KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sarapan pagi


__ADS_3

"Assalammualaikum!" sapa Embun ramah, Arya dan Iman menoleh. Keduanya tersenyum melihat kedatangan Embun.


Semalam Iman menghubungi Embun, dia meminta Embun datang menjenguk Dewangga. Sebuah permintaan kecil dari ayah yang telah membesarkan dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Sebab itu, pagi ini Embun sengaja datang menemui Iman. Entah sebuah jodoh atau memang sudah saatnya? Arya ada di rumah sakit bersama Iman. Rasa khawatir seorang anak menantu yang terus ada. Meski sang pengikat telah tiada.


"Waalaikumsalam, masuk sayang!" sahut Iman ramah, Embun mengangguk pelan.


Embun mencium punggung tangan Iman dan bergantian dengan Arya. Nampak sebuah rantang berukuran besar ada di tangan Embun. Iman sudah bisa menduga isi dari rantang yang dibawa Embun. Kebiasaan Embun ketika merasa Iman kurang istirahat. Iman melihat Embun meletakkan rantang besar di atas meja. Sedangkan Dewangga baru saja tertidur, setelah perawat menyuntikkan obat ke dalam selang infusnya.


"Arya, ayo sarapan bersamaku!" ajak Iman, sembari merangkul pundak Arya. Embun hanya diam, tidak menolak atau mengiyakan perkataan Iman.


Embun membuka satu per satu rantang dan meletakkannya di atas meja. Lalu, Embun menyiapkan dua piring dari bahan melamin dan dua gelas air putih. Embun menyiapkan sarapan untuk Iman dan Arya. Meski sesungguhnya, makanan yang dia siapkan hanya cukup untuk dirinya dan Iman. Namun ketika melihat Arya, entah kenapa Embun merasa kenyang? Sekilas Embun menangkap dua mata Arya yang jernih. Nampak kebahagian yang tak bisa digambarkan dengan kata. Hanya hati yang bisa mengerti dalam isi hati Arya. Suara hati yang tersirat dari binar mata senja Arya.


"Silahkan, semua sudah siap!"


"Aku sudah sarapan, lebih baik kamu sendiri yang makan. Aku akan menunggu di luar!" ujar Arya menolak dengan ramah, Iman langsung menahan tangan Arya.


Sebuah senyum tulus terutas di bibir Iman. Dengan perlahan, Iman menuntun Arya duduk. Keduanya duduk menghadap ke arah makanan yang sengaja disiapkan sendiri oleh Embun. Sedangkan Embun berdiri, dia duduk sedikit menjauh dari Iman dan Arya.


"Tidak perlu merasa kurang nyaman. Embun itu kembaran Almaira. Dia tidak akan menolak sebuah kebaikan. Sebaliknya dia diam, bukan karena tidak suka. Embun selalu dingin dan tak pintar dalam mengutarakan kasih sayangnya. Sangat pantas, bila Embun masih canggung terhadapmu. Dua puluh tahunnya tanpamu, tidak secepat itu sembuh dengan beberapa harinya mengenalmu. Jika kamu ingin mendekati Embun. Pahamilah cara berpikirnya dan kamu tahu seperti apa dia akan berpikir?"


"Maksudmu?"


"Embun itu Almaira, dia akan berpikir dengan cara ibunya berpikir. Jika kamu mengenal Almaira, kamu akan mengenal Embun. Bersabar, semua akan baik-baik saja. Seandainya aku tidak takut kehilangan Embun. Mungkin aku sudah memintanya mengakuimu. Namun sebagai seorang ayah, aku terlalu takut akan bencinya. Aku hanya bisa memberikan pengertian. Kelak hatinya sendiri yang akan mengenal dan menerimamu!" ujar Iman, lalu mengambilkan nasi untuk Arya.


Arya hanya diam menatap masakan sederhana yang dimasak dengan kedua tangan putrinya. Seorang putri yang lahir dari buah cintanya dengan Almaira. Wanita sempurna pemilik hatinya. Arya hanya bisa tertegun, merasakan kehangatan sebuah keluarga yang lama tak pernah dirasakannya. Arya tak lagi mampu menahan air matanya. Setetes bening air mata jatuh dipelupuk matanya. Arya benar-benar rapuh, ketika dia menyadari dirinya telah kehilangan banyak waktu tanpa Embun.


