KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
CCTV


__ADS_3

"Turunlah!" ujar Abra dingin, Naura mengangguk pelan. Abra berdiri tepat di sisi pintu depan mobilnya.


Abra mengantar Naura pulang, seperti permintaan Embun. Sedangkan mobil Nuara sengaja ditinggal di rumah Embun. Abra akan meminta supir rumah mengantar mobil Naura. Sengaja Abra mengantar Naura, tidak baik baginya mengemudikan mobil dalam kondisi ketakutan. Abra memilih pergi tanpa banyak berdebat dengan Embun. Sejenak Abra memilih pergi, agar Embun tidak tertekan dengan kejadian tadi pagi.


Braaakkkk


"Terima kasih kak!" ujar Naura, sembari memeluk Abra. Kedipan mata Abra, isyarat mengiyakan rasa terima kasihnya. Naura berbalik, lalu berjalan menuju teras rumahnya. Tepat di tangga paling atas, Naura menoleh saat Abra memanggilnya.


"Naura!"


"Iya kak!" sahut Naura santai, Abra menatap tajam ke arah Naura. Tubuhnya bersandar pada mobil, kedua tangannya mengepal. Jelas Abra sedang menahan emosi. Amarah yang tak bisa dikeluarkan.


"Jangan pernah ulangi lagi. Apa yang kamu lakukan tadi? Tidak mencerminkan sikap wanita berkelas dan berpendidikan!" ujar Abra dingin, Naura mengeryitkan dahinya tidak mengerti.


"Maksud kakak?"


"Wanita kota dengan pendidikan tinggi seperti dirimu. Tidak seharusnya bersikap kasar dan tak pantas pada yang lebih tua. Apalagi kamu memfitnah Embun, agar aku marah padanya. Jujur Naura, sejenak aku merasa tak mengenalmu. Gadis manis yang dulu aku sayangi. Kini tak lebih dari gadis liar tanpa pendidikan!"


"Kakak!" ujar Naura lirih, seketika Naura merasa malu dan kesal. Ketika Abra melihat sisi nakalnya. Naura benar-benar tak menyangka, jika Abra mengetahui yang terjadi.


"Seandainya aku sanggup Naura, bukan tangan Embun yang akan menamparmu. Tanganku sendiri yang akan menamparmu. Kakak bukan menampar fisikmu, kakak ingin menampar kesombongan dan keangkuhanmu. Kakak merasa bodoh, tidak mampu mendidikmu. Aku mampu mengatur banyak karyawan, tapi membuatmu mengerti akan cinta kakak pada Embun. Kakak kalah, kakak lemah!"


"Kak, Naura minta maaf!" ujar Naura dengan suara bergetar. Naura benar-benar menyesal, dia malah membuat Abra semakin jauh darinya.


"Kakak tidak butuh kata maafmu. Kakak hanya butuh pengertianmu. Setidaknya sampai putra kakak lahir. Jangan sakiti Embun, dia sudah cukup sulit dengan keluarganya. Itupun jika kamu ingin melihat kakak bahagia!"


"Aku janji kak, aku tidak akan menyakiti Embun!" ujar Naura, sembari berhambur memeluk Abra.


Seorang adik yang berusaha mempertahankan kakaknya. Justru akan kehilangan kasih sayang yang diinginkannya. Naura benar-benar menyesal telah bersikap ceroboh. Dia merasa bersalah, ketika Abra tidak marah padanya. Malah Abra menghiba pengertiannya. Naura merasa bodoh telah membuat kakaknya terhina.


"Masuklah, kakak harus pulang. Kakak harus menjelaskan semuanya pada Embun!"


"Tunggu kak, kenapa kakak tidak menjelaskannya tadi?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin membuktikan padamu. Embun tak serendah dirimu. Dia tidak akan memfitnah orang lain. Demi membela dirinya sendiri. Embun Akan diam, ketika orang tidak menyakitinya. Namun dia akan membela diri, saat orang tak menghargainya. Wanita desa yang kamu rendahkaan. Jauh bermartabat dibandingkan dirimu yang tak pernah peduli harga diri orang lain!" ujar Abra, lalu berjalan menuju pintu mobil sisi kanan.


"Kak, maafkan aku!" ujar Naura, tepat sebelum Abra masuk ke dalam mobilnya.


"Hari ini, kakak maafkan. Namun tidak untuk lain hari!" ujar Abra dingin, lalu masuk ke dalam mobilnya. Abra meninggalkan Naura yang termenung. Rasa bersalah Naura, membuatnya malu akan sikap tak pantasnya.


Abra mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Tak ada lagi hasrat Abra, untuk pergi ke kantor. Meminta maaf pada Embun yang kini menjadi prioritas utamanya. Abra mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Dia hanya ingin segera sampai di rumah. Bertemu dan memeluk Embun yang ada dalam benaknya.


