
Waktu bergulir begitu cepat, seminggu lebih Nur menjadi istri sah dari Fahmi. Keduanya memilih tinggal di rumah sederhana. Fahmi selama ini tinggal di apartement, tapi semenjak menikah dengan Nur. Fahmi memilih tinggal di rumah sederhana tak jauh dari Abra. Fahmi ingin menjalani hidup berdua dengan Nur dalam kesederhanaan.
"Pagi suami tampanku!" sapa Nur riang, Fahmi diam tak berkutik.
Nur memanyunkan bibirnya, nampak jelas Nur kesal melihat sikap dingin Fahmi. Namun Nur memahami, sikap dingin Fahmi hanyalah topeng. Fahmi tidak mudah mengekspresikan rasa sayangnya pada Nur. Hanya dengan diam dan dingin pada Nur. Cara Fahmi menjaga harga diri, agar tidak terlihat lemah di depan cinta Nur.
"Suami tampanku!" teriak Nur tepat di telinga Fahmi. Nur menyandarkan tubuhnya di punggung Fahmi. Nur seolah sengaja mengganggu Fahmi yang tengah memasak.
Lagi dan lagi Fahmi diam tak menyahuti. Nur terkekeh melihat diam Fahmi. Kekesalan Nur akan sikap Fahmi, malah membuat Nur berpikir jahil. Nur pribadi yang riang sekaligus iseng, selalu ada ide aneh dalam otaknya. Fahmi yang pendiam, mencoba menahan tawanya. Jelas Fahmi mulai terpengaruh dengan sikap hangat Nur. Beberapa hari menjadi suami Nur. Membuat Fahmi mengenal Nur yang begitu periang, lain dari pribadi yang dikenal Fahmi selama ini.
"Suamiku!" teriak Nur, sembari melompat ke atas punggung Fahmi. Seketika Fahmi terkejut, kedua tangan Fahmi langsung menopang tubuh Nur. Fahmi takut Nur terjatuh, sebaliknya kedua tangan Nur mengalung sempurna di leher Fahmi.
"Nur, aku sedang memasak!" ujar Fahmi lirih, Nur tak bergeming. Nur semakin mengeratkan kedua tangannya. Nur tidak bersedia turun dari punggung Fahmi. Gelengan kepala Nur, menjawab permintaan Fahmi.
"Nur!"
"Tidak akan, aku akan tetap seperti ini. Sampai kakak merayuku!" ujar Nur santai, Fahmi menghela napas.
__ADS_1
Fahmi bingung dengan permintaan Nur. Sebuah permintaan sederhana yang akan dengan mudah dilakukan Fahmi. Namun Fahmi terlalu gengsi, meski sebenarnya Fahmi ingin bersikap hangat pada Nur. Hampir lima belas menit, Fahmi menggendong Nur. Kedua tangannya mulai terasa pegal. Namun Nur tetap tidak bergeming, Nur mulai merasa nyaman berada di punggung Fahmi. Harum tubuh Fahmi, membuat Nur merasa nyaman.
"Nur, kalau kamu tidak turun. Kita tidak akan sarapan. Ingat Nur, sebentar lagi kita mengunjungi papa Dirgantara dan mama Mira!" ujar Fahmi lirih dan tenang. Fahmi sabar menghadapi sikap kekanak-kanakan Nur. Sikap yang membuat Fahmi merasa bahagia. Entah kenapa kepolosan Nur membuat Fahmi begitu bahagia? Walau Fahmi tetap dingin dan pura-pura tidak peduli dengan sikap riang Nur.
"Aku tidak lapar, aku akan berhenti makan. Sampai kakak bersedia merayuku!" ujar Nur datar, Fahmi diam membisu.
Fahmi menggendong Nur menuju meja makan. Fahmi menurunkan Nur tepat di atas meja makan. Nur duduk di atas meja, sedangkan Fahmi berdiri menatap lekat dirinya. Nur yang belum puas menggoda Fahmi. Seketika mengalungkan tangannya tepat di leher Fahmi. Sontak wajah Nur dan Fahmi begitu dekat, sedangkan tangan Fahmi menopang tubuhnya yang terhuyung ke depan.
"Aku tidak akan melepasmu begitu saja!" ujar Nur lirih, helaan napas Nur menyentuh hangat wajah Fahmi.
