
Tepat pukul 10.30 WIB, Haykal tiba di sebuah restoran. Sebuah restoran yang cukup besar dan hangat. Tak nampak kesan restoran, untuk kalangan tertentu. Pertama kali menatap restoran, kita akan disuguhi suasana restoran yang hangat. Layaknya dekapan sebuah keluarga, sebab restoran di desain dengan sangat cantik dan ramah.
Terpampang jelas dan besar, menu dan harga dari setiap makanan yang disediakan. Alasan restoran ini untuk semua kalangan. Tak ada si kaya atau si miskin. Masakan yang tersaji murah tapi mewah, sebaliknya murah tapi tidak murahan. Semua masakan kebanyakan masakan nusantara yang disukai banyak orang. Masakan yang cocok dengan lidah dan kantong semua orang. Tidak terkecuali bagi anak muda yang merasa jenuh dengan masakan cepat saji.
Berjalan semakin ke dalam, akan terlihat sebuah kolam ikan besar. Kolam yang sengaja dibuat, untuk menambah kesan keluarga. Beberapa langkah ke samping, mulai terlihat meja tanpa kursi. Sebab konsep restoran yang menonjolkan kehangatan keluarga. Membuat restoran tidak menyediakan tempat duduk. Hanya sebuah gazebo kecil-kecil dengan meja besar dan lantai kayu sebagai tempat duduknya. Berharap keluarga bisa berkunpul, tanpa takut terpisah oleh jarak.
Jauh di belakang restoran, terlihat pemandangan indah gunung yang menjulang tinggi. Suasana yang terasa begitu asri, dengan pepohonan yang ada di sekitar restoran. Gaya dan konsep restoran yang benar-benar unik dan hangat. Membuat kebanyakan pengunjung merasa nyaman dan betah tinggal berapa lama.
Lama Haykal terpana dengan kehangatan yang tersaji dari tatanan restoran. Rasa takjub Haykal semakin tak terbendung. Tatkala dua mata indahnya, menatap lurus tak jauh di samping kanan restoran. Nampak sebuah mushola umum yang masih dalam lingkup restoran. Mushola yang menyiratkan keimanan sang pemilik restoran. Sebuah keimanan dan kehangatan yang pernah dirasakannya. Hangat yang pernah ada dalam hidupnya. Namun kini hanya tinggal kenangan dan rasa bersalah semata.
"Tuan Haykal, anda sudah datang?" Haykal langsung menoleh, suara yang begitu familiar di telinganya. Haykal terdiam, melihat sosok yang menyapanya dengan ramah dan hangat. Sebuah uluran tangan, menjadi awal keramahan yang dirasakan Haykal.
"Tuan Hanif!" ujaf Haykal tak percaya, Hanif mengangguk mengiyakan. Hanif tersenyum simpul, tangannya masih terulur menanti Haykal menyambutnya. Haykal tersadar, dengan keramahan yang sama. Haykal menerima uluran tangan Hanif. Keduanya berjabat tangan, meleburkan amarah yang ada dan mungkin masih ada.
"Apa kabar tuan Haykal? Akhirnya setelah lima tahun anda kembali!" ujar Hanif dingin, Haykal terdiam. Perkataan Hanif bak belati yang menusuk tajam ke uluh hatinya. Meski nada suara Hanif terdengar datar. Namun Haykal merasakan, betapa dingin kata yang terucap dari bibir Hanif?
"Maaf, jika kepergianku meninggalkan luka!" ujar Haykal lirih, Hanif menggeleng lemah. Hanif mengajak Haykal naik ke lantai dua.
"Anda salah tuan Haykal, sejatinya kepergian anda tidak pernah meninggalkan luka. Sebaliknya, kepergian anda membuat keluarga kami utuh dan semakin kuat. Alasan yang membuat kami saling mendukung satu sama lain. Bahkan kak Abra dan kak Embun tak pernah mengajarkan pada kami kebencian. Seperti mereka berdua tak pernah membencimu!" ujar Hanif lirih, sembari berjalan menuju lantai dua restoran.
Lantai dua restoran, memiliki beberapa ruangan besar. Ruangan yang biasa digunakan untuk rapat beberapa rekan kerja perusahaan Abra. Hanif sengaja mengajak Haykal naik ke lantai dua. Sebab siang ini, mereka berdua akan mengadakan rapat besar. Rapat yang akan memutuskan, ada tidaknya kerjasama diantara perusahaan mereka.
__ADS_1
"Sejak kapan anda mengambil alih perusahaan tuan Abra?"
"Aku hanya menjadi pelaksana, kak Abra yang memutuskan semuanya. Dia pemilik perusahaan ini dan selamanya dia pemimpin perusahaan ini. Hari ini, kak Abra akan hadir dalam rapat. Pertemuan yang sudah lama dia harapkan. Bertemu kembali denganmu, putra yang pergi meninggalkannya!"
"Papa!" ujar Haykal lirih, Hanif mengangguk pelan. Haykal terdiam membisu, dia tak pernah menyangka akan bertemu dengan keluarga Kanaya secepat ini.