"Sampai kapan kamu akan menangis? Makanlah sarapanmu, Embun tidak akan pergi kemana-mana? Dengan dia tetap ada di depanmu. Artinya dia mulai membuka hatinya untuk mengenalmu!"


"Kamu sangat mengenal Embun!" ujar Arya lirih, seakan ada penyesalan dia jauh dari Embun selama ini.


Iman hanya tersenyum menanggapi perkataan Arya. Meski sejujurnya ada rasa takut dalam hati Iman. Jika kelak Embun akan melupakannya. Bagaimanapun Embun bukan putri kandungnya? Embun hanya putri yang dibesarkan olehnya dengan sepenuh hati. Sedangkan Arya hanya mampu berharap, kata maaf dan pengakuan itu ada untuk dirinya. Dia hanya ingin hidup bahagia di sisa usianya.


"Permisi!" sapa Afifah ramah, Iman menoleh seraya mengutas senyum.


Nampak Iman dan Arya baru saja selesai sarapan. Afifah melewati Iman tanpa menoleh, seakan dia tak pernah memiliki rasa pada sosok bernama Iman. Arya melihat jelas jarak yang ada diantara Iman dan Afifah. Namun semua itu tak lantas membuatnya memiliki hak untuk ikut campur. Arya menjadi saksi perjalanan cinta Iman dan Afifah dulu. Perjuangan mendapatkan kata iya dari seorang tuan besar Dewangga Adijaya. Namun semua berubah, ketika jodoh tak lagi bersambut.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi papa?"


"Dia sudah lebih baik, satu atau dua hari. Beliau bisa istirahat di rumah. Namun tetap dalam penanganan khusus!" sahut Afifah dingin, Iman mengangguk pelan. Iman berjalan menghampiri Embun. Dia duduk dekat dengan Embun. Meninggalkan Afifah yang jelas sedang mengacuhkan dirinya. Iman bisa memaklumi amarah Afifah. Sebab itu Iman lebih memilih menjauh, agar keduanya merasa nyaman satu sama lain.


Afifah menoleh ke arah Embun yang tengah membaca Al Quran. Suara lembut dan merdu Embun, menggetarkan hati Afifah. Ada rasa tak biasa yang sulit dijabarkan. Embun yang tumbuh begitu cantik dan berakhlak. Sepintas menyiratkan rasa tak percaya yang diselimuti rasa iri. Afifah merasa dirinya tak dibutuhkan, ketika melihat Iman mampu membesarkan Embun dengan begitu baik.


"Dia tumbuh menjadi wanita cantik dan sholeha!" ujar Afifah lirih, Arya mengangguk setuju.


"Iman menjaga putriku dengan sangat baik. Aku melihat Almaira dalam diri Embun. Tidak hanya wajah, Embun memiliki kebaikan hati Almaira!"


"Bahagianya kamu Arya, putrimu telah kembali!" ujar Afifah lirih, Arya menggelengkan kepalanya lemah.


"Dia kembali bukan untukku. Iman alasan aku bisa melihat Embun. Dia putri yang aku rindukan, bukan untuk aku miliki sendiri. Setidaknya aku bisa terus dekat dengannya. Mengenal dan melihat wajahnya, sudah cukup membuatku bahagia!"


"Kamu benar Arya, lihatlah kedekatan mereka. Sudah selayaknya ayah dan putri kandung. Aku sudah lama mengenal Iman, tapi baru hari ini aku melihat tawa bahagianya. Dia begitu teduh dengan penampilannya saat ini. Iman tak lagi butuh orang lain!" ujar Afifah lirih, Arya tersenyum simpul.


"Kamu menyerah Afifah!"


"Aku bukannya menyerah, tapi lebih ke arah tahu diri. Lihatlah Iman, dia tak sedikitpun peduli. Aku ada atau tidak di hadapannya. Masih haruskah aku menunggu? Jika nyata cinta itu telah pupus!" ujar Afifah, Arya diam menatap ke arah Iman dan Embun.


"Entahlah Arya? Aku tidak ingin terlalu berharap. Jika nyatanya aku akan terluka!" sahut Afifah santai, Arya mengangguk pelan. Tatapannya mengunci Iman dan Embun yang terlihat begitu hangat.


