KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sang Pengasuh


__ADS_3

Hari ini tepat, lima tahun kepergian Salma. Dia seorang pengasuh yang sudah seperti ibu bagi Kanaya. Sejak Kanaya kecil, Salma merawat Kanaya. Namun takdir berkata lain, Salma tak pernah kembali lagi. Salma pergi untuk mengunjungi keluarganya. Namun setibanya di tanah air, Salma sakit dan akhirnya meninggal. Kanaya hancur mendengar berita kematian Salma. Satu hal yang dilakukan Kanaya, setibanya di tanah air. Tidak lain mencari makam Salma, pengasuh yang begitu disayanginya.


Kanaya masih mengingat dengan jelas, ketulusan Salma padanya. Setiap hari, Kanaya selalu bersama dengan Salma. Bahkan di hari terakhir Salma bekerja. Kanaya masih sempat bersikap manja dalam pelukan Salma. Kenangan yang terus terbayang dalam ingatan Kanaya. Perkataan Salma yang seolah isyarat akan sebuah perpisahan.


FLASH BACK


Sang Fajar menyingsing dari ufuk timur. Cahaya menembus jendela kaca sebuah kamar. Hangat sinarnya mampu terasa oleh kulit. Pagi menjelma membangunkan semua makhluk. Memulai aktivitas seperti sedia kala. Terlihat burung pipit berterbangan dari dahan satu ke dahan yang lain. Kicauannya terdengar nyaring, tapi tak terdengar oleh makhluk penghuni kamar yang paling atas. Kamar seorang gadis remaja yang mulai menginjak dewasa. Namun sikap dan tingkahnya layaknya anak kecil yang kurang kasih sayang.


Srreeeekkk


Terdengar suara gesekan besi horden yang bertaut. Bik Salma membuka horden dan jendela, membiarkan cahaya matahari dan panasnya masuk ke dalam kamar yang masih gelap. Setiap harapan dari seorang ART yang dianggap orang tua oleh sang gadis. Berharap kelak cahaya matahari mampu menyinari hati gelap sang gadis. Kehangatan sinar matahari mampu menghangatkan jiwanya yang sepi akan kasih sayang.


Hampir setiap hari bik Salma membuka jendela dan horden. Membangunkan sang pemilik kamar yang tak lain nona muda keluarga ini. Seorang gadis yang sudah selayaknya anak baginya. Seorang nona muda keluarga terpandang dan kaya.


Ehhhmmmm


Terdengar suara sang gadis yang mencoba mengerjapkan kedua mata indahnya. Sembari merentangkan tangan, merasakan tulang-tulangnya yang terasa pegal. Lamanya tertidur membuatnya kelelahan. Hangat sinar matahari menyentuh wajah cantiknya. Cahaya matahari menyilaukan, kala kedua matanya membuka sempurna. Wajah cantik dengan mata indah yang dimilikinya, seindah dan selaras hidup yang dirasakannya. Kanaya Fauziah Abimata nama indah dengan arti yang sangat indah.


"Bik Salma, selamat pagi. Maaf aku bangun terlambat, maklum sedang datang bulan. Jadi tidak perlu bangun pagi!" ujar Kanaya, sembari menarik selimutnya kembali. Bik Salma mendekat pada Kanaya, dia duduk di tepi tempat tidur. Bik Salma menyingkirkan rambut hitam legam Kanaya yang menutupi kedua mata indahnya. Dengan lembut bik Salma membelai wajah Kanaya. Bik Salma bukan seperti ART, dia pengasuh Kanaya sejak kecil. Ditangannya Kanaya tumbuh dengan baik, mencoba memahami nona mudanya.


"Kanaya, sekarang bangun dan mandi, sudah hampir pukul 05 30 wib. Hanya sarapan waktu yang bisa membuat kalian berkumpul. Bik Salma tunggu Kanaya di bawah. Kanaya akan terlambat ke sekolah!" tutur bik Salma lembut, seraya membelai rambut hitam legam Kanaya. Rambut yang sejak kecil dia belai. Dengan malas Kanaya bangun dari tidurnya. Dia berjalan pelan menuju kamar mandi. Selama menunggu Kanaya bersiap, bik Salma membersihkan tempat tidur Kanaya. Awalnya dia ingin meninggalkan Kanaya. Namun dia takut Kanaya tertidur. Sebab itu, bik Salma memilih menemani Kanaya.


Bik Salma mengambil foto Kanaya yanga ada di atas nakas. Dia mengusap wajah cantik nona muda keluarga Abimata. Bertahun-tahun yang lalu, Salma datang ke rumah ini. Dengan harapan gaji yang sangat tinggi. Awal dia bekerja di negeri orang. Salma merasa takut, jika dia mendapatkan majikan yang galak. Namun beruntungnya Salma menemukan keluarga dari negeri sendiri. Sehingga dia tidak perlu beradaptasi dalam hal bahasa atau cara kerja.


