indira menangis, tatapan Abra seolah mengiyakan perkataan Indira.
"Tidak!" sahut Indira.
"Kamu akan pergi!" sahut Haykal tak percaya.
"Abra harus pergi, bukan hanya dari rumah ini. Abra akan meninggalkan kota, bahkan negara ini. Satu jam lagi pesawat Abra berangkat!"
"Tidak, kamu tidak boleh meninggalkan papa!"
"Maafkan Abra pa, ini keputusan terbaik. Abra tidak bisa hidup tanpa Embun, tapi papa tidak akan pernah bisa menerima Embun. Sikap papa kemarin malam sudah sangat keterlaluan. Embun terhina dan tersisih di rumah yang seharusnya melindunginya. Abra tidak lagi memiliki alasan membawa Embun masuk ke dalam rumah ini. Abra memutuskan pergi, demi kebahagian Abra yang tertunda!"
"Dia yang membuatmu menjauh dari papa!" ujar Haykal sinis, Abra menggeleng lemah.
__ADS_1
"Embun meninggalkan segalanya demi Abra. Embun menolak kemewahan demi menjaga kehormatan Abra. Embun terus tersisih dan terhina oleh papa, demi membuat Abra tenang. Namun Abra tak lagi sanggup menerima pengorbanannya. Sudah cukup Abra membuat Embun mengalah. Sudah saatnya Abra berani melawan. Maafkan Abra harus memilih Embun, sebab dia yang selama ini mengalah demi Abra. Sekarang Abra yang harus berjuang, Abra akan membawa Embun dan Rafan menjauh dari papa. Agar tak ada lagi air mata dalam keluarga kecil Abra!"
"Papa mohon, jangan tinggalkan papa sendirian!"
"Papa tidak akan sendirian, Ibra dan Nissa akan selalu menemani papa!"
"Mama, terima kasih telah menyayangi Abra. Maafkan Abra, jika waktu kebersamaan diantara kita sangat singkat!" ujar Abra, lalu mencium punggung tangan Indira. Tangis Indira pecah, Indira menggenggam erat tangan Abra. Namun perlahan Abra menepisnya. Abra berjalan menghampiri Ibra dan Naura.
"Jaga papa dan mama, maafkan kakak!"
"Haruskah kakak pergi!" ujar Naura lirih, Abra mengangguk tegas.
"Kakak tidak bisa berpisah dengan Embun. Jika kebahagianmu hanya ada, saat kami berpisah. Maka maafkan kakak, tidak akan ada perpisahan diantara kami. Sebab kakak akan membawanya pergi!"
"Maafkan Naura!" ujar Naura lirih, Abra menggelengkan kepalanya pelan. Abra mengusap lembut kepala Naura.
"Jadilah wanita mandiri, agar tak ada laki-laki yang menghina harga dirimu. Tetap tersenyum adik kecilku!" ujar Abra, lalu mengecup lembut kening Naura.
"Abraaaaa!" teriak Haykal, tapi langkah Abra semakin menjauh.
"Tuan Haykal putramu pergi, selamat atasa keberhasilanmu. Kamu menghancurkan pondasi rumahtangga kita. Mulai sekarang, aku hanya istri di atas kertas. Aku ada di sampingmu, hanya demi Ibra dan Naura. Aku akan menjaga mereka, tidak akan aku kehilangan putraku lagi. Terima kasih Haykal, kamu memberiku hadiah yang paling menyakitkan!" ujar Indira lirih, Haykal menunduk penuh penyesalan.
Braaaakkkkk
"Mama!" teriak Ibra dan Nissa, tubuh Indira jatuh menghantam lantai. Kepergian Abra menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
"Indira, sadarlah!" ujar Haykal lirih.