Ciiiittt


Suara gesekan ban mobil, seolah mengisyaratkan Abra tiba di rumahnya. Abra langsung masuk ke dalam rumahnya. Tanpa peduli sapaan para ART. Abra hanya ingin melihat wajah Embun. Wanita yang tanpa sengaja terluka oleh sikapnya. Abra berlari menuju kamarnya, dia menduga Embun ada di dalam kamar. Sebab sejak tadi, Embun mengeluh sakit kepala.


"Maafkan aku!" bisik Abra, sembari memeluk Embun dari belakang. Abra menyandarkan kepalanya di pundak Embun. Menghirup harum rambut basah Embun yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kakak kembali!" ujar Embun, sembari melepaskan pelukan Abra. Namun Abra menggelengkan, menolak permintaan Embun. Abra merasa nyaman dengan posisi seperti itu.


"Maafkan aku, maaf!"


"Sikapku tadi!"


"Maksud kakak!" ujar Embun tak mengerti.


"Maaf, aku membiarkan Naura bersikap tak pantas. Bukan aku sengaja, aku hanya ingin melihatmu melawan Naura. Agar Naura tidak terus menerus menindasmu!"


"Kakak mengetahuinya? Lantas, kenapa kakak masih bertanya?"


"Sebab aku ingin membuktikan pada Naura. Embunku tidak akan menyakiti orang lain tanpa alasan. Aku ingin Naura menyadari, sikapmu yang hangat. Agar dia malu telah memfitnah dirimu!" ujar Abra, Embun diam membisu.


"Kakak mengetahuinya darimana?"


"Aku memiliki banyak mata yang kupasang di seluruh sudut rumah ini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu!" ujar Abra santai, Embun langsung memutar tubuhnya. Kini dia berhadapan langsung dengan Abra.


"Kakak memasang CCTV!" ujar Embun tidak percaya, Abra mengangguk pelan.

__ADS_1


Cup


"Hanya untuk memastikan keselamatanmu!" ujar Abra, sesaat setelah mencium kening Embun. Embun mengeryitkan dahinya tidak percaya.


"Jangan-jangan kakak juga memasang CCTV di kamar mandi!" cecar Embun, Abra diam. Embun menatap lekat Abra, seolah butuh jawaban pasti dari Abra.


"Tidak sayang, tapi jika diperlukan. Aku bisa mempertimbangkannya. Lagipula, hanya aku yang bisa melihatnya!"


"Jangan coba-coba atau aku akan menginap di rumah Nur!" ujar Embun tegas, Abra tersenyum lalu menarik tubuh Embun ke dalam pelukannya.


"Baiklah, tidak akan!" ujar Abra lirih, Embun mengangguk pelan.


"Sekarang lepaskan, aku harus berganti pakaian. Aku ada janji dengan Nur!"


"Bukankah kamu sakit!" ujar Abra, Embun menggeleng lemah.


"Putramu ingin jalan-jalan. Sudah lama aku tidak keluar. Gaji pertamaku baru saja cair. Aku ingin membeli beberapa gamis!" ujar Embun riang, Abra menggeleng.


"Kenapa?"


"Tidak kuizinkan, jika kamu belanja dengan uangmu sendiri. Pantas, aku tak pernah menerima tagihan dari kartu ATM yang kuberikan padamu. Ternyata, kamu tidak pernah menggunakannya. Aku heran, kamu anggap aku siapa? Sampai kamu enggan menggunakan hasil dari jerih payahku!" ujar Abra, lalu berjalan menjauh dari Embun.


"Kak, bukan itu maksudku!"


"Sudahlah Embun, lakukan apa yang menurutmu benar?" ujar Abra final, Embun menggelengkan kepalanya. Embun melihat Abra berjalan menuju pintu. Sontak Embun berlari mengejar Abra.


"Maafkan aku, jika aku menyakiti hatimu. Aku masih butuh waktu, untuk bergantung pada orang lain. Sejak kecil sampai sekarang, aku selalu mendapatkan semuanya dengan susah payah. Bukan aku tidak menghargai keringatmu, tapi apa yang kuterima darimu? Kasih sayang dan perlindunganmu, semua itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin tamak dengan kemudahan yang kamu berikan!" ujar Embun, sembari memeluk Abra dari belakang.


"Intinya kamu masih menganggapku orang lain!" sahut Abra, Embun menggelengkan kepalanya.


"Percayalah kak, hanya kamu yang paling penting dalam hidupku. Putra kita bukti ketulusanku!" ujar Embun, Abra diam membisu. Embun semakin erat memeluk Abra yang berdiri mematung.


"Maaf!" ujar Embun lirih.

__ADS_1


__ADS_2