Saat pertama kali datang, Salma mendapat pelukan dari gadis kecil yang kini tumbuh dewasa. Dengan merentangkan kedua tangannya, dia berlari memeluk Salma yang baru datang. Seketika Salma jatuh hati pada Kanaya kecil. Bahkan dia merelakan masa mudanya demi merawat Kanaya kecil. Setelah Kanaya lahir, kondisi Embun mengalami penurunan. Alasan yang membuat Abra mencari pengasuh untuk Kanaya putrinya.

__ADS_1


Keluarga Kanaya bukan keluarga sembarangan. Keluarga kaya dan terpandang. Harta yang takkan pernah habis meski tujuh turunan. Keluarga yang berbudi baik bagi sesama. Tak pernah sekalipun Salma menerima perlakuan buruk. Sebaliknya Salma mendapatkan hangat kasih sayang dari Embun dan keluarganya.


Salma mengusap air mata yang menetes, dia terharu melihat gadis semanis dan seceria Kanaya. Malah kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Lebih tepatnya harus tersisih, karena sakit yang dialami Embun. Salma sangat menyayangi Kanaya. Begitu sebaliknya Kanaya sudah menganggap Salma layaknya ibu kandung.


"Kanaya, sayang bik Salma!" Ujar Kanaya lantang, sembari memeluk bik Salma dari belakang. Rambutnya yang masih basah membuat kerudung bik Salma basah. Wanita paruh baya ini sudah terbiasa dengan sikap manja Kanaya. Dengan lembut bik Salma menarik tubuh Kanaya duduk di depan meja rias. Bik Salma mengambil handuk, lalu mengeringkan rambut panjang Kanaya.


"Kamu sudah dewasa, sebentar lagi akan menikah. Kalau untuk mengringkan rambut menunggu bik Salma. Lalu bagaimana kamu akan mengurus suamimu? Bik Salma tidak akan selamanya bersamamu!" Tutur bik Salma pada Kanaya, sontak Kanaya menatap wajah bik Salma di dalam cermin. Kanaya membalikkan tubuhnya, dia memeluk erat tubuh bik Salma.


"Jika bik Salma pergi, Kanaya juga akan pergi. Aku akan ikut bik Salma, Kanaya yang akan menjaga bik Salma. Dulu bik Salma menjaga Kanaya. Sekarang Kanaya yang akan menjaga bik Salma. Kanaya, sayang bik salma!" Ujar Kanaya sembari mendekap bik Salma. Bik Salma mendekap Kanaya, sembari membelai rambut Kanaya yang basah.


"Sudah hentikan, masih pagi kenapa malah bersedih? Sekarang Kanaya segera bersiap. Tuan dan nyonya menunggu Kanaya di bawah. Setidaknya dengan sarapan bersama. Kanaya bisa melihat tuan dan nyonya dalam satu meja. Bik Salma akan turun menyiapkan sarapan!" Ujar bik Salma ramah, Kanaya mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Bik Salma meninggalkan Kanaya yang sedang bersiap.


"Terima kasih Kanaya, hadirmu membuatku merasa berarti. Kamu bukan putri yang lahir dari rahimku. Namun hatiku telah menganggapmu, selayaknya putri kandung. Aku menyayangimu Kanaya kecilku!" batin bik Salma, lalu melangkah keluar dari kamar Kanaya. Langkah terakhir Salma melihat Kanaya kecilnya.


"Mbak Kanaya sudah datang!" Sapa salah satu penjaga makam ramah. Kanaya mengangguk mengiyakan, dia berjalan pelan masuk ke area pemakaman. Sebuah pemakaman umum yang ada di pinggiran kota. Pemakaman desa tempat Salma tertidur selamanya. Salma pengasuh yang begitu berarti dalam hidup Kanaya.


Setelah pulang sekolah, Kanaya mengemudikan mobilnya menuju pemakaman sang pengasuh. Lokasi yang berada di luar kota. Membuat Kanaya harus berangkat pagi. Kebetulan hari ini tidak ada kegiatan di sekolah. Jadi Kanaya bisa pergi mengunjungi makam sang pengasuh. Butuh waktu dua jam lebih, untuk sampai ke kota ini. Kanaya sudah terbiasa datang ke tempat ini. Dia mengenal beberapa orang di sekitar pemakaman. Embun dan Abra sudah mengetahui kepergian Kanaya. Sebab itu, Kanaya diizinkan menggunakan mobilnya.


"Pak Agus, aku sudah menyiapkan beberapa barang. Tolong keluarkan dari mobil dan bagikan secara adil. Aku akan pergi ziarah ke makam bik Salma!" Ujar Kanaya, pak Agus mengangguk pelan.


Kanaya berjalan perlahan diantara makam-makam yang berjejer. Sifat sederhana dan dermawan yang diajarkan bik Salma. Membuat Kanaya kecil memiliki banyak cinta. Kanaya selalu membantu orang di sekitar makam. Setelah membaca doa untuk almarhummah bik Salma, Kanaya menghampiri pak Agus dan beberapa warga sekitar pemakaman. Penampilan Kanaya jauh berbeda dari biasanya. Tidak terlihat sehelai rambut dari kepalanya. Semua tertutup sempurna oleh hijab instan panjangnya. Kanaya terlihat cantik dan anggun.