"Dokter Afifah, kenapa tidak duduk bersama kami?" sapa Embun, Afifah tersentak kaget. Lalu mengangguk pelan dan mengiyakan duduk tepat di samping Embun.


"Tuan Arya, silahkan duduk. Aku akan memotong buah untukmu!" ujar Embun lirih, Arya terdiam membisu.


"Sekali saja sayang, sekali saja kamu panggil aku papa!" batin Arya pilu.


"Dokter Afifah, terima kasih telah menjaga tuan Dewangga. Setidaknya berkat dirimu, abah bisa tenang meninggalkan tuan Dewangga. Aku sangat bersyukur, abah mengenal wanita sebaik dan setulus anda!"


"Aku tidak sebaik itu Embun, buktinya Iman pergi meninggalkanku!"


"Itu bukan karena anda yang tidak baik. Abah saja yang tidak bisa melihat ketulusanmu. Aku percaya, jauh di dalam hati terdalam abah. Ada penyesalan telah meninggalkan anda!" ujar Embun santai, Iman langsung menoleh.


"Embun!"

__ADS_1


"Kenapa abah? Bukankah perkataan Embun benar. Buktinya selama ini abah selalu menolak saat dijodohkan. Ternyata semua itu karena dokter Afifah!"


"Embun, cukup bercandanya!"


"Tapi Embun serius, siapa yang mengatakan Embun bercanda? Abah seorang laki-laki harus berani mengambil keputusan. Jangan sampai dokter Afifah menjadi milik orang lain!"


"Sudahlah Embun, percuma bicara panjang lebar. Iman tidak mudah merubah pikirannya!" ujar Arya, Iman menepuk pelan pundak Arya. Seakan tidak suka melihat Arya ikut menggodanya.


"Aku mengenal abah, dia akan mengatakan semuanya saat sudah siap. Namun satu pesan Embun, jika saat semua siap dokter Afifah telah termiliki. Embun harap, abah ikhlas melepas dokter Afifah!" ujar Embun tegas, sontak Afifah dan Iman mendongak bersamaan. Lalu keduanya menunduk hampir bersamaan.


"Abah!" ujar Embun lirih, sembari menggenggam erat tangan Iman.


"Ada apa sayang?"


"Embun sudah memiliki imam dunia akhirat. Embun sudah menemukan pemilik tulang rusukku. Kak Abra, laki-laki pilihanku dan mungkin bersamanya Embun bahagia. Sekarang sudah saatnya abah bahagia, dua puluh tahun abah mengorbankan kebahagian demi Embun. Sudah saatnya, abah menemukan cahaya cinta yang dulu ada di hatimu. Putrimu sudah menemukan jalan hidupnya. Tangan yang akan menggenggam erat putrimu. Menopang di kala akan terjatuh, melindungi saat bahaya mengancam, mengayomi ketika gelisah menyapa. Lepaskan beban akan bahagia Embun. Percayalah, jika Embun mampu menjaga diri!"


"Dokter Afifah, bersediakah kamu menikah dengan abah?"


"Aku!" ujar Afifah kikuk, Iman menghela napas panjang.


"Embun, tugas seorang ayah tidak akan pernah selesai. Meski sang putri sudah memiliki pegangan dan imam dalam hidupnya. Sebab rasa khawatir seorang ayah, ada bersama gelisah dan air mata sang putri!"


"Tapi abah berhak bahagia!" ujar Embun, Iman mengedipkan mata seraya mengutas senyum.


"Iya, abah akan menemukan bahagia. Namun tidak hari ini. Nanti saat papa sudah lebih baik!"


"Dokter Afifah, bersiaplah menjadi ibu sambungku!" ujar Embun riang.


"Embun, kamu sudah merestui hubungan kak Iman. Lalu, bagaimana hubunganku dengan papamu?" ujar Sofia tiba-tiba, Embun langsung menunduk. Tangannya menggenggam erat Iman.


"Apa maksudmu?" ujar Arya.


"Bukankah kita juga akan menikah!"


"Tidak akan!" Sahut Arya sinis.

__ADS_1


"Kak Iman, dia jahat padaku!" ujar Sofia mengadu pada Iman.


__ADS_2