"Tunggu tuan Hanif, ini bukankah!" ujar Haykal, langkahnya terhenti tepat di samping replika bangunan yang ada di tengah-tengah lantai dua. Sebuah replika yang menampakkan beberapa bangunan dan gedung megah.
"Iya tuan Haykal, ini mega proyek yang akan kita rapatkan hari ini!"
"Ini!" ujar Haykal terhenti, ketika melihat desain bangunan yang begitu megah dan mewah.
"Ini desain komplek perumahan yang akan kerjakan. Perumahan bersubsidi yang akan kita peruntukkan bagi yang kurang mampu. Perumahan yang sangat terjangkau, bagi kalangan tengah ke bawah. Akan ada tim yang khusus mengawasi bagian pemasaran. Jadi kami yakinkan, tidak akan ada salah sasaran dalam penyaluruan perumahan ini. Tepat di samping kiri, ada sebuah rumah sakit kecil yang akan dikelola oleh keponakanku Rafan. Rumah sakit yang berada diantara perumahan dan pemukiman rakyat. Tepat di samping kanan, ada pesantren yang akan dibangun untuk para yatim-piatu dan anak sekitar. Pesantren yang akan dikelola oleh adikku Aira dan suaminya!"
"Tuan Haykal bisa mengetahuinya, ada beberapa ciri yang bisa menggambarkan sosok di balik desain proyek ini!" ujar Hanif, Haykal termenung. Tangannya menyentuh kaca yang melindungi desain.
"Tuan Haykal, lebih baik kita masuk. Kak Abra sudah menunggu di dalam!" ujar Hanif, Haykal menoleh tak percaya. Hanif menatap lekat Haykal, rasa tak percaya Haykal terlihat jelas oleh mata Hanif.
"Selama ini kak Abra tak pernah mengundurkan diri dari dunia bisnis. Dia ada di balik kesuksesanku, dia yang menuntunku menjadi pembisnis. Kak Abra bukan hanya kakak bagiku, dia ayah bagiku sekarang. Kehilangan sosok ayah, membuatku menyadari arti sebuah keluarga. Akhirnya disinilah aku berdiri, diantara keluarga yang sudah lama aku tinggalkan. Keluarga yang aku benci tanpa alasan!"
"Bukankah papa sedang sakit!"
__ADS_1
"Kak Abra memang sakit, tapi bukan sakit fisik. Kak Abra merindukan putrinya, bagi seorang putri ayah adalah cinta pertamanya. Sedangkan bagi seorang ayah, putri itu lemah dan kuatnya. Kak Abra baik-baik saja, buktinya dia ada di dalam menunggumu. Banyak hal yang anda dengar itu salah, sebab apa yang anda dengar belum tentu kebenarannya?" ujar Hanif, Haykal hanya diam.
Haykal dan Hanif masuk ke dalam ruangan yang cukup besar. Nampak Abra duduk di salah satu kursi. Haykal menunduk, ada rasa malu menatap Abra. Rasa bersalah membuatnya tak berkutik. Haykal tak mampu menatap mata Abra. Penyesalan akan keputusan besar yang dibuatnya. Seketika membekukan tubuhnya dan membuat Haykal tak berdaya.
"Haykal, kenapa kamu menunduk? Kemarilah, hari ini kita rekan kerja. Lupakan hubungan yang lalu, kita sudah ada di jalan yang berbeda!"
"Papa!"
Kreeekk
"Assalammualaikum, maaf aku terlambat!"
"Waalalaikumsalam!" sahut Abra hangat, Hanif dan Haykal menoleh bersamaan. Dua bola mata Haykal membulat sempurna.
"Kanaya!" ujar Haykal tak percaya, Kanaya tersenyum di balik cadarnya.
"Assalammualaikum Kak!" sapa Kanaya ramah, Kanaya tersenyum di balik cadarnya. Tangan Kanaya menangkup tepat di depan dadanya. Kanaya menyapa hangat Haykal tanpa ada amarah. Seakan tak pernah ada hubungan diantara mereka.
"Waalalaikumsalam!" sahut Haykal tak percaya.
"Dia Kanaya Fauziah Abimata, arsiktektur yang merancang mega proyek ini!" ujar Hanif bangga, Haykal menatap terdiam. Sikap tenang dan dingin Kanaya, membuat tulang Haykal rapuh. Tak mampu menopang tubuhnya, sekadar berdiri menatap Kanaya. Wanita yang sangat dicintainya dulu dan mungkin sampai sekarang.
__ADS_1
"Dingin sikapmu, mampu membunuhku Kanaya. Ketenanganmu, seolah tak pernah mengenalku. Kenapa Kanaya? Kenapa kamu begitu tenang? Marahlah Kanaya, bentak aku dan pukul aku jika perlu. Setidaknya amarahmu bisa menghapus sedikit rasa bersalahku!" batin Haykal pilu, sembari menatap lekat Kanaya. Wanita bercadar yang pernah dilihatnya di bandara.