Kebaikan Kanaya pada warga sekitar membuat mereka segan dan kagum padanya. Semua warga mengenal Kanaya, kebaikan Kanaya laksana cahaya bagi warga desa. Bahkan tak jarang, Kanaya membantu memperbaiki fasilitas yang ada di desa. Abra tak pernah melarang Kanaya. Selama itu dalam kebaikan.


"Mbak Kanaya, kemarin ada seorang pemuda yang ingin menghidupkan kembali mushola. Namun kondisi mushola rusak parah. Harus ada perbaikan. Jika mbak Kanaya mengizinkan, bolehkah kami menggunakan uang ini untuk memperbaiki masjid!" Ujar pak Agus, Nuur terdiam tak bersuara.

__ADS_1


Pak Agus dan warga sekitar menunduk merasa bersalah. Memang setiap kali Kanaya datang. Dia tidak hanya membawa bahan pokok. Namun Kanaya juga memberikan sedikit uang, untuk masing-masing keluarga. Mereka berniat menyumbangkan uang dari Kanaya, untuk perbaikan mushola yang sudah lama rusak.


"Saya sudah memberikannya pada kalian. Silahkan gunakan uang itu sesuai keinginan kalian. Tidak perlu meminta izin dariku. Namun alangkah baiknya, jika gunakan uang itu untuk keperluan kalian!"


"Baik mbak Kanaya, kami tidak akan memakai uang ini untuk keperluan mushola!" Ujar pak Agus, Kanaya menggeleng lemah. Dia tersenyum melihat para warga salah paham padanya.


"Maksudku, gunakan saja uang itu untuk kalian. Aku akan membantu perbaikan mushola. Tunggulah di sana, aku akan datang membawa uangnya. Sebab aku tidak ada uang cash. Jika perlu mobil, silahkan dipakai. Aku akan jalan kaki menuju ATM!" Ujar Kanaya, sembari memberikan kunci mobil.


Mereka menggeleng serempak. Jangankan memakai mobil milik Kanaya, mendapat bantuan dari Kanaya mereka sudah bahagia. Tidak akan pernah mereka berharap lebih dari yang Kanaya berikan. Semua serasa lebih bagi mereka, kebaikan Kanaya sudah lebih dari cukup.


Setelah mengambil uang, Kanaya mengemudikan mobilnya menuju mushola lingkungan tersebut. Terlihat sebuah mobil sport yang tak kalah bagus dengan miliknya. Kanaya seakan mengenal mobil tersebur. Kanaya turun dari mobil, terdengar suara azan yang begitu merdu. Suara yang menyerukan untuk berkumpul menghadap sang Illahi. Tanpa Kanaya sadari air matanya menetes, dia tertegun mendengar suara azan yang begitu merdu terdengar di telinga Kanaya.


Kanaya bergegas meninggalkan mushola setelah memberikan uang pada pak Agus. Namun tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggilnya. Suara yang pernah dia dengar. Suara yang sangat dekat dengan telinga dan menggetarkan hatinya.


"Kanaya Fauziah Abimata, wanita cantik bercahaya dan penuh makna. Kenapa harus menjauh dari rumah Allah SWT? Rumah yang akan menerimamu dalam kondisi baik atau buruk. Rumah yang akan selalu terbuka, untuk hamba-NYA yang membutuhkan perlindungan. Sebab DIA sebaik-baiknya pelindung!" ujar Haykal lantang, Kanaya menoleh ke arah Haykal.


"Dia ada di sini!" batin Kanaya tidak percaya.


Terlihat pemuda tampan dengan pakaian koko dan celana panjang. Terlihat jauh berbeda dari pertemuan pertama mereka, saat di sekolah. Laki-laki yang tak pernah ingin Kanaya kenal. Namun jodoh seolah ingin membuat mereka selalu bertemu.


"Kamu ada di sini!" Sahut Kanaya singkat dan dingin, Haykal membalas dengan sebuah anggukan kepala yang disertai senyum simpul. Haykal menatap Kanaya lekat, wajah yang jauh lebih cantik dan teduh daripada di sekolah. Penampilan yang jauh lebih rapi dan anggun.


"Kenapa kamu pergi? Bukankah ini sudah waktunya sholat asar. Sebaiknya kita sholat dulu, setelah itu kamu baru pergi!" Ajak Haykal ramah, Kanaya menggeleng lemah. Kanaya harus segera pulang. Jika dia tidak ingin kemalaman sampai di rumah.


"Kanaya Fauziah Abimata, nama yang indah. Seindah wajah dan perilakunya. Namun entah kenapa aku semakin kagum akan kebaikan hatimu? Sejujurnya dirimu mulai mengusik pikiranku. Semenjak pertemuan pertama kita. Sikap acuhmu padaku, membuatku ingin mengenal dirimu. Sikap peduli Daffa padamu, menunjukkan dirimu gadis yang spesial. Semoga hari ini menjadi awal yang baik untuk hubungan diantara kita!" batin Haykal seraya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2