Fahmi diam menunduk, mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Nur. Fahmi mencoba menenangkan pikiran liarnya. Fahmi takut terbawa emosi, walau sebenarnya semua itu tidak salah. Lima belas menit berjalan begitu cepat. Fahmi dan Nur begitu dekat, sangat dekat sampai tak ada jarak diantara mereka.
"Sayang, jangan salahkan aku. Jika kali ini aku khilaf!" ujar Fahmi, sembari memegang bibir Nur dengan begitu lembut.
Nur menatap lekat wajah Fahmi. Hembusan napas Fahmi menyentuh wajah cantiknya. Suara Fahmi membuat tubuh Nur lemah. Nur merasakan tulang belulangnya lemah tanpa tenaga. Nur seolah tak mampu duduk tegak, Nur tak berdaya melihat tatapan hangat penuh cinta Fahmi. Bibir mungilnya bergetar, merasakan sentuhan hangat Fahmi. Nur larut dalam hangat cinta Fahmi.
"Aku ingin lihat, seberapa besar khilafmu padaku. Sikap dinginmu membuatku ragu, jika kakak menginginkanku!" ujar Nur lembut, Fahmi mendekatkan keningnya.
__ADS_1
Tubuh Nur bergetar hebat, tangannya mulai melemah. Nur tak mampu menguasai hati dan pikirannya. Sikap hangat penuh cinta Fahmi terpancar nyata. Perlahan Fahmi mengangkat tubuh Nur. Membawanya masuk ke dalam kamar, merebahkan perlahan tubuh Nur tepat di tempat tidur. Nur memejamkan kedua matanya. Rasa takut bercampur bahagia, menguasai hatinya. Nur menggenggam erat gamisnya.
"Sayang!" sapa Fahmi lirih, tepat di telinga Nur. Sontak tubuh Nur bergetar, aliran darahnya terasa panas. Nur merasakan gerah yang luar biasa. Hembusan napas Fahmi, bak api yang membakar hasratnya.
Fahmi menatap Nur dengan penuh cinta. Dengan penuh kelembutan, Fahmi melepas hijab yang menutup mahkota indah Nur. Seketika rambut hitam legam Nur terurai, menutup sebagian mata indahnya. Fahmi menyibak rambut Nur, menyentuh mesra kedua mata Nur. Tangan Fahmi mulai bergerilya, menyentuh lembut setiap inci wajah cantik Nur.
Cup
Fahmi mengecup lembut kening Nur. Mengalirkan hasrat penuh cinta, menyakinkan dirinya akan cinta suci diantara mereka berdua. Fahmi tak lagi mampu menguasai hatinya. Fahmi benar-benar larut dalam hasrat cintanya pada Nur. Tak lagi ada gengsi akan mengakui cintanya. Fahmi mengungkapkan cintanya bukan dengan kata. Dengan bahasa tubuh, Fahmi ingin menunjukkan pada Nur. Jika dia sangat mencintai Nur.
Fahmi mulai bermain dengan area sensitif Nur, sentuhan hangat Fahmi membuat Nur tidak berdaya. Nur luluh dalam hangat sentuhan Fahmi. Bersiap menyerahkan mahkota paling indah dalam dirinya. Kesucian yang selama ini dijaga oleh Nur dari tangan-tangan kotor. Menyerahkan segalanya untuk Fahmi, imam dunia akhirat pemilik hatinya.
Nur menutup mata, merasakan sentuhan demi sentuhan Fahmi. Nur melihat lembut sikap Fahmi sebagai bukti. Ada cinta dalam diri Fahmi untuknya. Nur merasa tak berdaya, dia pasrah akan perlakuan hangat Fahmi. Sikap polosnya pada Fahmi yang akhirnya meruntuhkan jarak diantara mereka berdua. Fahmi seolah larut dalam hangat cinta. Tak lagi ada jarak membuat kedua terpisah.
"Sayang, aku menginginkamu!" bisik Fahmi mesra, tepat di telingan Nur.
Fahmi mencium lembut telinga Nur, bermain dengan area yang memacu gairah Nur. Tubuh Nur bergetar menahan hasrat, Nur merasa begitu bahagia. Fahmi membuat Nur merasakan hangat cinta yang begitu besar.
__ADS_1
"Wahai imamku, miliki aku dengan iman dan cintamu!" sahut Nur hangat dan mesra, Fahmi mengangguk pelan.
"Bissmillahirrohmannirrohim!" batin Nur dan Fahmi bersamaan.